LOGINMalam itu terasa panjang sekali. Walau jarum jam di dinding IGD terus bergerak, tapi suaranya seperti ejekan. Setiap detik berlalu tanpa kabar dari Kang Helmi, itu membuatku sangat stres.
Sudah bosan aku, berkali-kali menatap layar ponsel dan memencet ikon panggilan, menunggu, mendengar nada sambung yang berakhir dengan suara operator saja. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.” Kalimat itu terus berulang, seperti mantra yang membuatku jadi patung batu. Aku mencoba mengirim pesan, [Kang, Hafsah sudah ditangani dokter. Tolong ke rumah sakit, aku takut sendirian.] Tapi centangnya hanya satu. Lalu aku kirim lagi, masih berusaha. [Kang, tolong angkat teleponnya. Aku di ruang rawat melati 2. Hafsah butuh abinya.] Masih tak dibaca. Jangankan dibaca, chatnya sampai pun tidak. Sampai akhirnya aku menyerah. Aku duduk di kursi plastik di sudut ruangan, menatap Hafsah yang tertidur di ranjang kecil. Napasnya mulai teratur, pipinya masih pucat, tapi setidaknya tak lagi muntah. Syukurlah… ya Allah, syukurlah. Namun di antara rasa lega, ada getir yang tak bisa kuusir. Sebuah fakta bahwa aku sendirian. Suamiku, sosok lelaki yang dulu kukira tempat paling aman di dunia, tak tahunya pergi begitu saja setelah marah, dan tak menunjukkan ciri akan kembali malam ini. Sepanjang malam tidurku tidak lena, dan setiap kali aku terjaga selalu mengecek kondisi Hafsah, dan juga ponselku. Tetapi tetap saja tidak ada perubahan pada pesan-pesan yang kukirim pada kang Helmi.Semuanya tetap centang satu.
Hafsah sempat muntah darah sekali, tapi tak banyak dan dia langsung tidur lelap setelahnya. Mungkin kondisinya makin baik.
Dugaanku ternyata benar, ketika keesokan harinya dokter mengecek kondisi anakku, dia memberikan kabar gembira.
“Sudah boleh pulang, Bu. Kondisinya stabil,” katanya ramah. Aku mengangguk pelan dengan hati yang terasa gembira. “Terima kasih, Dok.” Setelah membereskan barang, aku duduk sebentar di pinggir ranjang. Hafsah memeluk boneka kecil yang diberikan suster tadi pagi, saat visite dokter. “Umi, kita pulang ya?” tanyanya dengan suara pelan. Aku tersenyum, mengelus puncak kepalanya sambil menahan air mata. “Iya, sayang. Kita pulang. Besok-besok, jangan makan permen lagi ya? Nggak usah makan permen lagi deh.” Hafsah mengangguk patuh. Kuselipkan ponsel ke saku, lalu membuka W******p lagi. Masih sama, pesan yang kukirim semalam belum dibaca. Aku mengetik lagi, berharap kali ini keajaiban datang dan tiba-tiba saja chatnya dibalas. [Kang, Hafsah sudah boleh pulang. Tolong jemput kami, aku nggak bawa uang buat ongkos.] Kirim. Tunggu. Oke centang dua! Tetapi tetap saja.. tidak dibaca. Perlahan rasa sakit itu menjalar dari dada ke tenggorokan. Kutelan semuanya. Aku tak boleh menangis di depan Hafsah. Walau rasanya berat, dan walau Hafsah bisa pulang sekarang, masih ada satu urusan besar yang tak bisa kuhadapi sendiri. Biaya administrasi. Aku melangkah ke bagian administrasi dengan langkah berat, dengan cemas meremas kedua tangan sambil mendekat. “Maaf, Bu, saya mau tanya soal pelunasan biaya IGD,” ucapku hati-hati. “Kemarin dibayar sebagian pakai debit orang lain. Sisanya saya mau cicil.” Petugas itu mengecek data di komputer, lalu menatapku. “Sudah lunas, Bu. Semua sudah didebet hari ini.” Aku tertegun, tak percaya. “Sudah… lunas?” Dia mengangguk. “Iya. Nama di transaksi kemarin sama seperti yang membayar uang muka—Pak Hamzah, ya?” Aku tercekat, mematung membisu. Hamzah lagi. Rasanya antara syukur dan malu bercampur jadi satu. Setelah urusan selesai, aku segera mengetik pesan untuk kang Hamzah. Walau tak bisa membayar sekarang, setidaknya aku tahu terima kasih.[Kang Hamzah, makasih banyak ya. Ternyata semua biaya udah lunas, aku baru tahu.]
