LOGIN“Dari mana Rex?”
Papa Nicholas bertanya ketika Rex baru saja masuk dari lantai loby sementara beliau dari basement. “Abis makan siang sama bang Ezra, Papa dari mana kok jam segini balik ke kantor?” Rex balas bertanya. “Ketemu klien tadi, mau langsung pulang tapi hape Papa ketinggalan.” “Oooo ….” “Kamu lagi rekrut sekretaris baru ya?” Papa Nicholas bertanya lagi. “Eng … enggak, kenapa memang?” Kening Rex berkerut dalam, menatap bingung sang papa. “Itu di depan, ada beberapa pelamar … kata sekuriti, kamu lagi rekruitment.” Rex menepuk jidat, dia lupa dengan pesan Tika yang tadi siang dikirim kalau ada wawancara calon istri sore ini. “I … Iya, Pa … Rex lagi cari calon is … eh, calon sekretaris.” Rex menyengir. Papa Nicholas menganggukan kepalanya. Ting … Pintu lift terbuka. “Papa duluan ya, kamu jangan ngelayap … langsung pulang, besok ikut Papa ke Bandung.” “Ngapain ke Bandung, Pa?” Rex meninggikan suara karena sang papa sudah keluar dari dalam lift. “Ada masalah di cabang Bandung.” Papa Nicholas menjawab kemudian pintu lift tertutup. Lift naik ke lantai selanjutnya lalu berhenti di lantai dua puluh tujuh. Sampai di sana, dia mendengar banyak suara ketukan sepatu hak tinggi memenuhi ruangan meeting. Dinding kaca memantulkan bayangan perempuan-perempuan cantik yang duduk berjejer rapi di depan meja panjang, masing-masing menenteng map dan CV seperti hendak melamar pekerjaan. “Tika,” panggil Rex. “Ke ruangan saya ….” Rex mengendikan dagu ke arah ruangannya. Tika mengikuti dari belakang, tidak lupa menutup pintu. Rex langsung menghempaskan bokong di kursi kebesarannya, menatap mereka satu per satu melalui dinding kaca yang hanya bisa tembus searah, dari ruangan Rex saja. Dia lantas menekan pelipis. “Tik, ini beneran semua calon istri aku?” suaranya serak, nyaris tidak percaya. Tika—sekretarisnya yang kaku tapi efisien—hanya mengangguk tanpa ekspresi. “Sesuai instruksi Bapak. Saya sudah seleksi dari kriteria yang Bapak sebutkan: umur dua puluh lima ke atas, belum menikah, berpendidikan, dan bersedia menikah kontrak selama satu tahun enam bulan.” Rex menghela napas. “Dan semuanya tahu ini pernikahan kontrak?” “Ya, Pak. Walau… sebagian tampak antusias bukan karena kontraknya.” Nada Tika datar, tapi senyum tipis di ujung bibirnya mengisyaratkan sesuatu. Rex mendesah panjang. “Oke, panggil yang pertama.” Dia menegakan punggungnya sesaat setelah Tika keluar untuk memanggil kandidat pertama. Tidak lama berselang, perempuan tinggi berambut pirang masuk sambil melambaikan tangan seperti di acara talk show. “Hai, Mas Rex! Aku Nessa, beauty influencer. Followers-ku tujuh ratus ribu!” Rex mengerjap, menatap sekilas Tika, lalu kembali ke Nessa. “Silahkan duduk dulu,” kata Rex mempersilahkan. “Makasih Mas ….” Suaranya merdu mendayu dengan senyum ramah lalu duduk di depan meja Rex. “Kamu tahu ini bukan endorse, ‘kan?” Nessa terkekeh, menggigit bibir bawahnya. “Of course tahu dong! Tapi kalau kita nikah, boleh ya aku bikin konten #MarriedByFateChallenge?” Rex langsung menepuk jidatnya. “Gini Nessa … kita itu akan kawin kontrak, dan enggak boleh ada satu orang pun yang tahu tentang itu … apalagi aku adalah Lazuardy, aku enggak mau kehidupan pribadi aku terekspose.” Rex menegaskan, wajah Nessa seketika cemberut. “Yaaaa ….” “Jadi aku harus berenti ngonten selama kita nikah? Tapi bayarannya besar ‘kan? Bisa ganti f*e endorse aku selama satu tahun setengah?” Nessa percaya diri sekali kalau dia akan terpilih. “Tentu … karena kamu