แชร์

Mencari Pasangan

ผู้เขียน: Erna Azura
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-23 13:54:23

Setelah Deni dan Yuli pergi membawa Nathan, tinggal lah Rex dan Anita berdua di ruang tamu rumah itu.

Keduanya tampak sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa mendapatkan hak asuh atas Nathan.

“Yang nyebelin itu jangka waktunya cuma seminggu, ke mana coba gue harus cari cewek buat dikawinin?” Rex bergumam.

Anita melirik pria itu.

“Aku harus balik ke Surabaya besok,” kata Anita setengah mengusir.

Rex mendongak menatap Anita. “Kamu enggak peduli banget sama Nathan ya?” Dia bangkit dari sofa.

“Peduli lah, tapi aku harus kerja … aku cuma cuti tiga hari.”

“Ya udah kalau gitu gini deh, siapa duluan yang bisa menemukan pasangan berarti dia yang dapet hak asuh Nathan.”

Anita mendongak menatap Nathan yang berdiri menjulang di depannya.

“Aku harap kamu bisa ngalah, Nathan itu keponakan aku … harus aku yang merawat Nathan, lagian kalau kamu nikah nanti—memangnya cewek kamu mau nerima Nathan?”

Rex terkekeh. “Masih jauh itu mah, aku masih ingin seneng-seneng dulu … tapi aku sayang sama Nathan, aku udah kaya papanya buat Nathan.”

Mereka lupa kalau Yuli sudah memberi solusi agar mereka berdua menikah saja sehingga bisa mendapatkan hak asuh bersama.

“Ya udah, siapa duluan menemukan pasangan … berarti dia yang dapet hak asuh Nathan.” Anita mengulang kalimat Rex tanda dia setuju.

Rex mengangguk lalu memberikan ponselnya kepada Anita.

“Untuk apa?” Anita bertanya dengan kening mengkerut dalam.

“Aku minta nomor hape kamu biar nanti kalau aku udah dapet calon istri bisa hubungin kamu jadi kamu enggak usah repot-repot cari cowok … ‘kan kamu benci cowok.” Rex tersenyum lebar, sejenis senyum meledek Anita.

Anita membalas dengan tatapan dingin lalu meraih ponsel Rex dan mengetikan nomornya.

“Apa Anwar ninggalin banyak warisan sampai kamu ngebet banget ingin hak asuh Nathan?” Mata cantik itu memicing.

“Eeee … sekate-kate, gue enggak butuh warisan si Anwar kali, lo kagak tahu aja gue siapa.” Rex berujar di dalam hati.

Dia memilih diam karena tidak mungkin berdebat dengan seorang wanita, apalagi wanita jutek dan ketus seperti Anita. Hanya menghabiskan energi saja.

“Kamu ambil saja warisan Anwar, aku bawa Nathan,” timpal Rex dengan nada mengancam kemudian menarik langkah keluar dari rumah itu.

Anita menghempaskan bokong di sofa, kepalanya menengadah bersama hembusan nafas berat.

“Ke mana aku harus cari suami dalam waktu seminggu?” Anita mengesah.

Sementara di luar sana, Rex merogoh saku celana sembari berjalan ke mobil mewahnya yang terparkir di depan pemakaman umum.

Dia menekan nomor sekretarisnya-Tika.

“Hallo, siang Pak … ada yang bisa saya bantu?” Tika menjawab panggilan tersebut.

“Tik … nikah yuk?” Rex terkekeh usai bertanya demikian.

“Pak … saya masih banyak kerjaan, kalau Bapak—“ Kalimat Tika terpotong.

“Serius, Tik … aku harus dapet istri secepatnya, kalau enggak—Nathan dimasukin ke panti asuhan.”

Blam.

Terdengar suara pintu mobil tertutup, Rex sudah duduk di kabin belakang.

Mobil mewah itu akan membawanya ke landasan heli.

“Pak, saya mengerti kalau Bapak sayang banget sama Nathan karena terlalu dekat dengan pak Anwar tapi Pak … jangan korbankan saya.” Tika memang memiliki sikap dingin dan datar, sudah bawaan dari pabriknya seperti itu.

Rex tertawa pelan. “Ya udah, cariin aku cewek yang bisa kawin kontrak selama satu setengah tahun ya … pilih beberapa kandidat dan lusa panggil mereka untuk ketemu aku.”

Terdengar hembusan nafas lelah Tika di ujung panggilan sana.

“Baik, Pak.”

“Ih Tika, kamu lagi PMS ya?” Rex sedang menggoda sekretarisnya yang terkenal kaku itu.

“Pak, ada meeting sore ini dengan pak Nicholas, sebaiknya Bapak sudah ada di kantor sebelum rapat dimulai, jadi kita harus segera sudahi percakapan ini,” kata Tika tegas.

“Iya … iyaaaa ….” Rex memutus sambungan telepon.

“Dasar mak Lampir,” gumam Rex misuh-misuh.

