LOGIN“Silahkan masuk,” kata Anita sembari membuka pintu rumah kedua orang tuanya.
Tadi bu Irma memberikan kunci rumah kepada Anita, semenjak kedua orang tuanya meninggal. Bu Irma dan keluarganya yang membersihkan rumah kecil di dalam gang itu. Dan tentunya Ayu yang membayar jasa mereka setiap bulannya. “Maaf sempit … tapi bersih kok,” kata Anita mempersilahkan ketiga tamunya duduk. “Saya Deni dan ini rekan saya Yuli,” kata pria berseragam dinas. Tatapan Anita lantas jatuh pada pria yang duduk di samping Yuli. Jemari pria itu digenggam Nathan, saat dalam perjalanan ke sini Nathan bangun dan tidak berhenti memandangi Rex, mungkin karena wajahnya familiar. “Gue … eh, saya … Rex Alder … saya sahabat sekaligus klien bisnisnya Anwar.” Rex mengulurkan tangan ke depan Anira. Dengan tatapan datar, Anita hanya mengangguk, seolah enggan bersalaman dengan Rex. Rex menarik tangannya kembali. “Judes banget sih.” Rex membatin. “Jadi begini Bu Anita, setelah kecelakaan … pak Anwar sempat dirawat sehari di rumah sakit, menurut Polisi yang waktu itu mengurus kecelakaan tersebut, pak Anwar menyebut nama Bu Anita sebagai kakak iparnya dan Pak Rex sebagai sahabatnya untuk merawat Nathan, dan kami dari dinas perlindungan anak dan wanita, wajib menyelesaikan permasalahan hak asuh ini … sebelumnya kami mendatangi kedua orang tua pak Anwar, untuk meminta persetujuan namun seperti yang sudah Ibu lihat tadi bagaimana tanggapan mereka … jadi kami langsung saja bicara dengan Bu Anita dan kebetulan Pak Rex juga ada saat ini ….” Kalimat Deni menggantung. “Orang kaya memang seperti itu, makanya aku benci orang kaya.” Anita bergumam tapi masih bisa didengar oleh semua orang yang ada di sana. “Enggak semua orang kaya begitu kok, eh tapi keluarga gue ‘kan kaya banget.” Yang tentu saja hanya bisa Rex utarakan di dalam hati. Sebagai anak Konglomerat tentu Rex merasa tersinggung tapi memilih untuk tidak mendebat si cantik yang sedang berduka itu. “Jadi bagaimana? Apakah di antara Bapak dan Ibu ada yang bersedia untuk mengadopsi Nathan?” Yuli to the point. Jujur, tangannya pegal menggendong Nathan sedari tadi. “Sepertinya Nathan menyukai kamu,” kata Anita mengendik ke genggaman tangan Nathan di jari telunjuk Rex. Mata bulat yang mirip Ayu itu terus menatap Rex nyaris tidak berkedip. “Ya, kami sering bertemu … aku malah menemani Anwar saat Ayu melahirkan,” kata Rex sambil tersenyum tapi bibir Anita sama sekali tidak terangkat sedikitpun bahkan tatapannya berubah, menjadi dingin ketika menatap Rex, mungkin karena sekarang telah menganggap Rex adalah musuhnya. Sampai kapanpun Anita tidak akan lupa perlakuan Anwar dan Ayu yang mengkhianatinya, menusuknya dari belakang. “Ya sudah, kamu aja yang urus dia …,” kata Anita dingin. Rex mengangkat kedua alisnya terkejut, tidak menyangka Anita akan mengatakan itu Deni dan Yuli saling menatap sebelum akhirnya Deni yang mulai menjelaskan. “Jadi begini Bu … Pak, persyaratan untuk mengadopsi Nathan harus suami istri dengan finansial yang matang, tidak harus berlebihan tapi cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan membiayai sekolah Nathan nanti.” “Saya belum menikah … dan apa kamu tega, keponakan kamu dirawat sama orang yang enggak ada hubungan darah dengan dia?” Rex sebenarnya tidak masalah kalau harus membawa Nathan tapi lebih pantas