Masuk
[Dibutuhkan segera: tenaga kerja wanita.
Syarat utama: janda mati yang mempunyai tanggungan anak balita.]
Dahi Cahya berkerut setelah membaca iklan di situs lowongan pekerjaan. Dilihat dari sisi mana pun, lowongan ini aneh.
Apakah pemasang iklannya mencari kesempatan untuk beramal kepada janda dan anak yatim?
Walaupun ini sesuai yang wanita ini butuhkan, tetapi ada keraguan dalam hati Cahya. Apalagi saat membaca fasilitas yang akan ia dapatkan.
[Gaji melebihi UMR, tinggal dalam, dan kebutuhan harian sudah ditanggung.]
Jika bukan karena ada niat khusus, tidak mungkin kan fasilitasnya sebagus ini? Untuk janda beranak satu dan di masa ketika orang sedang kesulitan cari kerja pascapandemi pula.
Namun, menelisik perusahaan ini sepertinya terpercaya dan bukan perusahaan penipuan yang berkedok mencari tenaga kerja. Banyak komentar yang menyatakan ini benar, dan Cahya pun tahu di mana letak kantor perusahaan itu.
Setelah memantapkan diri, wanita beranak satu ini mengisi biodata dan meng-klik tombol send.
Tidak lupa melampirkan foto keluarga yang dijadikan salah satu persyaratannya. Sekarang menunggu tahap berikutnya, panggilan untuk wawancara.
"Mbak Cahya! Permisi."
Suara di balik pintu menyentakkan dia.
Tahu siapa yang datang, dia melangkahkan kaki lebar-lebar untuk membuka pintu. Sejenak jantungnya berdetak kencang dan tangan terasa dingin tiba-tiba. Ibu pemilik kos datang, seperti biasa menagih sewa bulanan.
"Adik kecil bobok?" tanyanya dengan wajah dan tatapan berbinar. Cahya tahu ini sekadar basa-basi, lihat saja, nanti akan ada perubahan setelah mendengar jawabannya.
"Pagi, Mbok Kadek," jawab Cahya setelah membukakan pintu. Mbok, sebutan kepada perempuan muda di Bali, sama dengan sebutan 'mbak' kalau di Jawa.
"Biasa, Mbak Cahya. Mau ambil bulanan," ucap wanita yang dipanggil Mbok Kadek masih menebar senyum.
"Maaf, Mbok."
Satu kata maaf menyusutkan seketika senyum yang disajikan tadi, seakan mengerti kalimat apa yang akan menyertai setelahnya.
"Bisa tolong minta waktu lagi. Saya belum dapat pekerjaan."
Sekarang, senyum itu benar-benar tak berbekas.
"Mbak Cahya, minggu kemarin alasannya begitu. Sekarang juga. Kok mundur-mundur terus? Saya tidak bisa menunggu lama. Mbak Cahya kan tahu, penghuni kos banyak yang pulang kampung. Sedangkan tagihan bank masih terus berjalan."
Wanita berkulit putih bersih itu mengangguk mengerti, hafal dengan alasan yang akan dijabarkan. Pasti seputar tagihan pinjaman Bank yang dulu digunakan sebagai modal pembangunan kos-kosan ini.
Hitungannya, sih, tidak meleset kalau keadaan normal. Namun, penyewa kos yang berkurang drastis menyebabkan pemasukan berkurang banyak. Mereka pada umumnya menyerah dengan keadaan, memilih pulang ke kampung, atau kembali ke pulau tempat mereka berasal.
Walaupun Cahya mengerti keadaannya, tapi bagaimana lagi?
"Tapi, Mbok. Suami saya–"
"Iya, saya tahu. Makanya saya beri toleransi waktu. Tapi, bukan berarti tinggal gratis," ucapnya sambil menengadahkan tangan. “Dah, kasih saya sekarang berapa aja. Hitung aja sebagai cicilan.”
Cahya akhirnya menyerahkan satu lembar uang berwarna merah terakhir yang ia punya.
Tidak apa-apa. Dia masih ada sedikit sisa uang–paling tidak untuk beli bubur untuk Sakti.
Suaminya belum lama ini meninggal terkena wabah COVID, tanpa mewariskan apapun kecuali seorang putra serta tunggakan tagihan kontrakan dan pinjaman bank. Cahya sendiri sudah lama berhenti bekerja.