akan mengurus bayi berusia satu setengah tahun,” tambah Rex lagi. “Apa?” Mata Nessa membulat sempurna. “Sepuluh Milyar, bagaimana? No endorse, No konten dan aku akan merawat bayi itu.” Nessa bernegosiasi. “Matre.” Rex membatin. “Next.” *** Perempuan berpenampilan rapi kini duduk di depan Rex dengan sikap tegap seperti hendak wawancara CPNS. “Tunggu dulu, saya belum selesai dengan mas Rex.” Suara Nessa di luar sana yang digiring sekuriti sampai membuat mereka menoleh ke arah luar. Setelah Rex mengembalikan tatapan kepadanya, perempuan itu langsung memperkenalkan diri. “Saya Sinta, usia 30 tahun, akuntan, tidak suka kebohongan dan saya tidak bisa tidur kalau rumah berantakan.” Rex mencoba tersenyum meski kaku. “Si perfeksionis.” Rex menilai di dalam hati. “Oke … kalau saya pulang jam dua pagi karena lembur, apa kamu akan membukakan pintu?” “Tentu tidak. Kamu harus dihukum. Tubuh butuh tujuh jam istirahat, kamu harus pulang lebih awal dan kalau tidur—aku ingin lampunya dimatikan.” “Kalau saya nyimpen handuk di kasur terus pergi ke kantor?” Sinta menatapnya tajam. “Berarti saya gagal mendidik suami saya.” Rex hanya mengangguk perlahan. “Next, Tik. Sebelum aku diceramahin soal nutrisi otak,” bisik Rex nyaris frustrasi. *** Kandidat selanjutnya adalah seorang sosialita, datang dengan gaun penuh payet dan parfum menyengat yang bisa menggusur oksigen di radius dua meter. “Halo, sayang…” katanya genit. “Aku enggak keberatan nikah kontrak, asalkan nanti pesta pernikahan kita di Marina Bay.” Rex mengernyit. “Pernikahan pura-pura… tapi minta pesta beneran?” “Ya biar semua tahu kalau aku sudah menikah dengan Konglomerat.” Perempuan itu tertawa renyah. Rex menggeleng lemah. “Tik, tolong … semprot ruangan ini pakai disinfektan lavender.” Tika mengumumkan dengan nada datar, “Kandidat berikutnya: Livia, mantan karyawan mendiang pak Anwar.” “Wah bagus donk, berarti kenal sama Nathan?” Tika mengangguk lalu keluar memanggil Livia. Begitu perempuan itu duduk, ia langsung menatap Rex dengan mata berbinar. “Pak Rex, aku dulu kerja sama pak Anwar! Aku tahu banget pak Anwar tuh panutan banget, aku juga cukup deket sama Nathan dan oh iya … aku kagum banget sama hubungan kalian. Kalian tuh sahabat sejati banget! Kalau aku nikah sama Pak Rex, rasanya kayak … deket sama almarhum mas Anwar lagi.” Mata Livia mulai berkaca-kaca. Rex mendadak membeku. Dia baru ingat kalau dulu Anwar pernah cerita tentang salah satu karyawan yang seperti terobsesi dengannya. “Jangan-jangan dia karyawan pe-a yang di ceritain Anwar.” Rex bermonolog di dalam hati. Di dalam dadanya, nama Anwar masih punya ruang kecil yang belum sepenuhnya sembuh. “Livia, kamu baik, tapi aku rasa … kamu butuh konselor, bukan suami kontrak.” Suara Rex pelan, tapi tegas. Dan kandidat terakhir semakin membuat kepala Rex pusing tujuh keliling. Dari awal masuk, perempuan bergaun pink itu sudah menyita perhatian Rex dari outfitnya. Senyum yang manis dan langkah yang seperti dalam drama Musical membuat Rex mengernyit. Cara duduknya pun berlebihan, pere,puan itu lantas menatap Rex dengan tatapan sendu. “Mas Rex…” Suaranya bergetar. “Kamu tahu enggak … aku pernah diselingkuhin dua kali… jadi aku ngerti banget gimana rasanya kehilangan.” Tanpa memperkenalkan diri, perempuan itu mukadimah dengan adu nasib. Rex menatapnya datar. “Oke…” “Tapi kalau kita nikah, aku janji enggak akan selingkuh. Aku cuma butuh cinta tulus,” kata perempuan itu lagi. Rex mengangkat tangan, menghentikan kalimat yang