kalau Anita, sebagai tantenya yang merawat Nathan. “Saya juga belum menikah …,” timpalnya ketus. Deni dan Yuli kembali saling pandang, kalau seperti ini terus—mereka tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini. “Baiklah Pak Rex dan Bu Anita, kalau memang di antara kalian tidak ada yang bersedia merawat Nathan … kami akan bawa Nathan ke panti asuhan,” kata Yuli setengah mengancam. Anita mendongak menatap Yuli lalu beralih ke Nathan yang duduk di pangkuan wanita itu. “Nathan keponakan saya, semestinya enggak perlu syarat harus menikah untuk mendapatkan hak asuh dia … saya mampu membiayai dia, saya dosen di universitas swasta terbaik di Surabaya,” kata Anira akhirnya karena tiba-tiba hatinya berdenyut mendengar Nathan akan dibawa ke panti asuhan. Sesungguhnya Rex juga tidak setuju kalau Nathan dititipkan ke panti asuhan. “Peraturannya seperti itu, Bu … mungkin Ibu sudah memiliki kekasih, bisa disegerakan menikahnya.” Deni memberi solusi. “Bapak pikir setelah saya dikhianati Anwar, saya masih berpikiran untuk menjalin hubungan dengan seorang pria? Mereka satu spesies … pasti sama saja,” kata Anita tanpa beban. “Enggak semua cowok seperti itu,” tukas Rex tidak terima dibalas anggukan kepala setuju oleh Deni. Anita memalingkan wajah, enggan berdebat. “Begini saja Bu … Pak … kami akan merawat Nathan hingga satu minggu ke depan, kalau belum ada keputusan dari Bapak atau Ibu, kami akan menitipkan Nathan di panti asuhan,” ujar Yuli tegas. “Saya mau cari ke mana calon suami dengan waktu satu minggu? Apa enggak ada keringanan lain? Misalnya Nathan saya rawat dulu sampai nanti saya bertemu seorang pria yang bener lalu kami menikah?” Anita berusaha negosiasi. “Tidak bisa Bu, kecelakaan pak Anwar dan bu Ayu sudah menjadi berita nasional, banyak pihak yang terlibat dan Nathan menjadi sorotan publik, itu kenapa kami dari dinas sosial turun tangan … dan kami harus melengkapi berkas Nathan sebelum diberikan ke Bapak atau Ibu.” Yuli menambahkan. “Bagaimana kalau ternyata saya hanya menikah pura-pura dengan perempuan lain hanya untuk mendapatkan hak asuh Nathan?” celetuk Rex asal. Anita menoleh menatap Rex tajam, dia merasa pria itu sedang bersaing dengannya dalam hak asuh Nathan. “Kalau mau menikah pura-pura, sebaiknya dengan bu Anita saja, Pak … karena bu Anita adalah tantenya … jadi kalian berdua bisa merawat Nathan bersama hingga prosedur proses penyerahan hak asuh Nathan kepada Bapak dan Ibu selesai.” Yuli memberikan ide terbaik untuk mereka. “Jadi setelah menikah, ada prosedur yang harus kami jalani juga?” Anita bertanya memastikan. “Betul, Bu … jadi nanti selama satu tahun enam bulan, ada dari dinas yang akan datang secara berkala untuk melihat bagaimana hak asuh dari orang tua angkat Nathan.” Anira dan Rex saling menatap kemudian detik berikutnya secara bersamaan memalingkan wajah. “Bu Anita mau gendong Nathan sebentar sebelum kami pulang?” Anita belum menjawab, menatap Nathan sesaat. Bayi berusia satu setengah tahun itu tiba-tiba tersenyum membuat hati Anita terenyuh. Anita bangkit lantas mengulurkan tangan hendak menggendong Nathan dan ajaibnya Nathan juga mengangkat kedua tangan. Setelah Nathan berada dalam gendongannya, Anita membawa Nathan ke salah satu dinding di ruang tamu mungil itu di mana tergantung foto pernikahan Anwar dengan Ayu. Keduanya