LOGINKakak, 3 bab buat hari ini, ya. Makasih, jangan lupa komentarnya.
Setelah sarapan.Yessica berada di dalam mobilnya untuk pergi ke perusahaan.Namun, sebelum dia melajukan mobilnya, Yessica lebih dulu menghubungi seseorang.“Kebetulan kamu menghubungi. Aku ingin memberitahukan kalau–”“Kamu masih memantau kakakku?” Yessica memotong cepat ucapan pria dari seberang panggilan.“Tentu saja, sesuai arahan darimu. Sepertinya ada perkembangan, kakakmu sekarang tinggal di seberang rumah wanita itu.”Jemari Yessica meremat stir kemudi, matanya merah menahan amarah.“Wanita itu bukan disukai kakakku, tapi dia adalah Calissa.” Suara Yessica menggeram tertahan. “Apa maksudmu?”Napas Yessica begitu cepat. Rahangnya mengeras sebelum dia berkata, “Calissa adalah adik kandungnya. Jika tahu sejak awal, aku akan berusaha menjauhkannya. Tapi aku malah membuat Kak Noah dekat dengannya.”“Yessica, sebenarnya ada apa? Apa maksud ucapanmu?”“Ken, jika Calissa pulang, maka tamat riwayatku.”Cengkraman tangan Yessica di setir kemudi kini bergetar.“Kenapa kamu bicara seper
Keesokan harinya.Kiran sibuk di dapur membuat sarapan saat dia mendengar suara benda jatuh di depan rumahnya.Dia buru-buru mematikan kompir. Kiran melangkah keluar dari dapur, tepat saat Surya juga keluar dari kamar.“Apa yang jatuh, Kiran?” Kiran menggeleng. “Tidak tahu, Yah. Suaranya dari depan, biar aku lihat.”Kiran menunjuk ke pintu depan, setelah melihat ayahnya mengangguk, Kiran kembali berjalan ke depan.Setelah pintu terbuka, Kiran terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu sedang memeluk rantang.“Noah.” Kening Kiran berkerut dalam. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Kiran menatap heran.Sepagi ini, kenapa Noah sudah ada di depan rumahnya?Noah melebarkan senyum.Di tangan satunya memegang kantong plastik berisi makanan, sedangkan tangan satunya memeluk rantang yang dibawanya.“Aku datang untuk mengembalikan rantang milikmu. Dan juga, aku bawa sarapan.” Noah mengangkat kantong plastik yang dipegangnya.Kiran menatap tak percaya dengan yang Noah lakukan.Sebelum Kiran me
Mobil Elvano berhenti di depan halaman rumah Kiran.“Besok aku akan menjemputmu.” Elvano menatap Kiran yang sedang melepas sabuk pengaman.Kiran mengangguk ketika menatap pada Elvano. “Aku akan menunggumu.”Kiran siap membuka pintu, ketika tangannya ditahan Elvano.Kiran menoleh, kedua sudut alisnya tertarik ke atas.“Ada apa?” Kiran menatap bingung Elvano menahan lengannya.“Apa kamu merasa ada yang lupa?” Elvano melirik ke segala arah setelah bicara.Kening Kiran berkerut dalam. Dia memperhatikan sikap Elvano.Dia tahu.Kiran mendekat cepat pada Elvano. Sebuah kecupan mendarat mulus di pipi Elvano.“Ini ‘kan yang lupa?” Kiran kembali memundurkan tubuhnya dari Elvano.Elvano melipat bibir, menahan senyumnya.Tangannya perlahan melepas Kiran.“Hati-hatilah di jalan.” Kiran keluar setelah bicara.Dia masih berdiri di pinggir jalan saat mobil Elvano melaju meninggalkannya.Kiran terus tersenyum menatap kepergian Elvano, sampai pandangannya tertuju ke rumah yang berada di seberang jalan.
