Mag-log in“Maaf?”
Selain terkejut, Cahya sebenarnya lebih ke tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Sejak awal, lowongan pekerjaan ini memang aneh. Harus janda dan segala macam.
Tapi ini adalah puncak keanehan tersebut.
“Saya paham jika ini membingungkan. Namun, itu adalah syarat dari Nyonya William,” terang Bu Hanum. “Begini … Nyonya William mempunyai seorang cucu perempuan. Usianya 8 tahun. Tapi menantu beliau, alias ibu dari anak itu sudah lama meninggal. Nyonya William ingin mengisi peran yang kosong tersebut dengan kehadiran Mbak Cahya.”
“Tapi … mempekerjakan orang asing seperti saya? Apa tidak salah?” balas Cahya.
“Dari riwayat Mbak Cahya dan wawancara kita tadi, Mbak justru cocok dengan pekerjaan ini,” ucap Bu Hanum dengan senyum. “Jangan khawatir. Tugas Mbak Cahya hanya memberi perhatian kepada anak itu.”
“Perhatian ...?”
“Ya. Perhatian wajar seperti ibu pada umumnya.”
Dahi Cahya berkerut masih tidak mengerti arah penjelasan tersebut. Namun, Bu Hanum justru terus mejelaskan.
“Ia sudah bersekolah. Kami bisa atur Mbak Cahya sebagai ibu yang bekerja. Mbak akan kami tempatkan sebagai supervisor di restoran hotel milik keluarga–dengan masa percobaan 3 bulan sebagai vice supervisor,” jelas Bu Hanum. “Itu juga masa percobaan Mbak Cahya sebagai figur ibu dari cucu Nyonya William.”
“Sebentar–sebentar dulu, Bu.” Cahya buru-buru menghentikan penjelasan Bu Hanum yang baginya tidak masuk akal.
Bekerja jadi seorang ibu? Kegiatannya sehari-hari nanti … akan digaji? Cahya belum pernah mendengar yang seperti itu.
Bu Hanum masih tersenyum. “Saya paham kalau Mbak bingung. Namun, hal ini sudah dipikirkan matang oleh majikan kita. Jika Mbak menolak, saya akan ke kandidat selanjutnya.”
“Y-ya?”
“Semua tergantung apakah kamu menerima persyaratan yang saya ajukan."
Cahya mencoba memproses semua informasi yang baru saja masuk.
Di dalam isi kepala Cahya sudah bergulir jalan keluar masalahnya selama ini. Gaji pasti di atas UMR, fasilitas pun ditanggung, termasuk kebutuhan Sakti.
Bagi Cahya, ini merupakan rezeki tak terhingga.
“Coba pikir. Tidak ada pekerjaan yang menawarkan kemudahan seperti ini.”
“….”
“Saya kasih waktu lima menit. Kalau sudah, tanda tangan perjanjian ini,” ucap Bu Hanum sambil menyodorkan selembar surat perjanjian. Dia menyilangkan kaki sambil menyesap teh.
Mata Cahya terbelalak sebentar. Nominal gaji yang dia terima di atas yang dia terima di restoran dulu. Tidak ada isi perjanjian yang aneh, kecuali dia mendapat fasilitas tinggal bersama anaknya.
Isi kepala wanita itu menghitung berapa yang dia terima, berapa pengeluaran untuk cicilan hutang. Dan ini tanpa ada pengeluaran tempat tinggal dan biaya makan yang biasanya memberatkan.
“Bagaimana, Mbak Cahya?” Bu Hanum menelengkan kepala dengan tangan terulur ke berkas di depan Cahya. “Kalau tidak setuju, saya akan__”
“Sa-saya setuju, Bu Hanum!”
***
Cahya diberi kesempatan untuk pindah dua hari lagi. Tidak udah membawa perabotan, karena sudah disediakan di tempat tinggalnya yang baru.
Dari uang yang dititip si Bule itu, dia membayar sebagian tunggakan kost, dan sisanya akan dibayarkan setelah gajian pertama.
Ah, soal si bule itu. Cahya bahkan tidak sempat mengucap terima kasih atas bantuan yang diberikan. Pun, menjanjikan akan membayar kembali karena saat ia melihat aplikasi di ponselnya, status pengantaran yang ada justru ‘dibatalkan’.
