Beranda / Romansa / Dimanjakan sang Majikan Tampan / Bab 2. Pertolongan Orang Asing

Share

Bab 2. Pertolongan Orang Asing

Penulis: Astika Buana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-23 18:55:59

Buru-buru dia mengambil sapu tangan berbahan handuk yang sebelumnya direndam air hangat. Katanya, ini akan memicu keringat sehingga menurunkan suhu tubuh. 

Namun, untuk sekian lama panas tidak berkurang, justru semakin tinggi.

“Aduh, apa yang harus aku lakukan?” Tangannya mengusap badan kecil itu yang semakin panas. Kulit putih pada wajah kecil itu pun memerah seakan memendam bara. 

“Ayah….”

Sakti kembali mengigau, membuat Cahya semakin takut.

“Iya. Ayah sayang Sakti–” Ucapan Cahya terhenti karena dada semakin sesak. Matanya mulai mengabur oleh air mata. 

‘Tapi tolong jangan ambil putraku sama seperti Engkau mengambil suamiku, Tuhan,’ batin Cahya. Ia tidak sanggup jika harus kehilangan putranya juga.

Jam dinding menunjuk angka delapan lebih. Keadaan Sakti tidak berubah sama sekali, membuat Cahya kian takut.

Akhirnya ia memutuskan untuk membawa Sakti ke IGD. Entah berapa uang yang harus ia keluarkan–yang jelas ia tidak ingin kehilangan sekali lagi.

Cahya langsung memesan mobil online, memakaikan Sakti jaket, memeriksa dompet, dan segera beranjak bersiap di tepi jalan. Sambil memeluk Sakti yang semakin tinggi panas tubuhnya, matanya awas ke jalan yang tidak kunjung ada mobil yang datang.

“Ya, Tuhan. Tolong aku,” gumam Cahya sambil menggoyang-goyangkan tubuh kecil itu. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Hanya sesekali lolongan anjing memecah keheningan malam.

Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa begitu lama, sebuah mobil menepi.

Tanpa membuang waktu, dia membuka pintu di samping pengemudi. Sedikit terkejut ketika mendapati pengemudinya seperti orang bule. Tetapi, keadaan seperti ini sudah biasa kalau di Bali. Banyak orang luar yang menjadi pekerja di sini.

“Ayo, Pak! Capet! Anak saya panas!”

Pria itu mengernyit. “Anda–”

“Iya! Saya yang pesan dari tadi. Tolong ini emergency. Cepat antar saya ke IGD Sanglah!”

“….”

“Kok malah bengong? Taruh itu hape! Jangan mengemudi sambil teleponan!”

“Saya–”

“Ah, urusan jalan nanti saya yang pandu! Nggak perlu cari di Map. Saya juga tukang ojek online. Ayo jalan! Tolong anak saya, ini darurat!”

Tatapan pria itu jatuh ke Sakti yang ada di pelukan Cahya. Ekspresinya sejenak tampak terkejut, sebelum kemudian bertanya, “Ke IGD … bayi itu?”

“Iya, cepat!”

Tanpa protes lagi, si bule itu langsung menginjak gas. Meskipun dengan kecepatan di atas rata-rata, aku tidak merasa mobil goyang. Mungkin mobil bule berbeda dengan mobil ojek biasanya.

“Ibuk …..ibuk….” Kembali Sakti mengigau.

Cahya meletakkan tas di samping, kemudian membuka selimut sedikit. Tangan Sakti terkulai. Suhu tubuhnya semakin seperti bara apa.

“Tenang, Sayang. Kita ke rumah sakit, ya. Sebentar lagi sampai. Sabar, ya sayang.”

Pipi gembul yang biasanya menunjukkan senyuman menggemaskan, sekarang beku membuat semakin takut. Cahya teringat cerita-cerita tentang bayi panas kemudian ….

‘Tidak! Anakku harus sembuh!’