***

“Ya udah, Nit … kamu terima aja lamaran pak Dekan kita,” kata Dita-sahabat Anita sesama dosen.

Setelah mata kuliahnya selesai—Anita langsung curhat kepada Dita yang sudah tahu semua cerita hidupnya.

Anita merotasi bola matanya. “Pak Dudi mau jadiin aku istri kedua, dia maunya kita menikah siri.”

“Ih jangan mau kalau begitu.” Dita mengibaskan tangannya.

“Memang aku enggak akan mau sekalipun jadi istri pertamanya atau jadi istri siapapun ….” Anita mengembuskan nafas panjang. “Kalau bukan karena Nathan,” sambung Anita melirih.

“Nit … enggak semua cowok lho brengsek kaya Anwar … masih banyak cowok yang baik dan enggak semua orang kaya juga seperti keluarganya Anwar … lagian orang kaya beneran mah enggak sombong kaya begitu.” Dita mencibir.

“Tahu lah, Dit … yang pasti aku pusing sekarang harus cari cowok buat dijadiin suami … mana waktunya cuma satu minggu.” Anita mengesah.

“Eh … nanti malem kita clubing aja, siapa tahu ada anak orang kaya yang mabok berat terus kita bawa ke hotel, buka bajunya dan besok pagi kamu bilang kalau dia udah nidurin kamu dan harus tanggung jawab nikahin kamu.” Sorot mata Dita tampak berbinar penuh semangat ketika mengatakan ide yang menurutnya briliant itu.

“Dit, kita itu berprofesi sebagai dosen … ya kali dugem terus berakhir di hotel, ngaco ah.” Anita bangkit dari kursinya, kedua tangan memeluk buku dan tas laptop.

Anita siap untuk ngajar di jam keduanya hari ini.

“Ya udah, nanti aku kenalin kamu sama teman aku deh …,” kata Dita, dia serius ingin membantu.

“Dit … inget ya, aku itu bukan cari suami beneran, hanya suami bohongan sampai satu tahun setengah aja untuk memenuhi prosedur hak asuh Nathan … aku enggak butuh cowok, aku bisa membiayai Nathan sendirian.”

“Itu yang susah Nit, kecuali kamu punya duit banyak untuk bayar orang buat pura-pura jadi suami kamu … kalau gratisan mah enggak akan ada yang mau … atau kamu mau, tubuh kamu jadi imbalannya.”

“Sialan kamu, Dita … dasar sahabat lucknut.”

Dita tergelak mengiringi langkah Anita keluar dari ruang dosen.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dimanja Suami Kontrakku   Pilihan Hidup Rex

    Mobil melaju pelan meninggalkan area kampus.Rex menyetir dengan satu tangan, yang lain sesekali menepuk paha Nathan yang duduk di depan, tepat di pangkuan Anita.Bocah itu sibuk menunjuk kendaraan di luar jendela.“Mami … itu warna biru.”“Ih … Nathan pinter.” “Iya donk … ‘kan Mami yang kasih tahu, berarti Mami yang pinter.”Anita mengecup kepala Nathan.“Kalau itu warna apa?” Rex yang bertanya, menunjuk baliho di pinggir jalan.“Warna kuning!” Nathan menjawab lantang.“Yeaaay, Nathan pinter.” Kompak Anita dan Rex berujar demikian.Stevie yang duduk di kabin belakang mulai panas hatinya melihat keluarga cemara itu.Matanya tidak berhenti bergerak.Bukan sekadar melihat—melainkan memindai.Interior mobil itu sederhana, bersih, tidak mencolok. Tidak ada aroma parfum mahal berlebihan, tidak ada aksesoris pamer status. Hanya wangi ringan sabun bayi dan sedikit aroma kopi dari tumbler di cup holder.Stevie menelan ludah.Ini bukan mobil seorang Rex yang CEO dan anak Konglo

  • Dimanja Suami Kontrakku   Teman Kecil

    “Der, apa aku bisa pulang di jam makan siang nanti?” Rex bertanya tanpa menatap wajah sekretarisnya.Pria itu sedang sibuk menandatangani berkas.Deri terpekur sesaat.“Tapi Pak, ada meeting jam enam sore dengan Pak Deny.”Rex mendongak. “Iya, nanti aku balik lagi ke kantor setelah menjemput anak istriku dan mengantar mereka ke rumah.”“Oh bisa, Pak … mau saya bantu reservasi untuk makan siang?”Rex tersenyum. “Enggak usah, masakan istri saya lebih enak dan sehat.” “Baik, Pak.” Deri menganggukan kepala, meraih berkas yang sudah ditandatangani Rex kemudian undur diri dari ruangan sang CEO.Sepeninggalan Deri, Rex termenung sesaat masih memikirkan Stevie yang menjadi dosen tamu di universitas di mana Anita mengajar.“Kenapa dia jadi obsesi gini sama gue?” Rex bergumam, mengusak rambutnya kasar.Hanya satu yang Rex khawatirkan, Stevie mengganggu Anita dengan cara yang tidak bisa Rex bayangkan.Rex mengembuskan nafas panjang, dia meraih ponsel dan dompetnya kemudian bangkit da