Jadi sungguh, Cahya tidak tahu identitas pria yang menyelamatkannya tempo hari.
Meski begitu, ia akan terus menerus mendoakan kemudahan dan rezeki untuk pria itu.
Tidak banyak yang dibawa Cahya. Baju mereka berdua yang cukup satu tas kain besar, dan satu tas jinjing berisi dokumen dan foto keluarga yang dilepasnya dari dinding. Beberapa barang dititip di gudang kontrakan.
Sesampainya di alamat yang diberikan oleh Bu Hanum, Cahya diterima oleh satpam dan diantarkan ke masuk ke rumah.
Mulut Cahya menganga kecil. Rumah ini memang bukan seperti rumah orang kaya di kota yang penuh dengan pilar beton, keramik berkilau, dan beraura panas. Bangunan ini mengusung aura pedesaan, tapi tidak membuang kesan megah. M akan tetapi tidak menghilangkan kesan megah.
Hunian ini memang ditujukan untuk pulang.
“Eh, Mbak Cahya. Ini pasti Sakti,” seru Bu Hanum sambil mengusap pelan kepala anak lelaki yang tertidur pulas.
Bu Hanum mengarahkan Cahya untuk melewati jalan setapak dari lempengan batu lebar di sisi samping. Kanan kiri tumbuhan taman yang menunjukkan dirawat dengan benar.
"Di depan tadi, tempat tinggal Non Keira dan Bos.”
Cahya mengekori sambil mengangguk setiap Bu Hanum menjelaskan sesuatu.
"Ada pembantu, tukang kebun, dan satpam yang pulang pergi. Saya dan Mbak Cahya nanti tinggal di sini ini." Dia menunjuk dua pintu yang bersebelahan.
“Sakti ditidurkan dulu saja. Kasihan dia. Ini kamar yang sudah disiapkan untuk kalian." Bu Hanum membuka pintu membuat Cahya terbelalak.
Ranjang ukuran besar yang cukup luas untuk dia dan Sakti. Lemari yang sudah berisi pakaian untuk wanita itu dan anaknya. Tidak hanya itu, boneka dan beberapa mainan pun juga tersedia. Di lantai ada karpet tebal dengan karakter hewan laut.
Pelan, tubuh gembul itu dibaringkan di ranjang. Setelah meletakkan bantal dan guling di sekitarnya. Cahya menatap anaknya sebentar, kemudian kembali bersiap.
“Kita keliling sekarang.” Cahya mengikuti Bu Hanum.
Kemudian dia membuka pintu besar. Sepertinya menuju ke bangunan utama. Ini seperti di vila-vila yang ada dimuat di majalah. Meja makan berukuran besar, dari bahan kayu yang seperti dipotong begitu saja. Deretan kursi kayu berjajar rapi.
"Kalau mereka ada jamuan makan dengan teman-temannya di sini."
Cahya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bangunan beton yang dipadukan dengan kayu rustik. Beberapa sudut dihiasi benda-benda unik. Ada alat musik gong yang digantung di dinding sebelah sana. Begitu juga di dinding yang lebih lebar di sana, deretan caping dengan berbagai bentuk dan ukuran seperti membentuk parade unik.
“Yang ini kamar Nona Keira. Sekarang dia masih sekolah. Pulangnya sekitar pukul empat sore–dengan les dan lain sebagainya.” Wanita itu menatap jam tangan. “Mungkin sekitar satu jam lagi dia sampai rumah.”
Pintu dibuka. Kamar bernuansa biru muda seperti kamar seorang putri. Ranjang putih dengan kelambu putih berenda menjuntai ke lantai. Jajaran boneka princes dan buku-buku dongeng menunjukkan kesukaan pemilik kamar.
“Non Keira suka ditemani baca buku sebelum tidur. Tugas ini Mbak Cahya yang kerjakan.”
“Baik, Bu.”
Sebenarnya, ada yang mengusik dalam pikiran Cahya.
Namun, sebelum Cahya sempat bertanya, perhatiannya teralihkan oleh sesosok pria tinggi yang baru saja masuk–jelas membuatnya terkejut.