Sementara sekarang, meskipun ia ingin bekerja, akan sulit karena wabah penyakit ini melumpuhkan hotel dan restoran–tempatnya mencari kerja sebelumnya. Rekan-rekannya pun banyak yang dirumahkan.
Dia mengerti, situasi sekarang ini merupakan pukulan telak bagi pelaku pariwisata seperti Bali ini. Yang biasanya bergantung dengan datangnya tamu, kebijakan penutupan wilayah memaksa menghentikan semua kegiatan ekonomi.
“Mm … Ayah, Ayah….”
Perhatian Cahya teralih ketika mendengar putranya mengigau dalam tidur, lalu dihampirinya si balita.
“Sayang, mimpiin Ayah ya?” ucap Cahya lembut sembari duduk di sisi tempat tidur. Diusapnya kepala Sakti pelan. “Bangun dulu, yuk. Makan bubur, terus–”
Ucapan Cahya terhenti saat mendapati tubuh Sakti panas. Seketika jantungnya serasa jatuh. Ia menyentuhkan kembali telapak tangannya ke dahi kecil itu, memastikan dirinya tidak salah rasa.
“Astaga, panas sekali….”
“Kenapa ada di sini?” Cahya menatap suaminya yang menutup pintu perlahan. Kemudian membuka tirai sedikit mengintip ke arah luar.“Aman. Mami sudah istirahat di kamar.” Ethan tersenyum lebar dan mendekat. Satu kali rengkuhan, tubuh Cahya sudah berlabuh di pelukan.“A-apa tidak bahaya. Nyonya nanti__”“Stss…. Pasti ini ada pertanda kalau kita harus berterus terang kepada Mami.”“Tapi nanti kalau Nyonya marah gimana?”Ethan membubuhkan ciuman lembut di pucuk kepalanya. “Mami memang orangnya tegas, tetapi Mami bukan orang jahat, Aya. Percaya sama suamimu ini.”Dalam dekapan, Cahya merasakan kedamaian meskipun keresahannya masih begitu pekat. Bagaimana kalau Nyonya William murka dan mengusirnya? Dia sadar diri kalau bukan wanita yang sederajat dengan suaminya.Terbersit ide dia mengalah saja, daripada suaminya berselisih pendapat dengan orang tuanya. Dia bisa menghidupi Satria dan anak dalam kandungannya.Dalam hati Cahya berguman, “Aku tidak boleh serakah. Begitu banyak nikmat yang diberik
Bohong kalau Cahya merasa baik-baik saja meskipun dia berada dalam perlindungan suaminya. Jantung wanita itu nyaris copot menatap Nyonya William yang mendekat. Begitu juga Ethan.“Ethan! Kamu tidak memeluk Mami?”Terhenyak, langkah Ethan pun bergegas meninggalkan Cahya yang berdiri mematung. Dengan sendirinya, wanita ayu itu mengempiskan perut menyembunyikan kehamilannya.Ibu dan anak itu berpelukan. “Mami, bukankah rencananya datang minggu depan? Aku kaget.”“Aku bilang minggu-minggu ini, kan? Ada tiket dan Papimu bisa ditinggal, Mami langsung terbang.”“Kenapa tidak menelponku saat diperjalanan? Aku bisa menjemput di bandara.”“Kejutan, Ethan Sayangku.”“Keira pasti senang.”“Oh, iya. Mana cucuku! Mami kangen!” Wanita itu mengedarkan pandangan, kemudian bertumpu pada Cahya yang berdiri di sana. “Itu Cahya, kan? Wanita yang mengasuh cucuku?”Ujung-ujung jemari Cahya membeku seketika. Sorot mata Nyonya William yang terpusat kepadanya seperti penghakiman. Ethan menatap Cahya kemudian b
“Ah masih satu minggu lagi. Aku akan cari jalan keluar untuk Cahya,” guman Ethan sambil memasukkan ponsel ke dalam saku.Mobil melaju membelah jalan by pass Nusa Dua. Jalanan mulai padat meskipun masih bisa jalan. Ethan memandang ke arah luar jendela. Lelaki itu terlihat tenang, tetapi di dalam kepalanya berputar dengan banyak rencana.“Cahya itu istriku. Kenapa aku harus menyembunyikan dia?” ucapnya setelah bergulir satu rencana.Baru saja dia memikirkan akan memindahkan Cahya ke Ubud. Di sana ada villa bagus yang sudah dia incar lama. Dia tidak berniat memindahkan Cahya dari rumah supaya tidak bertemu ibunya nanti. Mengingat latar belakang mereka menjadi suami istri, yang bisa memantik amarah ibunya. Apalagi Cahya sedang mengandung. Bukankah itu bisa membahayakan?“Atau, aku terus terang tentang Keira ke Mami? Dengan begitu dia akan menyambut kedatangan cucu yang dikandung Cahya.”Dahi Ethan semakin berkerut, kemudian dia menghela napas panjang sambil memijit pelipis. Ini seperti di