[Pokoknya aku akan bayar nanti kalau udah punya uang. Terima kasih udah nolong aku dan Hafsah.] Kukirimkan, pesannya terkirim tapi belum dibaca. Ah biarlah, yang penting aku sudah berterima kasih. Sambil menunggu keajaiban-siapa tahu kang Helmi membalas dan menjemput kami pulang, aku melihat-lihat status WA dan yup, status adik iparku bertengger paling atas.Tidak ada yang aneh, hanya dia yang sedang pamer semua aktivitas hariannya bak influencer kenamaan. Makan bubur ayam, cekrek! Mengantar Shakira sekolah, cekrek! Cium tangan suami, cekrek! Semuanya diupdate, padahal siapa juga yang peduli.
Tapi tunggu..
"Ini.. bukannya kang Helmi? iya, ini kang Helmi. Aku ingat kok celana ini kan bolong sedikit pas sakunya, dan kujahit pakai benang abu, tuh.."
Aku sampai zoom in zoom out beberapa kali, memastikan jika sosok pria setengah badan yang tampil si status WA iparku adalah kang Helmi. Sebenarnya sekali lihat pun aku sudah tahu, aku kenal betul dia. Tetapi siapa tahu mataku sedang salah, kan?
"Kang Helmi duduk sama siapa?"
Ada sedikit ngilu dalam dadaku, melihat suamiku duduk berdampingan dengan seorang perempuan yang entah siapa. Lutut mereka nyaris beradu saking dekatnya mereka duduk. Caption Yuli semakin membakar kecurigaanku, [Ciee yang cinta pertama dan sejatinya baru aja selesai masa iddah. Ciee! Ciee! ada yang mau CLBK nich!]
Tanganku gemetar, apa maksud status ini?
Aku pun memutuskan untuk langsung pulang saja, walau harus jalan kaki sekalipun karena suamiku sama sekali tak ada kabar.
Siang terasa semakin terik, rasanya membakar hatiku yang resah. Aku keluar dari rumah sakit, menggendong Hafsah yang masih lemas.