menatap foto itu sesaat. “Mammaaaa ….” Nathan menunjuk foto Ayu. “Papppaaa …,” ujar Nathan lagi. Seketika air mata Anita luluh tak terbendung. “Lucu ya, aku sengaja buang diri, menjauh dari keluarga sampai kedua orang tuaku meninggal, aku enggak pulang hanya untuk menghilangkan sakit hati tapi saat kembali, harus merawat buah cinta dari pusat sakit hati itu sendiri.” Yuli bangkit dari sofa, dia melangkah mendekati Anita. “Takdir memang suka becanda, Bu … tapi Ibu enggak punya pilihan lain … Nathan adalah satu-satunya orang yang sedarah dengan Ibu yang masih hidup hingga saat ini,” kata Yuli, berusaha mengetuk pintu hati Anita. Sesungguhnya, baik Yuli maupun Deni tidak peduli bagaimana cara Anita maupun Rex bisa mendapatkan hak asuh Nathan, yang terpenting bagi mereka adalah Nathan berada di tangan yang tepat dan berkas Nathan bisa dilengkapi sehingga demikian pekerjaan mereka untuk kasus Nathan selesai.Bandung, lima tahun kemudian.Di suatu pagi, rumah putih gading itu tidak pernah benar-benar sunyi.Bukan karena suara televisi maupun suara musik dari radio.Tapi karena dua suara laki-laki kecil yang tidak pernah sepakat soal apa pun—kecuali satu hal yaitu siapa yang paling dekat dengan Mami.“Zhai curang!”“Enggak! Abang yang duluan!”Nathan—tujuh tahun, lebih tinggi, lebih logis, merasa paling benar—berdiri dengan tangan di pinggang.Zhaisan—lima tahun, rambutnya sedikit bergelombang seperti Rex waktu kecil—menggenggam mobil mainan seolah itu senjata pembelaan.Anita berdiri di dapur dengan apron luxury berbahan satin, berusaha menahan tawa.“Stop dulu,” katanya lembut tapi tegas. “Satu-satu cerita sama Mami, ada apa sebenarnya ini?”Nathan menunjuk adiknya.“Dia bilang Mami cuma punya satu anak.”Zhaisan menggeleng cepat.“Aku cuma bilang Mami paling sayang aku.”Anita pura-pura berpikir.“Hmm… Mami punya dua anak. Dua-duanya paling disayang.”Nathan menyipitkan m
Mobil berhenti perlahan di depan rumah putih kebanggaan mereka dan kali ini dengan satu napas tambahan di dalamnya.Pintu pagar yang terbuka pelan, seperti sebelumnya—seolah rumah itu memang menyambut anggota baru yang dinanti-nanti.Rex turun lebih dulu, membuka pintu belakang dengan hati-hati berlebihan. Ani turun dari tadi dan berdiri siap, tangannya refleks menahan napas ketika melihat box bayi diangkat keluar.“Pelan ya, Pak,” katanya otomatis, suaranya nyaris berbisik.“Pelan itu default sekarang,” jawab Rex tanpa bercanda. “Aku bahkan jalan kayak di sekolah yang sedang melaksanakan ujian Nasional.”Anita turun terakhir. Langkahnya masih pendek-pendek, satu tangan menopang perut, satu lagi menggenggam tas kecil. Begitu kakinya menginjak halaman, ia berhenti sebentar.Menghirup.Udara Bandung sore itu dingin dan bersih.Dan rumah itu—kini tidak lagi terasa seperti bangunan.Ia terasa seperti tujuan.Nathan melompat turun dari mo
Di kamar rumah baru itu, Anita terbangun dengan rasa nyeri yang tidak lagi bisa disangkal.Bukan nyeri tajam.Lebih seperti gelombang yang datang, pergi, lalu kembali dengan jeda yang makin pendek.“Pi,” panggilnya pelan.Rex yang sejak semalam setengah terjaga langsung bangkit. Rambutnya berantakan, kausnya kusut, matanya langsung fokus.“Kenapa? Kamu sakit? Perut?”Ia sudah meraih ponsel bahkan sebelum Anita menjawab.“Kontraksi,” ucap Anita singkat. Jujur. Tenang.Kata itu—kontraksi—jatuh seperti tombol panik.Rex berdiri terlalu cepat, hampir tersandung karpet.“Oke. Oke. Kita ke rumah sakit. Sekarang. Sekarang juga.”Ia mondar-mandir, mengambil tas yang sudah disiapkan sejak dua minggu lalu—kemudian membukanya lagi, memastikan isinya, menutupnya, membuka lagi.Anita memperhatikan suaminya dengan napas teratur, meski gelombang berikutnya datang dan membuat jemarinya menggenggam seprai.“Pi,” katanya lagi, lebih pel
