MasukAku mengarahkan kepala batang kemaluanku yang lebar dan basah oleh air liur itu tepat di bibir liang kemaluannya yang sempit dan berwarna merah muda cerah, lalu perlahan mulai menekan pinggulku ke depan untuk membelah jalan masuk ke dalam tubuhnya yang masih sangat rapat dan perawan.
Saat kepala batangku mulai menerobos masuk melewati cincin ototnya yang sangat kencang, Nona Sora langsung mencengkeram lengan kekarku dengan kuku-kuku jarinya yang tajam hingga menancap ke dalam kulitku, karena rasa sakit yang menyengat akibat peregangan paksa di bawah sana membuat tubuhnya kejang sesaat.
"Arghhh, sakiittt Mas Rafli, ini sakit banget, Mas, rasanya kayak mau robek di bawah sana karena punya Mas Rafli gede banget!"
Nona Sora meringis kesakitan dengan wajah yang memerah padam dan air mata bening mulai mengalir deras dari
Betul, jawabku dalam hati.Aku benar-benar merasakan perbedaan dari permainan mereka bertiga.Saat bermain bersama Claudia, aku benar-benar dianggap sebagai pelampiasan nafsu karena tubuhku yang kekar dan tanganku yang kasar. Dia menganggapku bagian dari fantasinya yang belum terpuaskan, apalagi Claudia tahu Si Gatot milikku ukurannya benar-benar perkasa untuk wanita yang gila seks sepertinya.Sementara Sora, dia ingin menjajal tubuhku karena dia tidak ingin aku lepas dari hidupnya. Aku diperlakukan layaknya samsak untuk kehidupannya dan dia menjamahku dengan tujuan untuk mengunci diriku, agar aku tidak bisa bebas lagi.Shella… berbeda.Wanita ini benar-benar dewasa.Aku merasa beruntung telah mengaguminya dari dulu.Aku pun beruntung mendapatkan hati dan cintanya, setidaknya dia sudah mengungkapkannya di ranjang ini.Shella memperlakukanku layaknya aku kekasih. Dia tidak mengekangku, tidak pula menjadikan fisikku yang kekar sebagai pemuas hasrat atau fantasi liarnya. Dia benar-benar
Shella tiba-tiba mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala lagi. Kali ini, jari-jarinya menarik karet gelang yang mengikat rambutnya dengan gerakan lambat. Begitu ikatan itu terlepas, rambut hitam panjangnya langsung jatuh tergerai menutupi punggung dan bahu mulusnya.Dia menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan beberapa kali, membiarkan helaian rambut itu menyebar sempurna.Rambutnya yang tebal dan bergelombang sebagian jatuh menutupi lengan atasnya, dan sebagian lagi menjuntai menutupi sebagian dada kirinya yang terbungkus bra hitam.Sebelumnya, Shella menguncir rambut, seperti bintang film ternama. Mukanya sedikit mirip Ana de Armas, tapi ketika dia menggelar rambutnya, dia lebih mirip seperti Alessandra Daddario yang begitu menggoda.Aku tidak berkedip melihat wajah Shella.Rambut sepunggung yang mulus, hitam, dan mengkilap. Tidak ada rambut rusak di ujungnya, bahkan ketika dia mengibaskan rambut itu, aku bisa melihat bidadari surga di depanku.Ketika rambutnya terk
"Sama siapa, Shell?"Mulut Shella terkunci tiba-tiba.Shella menggeleng kuat, air matanya menetes lagi. Dia membenamkan wajahnya kembali ke dadaku, untuk menyembunyikan kesedihannya. "Nggak... aku nggak bisa ngomong. Kalau aku ngomong, semuanya bakal hancur, Raf. Cukup aku aja yang ngerasain beban ini, kamu nggak usah ikut mikirin itu!"Aku tidak memaksanya lagi. Tapi dalam hati, aku sudah tahu jawabannya.Potongan puzzle di kepalaku mulai tersusun rapi.Mimpi tentang Emak, foto masa kecil, dan sekarang pengakuan setengah matang dari Shella.Semuanya mengarah ke satu fakta yang mengerikan sekaligus melegakan, yaitu fakta bahwa kami berdua sama-sama menjadi korban.Aku masih membiarkan Shella menangis di bahuku selama beberapa menit. Tanganku terus mengusap punggungnya yang basah oleh keringat, memberikan kasih sayang lembut agar dia merasa ada orang yang menopangnya.Tiba-tiba, Shella menegakkan punggungnya. Dia melepaskan pelukannya di pinggangku, lalu mencengkeram lengan atasku deng