sudah mulai mengarah ke sinetron. “Stop. Kita hanya menikah kontrak bukan mau syuting FTV.” Setelah kandidat terakhir keluar, Rex menekan punggungnya ke sandaran kursi. “Tik, aku nyerah. Enggak ada satu pun yang bener.” Tika menutup tablet di tangannya. “Saya sudah duga, Pak.” “Duga kenapa?” “Karena dari awal Bapak enggak butuh istri. Bapak cuma butuh seseorang yang Bapak percayai untuk jaga Nathan.” Rex terdiam beberapa detik, menatap langit-langit. Wajah mungil Nathan melintas di pikirannya — tawa kecil, mata bulat, dan genggaman tangan di jari telunjuknya waktu di rumah Anita. Dan entah kenapa, wajah wanita dingin dengan tatapan tajam itu juga ikut muncul. Wanita yang menyebut semua pria sama saja. Wanita yang ia pikir mungkin satu-satunya yang bisa menahannya untuk tidak bercanda dengan takdir. Rex menegakkan duduknya. “Tik.” “Ya, Pak?” “Batalkan semua wawancara berikutnya.” Tika menatapnya, sedikit bingung. “Kenapa, Pak?” Rex tersenyum samar. “Kayaknya aku udah tahu siapa yang bisa aku ajak kawin kontrak.”Mobil melaju pelan meninggalkan area kampus.Rex menyetir dengan satu tangan, yang lain sesekali menepuk paha Nathan yang duduk di depan, tepat di pangkuan Anita.Bocah itu sibuk menunjuk kendaraan di luar jendela.“Mami … itu warna biru.”“Ih … Nathan pinter.” “Iya donk … ‘kan Mami yang kasih tahu, berarti Mami yang pinter.”Anita mengecup kepala Nathan.“Kalau itu warna apa?” Rex yang bertanya, menunjuk baliho di pinggir jalan.“Warna kuning!” Nathan menjawab lantang.“Yeaaay, Nathan pinter.” Kompak Anita dan Rex berujar demikian.Stevie yang duduk di kabin belakang mulai panas hatinya melihat keluarga cemara itu.Matanya tidak berhenti bergerak.Bukan sekadar melihat—melainkan memindai.Interior mobil itu sederhana, bersih, tidak mencolok. Tidak ada aroma parfum mahal berlebihan, tidak ada aksesoris pamer status. Hanya wangi ringan sabun bayi dan sedikit aroma kopi dari tumbler di cup holder.Stevie menelan ludah.Ini bukan mobil seorang Rex yang CEO dan anak Konglo
“Der, apa aku bisa pulang di jam makan siang nanti?” Rex bertanya tanpa menatap wajah sekretarisnya.Pria itu sedang sibuk menandatangani berkas.Deri terpekur sesaat.“Tapi Pak, ada meeting jam enam sore dengan Pak Deny.”Rex mendongak. “Iya, nanti aku balik lagi ke kantor setelah menjemput anak istriku dan mengantar mereka ke rumah.”“Oh bisa, Pak … mau saya bantu reservasi untuk makan siang?”Rex tersenyum. “Enggak usah, masakan istri saya lebih enak dan sehat.” “Baik, Pak.” Deri menganggukan kepala, meraih berkas yang sudah ditandatangani Rex kemudian undur diri dari ruangan sang CEO.Sepeninggalan Deri, Rex termenung sesaat masih memikirkan Stevie yang menjadi dosen tamu di universitas di mana Anita mengajar.“Kenapa dia jadi obsesi gini sama gue?” Rex bergumam, mengusak rambutnya kasar.Hanya satu yang Rex khawatirkan, Stevie mengganggu Anita dengan cara yang tidak bisa Rex bayangkan.Rex mengembuskan nafas panjang, dia meraih ponsel dan dompetnya kemudian bangkit da
Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit ketika pintu rumah terbuka perlahan.Rex masuk dengan langkah yang sudah ditahan—tidak lagi terburu, tidak juga ringan. Jasnya masih rapi, tapi bahunya turun sedikit, tanda lelah yang tidak perlu dijelaskan. Ia menutup pintu tanpa suara berlebih, menggantung jas di gantungan dekat pintu, lalu melepas sepatu dengan gerakan otomatis.Rumah itu sunyi.Sunyi yang nyaman.Wangi minyak telon.Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah kecil Nathan yang berlarian. Hanya aroma jahe yang samar—hangat, menenangkan—mengalir dari arah dapur.Rex melongok ke ruang makan.Anita duduk di sana, mengenakan sweater tipis warna gading, rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh di pelipis. Di depannya dua cangkir teh jahe mengepul pelan. Laptopnya sudah tertutup, ponsel tergeletak terbalik di meja. Ia menoleh begitu menyadari kehadiran Rex.“Papi pulang,” ucapnya pelan, senyum kecil mengembang otomatis.Rex mendekat,
