LOGINKiran baru saja tiba di rumah.Ketika menginjakkan kaki di dalam, Kiran terkejut melihat Surya ada di rumah.“Ayah tidak kerja?” Kiran lebih dulu melepas heelsnya, sebelum melangkah menghampiri sang ayah yang ada di ruang makan.“Ayah ambil libur lagi karena mau merayakan ulang tahunmu.”Kaki Kiran berhenti melangkah mendengar apa yang Surya katakan.“Ayah juga tahu? Noah memberitahu Ayah?” tatapan Kiran tak teralihkan dari Surya yang masih menatap ke makanan di atas meja.Surya menghela napas pelan. Saat menoleh ke arah Kiran, senyum Surya terangkat kecil. “Ya.”Sekarang, Surya melangkah mendekat ke arah Kiran berdiri.Dia berhenti tepat di depan Kiran.Surya menatap penuh kasih sayang pada Kiran. Sebelum tangannya mengusap lembut rambut putrinya.“Ulang tahunmu sebelumnya, Ayah ambil dari tanggal menemukanmu. Ayah harus melakukannya agar bisa memasukkan datamu di keluarga Ayah. Sekarang, Ayah tahu kalau ulang tahunmu ternyata hari ini.” Mata Surya berkaca-kaca.Kiran melipat bibirny
Kiran diam.Napasnya berembus berat.Sampai pandangan Kiran tertuju ke kue strawberry yang Noah berikan.Bukankah tak mungkin kebetulan Noah tahu kesukaannya?Kiran bangkit dari pelukan Elvano. Perlahan kedua tangannya terulur ke box yang ada di meja.Sedang Elvano memilih diam, membiarkan apa yang akan Kiran lakukan.Penutup box kue perlahan Kiran buka. Kue berwarna merah muda yang terlihat manis dan cantik kini tampak jelas di depan matanya.“Mungkinkah benar kalau ulang tahunku memang hari ini?” Kiran menoleh pada Elvano yang duduk di sampingnya.Elvano tidak berani mengiyakan.“Bagaimana menurutmu sendiri? Jika kamu percaya, maka itulah yang terjadi.”Kiran kembali diam, pandangannya tertuju lagi ke kue di meja.Kiran mendengkus, sebelum senyumnya mengembang.“Kuenya juga sudah diterima, sayang kalau tidak dimakan.” Kiran mengambil sendok yang tersedia di box.“El, bantu aku habiskan, ya.” Kiran menoleh pada Elvano saat bicara, box kue sudah ada di tangan kirinya.Elvano menganggu
Kiran mematung di tempatnya.Kedua telapak tangan mengepal di samping tubuhnya, mendengar apa yang baru saja Noah katakan.Ulang tahun?Kiran kembali membalikkan tubuhnya. Kini, dia berdiri berhadapan dengan Noah lagi.Meski dipaksakan, Kiran mengangkat tipis senyum di bibirnya. “Ulang tahunku bulan depan, sepertinya kamu salah mengira.”“Ulang tahunmu hari ini.”Kiran terdiam. Tatapannya tertuju pada Noah yang memandangnya.Sampai dia melihat Noah mengulurkan kotak kue berukuran sedang ke arahnya.“Kue strawberry, kamu sangat suka kue ini dan bahkan tidak mau berbagi dengan yang lain jika sedang memakannya.”Pandangan Kiran turun ke kue yang menggantung di udara, di hadapannya.Tiba-tiba dada Kiran sesak. Matanya sedikit memerah dan terasa panas.Noah mengembuskan napas pelan melihat diamnya Kiran. Kakinya bergerak maju satu langkah. Dia memberikan paksa kotak kue itu ke tangan Kiran.“Ayahmu memberikan tanggal ulang tahun di hari dia menemukanmu. Dan ulang tahunmu sebenarnya adala
Di hotel Noah tinggal.Noah duduk diam dengan kepala yang bersandar di sandaran sofa.“Apa Anda berencana menemui dan membujuk Nona Kiran lagi, Pak?” Farhan duduk di sofa tunggal dekat Noah.Sejak tadi Farhan hanya menatap Noah yang diam.“Aku tidak yakin.” Noah mengangkat kepalanya.Tubuhnya sedikit mencondong ke depan saat mengambil cangkir di meja.“Aku takut kalau dia belum menerimaku dan akan semakin tak menerimaku kalau aku mendekatinya.” Noah menoleh pada Farhan, setelahnya dia menyesap kopi dari cangkir miliknya.“Tapi, kalau Anda tidak membujuk dan menjelaskan sendiri apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, takutnya Nona Kiran akan semakin mengira jika Anda memang tidak peduli.”Bibir Noah berhenti menyesap kopi saat mendengar ucapan Farhan.Dia sedikit menjauhkan cangkir dari bibirnya sebelum menoleh pada Farhan.Sebelum Noah bicara lagi, ponsel di atas mejanya lebih dulu berdering.Nama sang mama terpampang di layar.Noah mengambil ponselnya setelah meletakkan cangkir kembali
