Masuk“S-suami?”
Dahi Cahya mengernyit. Maksudnya si Bule itu?
Belum selesai keheranannya, ia makin dibuat heran saat mendatangi bagian administrasi.
“Oya, tadi suami Ibu menitipkan tas Ibu.” Petugas administrasi itu mengangsurkan tas Cahya pula. “Katanya, ada sedikit pegangan di dalam. Saya disuruh mengingatkan.”
Bagian administrasi itu mengangguk hormat. Meninggalkan Cahya yang tertegun tanpa bisa berucap apapun.
Apalagi saat Cahya mendapati segepok uang di dalam tasnya.
"Wah, jangan-jangan laki-laki itu malaikat yang ditugaskan membantuku?' pikir Cahya sambil memeluk erat tas yang bertambah bobot itu. "Dia baik banget dan keren seperti malaikat."
Sementara di tempat parkir, mobil keluaran luar negeri itu bergerak perlahan ke jalan. Di dalamnya, lelaki berambut cokelat itu akhirnya mengangkat ponselnya yang sejak taadi berdering tanpa henti.
“Hm?”
“Kamu di mana!?” Suara si pemanggil langsung terdengar, keras. “Aku sudah susah payah mengatur pertemuan ini, tapi kamu malah tidak hadir!”
“Aku ke sana sekarang.”
“Percuma. Dia sudah pergi,” balas si penelepon. “Kamu kehilangan proyek senilai jutaan dolar, Ethan. Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan sekarang?”
‘Ethan’ tersenyum tipis. “Menyelamatkan nyawa seseorang.”
***
[Terima kasih telah melamar posisi terkait.
Setelah meninjau lamaran dan kualifikasi Anda, kami ingin mengundang Anda untuk mengikuti wawancara sebagai tahap seleksi berikutnya.]
Secercah harapan timbul, ketika ada pesan masuk di ponsel Cahya.
Panggilan wawancara untuk pekerjaan yang sempat ia pertanyakan di awal–yang punya syarat harus sudah janda.
Ia menitipkan Sakti pada ibu kosnya dan berangkat.
Cahya mengenakan baju yang sering dipakai saat bekerja dulu. Tidak bagus, tetapi bersih dan masih cukup, walaupun agak ketat sedikit. Rambutnya yang sebahu, diikat rapi ke atas. Wajahnya yang ayu dipoles make-up tipis dan memperlihatkan kesan segar.
Tempatnya tidak jauh, hanya dua puluh menit perjalanan akhirnya sampai. Bangunan yang bertuliskan perusahaan penerima tenaga kerja, terlihat beberapa orang lalu lalang di depannya. Segera dia menghampiri karyawan yang berjaga di penerimaan tamu.
Dengan memasang wajah ramah, karyawan itu bertanya ada keperluan apa. Cahya pun menunjukkan layar ponsel yang menyatakan panggilan untuk datang langsung ke tempat ini.
"Oh, ini Mbak Cahya, ya. Sudah ditunggu di dalam. Mari saya antar," ucapnya dengan ramah.
Masih dengan keraguan, wanita yang sedang memperjuangkan nasibnya pun mengikuti langkah kaki yang mendahuluinya. Suara sepatu berhak tinggi, kontras dengan langkah senyap kaki Cahya yang menggunakan sepatu flat.
Bayangan yang sempat terlintas di kepala Cahya tentang perusahaan penyalur tenaga kerja dengan cerita seram, sementara terbantahkan. Tidak ada tanda-tanda aneh yang mematik curiga.
Dia masih ingat teman sekampung yang direkrut oleh perusahaan sejenis ini. Temannya itu mendapatkan perilaku tidak nyaman dari karyawan lainnya. Kadang, dimintai uang rokok atau pun mendapatkan perlakuan tidak senonoh yang berdalih sebagai tanda ucapan terima kasih.
Namun, sepanjang langkah ini memasuki bangunan ini, semua terlihat profesional. Seperti di kantor pada umumnya, karyawan di sini berpakaian rapi dan sibuk di depan layar komputer.
"Kami menyalurkan tenaga profesional untuk dalam ataupun luar negeri, Mbak Cahya. Sementara, sih, kesibukan berkurang banyak karena pengiriman karyawan ke luar negeri di hentikan. Untungnya, mereka yang sudah di sana tidak dipulangkan," jelasnya sekilas, menunjukkan perusahaan ini bukan penyalur tenaga kerja sembarangan.
"Kami masih fokus pada pelatihan tenaga dulu. Jadi setelah keadaan mereda, mereka sudah siap kirim. Mbak Cahya tunggu di sini dulu, saya akan panggil sebentar lagi," ucapnya, kemudian meninggalkan Cahya yang masih mencerna setiap apa yang dikatakan.