“Loh, kok di rumah sakit ini? Saya kan pesan ke rumah sakit negeri di Denpasar? Di sini mahal!” tanya Cahya dengan wajah semakin panik terkejut sambil memandang ke sekeliling. Ini rumah sakit swasta terkenal di Kuta. Hanya orang kaya dan pejabat yang mampu dirawat di sini.

Mungkin karena wanita tadi sibuk dengan Sakti, si Bule ini enggan bertanya arah jalan. Tetapi, bukan berarti dia membawa ke rumah sakit elit ini.

“Darurat. Bayimu harus segera dirawat.”

“Aku paham! Tapi dengan apa nanti aku harus membayar perawatannya?” Cahya menjerit dalam hati.

Namun, sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba tubuh Sakti dalam gendongannya kejang. Mata balita itu terbuka, tapi maniknya mendelik ke atas.

“Sa-Sakti–”

“Cepat keluar!” sentak si bule. Ia membukakan pintu untuk Cahya dengan cekatan.  “Bayimu butuh pertolongan segera.”

Cahya tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di ruangan IGD. Ia membiarkan si bule berteriak ke petugas UGD yang berjaga. Dengan sigap mereka mendatangi dan mengambil alih Sakti dari pelukan Cahya. Wanita itu hanya bisa pasrah menyeret kakinya mengikuti mereka.

“Tunggu di luar.”

“Saya ibunya.”

“Kami akan memberikan penanganan terbaik,” ucap perawat tersebut. “Silakan Ibu urus bagian administrasi.”

Benar juga.

Hati Cahya mencelos. Wanita itu terduduk lemas sembari menatap kepergian perawat. Kakinya terasa seperti tidak sedang menapak.

Ia tadi panik. Hanya berpikir yang penting Sakti ditangani dan dirawat dulu.

Tapi … bagaimana ia bisa membayar biaya administrasi? Apalagi di rumah sakit besar seperti ini–paling tidak akan tembus satu juta. 

Apakah mereka akan berhenti menolong Sakti jika ia tidak sanggup membayar?

“Jangan berpikir macam-macam. Putramu akan baik-baik saja.” 

Cahya mendongak. Rupanya  sopir yang tadi membawanya kemari masih ada bersamanya. 

“Terima kasih sudah membantu membawa Sakti kemari,” ucapnya. “Kamu sekarang sudah boleh pergi.”

Si bule tidak merespons. 

Namun, saat Cahya berusaha berdiri tapi limbung karena masih lemas–pria itu dengan sigap menangkap tubuhnya.

Dengan jarak sedekat itu, Cahya baru menyadari betapa bidangnya bahu si bule. Tatapannya jatuh pada hidung mancung di depannya, diikuti garis rahang tegas dan sorot matanya—hazel, cokelat keemasan–tengah menatapnya tajam. 

“Ah, maaf!” Sempat tertegun sejenak, Cahya kemudian sadar dan buru-buru meminta maaf. 

Tangan kokoh itu membantunya agar berdiri lebih teguh sebelum benar-benar melepaskan.

Lalu, tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi begitu saja.

***

“Ibu, keadaan pasien sudah stabil.” Suara perawat menjawab doanya tak lama kemudian.

Cahya langsung beranjak. “Sa-saya bisa masuk?”

“Silakan.”

Tanpa menunggu lagi, ibu muda itu memasuki ruangan. Tubuh kecil itu tidur dengan nyenyak. Napasnya mengalun teratur dengan wajah mulai tidak memerah.

“Ha-harus diinfus, Suster?” Cahya melihat jarum menancap. Tidak tega.

“Iya, Bu. Biar adik panasnya turun, dan kondisinya menjadi stabil.”

“Apa anak saya bisa pulang secepatnya?”

“Untuk saat ini, kami masih menunggu hasil lab. Namun, putra Ibu harus dirawat terlebih dahulu untuk observasi lebih lanjut.”

“Oh gitu….” Cahya menghela napas. “Tapi … biayanya apakah bisa dicicil, Sus?”