  • Dimanja Suami Kontrakku   Menguji Batas

    Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit ketika pintu rumah terbuka perlahan.Rex masuk dengan langkah yang sudah ditahan—tidak lagi terburu, tidak juga ringan. Jasnya masih rapi, tapi bahunya turun sedikit, tanda lelah yang tidak perlu dijelaskan. Ia menutup pintu tanpa suara berlebih, menggantung jas di gantungan dekat pintu, lalu melepas sepatu dengan gerakan otomatis.Rumah itu sunyi.Sunyi yang nyaman.Wangi minyak telon.Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah kecil Nathan yang berlarian. Hanya aroma jahe yang samar—hangat, menenangkan—mengalir dari arah dapur.Rex melongok ke ruang makan.Anita duduk di sana, mengenakan sweater tipis warna gading, rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh di pelipis. Di depannya dua cangkir teh jahe mengepul pelan. Laptopnya sudah tertutup, ponsel tergeletak terbalik di meja. Ia menoleh begitu menyadari kehadiran Rex.“Papi pulang,” ucapnya pelan, senyum kecil mengembang otomatis.Rex mendekat,

  • Dimanja Suami Kontrakku   Dosen Tamu

    Siang di kampus selalu punya ritme yang berbeda.Tidak secepat pagi, tidak seberisik sore. Matahari berdiri tepat di atas gedung fakultas, membuat halaman tengah kampus terlihat terang—nyaris datar—seperti panggung yang siap mementaskan drama apa pun yang akan menjadi sorotan.Di ruang rapat kecil jurusan, beberapa dosen sudah berkumpul. Meja oval dipenuhi laptop, botol minum, dan catatan rapat yang tidak pernah benar-benar selesai meski rapatnya sering diulang.Anita duduk di sisi kanan meja, membuka laptopnya tanpa tergesa. Wajahnya tenang, profesional. Jika ada yang memperhatikan lebih lama, mungkin akan melihat satu hal kecil—ia lebih sering menarik napas dalam sebelum mengetik, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin keluar ke permukaan.Pintu terbuka.Kepala jurusan masuk lebih dulu, diikuti oleh Stevie.Blazer krem itu masih sama. Potongannya tegas, jatuh rapi di bahu. Rambutnya disanggul rendah, sederhana tapi jelas bukan kebetulan. Sepatu hak rendahnya tidak berb

  • Dimanja Suami Kontrakku   Pertarungan Dengan Masa Lalu

    Pagi datang tanpa drama dan tumben sekali Bandung terasa lebih cerah dari biasanya padahal sekarang sedang musim penghujan.Atau mungkin hanya perasaan Anita yang sedikit lebih ringan setelah malam yang—jujur saja—membuatnya tidur nyenyak, sangat nyenyak.Anita berjalan menyusuri koridor kampus dengan map di tangan. Hari itu jadwalnya padat di mana dua kelas pagi, satu bimbingan mahasiswa, lalu rapat kecil jurusan. Rambutnya seperti biasa diikat rapi, blouse biru pucat dipadu blazer tipis—tampilan dosen yang sederhana tapi berwibawa.Ia tidak menyangka akan melihat wajah itu lagi.Stevie berdiri di dekat papan pengumuman fakultas, mengenakan blazer krem dengan potongan sempurna, celana panjang senada, dan sepatu hak rendah. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Tapi aura kehadirannya langsung terasa—bukan karena status, melainkan karena kepercayaan diri yang sudah terbentuk sejak lama.Pandangan mereka bertemu.Tidak ada keterkejutan.Tidak ada kebencian.Hanya kesadaran bahwa per

  • Dimanja Suami Kontrakku   Menata Hati

    Rex meregangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan menekan punggung lebih dalam ke sandaran kursi kerja yang nyaman.Dia bukan berada di kantor tapi di rumah, tiba-tiba saja tadi papanya ingin melakukan rapat koordinasi dengan para CEO di anak perusahaan dan cabang melalui zoom meeting.Jadinya Rex harus bersembunyi dari Nathan di ruang kerja.Netranya melirik jam yang tergantung di dinding, waktu telah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit dan suara ocehan Nathan sudah tidak terdengar.Rex bangkit dari kursi kemudian berjalan ke luar ruang kerjanya.Di ruang televisi, Rex mendapati istrinya tengah berkutat dengan laptop.Televisi menyala namun tidak ada suaranya.Dan tidak ada Nathan bersama Anita seperti waktu dia tinggalkan untuk zoom meeting tadi memberinya keyakinan kalau Nathan sudah tidur.“Miii,” panggil Rex sembari mendekat.Anita yang duduk di lantai berkarpet kemudian menoleh.“Udah selesai meetingnya, Pi?” Dia pun bertanya.Panggilan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status