登入Salman segera menepikan mobilnya.“Kamu sudah menang, sejak awal kamu tidak pernah kalah,” ujar Salman sambil meraih tangan Annisa dan mengecupnya lembut.Annisa membuang napas kasar. “Paman, apa tadi aku keterlaluan? Aku secara tidak langsung membongkar kebohongan Rika. Aku merasa bersalah.”Salman menggelengkan kepalanya. “Aku tahu, apa yang kamu lakukan pasti ada alasannya. Bukan kamu yang memulai, tapi dia yang memulai, kan?”“Kok paman tahu?”“Sejak datang tadi, aku perhatikan wanita itu terus menatap kamu dengan memegang perutnya. Dan saat kamu di dapur, ia sengaja menyusul. Setelah itu, terdengar keributan,” jawab Salman sambil tersenyum.Annisa mengangguk. “Iya, dia menyindirku dan mengatakan itu rasanya hamil. Saat aku tanya itu anak siapa dia marah-marah.”Salman tertawa dan mengelus kepala Annisa lembut. “Kamu memang cerdas.”“Tapi, aku merasa bersalah.”“Untuk apa merasa bersalah?”“Kan sebenarnya aku tidak punya masalah sama Rika, tapi karena kesal aku jadi membuka rahasi
“Annisa, kau!” teriak Bu Rahma kesal.“Maaf, kalau sudah membuat keributan malam ini. Sebenarnya aku tidak mau seperti ini, tapi Rika yang memulai duluan,” jawab Annisa menatap Ilham yang masih terduduk di lantai dan menunduk.“Annisa, aku tidak akan memaafkanmu!”Bu Rahma belum puas, hatinya begitu sakit dan darahnya mendidih mendengar suara Annisa. Ia tidak pernah menyangka kalau rencananya untuk mempermalukan Annisa di depan keluarga besar, justru berbalik menyerangnya sendiri.Annisa memanfaatkan momen berkumpulnya keluarga untuk membuka semua kedok mereka selama ini. Dan sialnya Bu Rahma tidak bisa membalas. Rencana untuk menghancurkan Annisa justru kini telah menghancurkan keluarganya.“Annisa, kau harus mati! Aku akan membunuhmu! Menyesal dulu aku memberikan izin pada Ilham untuk menikahimu!” teriak Bu Rahma.Bu Rahma ingin menyerang Annisa, bahkan tangannya sudah memegang satu vas bunga yang siap dilemparkan pada Annisa.Sepertinya, Bu Rahma benar-benar ingin melukai Annisa, b
“Apanya yang keterlaluan? Aku hanya perlu meluruskan,” ucap Annisa menatap sang mertua lekat.Bu Rahma merangsek mendekat, ia ingin menjambak rambut Annisa, namun Salman dengan cepat menahannya.“Kak Annisa cemburu pada Kak Rika, sehingga dia mengarang cerita. Sebenarnya, Kak Annisa yang mandul!” teriak Dinda.Suasana di ruangan dapur itu menjadi cukup heboh.Annisa menatap Ilham, Rika, Bu Rahma dan Dinda secara bergantian. “Aku cemburu? Untuk apa?”“Karena takut Kak Ilham menceraikanmu, sebab saat ini Kak Rika hamil. Makanya, kau membuat berbagai cara untuk membuat kita semua ragu.”Annisa tertawa. “Mas Ilham, tolong tandatangani surat cerai ini.”Ilham terperangah. Semua orang menutup mulut dengan tangannya, mereka tidak berkedip. Tidak menyangka kalau ternyata dibalik sikap santai Annisa, ia telah menyiapkan semuanya dengan sempurna.Annisa membungkam mulut Dinda dengan menyodorkan surat cerai pada Ilham, tentu saja itu mematahkan klaim Dinda yang mengatakan Annisa takut diceraikan
“Annisa, kamu jangan sembarangan bicara. Bagaimana kalau Mas Ilham dengar?” Rika salah tingkah, tapi ia tetap mencoba untuk membela diri.“Memangnya kenapa? Kalau benar kamu tidak perlu takut.”“Aku tidak takut, aku hanya memikirkan kamu yang nantinya akan semakin sulit tinggal di rumah ini. Semua orang pastinya lebih perhatian dan menyayangiku,” jawab Rika.Annisa tersenyum puas melihat Rika yang salah tingkah. “Aku tidak masalah.”“Aku tidak mau mendengar lagi ucapan kamu seperti tadi, Annisa. Aku ingin kita sebagai istrinya Mas Ilham itu hidup dengan damai, saling memberikan dukungan.”“Jadi, itu anaknya siapa?” tanya Annisa lagu yang seolah memang sengaja memprovokasi Rika.“Annisa, apaan sih kamu ini?” Rika semakin gusar dengan pertanyaan Annisa. Tangannya yang sejak tadi mengelus perut kini sudah dipindahkan. Dan mungkin, Rika baru menyadari kalau Annisa tidaklah sebodoh yang ia kira.“Aku yakin, anak yang ada dalam kandunganmu itu bukanlah anak Mas Ilham. Jadi, kamu mau memberi
“Itu apa?” tanya Om Budi pada Annisa.“Bukan apa-apa, Om,” jawab Annisa sopan.Salman menyadari sesuatu dan ia sudah bisa menebak apa yang Annisa jatuhkan, ia hanya tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya.Dalam hatinya, Salman memuji kecerdikan Annisa. Wanita itu tidak dengan tangisan ataupun marah, ia malah tersenyum. Tapi, dibalik senyuman itu ada rencana yang mematikan.“Kok kayak surat dari rumah sakit,” sahut Om Budi lagi menatap Annisa dengan penasaran.“Ini punyanya Mas Ilham. Sudah lama ada di tas aku.”Ilham menoleh, dan wajahnya langsung berubah seperti tidak ada lagi aliran darah di tubuhnya saat menyadari kalau yang Annisa jatuhkan itu adalah surat hasil pemeriksaan kesuburan mereka. Disana jelas menunjukkan hasil test untuk Ilham.Meskipun Ilham yakin kalau hasil itu rekayasa manusia, tapi tetap saja ia ketakutan. Apalagi melihat sambutan dari Om Budi yang begitu tidak senang saat tahu kalau ia menikah lagi.“Annisa, kalau kamu merasa diperlakukan dengan tidak adil,
“Istri apa? Kamu lah istriku, Annisa,” ujar Ilham menggelengkan kepalanya.“Rika, istri barumu yang sedang hamil itu.”Ilham mendekati Annisa, ia berusaha meraih tangan Annisa, namun ditepis Annisa dengan elegan. “Mas, sebaiknya kamu mandi dan bersiap-siap. Sebentar lagi mungkin Rika akan datang.”“Annisa, ini tidak benar.”Annisa menoleh dan tersenyum. “Tidak perlu menyangkal lagi, Mas. Mama sudah mengatakan semuanya padaku, dan saat ini kalian sedang mengurus dokumen pengesahan pernikahan bermodalkan surat izin yang kalian palsukan tanda tanganku.”Senyuman Annisa itu seperti silet yang menyayat dan mencabik-cabik tubuh Ilham. Karena, Annisa seolah sengaja berbicara dengan cukup keras dan membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu mendengarnya.“Annisa, apa maksudmu?”“Mama sudah menunjukkan surat palsu itu kepadaku. Selamat ya atas kehamilan Rika, kalau tahu itu anak kamu, kenapa waktu itu kamu pura-pura terkejut mendengar dia hamil?”“Annisa, stop!” Ilham terpancing emosi,