Tak ada satu pun taksi yang berhenti, lagipula di dompetku juga hanya tersisa beberapa lembar ribuan. Jangankan untuk naik taksi, uangnya bahkan tidak cukup untuk ojek online. Jadi aku berjalan kaki saja, pelan-pelan, menapaki trotoar sambil sesekali berhenti agar Hafsah bisa istirahat di bahuku. Udara panas, tapi dingin di dadaku lebih menyakitkan. Aku berusaha menenangkan diri, mungkin Kang Helmi kehabisan baterai, mungkin dia sedang di luar jangkauan, mungkin dia cuma butuh waktu sendiri. Aku terus menghibur diriku dengan kata ‘mungkin’, seolah itu bisa menutup rasa sakit karena diabaikan. Sampai akhirnya aku berhenti di lampu merah besar di perempatan. Peluh menetes di pelipis, mataku rasanya sedikit berkunang. Sementara Hafsah bersandar di bahuku, setengah tertidur. Aku mengangkat wajah… dan tiba-tiba jantungku berhenti berdetak. Di seberang jalan, sebuah motor berhenti di barisan depan. Motor itu, sangat kukenal. Itu motor butut dua tak yang selalu dipakai Kang Helmi ke mana-mana dan di atasnya, jelas sekali kulihat punggung yang kukenal. Kang Helmi. Dia mengenakan jaket jeansnya yang sudah agak belel, celana yang sobek sakunya itu, dan di belakangnya duduk Yuli, adik perempuannya. Di depan, sesosok anak kecil usia tujuh tahun yang tak lain adalah Shakira, anak Yuli, dia duduk di antara mereka dengan helm merah muda. Banyak tas belanja di gantungan motor, kantong plastik warna-warni dari mal yang sering kudengar Yuli sebut kalau sedang pamer habis belanja. Aku tertegun. Tanganku refleks ingin melambai, mulutku sudah siap memanggil, “Kang!” Tapi sebelum sempat suaraku keluar, Yuli menoleh. Tatapan kami bertemu. Sekejap saja, tapi cukup untuk membuat darahku berdesir. Dia jelas melihatku. Matanya melebar sedikit, lalu cepat-cepat menepuk bahu Helmi, menunjuk sesuatu di arah berlawanan. Dan Kang Helmi… menoleh ke arah yang dia tunjuk. Bukan ke arahku. Lampu berubah hijau dengan cepat, lalu motor mereka melaju pelan, menghilang di tikungan. Aku masih berdiri di situ, menatap kosong ke arah jalan yang baru saja mereka lalui. Suara klakson di belakang menyadarkanku, tapi tubuhku kaku. Hafsah menggeliat di pelukanku, memanggil pelan, “mi…” Aku menunduk, mengusap rambutnya. “Iya, sayang. Kita jalan lagi, ya.” Suara sendiri yang akhirnya membuatku bergerak. Langkah demi langkah, tanpa tahu harus ke mana, selain pulang. Pulang ke rumah yang kini rasanya asing, ke rumah yang tak lagi punya suara laki-laki yang seharusnya menemaniku dalam susah. Aku tak tahu sampai kapan kang Helmi akan membiarkan aku sendirian, menghadapi situasi yang buruk ini. Okelah, tak apa jika dia tak peduli padaku. Tetapi Hafsah, bagaimana? Dia puterinya, anak yang sangat dia sayangi. Bisa-bisanya dia begitu tega, semalaman penuh tak menanyakan kabar, padahal jelas-jelas anaknya di rumah sakit. Rumah sudah di depan mata, napasku rasanya mau putus saking capeknya. “Umi, haus..” “Iya bentar sayang, udah sampai tuh. Kita minum di rumah, ya?” bujukku sambil mengelus kepalanya yang terkulai lemas. Sisa beras masih berserakan di tanah, sudah mengembang karena hujan semalam. Pintu rumah pun ternyata belum dikunci, hanya ditutup sekadarnya. “Apa kang Helmi nggak pulang, ya? Tapi tadi dia pakai jaketnya, yang baru kucuci.. berarti dia pulang.. tapi kenapa rumah nggak dikunci?” “Hhh, ya sudahlah.. untung nggak ada barang berharga di dalam rumah.” Aku membatin. Ketika kubuka pintu rumah, aku disajikan dengan pemandangan yang mengerikan.Di sisi lain kota, di kantor kecamatan yang biasanya menjadi tempat kebanggaan Helmi, suasana