Tubuh Elvano dihadapkan ke Kiran. Dia menatap tak percaya Kiran malah bertanya. “Kamu yang membuat janji itu, bagaimana bisa kamu malah sekarang tanya janji apa?” Kening Kiran semakin berkerut dalam. Baru saja dia mau bicara, pintu lift sudah lebih dulu terbuka. Kiran mengajak Elvano masuk ke dalam lift. “Ki, kamu tidak akan mengingkari janjimu, ‘kan?” Elvano mendesak. Sambil menekan tombol lobby, Kiran membalas, “Apa sih, El? Aku benar-benar tidak tahu, apa yang kamu maksud.” Kini, Kiran menatap pada Elvano. Elvano kesal. Bibirnya mencebik. “Kamu benar-benar keterlaluan.” Elvano memalingkan muka dari Kiran. Kiran diam dengan kening berkerut. Mencoba mengingat janji apa yang pernah dia katakan ke Elvano. “Sepertinya aku tidak membuat janji apa pun padamu.” Kiran menatap pada Elvano. Elvano masih memandang ke arah lain, tak membalas. Kiran mengingat lebih dalam. Sampai Kiran mendengar Elvano bicara. “Bukankah kamu mau menikah denganku jika aku bisa ambil tanggung jawab seb
Yessica masih menatap tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Seolah, semua itu hanya kalimat yang singgah salah tempat.“Mama jangan bercanda, Ma. Dari mana Mama tahu kalau Calissa masih hidup?" Tatapan Yessica berubah panik. Dia bahkan sampai meneguk ludah kasar. “Calissa sudah meninggal, Ma. Bahkan jasadnya ditenggelamkan di laut dan tidak pernah ditemukan." Kamila menggeleng pelan. Dia memaklumi sikap emosional Yessica karena senang.Sejak dulu, Calissa yang sangat baik pada Yessica. Jika bukan karena Calissa, Yessica tidak akan pernah sampai di keluarga ini.Karena kebaikan Calissa ini, Yessica pasti bersyukur jika Calissa masih hidup.“Mama tahu, kamu juga pasti tidak menyangka kalau Calissa masih hidup. Mama juga sama." Mata Kamila kembali berkaca-kaca. Dia menghela napas lega.Tangan Yessica ditarik paksa dari Kamila. Wajahnya seketika berubah panik, bahkan dia meneguk ludah kasar.“Noah yang memberitahu Mama. Bahkan dia mengirim foto Calissa.” Kamila segera membuka
Kamila terdiam.Tawa yang tadi ditujukan atas candaan ke sang putra, tiba-tiba terhenti.Bahkan jemarinya yang menggenggam erat ponsel, hampir saja melemas dan melepas benda pipi yang menempel di telinganya.“No-Noah, apa yang kamu katakan?”Kamila seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.“Aku menemukan Calissa, Ma. Dia masih hidup, selama bertahun-tahun kita dibohongi penjahat itu. Calissa belum mati.”Satu tangan Kamila membungkam mulut.Matanya berkaca-kaca dengan rasa tak percaya.“Noah, jangan membuat Mama mendapatkan harapan palsu. Apa k
Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki
Elvano menoleh pada Kiran, sebelum kembali menatap Leya.“Kakak Kiran asistennya Papa, jadi wajar kalau ikut.” Elvano menjelaskan dengan pelan.Kiran melambaikan tangan, senyumnya begitu hangat pada Leya yang kini menatap kesal padanya.“Nggak mau.” Leya melipat kedua tangan di depan dada. “Pokoknya
Tatapan Elvano menyorot tajam pada Robby, di saat tangannya merentang pelan ke samping untuk isyarat agar Theo tidak bertindak gegabah.“Aku tahu, bukan hanya itu tujuanmu. Baik, aku mengalah. Katakan apa yang mau kamu katakan, aku akan kabulkan tanpa syarat.” Elvano tak bisa mengambil resiko, saat
Dania tersentak. Tatapannya tertuju pada tangan Kiran yang sekarang berpindah memegang tali tas. Mata Dania menyipit, dia yakin tadi melihat Kiran menggenggam tangan Elvano.Telapak tangan Dania mengepal erat. Namun, dia bersikap biasa ketika memandang pada Elvano.“Selamat siang, Pak.” Dania sedik