Siang di kampus selalu punya ritme yang berbeda.Tidak secepat pagi, tidak seberisik sore. Matahari berdiri tepat di atas gedung fakultas, membuat halaman tengah kampus terlihat terang—nyaris datar—seperti panggung yang siap mementaskan drama apa pun yang akan menjadi sorotan.Di ruang rapat kecil jurusan, beberapa dosen sudah berkumpul. Meja oval dipenuhi laptop, botol minum, dan catatan rapat yang tidak pernah benar-benar selesai meski rapatnya sering diulang.Anita duduk di sisi kanan meja, membuka laptopnya tanpa tergesa. Wajahnya tenang, profesional. Jika ada yang memperhatikan lebih lama, mungkin akan melihat satu hal kecil—ia lebih sering menarik napas dalam sebelum mengetik, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin keluar ke permukaan.Pintu terbuka.Kepala jurusan masuk lebih dulu, diikuti oleh Stevie.Blazer krem itu masih sama. Potongannya tegas, jatuh rapi di bahu. Rambutnya disanggul rendah, sederhana tapi jelas bukan kebetulan. Sepatu hak rendahnya tidak berb
Pagi datang tanpa drama dan tumben sekali Bandung terasa lebih cerah dari biasanya padahal sekarang sedang musim penghujan.Atau mungkin hanya perasaan Anita yang sedikit lebih ringan setelah malam yang—jujur saja—membuatnya tidur nyenyak, sangat nyenyak.Anita berjalan menyusuri koridor kampus dengan map di tangan. Hari itu jadwalnya padat di mana dua kelas pagi, satu bimbingan mahasiswa, lalu rapat kecil jurusan. Rambutnya seperti biasa diikat rapi, blouse biru pucat dipadu blazer tipis—tampilan dosen yang sederhana tapi berwibawa.Ia tidak menyangka akan melihat wajah itu lagi.Stevie berdiri di dekat papan pengumuman fakultas, mengenakan blazer krem dengan potongan sempurna, celana panjang senada, dan sepatu hak rendah. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Tapi aura kehadirannya langsung terasa—bukan karena status, melainkan karena kepercayaan diri yang sudah terbentuk sejak lama.Pandangan mereka bertemu.Tidak ada keterkejutan.Tidak ada kebencian.Hanya kesadaran bahwa per
Rex meregangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan menekan punggung lebih dalam ke sandaran kursi kerja yang nyaman.Dia bukan berada di kantor tapi di rumah, tiba-tiba saja tadi papanya ingin melakukan rapat koordinasi dengan para CEO di anak perusahaan dan cabang melalui zoom meeting.Jadinya Rex harus bersembunyi dari Nathan di ruang kerja.Netranya melirik jam yang tergantung di dinding, waktu telah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit dan suara ocehan Nathan sudah tidak terdengar.Rex bangkit dari kursi kemudian berjalan ke luar ruang kerjanya.Di ruang televisi, Rex mendapati istrinya tengah berkutat dengan laptop.Televisi menyala namun tidak ada suaranya.Dan tidak ada Nathan bersama Anita seperti waktu dia tinggalkan untuk zoom meeting tadi memberinya keyakinan kalau Nathan sudah tidur.“Miii,” panggil Rex sembari mendekat.Anita yang duduk di lantai berkarpet kemudian menoleh.“Udah selesai meetingnya, Pi?” Dia pun bertanya.Panggilan







