Share

Pakai Uangku Dulu

Penulis: Mami Lova
last update Tanggal publikasi: 2025-11-11 20:49:59

“Eva?”

Aku menoleh, dan dadaku langsung serasa berhenti berdetak.

Sosok itu berdiri tak jauh dari tempatku berdiri, wajar sekali suaranya begitu familiar karena aku pun masih sangat ingat setiap guratan di wajahnya itu.

Sosok tinggi dengan wajah yang tak berubah sedikit pun dari ingatanku bertahun-tahun lalu, wajah yang dulu sering terlihat lelah, dengan kantong mata hitam karena kebanyakan begadang, tetapi bibirnya selalu mengulas senyum yang menyenangkan.

Hamzah.

“Kang… Hamzah?” panggilku, dan dia tertawa lebar.

Dia berjalan mendekat, terlihat kikuk karena kedua tangannya terlihat canggung di sisi tubuhnya.

“Eva, apa kabar?”

“Kabar baik, kang. Akang sendiri? Udah lama banget enggak ketemu..” sapaku berbasa basi.

Hamzah tersenyum, dan jujur aku kagum melihat penampilannya sekarang. Kini, dia bukan lagi mahasiswa yang datang ke kantin dengan kemeja kusut dan tas penuh buku.

Penampilannya rapi, dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku, jam tangan yang terlihat mahal di pergelangan, dan wibawa yang sulit dijelaskan.

Tatapan matanya tenang, tapi penuh rasa ingin tahu. Ada ketegasan di garis rahangnya, namun juga kelembutan di sudut senyumnya.

“Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Udah berapa lama kita nggak ketemu, ya?” suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat hatiku seperti diremas.

Aku tersenyum samar, “kurang tau, Kang. Empat atau lima taunan mungkin?”

Dia mengangguk, langkahnya mendekat pelan. “Aku hampir nggak yakin tadi. Tapi waktu dengar kamu dipanggil sama suster, aku langsung sadar.”

Aku menatapnya bingung, mataku masih terasa basah langsung kuseka supaya tak terlalu nampak. “Kamu ngapain di sini, Kang?”

“Antar mamaku check up,” jawabnya singkat, lalu melirik ke arah ranjang tempat Hafsah terbaring. “Anakmu, ya?”

Aku mengangguk pelan.

“Iya. Katanya dia keracunan jajanan. Baru aja dibawa ke IGD.”

Hamzah menarik napas panjang, ekspresinya berubah cemas.

“Aku tadi sempat dengar kamu dan suamimu…” ia berhenti sebentar, menimbang kata, “…berdebat di luar ruang tunggu.”

Pipiku panas seketika, malu rasanya. Tapi aku tak punya tenaga untuk membela diri dan mengelak.

“Iya, maaf kalau berisik. Aku… aku nggak bermaksud…”

“Bukan soal itu,” potongnya pelan. “Aku cuma khawatir.”

Kata itu membuat dadaku bergetar aneh, khawatir. Sudah lama sekali tak ada yang bilang begitu padaku.

Hamzah memandangi Hafsah dengan tatapan lembut, sorot mata yang biasanya hanya diberikan seorang ayah pada puterinya.

“Aku bisa bantu apa?” tanyanya lirih.

Aku buru-buru menggeleng, “nggak usah, Kang. Ini cuma soal waktu aja, lagian nanti suamiku datang kok bantu-bantu di sini.”

Dia menatapku lama, “bukan begitu, maksudnya… ehem, untuk biaya administrasinya..”

“Enggak Kang, makasih. Suamiku tadi mungkin memang marah, tapi aku yakin dia sedang cari bantuan.”

Hamzah diam, tapi tak memaksa.

Namun beberapa menit kemudian, saat aku duduk di meja administrasi dan suster menyebut jumlah tagihan awal IGD, aku langsung membeku.

Jumlahnya cukup besar. Puluhan kali lipat lebih besar dari uang terakhir yang kupunya bahkan jika uang kang Helmi masih ada.

Tanganku gemetar, suaraku nyaris tak keluar.

“Bisa… bisa saya bayar nanti? Suami saya lagi di luar, mungkin sebentar lagi datang.”

Suster menatapku sopan, tapi aku tahu nada ragu di suaranya.

“Ibu, maaf. Tapi untuk tindakan awal tetap harus dibayar dulu, paling tidak uang muka.”

