MasukRuangan itu menjadi hening seketika.
Shella dan Claudia menahan napas menunggu reaksi Sora selanjutnya. Mereka siap memeluk adiknya jika dia menangis histeris atau marah. Namun, Sora hanya diam membeku seolah waktu berhenti berputar di sekelilingnya.
Sora tidak langsung memberikan respons verbal apa pun setelah melihat akta kelahiran dan foto masa muda Bapak Hermawan. Di
Pada area daratan yang berbeda, posisi lututku masih terus menempel di atas tanah merah yang lumayan basah ini.“Semua urusan pelafalan doa kita udah selesai sore ini.” Aku berdiri meluruskan posisi kedua lutut kakiku.“Aku juga ngerasa lega banget sehabis ngirim bacaan surat doa barusan. Hati kamu pasti udah jauh lebih tenang sekarang kan? Ayo kita berdua langsung jalan kaki balik ke arah mobil sedan hitam kamu itu. Udara sore di kuburan ini makin kerasa dingin kena kulit lenganku.”Kutarik pergelangan tangan perempuan itu secara perlahan untuk melangkah menjauhi area gundukan tanah makam tersebut. Dia mengajak Shella kembali ke mobil sedan yang terparkir jauh di dekat area gerbang. Kami berjalan menyusuri jalan setapak tanah merah menuju arah letak aspal jalan raya.“Hati-hati pas nginjak tanah becek di sebelah situ ya, Shella.” Aku menunjuk sebuah genangan air cokelat di depan kami.“Iya, aku udah merhatiin letak genangan lumpur basah itu dari tadi kok. Aku bakal injak sisi tanah y
Di saat yang sama, Pak Budi berjalan cepat menuju mobilnya sambil memegang telinga kanannya. Pria berpakaian kemeja safari gelap itu terus menekan daun telinganya menggunakan dorongan ujung jari telunjuk kiri tanpa putus.Setelah mendapatkan saluran sinyal yang stabil, pria paruh baya itu mulai membuka tarikan kedua bibirnya untuk memproduksi suara.“Halo, apa sambungan suaraku dari alat komunikasi ini sudah masuk stabil ke dalam sistem perangkat markas besar di pulau sana?” ucap Pak Budi dengan suara sangat pelan melapor kepada seseorang di seberang sana.“Gelombang suara kamu sudah berhasil masuk ke telingaku dengan tingkat volume pendengaran yang amat sangat jernih, Budi.” Sebuah keluaran suara berat seorang pria dewasa langsung membalas dari balik perangkat alat pengeras suara mungil tersebut.“Saya mau ngasih laporan perkembangan situasi keamanan wilayah secara langsung dari area lapangan aspal desa pinggiran sore ini. Elang sudah berada dalam pantauan pengawasan kedua mata saya
Kami berdua perlahan menurunkan postur tubuh untuk mengambil posisi duduk berjongkok tepat di area depan makam Ibu Sumiyati.Kutaruh kedua telapak alas sepatuku secara amat sejajar di atas permukaan tanah yang lumayan basah ini. Perempuan di sebelahku juga ikut melipat kedua lutut kakinya dengan hati-hati agar ujung kain roknya tidak menyentuh genangan lumpur.“Celana bahan kain yang kamu pakai itu beneran aman buat dipakai jongkok lama-lama di aspal makam begini?” tanya Shella sambil memperhatikan lipatan celana panjangku.“Celana bahan kain ini ukurannya lumayan longgar kok buat dipakai mengambil postur tubuh jongkok turun begini. Kamu fokus aja merapikan posisi ujung rok panjang kamu biar nggak kena gesekan langsung sama cipratan lumpur di tanah ini. Kita berdua bakal menghabiskan waktu sekitar hitungan tiga puluh menit buat melafalkan semua susunan ayat doa panjang ini sampai tuntas. Habis urusan pengiriman bacaan doa ini kelar, kita bakal langsung memutar kaki jalan balik menuju
Alasan mengenai hubungan tetangga masa lalu itu terdengar masuk akal di dalam sistem penerimaan jalan pikiranku. Namun gerak-gerik Pak Budi masih terlihat mencurigakan bagi pengamatan kedua bola mataku. Pria paruh baya tersebut terus memosisikan tangan kanannya meremas kain saku celananya secara kuat.“Bapak beneran murni cuma mau membacakan doa buat almarhumah aja di depan bongkahan batu nisan ini? Tadi Bapak kelihatan jelas memasukkan barang mencurigakan apa ke dalem saku celana pas mendengar suara langkah kakiku datang dari belakang?”“I-ini cuma sapu tangan kain kotor aja kok buat lap keringat di wajah saya, Mas Rafli. Saya barusan pakai kain tebal ini buat bersihin tetesan keringat di muka saya. Terus saya buru-buru masukin ke saku celana belakang karena malu kelihatan kotor pas Mas Rafli datang ke mari.”“Coba Bapak keluarin wujud fisik sapu tangan itu dari dalem saku celana Bapak sekarang juga. Aku pengen meriksa langsung wujud kainnya pakai lensa mataku sendiri siang ini.”She
“Lho, Pak Budi ngapain ada di area pemakaman desa pinggiran ini sore-sore begini?” tanyaku dengan penggunaan nada suara yang lumayan keras.Ternyata dia adalah Pak Budi, sopir pribadi Nyonya Alika yang kini bekerja untuk Rafli. Pria paruh baya itu memutar seluruh pergerakan badannya menghadap lurus ke arah posisi berdiriku.“Eh, Mas Rafli sama Non Shella ternyata datang berkunjung juga ke mari hari ini.” Pak Budi membalas sapaanku dengan nada suara yang terdengar sedikit bergetar.Menyadari tatapan mataku, Pak Budi terlihat gugup dan buru-buru menyembunyikan sesuatu ke dalam saku celananya. Tangan kanan pria tua itu bergerak amat sangat cepat memasukkan sebuah benda kecil ke balik kain celana panjangnya. Wajahnya pucat seolah tertangkap basah melakukan kejahatan di depan kami berdua pada sore hari ini.“Bapak barusan masukin wujud barang apaan ke dalem saku celana kain itu?” tanyaku sambil menunjuk lurus ke arah pangkal paha kanannya.“Iya, tangan kanan Bapak tadi kelihatan buru-buru
“Iya, ini tangan aku udah pegang ujung kain kemeja kamu kenceng banget sedari tadi,” balas saudara perempuan tiriku itu sambil mempererat tarikan jari tangannya.“Kita berjalan kaki pelan-pelan aja menyusuri sela-sela batu nisan ini biar sepatunya nggak kotor. Kamu awas jangan sampai telapak kaki kamu salah menginjak rumput gundukan makam warga di sebelah kiri jalan.”Selesai memberikan peringatan, alas sepatu kami terus melangkah teratur menyusuri deretan batu nisan di berbagai sisi. Suasana area pemakaman luas ini terasa amat hening mendamaikan pikiran tanpa ada gangguan suara bising. Lensa bola mataku terus mencari letak titik gundukan tanah milik almarhumah ibuku di barisan kuburan depan.“Posisi tanah makam Ibu Sumiyati itu letaknya masih di deket bagian batang pohon beringin sana kan?” tanya Shella dengan suara napas sedikit terengah-engah.“Iya beneran persis, posisi letak tanah makamnya ada di area deket batang pohon gede pada bagian ujung sana. Ingatan rute jalan kamu rupanya