justru terasa mencekam. Helmi duduk di mejanya dengan kepala tertunduk.Rekan-rekan kerjanya yang biasanya mengajaknya makan siang atau sekadar bercanda, kini sibuk dengan urusan masing-masing, seolah Helmi adalah wabah yang harus dihindari.Dering telepon di meja kerja Helmi berbunyi. Bukan dari warga, tapi dari sekretaris Pak Camat."Pak Helmi, silakan ke ruangan Pak Camat sekarang. Membawa buku catatan Anda."Langkah Helmi terasa berat. Di dalam ruangan yang dingin itu, Pak Camat duduk dengan ekspresi yang sangat keras.Di depannya, ada sebuah map biru dan beberapa lembar surat kaleng serta cetakan tangkapan layar (screenshot) dari media sosial."Duduk, Helmi," perintah Pak Camat dingin. "Kamu tahu ini apa?"Pak Camat menyodorkan surat teguran resmi. "Kantor ini adalah lembaga pelayanan publik. Tapi selama sebulan terakhir, nama kamu terus-menerus muncul dalam laporan yang tidak menyenangk
Malam itu, rumah Eva yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang penuh dengan isak tangis yang tertahan.Di dalam kamar yang lampunya sudah dimatikan, Hafsah tidur dengan gelisah. Tubuh mungilnya berkali-kali tersentak, dan keringat dingin membasahi keningnya.Eva duduk di sampingnya, mengusap punggung anaknya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki setelah drama pencarian di pinggir jalan tadi sore."Jangan... Abi, buka pintunya... Hafsah laper..." igau Hafsah dalam tidurnya. Suaranya kecil, parau, dan penuh ketakutan.Eva memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Setiap igauan Hafsah adalah sembilu yang menyayat hatinya.Dia tidak pernah menyangka bahwa kerinduannya pada sosok ayah akan dibayar dengan trauma sedalam ini. Helmi tidak hanya meninggalkan luka pada Eva, tapi kini dia telah menghancurkan rasa aman di dunia kecil Hafsah.Keesokan paginya, kondisi Hafsah tidak membaik.Bocah itu menolak untuk keluar kamar. Bahkan ketika mendengar suara moto
Waktu seolah merayap dengan lambat, namun jarum jam dinding di rumah Eva terasa berdetak seperti genderang perang. Adzan Ashar sudah berkumandang lebih dari tiga puluh menit yang lalu, namun gerbang rumah yang kini terbuka lebar itu tak kunjung menampilkan sosok motor Helmi yang membawa Hafsah pulang.Eva berdiri di teras, jemarinya terus meremas ujung kerudungnya yang mulai lembap oleh keringat dingin. Perasaannya kacau. Sejak sepuluh menit yang lalu, dia mencoba menghubungi nomor Helmi. Eva sudah membuka blokir nomor itu demi bisa memantau anaknya, namun setiap kali dihubungi, operator hanya menjawab dengan nada yang sama: “Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”"Duh Ya Allah, Kang Helmi... jangan main-main sama anak," bisik Eva lirih.Dia mencoba mencari nomor Yuli di daftar kontaknya, namun dia baru ingat bahwa dia tidak pernah menyimpan nomor adik iparnya itu karena hubungan mereka yang selalu buruk. Kegelisahan Eva memuncak. Di saat itulah, Hamzah muncu
Siang itu, matahari seolah memanggang aspal di depan rumah Eva. Di teras, Eva sedang merapikan beberapa paket pesanan tetangganya saat sebuah motor yang sangat ia kenali berhenti di depan rumah.Helmi turun dengan membawa dua kantong plastik besar berisi berbagai macam jajanan, mulai dari ciki, susu kotak, hingga mainan plastik murah yang bungkusnya sudah agak kusam.Eva berdiri, wajahnya mendadak kaku. "Mau apa lagi, Kang? Bukannya urusan kita sudah jelas di pengadilan kemarin?"Helmi memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. "Va, tolong jangan begini. Akang ke sini bukan mau ribut. Akang kangen sama Hafsah. Sudah lama sekali Akang nggak ketemu dia, nggak main sama dia. Ini Akang bawakan jajanan banyak buat dia."Eva menarik napas panjang. Firasatnya buruk. Dia tahu betul bahwa Helmi jarang sekali melakukan sesuatu tanpa pamrih. Namun, sebelum Eva sempat menolak, Hafsah kecil sudah berlari keluar dari dalam rumah."Abi!" teriak bocah itu dengan mata berbinar.Hafsah, yang belum