‘Mungkin ini, perusahaan yang biasanya diceritakan oleh teman-teman ketika aku masih bekerja sebagai waitres dulu,’ bisiknya dalam hati sambil mengedarkan pandangan.
"Mbak Cahya. Silahkan masuk!"
Ada dua wanita sekitar berusia empat puluh tahunan, yang menyambutnya. Dari penampilan, mereka bukan orang biasa. Baju yang dikenakan terlihat menunjukkan kelasnya, disempurnakan dengan dandanan yang begitu elegan.
"Mbak Cahya, ini Bu Sulastri pimpinan di perusahaan ini, dan beliau Bu Hanum yang akan merekrut Mbak Cahya."
Mata perempuan muda itu sekilas memindai Bu Hanum yang duduk begitu anggun di depanku. Wanita yang berusia sekitar lima puluh tahunan itu, menunjukkan wajah ramah, dengan menampilkan senyuman.
"Mbak Cahya, saya sudah menerima surat lamarannya. Saya ajukan pertanyaan boleh, ya. Kita santai saja, kok," ujar Bu Hanum sebelum memulai wawancara.
Banyak yang dia ajukan pertanyaan, dari latar belakang keluarga, pengalaman kerja, dan seputar keluarga Cahya.
Senyum Cahya terbersit dengan sendirinya, ketika Bu Hanum mengatakan jumlah gaji yang akan diterima termasuk fasilitas yang akan dia dapatkan. Itu kalau Cahya menerima tawaran pekerjaan ini. Lumayan besar untuk keadaan seperti sekarang.
"Begini, Mbak Cahya. Saya ini sebenarnya hanya seorang karyawan. Yang mempekerjakan kita Nyonya William. Beliau yang membutuhkan Mbak Cahya melakukan sesuatu." Bu Hanum menjelaskan. “Apakah Mbak Cahya berkenan?”
"Melakukan apa, Bu?" tanya Cahya dengan mengernyit.
Bu Hanum menatap Cahya lekat sebelum bertanya, “Nyonya William ingin Mbak Cahya menjadi ibu dari cucunya.”
“Kenapa ada di sini?” Cahya menatap suaminya yang menutup pintu perlahan. Kemudian membuka tirai sedikit mengintip ke arah luar.“Aman. Mami sudah istirahat di kamar.” Ethan tersenyum lebar dan mendekat. Satu kali rengkuhan, tubuh Cahya sudah berlabuh di pelukan.“A-apa tidak bahaya. Nyonya nanti__”“Stss…. Pasti ini ada pertanda kalau kita harus berterus terang kepada Mami.”“Tapi nanti kalau Nyonya marah gimana?”Ethan membubuhkan ciuman lembut di pucuk kepalanya. “Mami memang orangnya tegas, tetapi Mami bukan orang jahat, Aya. Percaya sama suamimu ini.”Dalam dekapan, Cahya merasakan kedamaian meskipun keresahannya masih begitu pekat. Bagaimana kalau Nyonya William murka dan mengusirnya? Dia sadar diri kalau bukan wanita yang sederajat dengan suaminya.Terbersit ide dia mengalah saja, daripada suaminya berselisih pendapat dengan orang tuanya. Dia bisa menghidupi Satria dan anak dalam kandungannya.Dalam hati Cahya berguman, “Aku tidak boleh serakah. Begitu banyak nikmat yang diberik
Bohong kalau Cahya merasa baik-baik saja meskipun dia berada dalam perlindungan suaminya. Jantung wanita itu nyaris copot menatap Nyonya William yang mendekat. Begitu juga Ethan.“Ethan! Kamu tidak memeluk Mami?”Terhenyak, langkah Ethan pun bergegas meninggalkan Cahya yang berdiri mematung. Dengan sendirinya, wanita ayu itu mengempiskan perut menyembunyikan kehamilannya.Ibu dan anak itu berpelukan. “Mami, bukankah rencananya datang minggu depan? Aku kaget.”“Aku bilang minggu-minggu ini, kan? Ada tiket dan Papimu bisa ditinggal, Mami langsung terbang.”“Kenapa tidak menelponku saat diperjalanan? Aku bisa menjemput di bandara.”“Kejutan, Ethan Sayangku.”“Keira pasti senang.”“Oh, iya. Mana cucuku! Mami kangen!” Wanita itu mengedarkan pandangan, kemudian bertumpu pada Cahya yang berdiri di sana. “Itu Cahya, kan? Wanita yang mengasuh cucuku?”Ujung-ujung jemari Cahya membeku seketika. Sorot mata Nyonya William yang terpusat kepadanya seperti penghakiman. Ethan menatap Cahya kemudian b