Tatapan Elvano lebih dulu tertuju ke genggaman tangan mereka, sebelum menatap pada Kiran.“Aku tidak, tapi bagaimana denganmu setelah kamu mengetahui keluarga kandungmu?”Elvano ingin tahu karena Kiran belum memberitahunya apa keputusan Kiran setelah mengetahui siapa keluarganya.Kiran mengembuskan napas pelan. “Meskipun aku sudah tahu siapa keluargaku. Tapi jujur, aku benar-benar tidak berharap menemukan mereka lagi.”Elvano menatap Kiran yang menundukkan kepala. Elvano kini membalas genggaman tangan Kiran.“Lakukan apa yang membuatmu senang. Kamu juga sudah dewasa dan berhak memilih.” Elvano akan lebih senang jika Kiran tidak peduli lagi dengan keluarga kandungnya.Tetapi Elvano juga akan sangat egois jika terang-terangan mengatakan ini. Jadi, dia memilih menunggu bagaimana Kiran akan menyikapi masalah ini.Kiran diam.Dia bimbang.Kiran kecewa, dia menolak kedatangan keluarganya.Tetapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa yang tak bisa Kiran ungkapkan.“Hm … aku ingi
Kiran terdiam mendengar apa yang Elvano katakan.Kenapa Elvano sangat takut?“Siapa yang ingin berubah?” Kiran bicara dengan suara pelan dan menenangkan.Bahkan Kiran mengembuskan napas pelan. “Meski aku sudah tahu siapa keluargaku, itu tidak akan mengubah apa pun soal hubungan kita.”Elvano melepas pelukan. Ditatapnya Kiran yang tersenyum padanya.Benar, Kiran tidak tahu soal persaingan bisnis antara Radjasa dan Bimantara seperti apa. Wajar jika Kiran juga tidak memahami kecemasannya saat ini.Jemari Kiran terangkat untuk merapikan helaian rambut Elvano yang berantakan. “Aku masih di sini, tidak ke mana-mana. Kenapa kamu cemas berlebihan?” Napas Elvano berembus pelan. Dia menggenggam kedua telapak tangan Kiran.“Berjanjilah kalau kamu tidak akan pergi lagi. Maksudku, pergi menghilang dariku.” Tatapan Elvano kini terangkat menatap wajah Kiran.“Memangnya aku bisa pergi ke mana? Bukankah kamu yang bilang, kalau aku berniat kabur, kamu akan mengikatku. Jadi, aku tidak akan ke mana-mana
Alina menghampiri suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di dalam kamar. Penuh antusias dia menarik tangan Aksa sebelum dia ajak duduk di tepian ranjang.“Bagaimana? Apa kamu sudah mencari tahu kenapa sikap El agak berubah?” Alina tak bisa membendung rasa penasarannya, tatapannya begitu antusia.
Operasi ayah Kiran berjalan dengan lancar, meskipun Surya belum sadar setelah operasi yang dijalaninya, tetapi Kiran akhirnya bisa sedikit lega.Hari selanjutnya.Kiran berangkat ke perusahaan seperti biasa sesuai janjinya pada Elvano sebelumnya karena sudah diberi cuti.Kiran datang lebih awal. Kak
Saat jam makan siang.Kiran keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka di area lobby. Senyumnya mengembang kala matanya tertuju pada Sabrina yang menunggunya.“Habis cuti, kukira kamu dikasih kerjaan banyak.” Sabrina langsung menggandeng lengan Kiran yang baru saja tiba di hadapannya.Keduanya m
Kiran dan Sabrina berada di dalam lift setelah mereka selesai makan siang.“Soal sekretarisnya itu, lebih baik kamu hati-hati ya, Kiran. Dengar-dengar pamannya salah satu direktur di sini, makanya dia bisa semena-mena sampai berniat memfitnahmu.” Wajah Sabrina begitu cemas ketika menoleh pada Kiran.