Di siang yang sama, di tempat yang berbeda.Erin sedang duduk di teras rumah Bu Siti sambil mengikir kukunya, menunggu kurir paket yang biasanya datang seperti jadwal minum obat.Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Siska, temannya yang bekerja di sebuah toko fotokopi tepat di seberang Gedung Pengadilan Agama.[Halo, Rin! Kamu tahu nggak? Tadi aku lihat laki kamu, si Helmi!] suara Siska terdengar melengking penuh semangat gosip.[Ya emang dia ke sana, Sis. Kan sidang pertama sama mantan istrinya yang sok itu,] jawab Erin malas-malasan.[Iya, tapi kamu tahu nggak apa yang dia lakuin di parkiran tadi? Dia ngejar-ngejar mantan istrinya itu, Rin! Sampai mau pegang-pegang tangannya, mukanya melas banget kayak pengemis. Aku denger sendiri dia bilang 'Tolong jangan cerai, aku mau perbaiki semuanya'. Gila ya, Rin, itu suamimu kayak nggak punya harga diri banget di depan mantan istrinya!][Gimana sih, katanya udah nggak suka dan cuma sayang sama kamu, kamu yang dibangga-b
Gedung Pengadilan Agama itu tampak kaku dan dingin, dengan pilar-pilar putih besar yang seolah menghimpit siapa saja yang datang membawa beban rumah tangga di pundaknya.Bagi Eva, ini adalah langkah besar untuk menjemput kembali kemerdekaannya. Namun bagi Helmi, gedung ini terasa seperti panggung eksekusi bagi harga dirinya yang sudah compang-camping.Eva duduk di kursi tunggu kayu yang keras, didampingi oleh pengacaranya dan Pak Wawan.Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang rapi dengan kerudung senada. Wajahnya terlihat santai, matanya menatap lurus ke depan. Itu adalah sebuah ketenangan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat.Tak lama kemudian, Helmi datang. Penampilannya sangat kontras dengan biasanya. Seragam PNS-nya tampak agak kusut dan warnanya memudar karena salah metode cuci, wajahnya kusam dengan kantung mata yang menghitam.Dia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai besar, dan memang begitulah kenyataannya. Hutang pinjol Yuli, teror di kantor, dan sik
“Kenapa kamu chattingan sama lelaki lain, Eva?!”Suara Kang Helmi bergema keras di ruang tamu. Tangannya masih menggenggam ponselku erat, wajahnya merah padam, napasnya tersengal karena marah.Aku terpaku beberapa detik, mencoba mengatur napas, tapi sebelum sempat bicara, kata-katanya menghantamku
“Huekk!”Spontan kututup hidungku, perut yang kosong dan kelelahan, ditambah aroma busuk yang menguar membuatku nyaris tak mampu menahan muntah.“Bau Mi..” Hafsah pun mengeluh.Kuminta dia berdiri di teras, sementara aku masuk ke dalam rumah sambil menutupi hidung dengan ujung kerudung.“Astagfirul
Sudah tiga malam berturut-turut Kang Helmi tak pulang.Awalnya aku gelisah, setiap kali terdengar suara motor di depan rumah, aku menengok cepat, berharap itu dia. Tapi lama-lama aku berhenti berharap.Bahkan Hafsah juga tak menanyakan abinya, seolah dia sudah paham apa yang terjadi. Mungkin meman
Yuli yang jatuh pingsan dibawa ke rumahku, karena jika dibawa ke rumahnya terlalu jauh dan siapa juga yang mau membawanya?Adik iparku itu dibaringkan di atas karpet di ruang tamu, kemudian kuantar para tetangga keluar sambil berterima kasih.“Maaf jadi ngerepotin ya Bu, Pak.. maaf adik ipar saya s