Suster yang mendengar itu mengernyit heran. “Urusan administrasi sudah lunas, diselesaikan semua, Ibu.”

“Apa?” Cahya melongo. “Si-siapa yang mengurus semua itu?”

“Suami ibu. Bukankah tadi datang bersama?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ana
penolongmu itu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 65. Panggil Sayang, Calon Istriku.

    “Mana bisa begitu, Tuan Ethan yang terhormat,” seru Galang melalui sambungan telpon.Sang majikan mengutarakan niat untuk menikah hari besok juga. Galang sebagai asistennya, tentu saja kelabakan. Menyuruh pegawai catatan sipil datang, itu tidak bisa semaunya. Ada proses dan itu harus didaftarkan sebelumnya.“Baiklah. Saya usahakan mengurus sekarang juga,” jawab Galang setelah mendengar Ethan yang begitu ngotot.Galang menutup telpon. Segera dia mengubungi instansi yang bersangkutan. Mencari persyaratan apa saja, jadwal yang memungkinkan dan akhirnya mendapat jawaban. Tidak bisa besok, tetapi lima hari lagi. Itu pun mendapat jadwal di luar jam kerja.“Tidak bisa dipercepat?” tanya Ethan terdengar kesal.“Tuan Ethan. Jadwal pernikahan yang sudah masuk tidak bisa digeser. Tidak mungkin saya menggagalkan pernikahan mereka, kan?”“Huuf, nasib punya Bos pengen cepat kawin.” Galang mendengkus kemudian tersenyum.Akhirnya Cahya mendapat titik tujuan. Sebagai teman, Galang merasa senang. Sang

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 64. Bagaimana Kalau Aku Hamil?

    Resiko terbakar ketika kita main api.Mereka sama-sama menggenggam bara. Sang majikan seorang duda dan Cahya adalah janda. Sama-sama di usia puncak yang mempunyai kebutuhan dewasa yang masih menyala, meskipun berusaha mengendalikan. Ingin menikmati hangatnya bara berdua, tetapi justru mereka terbakar panasnya.Siang ini, mereka sama-sama menyerah kalah. Menyisakan Cahya yang menangkup selimut erat di dalam pelukan sang majikan yang terlelap dengan senyuman.“Bagaimana kalau aku hamil?” bisik Cahya sambil mengusap perutnya yang rata.Pandangannya tertuju pada lantai. Dimana rok panjang berwarna hijau muda teronggok di bawah pakaian yang berenda. Mata wanita ayu itu memejam. Lelakinya ini sungguh-sungguh gelap mata. Tidak memberikan kesempatan untuk sadar, meskipun hanya merentangkan tangan untuk membuka laci yang berisi pengaman. Begitu menghanyutkan dan tiba-tiba mereka di titik sama-sama terhempas dari puncak yang memuaskan.Dahaga janda dan duda pun sudah terbayar.Tidak berhenti

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 63. Aku Menginginkanmu

    Cahya masih terlelap. Silir angin dari jendela yang menerbangkan tirai mengalun seirama dengan helaan napasnya. Wanita ayu itu tidur di sofa bertumpu pada lengannya dengan posisi miring memperlihatkan lekuk tubuh yang indah. Dia sambil memeluk ponsel yang menandakan kerinduan yang sarat.Begitu nyenyaknya, wanita itu tidak menyadari sudah lebih lima menit manik mata hazel terpusat pada dirinya. Anak-anak rambut yang sedikit berkibar, membingkai wajahnya yang begitu damai.“Hmm…. Baru kali ini aku merasa benar-benar pulang. Ada seseorang yang menunggu, dan ini sangat membahagiakan,” gumam Ethan sambil mengulas senyuman. "Aku merasa benar-benar disayangi dan dibutuhkan."Saat bersama istrinya dulu, jarang sekali menemui Siska saat pulang ke rumah. Awalnya dia memaklumi, karena istri adalah model terkenal yang disibukkan dengan jadwal. Namun, sebagai suami dia tidak pernah mendapatkan waktu, meskipun itu hanya sisa kesempatan. Ketika istrinya pulang, dia sudah tidur. Dan saat dia berang