Ruang pertemuan itu jauh lebih kecil dari ruang sidang pengadilan.Tidak ada palu.Tidak ada penonton.Hanya satu meja panjang, tiga kursi di satu sisi, dua kursi di sisi lain.Di balik meja, Deni dan Yuli duduk berdampingan, ditemani satu pejabat senior Dinas Sosial yang sejak awal hanya memperkenalkan diri sebagai Ibu Ratna. Tidak banyak bicara, lebih banyak mencatat.Anita duduk di kursi kiri.Rex di kanan.Nathan berada di ruang bermain kecil di samping—dipisahkan dinding kaca buram. Sesekali terdengar suara tawanya yang pelan, seperti latar yang kontras dengan ketegangan di ruangan ini.Map cokelat tebal tergeletak di hadapan Yuli.Di dalamnya terdiri dari laporan observasi rumah, laporan psikolog, catatan kunjungan mendadak, rekaman wawancara terpisah terutama tentang Anita.Yuli membuka map itu pelan.“Bu Anita,” katanya formal, suaranya datar tapi tidak dingin,“selama satu tahun enam bulan terakhir, kami melakukan observasi berkala terhadap pola pengasuhan Nathan.
Gerbang besi yang tinggi itu terbuka perlahan.Tidak berbunyi nyaring. Tidak dramatis. Hanya bergeser pelan, seperti memberi jalan bagi sesuatu yang memang sudah seharusnya masuk.Mobil berhenti tepat di depan rumah berwarna putih gading itu—rumah dua lantai dengan halaman luas yang rumputnya begitu rapih membuat iri tetangga. Matahari sore Bandung menyelinap di sela pepohonan, cahayanya jatuh lembut di jendela-jendela besar.Rex mematikan mesin mobil.“Sampai,” katanya sederhana.Anita menelan napas.Ada gugup dan takut. Tapi lebih seperti perasaan ketika berdiri di ambang sesuatu yang selama ini hanya berani dibayangkan.Nathan sudah lebih dulu membuka pintu, melompat turun dengan dinosaurus hijau di tangan.“Mbak, ini rumah kita.” Nathan memberitahu Ani. “Wah, bagus sekali,” sahut Ani takjub, memandang rumah baru yang besar dan mewah itu. Ani lantas turun dari kursi belakang, membawa tas kain besar berisi peralatan Nathan yang sengaja ia pegang sendiri.“Ya Tuhan … lua
Beberapa hari kemudian, rumah kontrakan itu terasa berbeda.Bukan karena isinya sudah banyak berkurang—melainkan karena setiap sudut kini punya kenangan yang sedang dikemas, dilipat, dan dipersiapkan untuk ditinggalkan dengan baik-baik.Pagi itu Bandung diselimuti kabut tipis. Udara dingin menyusup lewat jendela yang terbuka sedikit. Kardus-kardus cokelat sudah berjajar rapi di ruang tengah, diberi label tulisan tangan Ani dengan spidol hitam besar-besar:BUKU BU ANITAMAINAN NATHANDAPURPENTING – JANGAN DIBANTINGAni berdiri di tengah ruangan, tangan di pinggang, memandangi hasil kerjanya dengan ekspresi puas tapi juga sedikit sendu.“Di rumah ini banyak suka dukanya,” gumamnya. “Sekarang akan ditinggalkan padahal banyak sekali kenangan.”Anita yang sedang duduk di sofa pun tersenyum, melipat pakaian Nathan satu per satu. Perutnya belum terlalu terlihat besar, tapi geraknya sudah lebih pelan—lebih hat