Aku menunduk, mataku mulai panas lagi. Ya Tuhan, aku harus gimana?

Lalu suara itu terdengar di belakangku.

“Saya yang urus, Mbak.”

Aku menoleh cepat, setetes air mataku lolos. Hamzah sudah berdiri di sebelahku, menyodorkan kartu debitnya pada suster dengan tenang.

“Kang Hamzah, jangan!” seruku panik.

“Nggak usah, aku bisa cari cara.”

Dia menatapku lembut, matanya tajam tetapi entah kenapa terasa menenangkan.

“Eva, nggak apa-apa. Ini buat anakmu. Anggap aja ini hadiah pertemuan dariku buat anakmu.”

Aku menggeleng, menahan air mata.

“Aku nggak enak, sumpah. Aku… aku takut kang Helmi marah kalau tahu.”

Hamzah tersenyum kecil, tapi tatapannya serius.

“Aku nggak akan bilang siapa-siapa dan nggak berharap apa-apa. Aku cuma bantu. Anakmu itu butuh cepat ditangani, kan?”

Aku terdiam dengan tenggorokan yang terasa dicekik dari dalam. Aku tahu, di situasi ini, aku tak punya pilihan lain.

Dengan napas berat, akhirnya aku mengangguk pelan.

“Baiklah. Tapi ini nggak akan aku terima cuma-cuma. Ini hutang.. dan aku janji, aku akan ganti. Kasih aku waktu sampai akhir bulan ya, Kang?”

Hamzah menatapku lama, seolah menimbang sesuatu. “Eva, ini bukan soal uang. Aku nggak perlu diganti.”

“Tapi aku mau, Kang Hamzah,” ujarku cepat.

“Aku harus. Aku nggak mau ada salah paham.”

Dia menatapku lagi dengan sorot mata tajamnya, lalu menghela napas dan mengangguk.

“Ya sudahlah. Kalau itu bisa bikin kamu tenang.”

Ia meminta ponselku, lalu menulis sesuatu di layar.

“Ini nomorku. Simpan, nanti kabarin aja kalau kamu udah bisa ganti.”

Aku menerima kontak itu dengan tangan gemetar. Rasanya aneh melihat nama Hamzah muncul di layar ponselku lagi setelah bertahun-tahun.

Nama yang dulu begitu sering muncul di daftar panggilan saat aku masih bekerja di kantin kampus, tempat kami dulu sering bicara berjam-jam tentang hidup, cita-cita, dan hal-hal kecil yang waktu itu terasa besar.

“Terima kasih ya, Kang Hamzah,” ucapku lirih.

Dia tersenyum lembut, seperti tak bosan-bosan membuatku membongkar kembali kenangan lama di dalam otakku ini.

Semua kenangan yang telah kukubur dalam, setelah aku memutuskan untuk menerima pinangan kang Helmi.

Entah kenapa, saat ini semuanya hadir kembali tanpa permisi. Menimbulkan rasa aneh yang membuatku kebingungan, aku takut dan cemas, tapi juga merasa senang, merasa kembali muda.

“Udah lama banget, Eva. Aku nggak nyangka ketemu kamu lagi, walaupun harus di tempat dan waktu kayak gini.”

Aku hanya bisa menunduk. Dalam hati, aku tahu Tuhan sedang memainkan sesuatu yang belum kumengerti.

“Oh iya, mamamu.. di mana? Mungkin aku harus menyapa sebentar..” tanyaku basa basi lagi.

“Sudah menunggu di mobil. Nggak apa nggak usah, kasihan anakmu nggak ada yang nungguin. Kalau begitu, aku duluan ya? Semoga anakmu cepat sembuh dan kalau ada apa-apa, jangan ragu buat hubungin aku.”

Kuanggukkan kepala pelan, walau jelas aku tak akan melakukannya. Aku masih punya suami, kenapa harus minta tolong pada orang lain?

Hamzah menatapku sekali lagi, lalu berjalan pelan ke arah ruang tunggu, meninggalkanku dengan Hafsah yang masih terbaring lemah.

Sementara aku berdiri di situ, antara lega, takut, dan bingung. Aku tak salah menerima bantuan dari lelaki lain, kan?