Tangan kiriku bergerak perlahan menyisir rambut hitam Shella yang sekarang terasa agak lembap karena keringat. Aku memainkan ujung rambutnya, memilin-milinnya pelan, lalu menyelipkannya ke belakang telinganya agar aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.Posisi kami masih sama, dia menyandarkan kepalanya di bahu kananku, menempelkan pipinya di dada telanjangku, sementara tangannya melingkar erat di pinggangku seolah takut aku akan lari.Aku menundukkan kepala sedikit, lalu mengecup ubun-ubun kepalanya dua kali, cukup lama."Kamu tuh cewek paling keras kepala yang pernah aku kenal, Shell. Tapi sekuat-kuatnya batu karang, kalau dihantam ombak terus ya pasti kegerus juga," bisikku tepat di telinganya. "Nggak usah sok kuat terus di depan aku. Sekarang cuma ada kita berdua, nggak ada mama kamu, nggak ada Bu Darmi, Mbak Inem, Pak Budi, sama dua adikmu. Kamu bebas mau ngeracau kayak gimana, aku bakal dengerin semua keluh kesahmu!"Shella diam saja, tapi aku bisa merasakan bahunya mulai berget
Perlahan, Shella menarik wajahnya mundur untuk melepaskan ciuman panjang yang menguras napas itu, menyisakan benang saliva bening yang terputus di antara bibir kami yang basah dan bengkak kemerahan.Kelopak matanya terbuka perlahan, memperlihatkan bola mata cokelatnya yang kini terlihat sayu dan berkabut gairah, namun sorot matanya tetap tajam menatap lurus ke dalam mataku.Dia menatapku lekat-lekat selama beberapa detik, seolah sedang menilai apakah aku layak untuk melangkah ke tahap selanjutnya bersamanya malam ini.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Shella menganggukkan kepalanya satu kali, pelan sekali anggukannya, sampai aku tahu, tatapannya berharap kalau dia ingin melanjutkan siang romantis ini, dengan hanya kita berdua.Aku paham, anggukan itu ternyata sinyal bahwa dia menginginkan lebih dari sekadar ciuman di sofa.Kami kembali menyatukan bibir dalam ciuman kedua yang lebih dalam, tapi kali ini Shella melakukan pergerakan yang berbeda dengan kedua tangannya.Wanita itu melep
"Aku kan udah bilang, badanku ini kuat karena biasa angkat karung beras. Nahan beban hidup kamu doang mah enteng, paling cuma butuh pijit dikit kalau malem," jawabku mantap sambil menepuk dadaku sendiri dengan gaya sok jagoan.Shella tertawa lagi, tapi kali ini air matanya menetes jatuh membasahi pipinya yang mulus. Dia tidak berusaha menghapusnya, membiarkan sisi rapuhnya terlihat jelas di hadapanku. "Kamu tuh, bener-bener ya... aku nggak ngerti kenapa aku bisa ngerasa senyaman ini sama kamu, padahal kamu baru tinggal di sini beberapa bulan aja, terus pas kamu jadi sopir itu aku ga mau kenal sama kamu. Eh taunya, kamu kayak gini.""Status itu cuma tulisan di kertas, Shell. Yang ngerasain nyaman atau enggak itu kan hati, bukan kartu keluarga atau slip gaji," ucapku sok bijak, mengutip kata-kata yang pernah aku baca di belakang truk pantura."Pinter banget sih ngomongnya sekarang. Belajar dari mana?" ledek Shella sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan."Belajar dari ngadepin