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 62. Menyesal

    Langkah kaki Ethan dipercepat melebihi biasanya. Dia terlambat.Tiket yang digadang-gadang mempercepat melepas rindu, justru hangus tidak terpakai. Padahal pesawat masih nongkrong di bandara, tetapi batas boarding sudah berlalu. Jadwal setelahnya pun sudah penuh. Ethan mondar-mandir mencari solusi dan bersiap membayar mahal.Meskipun akhirnya menyerah.Seperti biasa, tiket akhir minggu tanpa mereka yang ada di bandara sedang memendam rindu. Mereka enggan bertukar posisi, meskipun Ethan siap membayar berapapun.“Jadwal terbang pukul delapan dua puluh dan sampai Denpasar pukul sembilan.”Ethan mengetatkan kepalan tangan setelah mendengar penjelasan petugas maskapai. Tidak ada pilihan, lelaki itu menerima dan berakhir membuang waktu dengan secangkir cappucino di café bandara.“Gara-gara Anna aku jadi terlambat,” gumam Ethan dengan rahang mengetat.Dia menyesap pelan minumannya. Aroma kopi yang berpadu dengan busa cream milk membuat dirinya sedikit nyaman.Namun, ketika matanya menilik ar

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 61. Firasat Cahya

    “Kenapa hp nya mati?”Cahya mendesah sambil mengamati layar ponsel. Pesan yang dikirim kepada sang majikan belum ada balasan. Ini saja masih centrang satu. Padahal tadi siang, dia sendiri yang mengatakan akan menghubunginya.“Tumben?” Dahinya berkerut. Dia beranjak dari duduk dan berjalan memutari ruangan. Meskipun tidak ada manfaatnya, minimal ini bisa mengurangi resah.Padahal, pesan yang dia kirim sudah sedari tadi. Saat Cahya masih menemani Keira tadi.[Ini masih dengan Keira. Dia sedang mengerjakan PR] Pesan yang dia kirim bersama foto Cahya dan Satria dengan Keira yang sedang menulis.Keira bahkan meminta video call ke Papinya. Karena ponsel belum aktif, akhirnya Cahya merekam video Keira.“Halo, Papi. Hari ini Keira rajin belajar. Keira kangen sama Papi. Nanti kita pergi main kemah, ya. Kata temanku, itu asik. Semangat, Papi. I love you,” ucap Keira di video ditutup dengan cium jauh.Beberapa saat setelah belum ada kabar, kembali Cahya mengirim pesan.[Anak-anak sudah tidur. Ka

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 60. Temani Aku Malam Ini

    Sedangkan di bawah sana, Ethan dan Anna terkejut mendapat kiriman minuman spesial ini.“Tuan Alberto yang pesan. Pesannya, nikmati malam ini dengan senyuman,” ucap pelayan sambil menuang minuman beralkohol ini.“Ah, Papi itu ada-ada saja. Dia sebenarnya ingin memesan dari tadi, Cuma karena dia tidak diperbolehkan minum lagi, jadi keluarnya terakhir. Maaf, ya.”“It’s OK, Anna.”Keduanya mengangkat gelas berisi champange. “Demi keberhasilan bisnis kita!” seru Anna dan disambut Ethan dengan tos.Tidak cukup di gelas pertama. Perbincangan semakin seru bersamaan dengan denting gelas yang di-isi kembali. Pipi putih Anna mulai semburat merah. Kaki yang sebelumnya duduk rapi, sekarang dilipat di atas kaki satunya. Menunjukkan belahan gaun panjang yang memperlihatkan kaki jenjang dengan high hell warna keemasan.Musik mengalun romantis. Beberapa pasangan turun di areal dansa.Anna berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Ethan. Sesaat lelaki itu ragu. Namun, kalau dia tidak menerimanya, ini mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status