FAZER LOGINDisini Jay mulai terobsesi guyss... Yokk lah, ditunggu komemtarnya dari temen-temen :)) Tengkyu yang udah baca.
Ruang lab privat kembali sunyi setelah pertanyaan terakhir meluncur dari bibir Dokter Leonard Hayes. “Apakah Anda mencintainya sebagai seorang perempuan? Atau Anda mencintai respons tubuh Anda ketika bersamanya?” Jay tidak langsung menjawab. Rahangnya berdenyut halus. Otot di sisi pipinya menegang. Tatapannya yang tadi lurus kini turun sepersekian detik, seperti sedang mencari sesuatu yang tak pernah ia pelajari caranya menyebutkan. Udara terasa lebih dingin. Beberapa detik berlalu. “Apa Anda kesulitan menjawabnya, Tuan Russell?” tanya Hayes tenang. Jay menarik napas pelan. Dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. “Saya butuh dia,” ucapnya akhirnya. Suara itu rendah. Berat. Bukan defensif. Bukan marah. Lebih seperti pengakuan yang dipaksa keluar. Ia mengangkat pandangannya lagi. “Tapi saya juga ingin melindungi dia.” Dokter Hayes tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap Jay lama, memperhatikan setiap detail ekspresi di wajah pria itu. “Butuh dan melindungi,” uc
Ruang lab privat Dokter Leonard Hayes terasa lebih dingin dari biasanya pagi itu. Lampu putih terang menyinari meja kaca penuh grafik dan data yang masih menyala. Alis Dokter Hayes terangkat tinggi setelah mendengar permintaan Jay barusan. “Anda serius?” tanyanya pelan, suaranya masih profesional tapi jelas terkejut. Jay mengangguk sekali. “Cari cara sembuhkan feromon Vanya tanpa menghilangkan efeknya ke saya.” Ucapnya sekali lagi. Dokter Hayes meletakkan tablet perlahan. Ia menatap Jay lama, seperti sedang menimbang apakah pria di depannya sedang bercanda atau benar-benar serius. “Permintaan Anda sangat sulit, Tuan Russell,” kata Dokter Hayes akhirnya. “Stabilkan feromon Nyonya Russell … tapi tidak hilangkan efeknya pada Anda?” Ia menekan beberapa tombol di tablet. Layar besar di dinding menyala, menampilkan grafik data dari dua ronde observasi kemarin. “Dari data ini,” lanjut Dokter Hayes, menunjuk kurva lonjakan, “feromon Nyonya Russell bukan hanya pemicu, tapi juga ‘penguat’
Ponsel masih menempel di telinga Jay. Vanya masih tertidur di sisi ranjang, punggungnya menghadap Jay. Napasnya tenang. Tidak tahu bahwa namanya sedang jadi pusat ancaman. Di ujung sana, Jordan tertawa nanar. “Jadi aroma Vanya bikin lo bisa klimaks, ya Kak?” suaranya menusuk tanpa ragu. “Satu-satunya obat yang bikin lo nikmat setelah bertahun-tahun mati rasa. Makanya lo nekat nikahin dia? Bukan karena lo cinta, tapi karena lo butuh ‘obat’ itu terus-terusan?” Tubuh Jay menegang keras. Rahangnya mengunci. Otot lengannya menegang di sekitar pinggang Vanya. Napasnya berat. Tapi suaranya tetap rendah. Dingin. Mematikan. “Lo bicara satu kata lagi soal Vanya, gue pastiin lo nggak pulang hidup-hidup.” Jordan tidak gentar. Malah tambah menusuk. “Gue tahu lo pergi ke Boston bareng Vanya, cari Dokter buat ‘nyembuhin’ dia. Kalau Vanya sembuh, lo balik jadi orang yang nggak bisa ngerasain apa-apa lagi, kan?” Jay tidak menjawab. Jordan memanfaatkan keheningan itu. “Lo rela?” Ja
Jay masih duduk terpaku di sofa besar. Ruang tengah Presidential suite kembali sunyi. Nama pengirim masih tertera jelas di bagian atas email. Dr. Leonard Hayes. Jay membacanya sekali lagi, tanpa perubahan ekspresi. “Saya siap menjelaskan lebih lanjut besok jam 13:00. Hormat saya, Dr. Leonard Hayes.” Jay membaca ulang bagian itu tanpa ekspresi. Wajahnya datar, tidak ada cela. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada perubahan drastis. Hanya mata gelap yang menajam sepersekian detik. Potensi sembuh. Potensi netralisasi. Potensi Vanya tidak lagi menjadi ‘pemicu’. Jay menaruh tablet kembali ke meja kaca dengan gerakan pelan. Di pangkuannya, Vanya tertidur. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Lelah, namun damai. Rambutnya terurai lembut di lengan Jay, napasnya teratur menyentuh dada pria itu. Jay menatapnya lama. Awalnya hanya datar. Lalu ada sesuatu yang berubah. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. Ada kelegaan yang tidak bisa ia pungkiri.
Pesan dari Riko di layar ponsel Jay terasa seperti bom kecil secara mendadak: “Bos, Jordan tiba-tiba datang ke Mansion. Dia mencari Nyonya.” Udara di Presidential Suite mendadak terasa lebih berat. Vanya melihat perubahan ekspresi Jay lebih dulu. Wajah Jay yang tadi hangat kini mengeras. Tatapannya menggelap sepersekian detik sebelum kembali datar. “Jay … ada apa?” suara Vanya mengecil. Jay tidak langsung menjawab. Vanya mencondongkan tubuhnya sedikit dan mengintip isi pesan singkat dari Riko di ponsel Jay. Vanya menegang setelah membaca. “Jordan … datang ke Mansion?” Jay menoleh pelan. Tidak mengiyakan, bahkan tidak menyangkal. Dan itu lebih menakutkan. Tangan Vanya gemetar saat mencengkram lengan Jay. “Nggak … nggak mungkin,” napasnya mulai tidak teratur. “Dia ke mansion? Jay, Ibu sama Varsha di sana—” Air matanya langsung jatuh deras, ucapannya refleks terhenti sejenak. Vanya teringat dapur sore itu. Adiknya, Varsha berdiri kecil di lantai, menggenggam jari Jay dengan
Ruangan observasi itu terasa berbeda setelah ronde kedua berakhir. Tidak lagi dipenuhi napas memburu atau ketegangan yang membakar. Kini hanya ada dengung lembut sistem ventilasi, cahaya kuning hangat yang memantul di dinding steril, dan panel monitor kecil di sudut ruangan yang berkedip hijau stabil. Vanya duduk diam di tepi ranjang observasi. Selimut tipis masih menutupi tubuhnya. Napasnya perlahan kembali teratur. Jay duduk di sampingnya. Ia menarik Vanya ke dalam pelukannya, dagunya bertumpu di bahu Vanya. Tangannya mengusap perut Vanya pelan—gerakan refleks, lembut, hampir seperti memastikan bahwa semuanya masih utuh yang sarat karena kekhawatiran. Vanya menatap lurus ke dinding ruang isolasi. Lampu kuning lembut membuat bayangan mereka terlihat menyatu di permukaan kaca satu arah. Panel monitor di sudut masih menyala hijau. Hening yang panjang. Dibenaknya, satu kalimat berulang pelan: ‘Jay benar. Tubuhku bukan bagian dari grafik dokter.’ Ia menarik napas panjang. “Jay,