Kondisinya sangat mendesak dan suamiku tak tahu ke mana. Aku bukan selingkuh, sungguh! Walaupun tak bisa kupungkiri jika dahulu hubungan kami lebih dari sekadar teman, sebelum aku dan kang Helmi menjalin rasa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Keputusan Camat

    Di sisi lain kota, di kantor kecamatan yang biasanya menjadi tempat kebanggaan Helmi, suasana justru terasa mencekam. Helmi duduk di mejanya dengan kepala tertunduk.Rekan-rekan kerjanya yang biasanya mengajaknya makan siang atau sekadar bercanda, kini sibuk dengan urusan masing-masing, seolah Helmi adalah wabah yang harus dihindari.Dering telepon di meja kerja Helmi berbunyi. Bukan dari warga, tapi dari sekretaris Pak Camat."Pak Helmi, silakan ke ruangan Pak Camat sekarang. Membawa buku catatan Anda."Langkah Helmi terasa berat. Di dalam ruangan yang dingin itu, Pak Camat duduk dengan ekspresi yang sangat keras.Di depannya, ada sebuah map biru dan beberapa lembar surat kaleng serta cetakan tangkapan layar (screenshot) dari media sosial."Duduk, Helmi," perintah Pak Camat dingin. "Kamu tahu ini apa?"Pak Camat menyodorkan surat teguran resmi. "Kantor ini adalah lembaga pelayanan publik. Tapi selama sebulan terakhir, nama kamu terus-menerus muncul dalam laporan yang tidak menyenangk

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Trauma

    Malam itu, rumah Eva yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang penuh dengan isak tangis yang tertahan.Di dalam kamar yang lampunya sudah dimatikan, Hafsah tidur dengan gelisah. Tubuh mungilnya berkali-kali tersentak, dan keringat dingin membasahi keningnya.Eva duduk di sampingnya, mengusap punggung anaknya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki setelah drama pencarian di pinggir jalan tadi sore."Jangan... Abi, buka pintunya... Hafsah laper..." igau Hafsah dalam tidurnya. Suaranya kecil, parau, dan penuh ketakutan.Eva memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Setiap igauan Hafsah adalah sembilu yang menyayat hatinya.Dia tidak pernah menyangka bahwa kerinduannya pada sosok ayah akan dibayar dengan trauma sedalam ini. Helmi tidak hanya meninggalkan luka pada Eva, tapi kini dia telah menghancurkan rasa aman di dunia kecil Hafsah.Keesokan paginya, kondisi Hafsah tidak membaik.Bocah itu menolak untuk keluar kamar. Bahkan ketika mendengar suara moto

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Hafsah Hilang

    Waktu seolah merayap dengan lambat, namun jarum jam dinding di rumah Eva terasa berdetak seperti genderang perang. Adzan Ashar sudah berkumandang lebih dari tiga puluh menit yang lalu, namun gerbang rumah yang kini terbuka lebar itu tak kunjung menampilkan sosok motor Helmi yang membawa Hafsah pulang.Eva berdiri di teras, jemarinya terus meremas ujung kerudungnya yang mulai lembap oleh keringat dingin. Perasaannya kacau. Sejak sepuluh menit yang lalu, dia mencoba menghubungi nomor Helmi. Eva sudah membuka blokir nomor itu demi bisa memantau anaknya, namun setiap kali dihubungi, operator hanya menjawab dengan nada yang sama: “Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”"Duh Ya Allah, Kang Helmi... jangan main-main sama anak," bisik Eva lirih.Dia mencoba mencari nomor Yuli di daftar kontaknya, namun dia baru ingat bahwa dia tidak pernah menyimpan nomor adik iparnya itu karena hubungan mereka yang selalu buruk. Kegelisahan Eva memuncak. Di saat itulah, Hamzah muncu

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Main Yuk

    Siang itu, matahari seolah memanggang aspal di depan rumah Eva. Di teras, Eva sedang merapikan beberapa paket pesanan tetangganya saat sebuah motor yang sangat ia kenali berhenti di depan rumah.Helmi turun dengan membawa dua kantong plastik besar berisi berbagai macam jajanan, mulai dari ciki, susu kotak, hingga mainan plastik murah yang bungkusnya sudah agak kusam.Eva berdiri, wajahnya mendadak kaku. "Mau apa lagi, Kang? Bukannya urusan kita sudah jelas di pengadilan kemarin?"Helmi memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. "Va, tolong jangan begini. Akang ke sini bukan mau ribut. Akang kangen sama Hafsah. Sudah lama sekali Akang nggak ketemu dia, nggak main sama dia. Ini Akang bawakan jajanan banyak buat dia."Eva menarik napas panjang. Firasatnya buruk. Dia tahu betul bahwa Helmi jarang sekali melakukan sesuatu tanpa pamrih. Namun, sebelum Eva sempat menolak, Hafsah kecil sudah berlari keluar dari dalam rumah."Abi!" teriak bocah itu dengan mata berbinar.Hafsah, yang belum