“Selamat pagi, sayang-sayangnya papi!” Ethan menghampiri meja makan.Keira dan Satria yang sedang makan didampingi pengasuh pun menoleh bersama. Awalnya mereka terlihat terkejut, kemudian senyum mereka mengembang sempurna. Terutama Keira yang langsung beranjak dari tempat duduk. Mata gadis kecil itu berbinar sarat dengan kerinduan.“Papi…. Selamat pagi.”Ethan tersenyum dan langsung menyambut Keira. Telapak tangan yang awalnya bergerak ragu, kemudian memeluk tubuh setinggi pinggangnya itu setelah Cahya mensejajarinya.Mata Cahya mengedip dan mengangguk. Wanita itu tersenyum lega saat suaminya mengingat yang dia ucapkan. Semalam setelah kebersamaan mereka, Cahya dan Ethan berbincang lama sambil tiduran. Sang istri rebah di lengan suami.“Jalan hidup kita sering tidak tertebak, ya. Kita bertemu dengan kesalahan dan berakhir bahagia seperti sekarang ini,” ucap Cahya sambil mengusap-usap dada Ethan yang berbulu.“Siapa bilang itu kesalahan?”“Iya, gara-gara aku salah kira kamu sopir taxi o
“Apa aku kembalikan dia kepada keluarga Siska saja?”Cahya terkesiap.“Keira?! Jangan! Jangan, Sayangku. Bagiku Keira sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak mau berpisah dengannya,” sahut Cahya sambil memegang kedua tangan suaminya."Tapi, Aya. Kamu tahu tidak, setiap melihat dia pikiranku langsung membayangkan Siska bersama dengan lelaki bangsat itu. Kamu tahu rasanya sebagai suami saat membayangkan istrinya dipakai lelaki yang aku tidak tahu siapa dia?!” Mata Ethan menyala nyalang. Kedua alisnya bertaut. “Saya mengerti. Tetapi semua ini bukan salah Keira, Sayang. Dia tidak tahu apa-apa. Coba kamu bayangkan kalau menjadi Keira. Dari lahir yang dia tahu inilah rumahnya. Kamulah papinya.""Tapi bagaimana dengan aku?" ucap Ethan dengan sorot mata memohon. Cahya menghela napas. Ini sungguh berat. Kemudian dia berguman, "Jangan sampai kesalahan orang dewasa menyakiti Keira yang tidak bersalah.”"Aku pun berpikir demikian, Aya."Mereka sama-sama terdiam.“Tapi, Aya. Itulah yang membuat
Keira dan Satria sudah tidur. Cahya duduk di tepi ranjang memandang keduanya.Wajah damai mereka menyunggingkan senyuman. Tangan kecil Keira memeluk tubuh gembul Satria. Sedangkan kaki si kecil bertumpu pada tubuh Keira.Selalu begitu kalau mereka tidur bersama. Tak ubahnya saudara mereka saling menyayangi. Keira yang selalu mengatur, sedangkan Satria yang suka dimanja.“Keira, Sayang. Mama Aya akan selalu menyayangi dirimu. Siapa pun kamu. Selamanya akan menjadi anak mama,” bisik Cahya sambil membelai rambut berwarna coklat itu.Dada Cahya begitu berat mengingat kemungkinan karena golongan darah itu. Anak ini tidak bersalah. Orang dewasalah yang keliru.“Huuft semoga Ethan tidak menyadari itu,” desah Cahya meskipun di sudut hati merasa ada perubahan sikap pada suaminya.“Semoga tidak.” Di menggelengkan kepala menolak pikiran buruk yang terlintas.Jarum jam dinding sudah menunjuk malam sudah larut. Ingin rasanya melihat keadaan suaminya. Dia mengatakan banyak pekerjaan. Kalau pun tida