“Ah masih satu minggu lagi. Aku akan cari jalan keluar untuk Cahya,” guman Ethan sambil memasukkan ponsel ke dalam saku.Mobil melaju membelah jalan by pass Nusa Dua. Jalanan mulai padat meskipun masih bisa jalan. Ethan memandang ke arah luar jendela. Lelaki itu terlihat tenang, tetapi di dalam kepalanya berputar dengan banyak rencana.“Cahya itu istriku. Kenapa aku harus menyembunyikan dia?” ucapnya setelah bergulir satu rencana.Baru saja dia memikirkan akan memindahkan Cahya ke Ubud. Di sana ada villa bagus yang sudah dia incar lama. Dia tidak berniat memindahkan Cahya dari rumah supaya tidak bertemu ibunya nanti. Mengingat latar belakang mereka menjadi suami istri, yang bisa memantik amarah ibunya. Apalagi Cahya sedang mengandung. Bukankah itu bisa membahayakan?“Atau, aku terus terang tentang Keira ke Mami? Dengan begitu dia akan menyambut kedatangan cucu yang dikandung Cahya.”Dahi Ethan semakin berkerut, kemudian dia menghela napas panjang sambil memijit pelipis. Ini seperti di
“Selamat pagi, sayang-sayangnya papi!” Ethan menghampiri meja makan.Keira dan Satria yang sedang makan didampingi pengasuh pun menoleh bersama. Awalnya mereka terlihat terkejut, kemudian senyum mereka mengembang sempurna. Terutama Keira yang langsung beranjak dari tempat duduk. Mata gadis kecil itu berbinar sarat dengan kerinduan.“Papi…. Selamat pagi.”Ethan tersenyum dan langsung menyambut Keira. Telapak tangan yang awalnya bergerak ragu, kemudian memeluk tubuh setinggi pinggangnya itu setelah Cahya mensejajarinya.Mata Cahya mengedip dan mengangguk. Wanita itu tersenyum lega saat suaminya mengingat yang dia ucapkan. Semalam setelah kebersamaan mereka, Cahya dan Ethan berbincang lama sambil tiduran. Sang istri rebah di lengan suami.“Jalan hidup kita sering tidak tertebak, ya. Kita bertemu dengan kesalahan dan berakhir bahagia seperti sekarang ini,” ucap Cahya sambil mengusap-usap dada Ethan yang berbulu.“Siapa bilang itu kesalahan?”“Iya, gara-gara aku salah kira kamu sopir taxi o
“Apa aku kembalikan dia kepada keluarga Siska saja?”Cahya terkesiap.“Keira?! Jangan! Jangan, Sayangku. Bagiku Keira sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak mau berpisah dengannya,” sahut Cahya sambil memegang kedua tangan suaminya."Tapi, Aya. Kamu tahu tidak, setiap melihat dia pikiranku langsung membayangkan Siska bersama dengan lelaki bangsat itu. Kamu tahu rasanya sebagai suami saat membayangkan istrinya dipakai lelaki yang aku tidak tahu siapa dia?!” Mata Ethan menyala nyalang. Kedua alisnya bertaut. “Saya mengerti. Tetapi semua ini bukan salah Keira, Sayang. Dia tidak tahu apa-apa. Coba kamu bayangkan kalau menjadi Keira. Dari lahir yang dia tahu inilah rumahnya. Kamulah papinya.""Tapi bagaimana dengan aku?" ucap Ethan dengan sorot mata memohon. Cahya menghela napas. Ini sungguh berat. Kemudian dia berguman, "Jangan sampai kesalahan orang dewasa menyakiti Keira yang tidak bersalah.”"Aku pun berpikir demikian, Aya."Mereka sama-sama terdiam.“Tapi, Aya. Itulah yang membuat
Keira dan Satria sudah tidur. Cahya duduk di tepi ranjang memandang keduanya.Wajah damai mereka menyunggingkan senyuman. Tangan kecil Keira memeluk tubuh gembul Satria. Sedangkan kaki si kecil bertumpu pada tubuh Keira.Selalu begitu kalau mereka tidur bersama. Tak ubahnya saudara mereka saling menyayangi. Keira yang selalu mengatur, sedangkan Satria yang suka dimanja.“Keira, Sayang. Mama Aya akan selalu menyayangi dirimu. Siapa pun kamu. Selamanya akan menjadi anak mama,” bisik Cahya sambil membelai rambut berwarna coklat itu.Dada Cahya begitu berat mengingat kemungkinan karena golongan darah itu. Anak ini tidak bersalah. Orang dewasalah yang keliru.“Huuft semoga Ethan tidak menyadari itu,” desah Cahya meskipun di sudut hati merasa ada perubahan sikap pada suaminya.“Semoga tidak.” Di menggelengkan kepala menolak pikiran buruk yang terlintas.Jarum jam dinding sudah menunjuk malam sudah larut. Ingin rasanya melihat keadaan suaminya. Dia mengatakan banyak pekerjaan. Kalau pun tida