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Membenci Mantan Suami

    Di siang yang sama, di tempat yang berbeda.Erin sedang duduk di teras rumah Bu Siti sambil mengikir kukunya, menunggu kurir paket yang biasanya datang seperti jadwal minum obat.Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Siska, temannya yang bekerja di sebuah toko fotokopi tepat di seberang Gedung Pengadilan Agama.[Halo, Rin! Kamu tahu nggak? Tadi aku lihat laki kamu, si Helmi!] suara Siska terdengar melengking penuh semangat gosip.[Ya emang dia ke sana, Sis. Kan sidang pertama sama mantan istrinya yang sok itu,] jawab Erin malas-malasan.[Iya, tapi kamu tahu nggak apa yang dia lakuin di parkiran tadi? Dia ngejar-ngejar mantan istrinya itu, Rin! Sampai mau pegang-pegang tangannya, mukanya melas banget kayak pengemis. Aku denger sendiri dia bilang 'Tolong jangan cerai, aku mau perbaiki semuanya'. Gila ya, Rin, itu suamimu kayak nggak punya harga diri banget di depan mantan istrinya!][Gimana sih, katanya udah nggak suka dan cuma sayang sama kamu, kamu yang dibangga-b

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Yang Mau Cerai

    Gedung Pengadilan Agama itu tampak kaku dan dingin, dengan pilar-pilar putih besar yang seolah menghimpit siapa saja yang datang membawa beban rumah tangga di pundaknya.Bagi Eva, ini adalah langkah besar untuk menjemput kembali kemerdekaannya. Namun bagi Helmi, gedung ini terasa seperti panggung eksekusi bagi harga dirinya yang sudah compang-camping.Eva duduk di kursi tunggu kayu yang keras, didampingi oleh pengacaranya dan Pak Wawan.Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang rapi dengan kerudung senada. Wajahnya terlihat santai, matanya menatap lurus ke depan. Itu adalah sebuah ketenangan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat.Tak lama kemudian, Helmi datang. Penampilannya sangat kontras dengan biasanya. Seragam PNS-nya tampak agak kusut dan warnanya memudar karena salah metode cuci, wajahnya kusam dengan kantung mata yang menghitam.Dia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai besar, dan memang begitulah kenyataannya. Hutang pinjol Yuli, teror di kantor, dan sik

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Jantungku Ugal-Ugalan

    “Hah? Kamu ngomong apa sih, Va? Kapan aku foto sama perempuan? Aku nggak pernah!” Kang Helmi mengelak, tapi bisa kulihat keringat dingin sebesar biji jagung di pelipisnya.“Iya, foto bareng nggak pernah.. tapi video call mesum bareng mah sering, iya kan Kang? Ngaku kamu!”“Sering apa?! kapan?! Kal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Desahan di Kamar Mandi

    Kang Helmi tak berhenti walaupun aku tak memberikan respon apapun, tangannya terus bergerak bebas di sekujur tubuhku.“Sekarang kamu nggak usah ngapa-ngapain, biar aku yang beraksi ya Neng? Pokoknya kamu pasti bakal puas banget.” Bisiknya dengan napas yang sudah memburu.Bisa kurasakan sedikit tonj

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Yuli Bikin Ribut

    Setelah membeli nasi kuning, aku menggandeng tangan Hafsah untuk kembali pulang. “Mi, kita ke rumah Alea ya..” rengeknya, meminta untuk pergi ke rumah kawan barunya itu.Aku bingung menanggapi kemauan puteri semata wayangku ini, karena rasanya tak etis sekali jika kami menyengajakan diri mampir ha

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Perempuan Lain di Boncengannya..

    Hari-hariku berjalan seperti biasa, begitu datar, tanpa banyak perubahan.Satu-satunya perubahan yang terjadi adalah jumlah penghuni rumah, hanya ada aku dan Hafsah. Kang Helmi, hampir tak pernah pulang.“Mi, kok abi nggak pulang-pulang?” tanya gadis kecilku itu, sedih.Aku hanya bisa mengusap punc

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status