Pria itu–
“Kenapa ada di sini?” Cahya menatap suaminya yang menutup pintu perlahan. Kemudian membuka tirai sedikit mengintip ke arah luar.“Aman. Mami sudah istirahat di kamar.” Ethan tersenyum lebar dan mendekat. Satu kali rengkuhan, tubuh Cahya sudah berlabuh di pelukan.“A-apa tidak bahaya. Nyonya nanti__”“Stss…. Pasti ini ada pertanda kalau kita harus berterus terang kepada Mami.”“Tapi nanti kalau Nyonya marah gimana?”Ethan membubuhkan ciuman lembut di pucuk kepalanya. “Mami memang orangnya tegas, tetapi Mami bukan orang jahat, Aya. Percaya sama suamimu ini.”Dalam dekapan, Cahya merasakan kedamaian meskipun keresahannya masih begitu pekat. Bagaimana kalau Nyonya William murka dan mengusirnya? Dia sadar diri kalau bukan wanita yang sederajat dengan suaminya.Terbersit ide dia mengalah saja, daripada suaminya berselisih pendapat dengan orang tuanya. Dia bisa menghidupi Satria dan anak dalam kandungannya.Dalam hati Cahya berguman, “Aku tidak boleh serakah. Begitu banyak nikmat yang diberik
Bohong kalau Cahya merasa baik-baik saja meskipun dia berada dalam perlindungan suaminya. Jantung wanita itu nyaris copot menatap Nyonya William yang mendekat. Begitu juga Ethan.“Ethan! Kamu tidak memeluk Mami?”Terhenyak, langkah Ethan pun bergegas meninggalkan Cahya yang berdiri mematung. Dengan sendirinya, wanita ayu itu mengempiskan perut menyembunyikan kehamilannya.Ibu dan anak itu berpelukan. “Mami, bukankah rencananya datang minggu depan? Aku kaget.”“Aku bilang minggu-minggu ini, kan? Ada tiket dan Papimu bisa ditinggal, Mami langsung terbang.”“Kenapa tidak menelponku saat diperjalanan? Aku bisa menjemput di bandara.”“Kejutan, Ethan Sayangku.”“Keira pasti senang.”“Oh, iya. Mana cucuku! Mami kangen!” Wanita itu mengedarkan pandangan, kemudian bertumpu pada Cahya yang berdiri di sana. “Itu Cahya, kan? Wanita yang mengasuh cucuku?”Ujung-ujung jemari Cahya membeku seketika. Sorot mata Nyonya William yang terpusat kepadanya seperti penghakiman. Ethan menatap Cahya kemudian b
“Ah masih satu minggu lagi. Aku akan cari jalan keluar untuk Cahya,” guman Ethan sambil memasukkan ponsel ke dalam saku.Mobil melaju membelah jalan by pass Nusa Dua. Jalanan mulai padat meskipun masih bisa jalan. Ethan memandang ke arah luar jendela. Lelaki itu terlihat tenang, tetapi di dalam kepalanya berputar dengan banyak rencana.“Cahya itu istriku. Kenapa aku harus menyembunyikan dia?” ucapnya setelah bergulir satu rencana.Baru saja dia memikirkan akan memindahkan Cahya ke Ubud. Di sana ada villa bagus yang sudah dia incar lama. Dia tidak berniat memindahkan Cahya dari rumah supaya tidak bertemu ibunya nanti. Mengingat latar belakang mereka menjadi suami istri, yang bisa memantik amarah ibunya. Apalagi Cahya sedang mengandung. Bukankah itu bisa membahayakan?“Atau, aku terus terang tentang Keira ke Mami? Dengan begitu dia akan menyambut kedatangan cucu yang dikandung Cahya.”Dahi Ethan semakin berkerut, kemudian dia menghela napas panjang sambil memijit pelipis. Ini seperti di
“Selamat pagi, sayang-sayangnya papi!” Ethan menghampiri meja makan.Keira dan Satria yang sedang makan didampingi pengasuh pun menoleh bersama. Awalnya mereka terlihat terkejut, kemudian senyum mereka mengembang sempurna. Terutama Keira yang langsung beranjak dari tempat duduk. Mata gadis kecil itu berbinar sarat dengan kerinduan.“Papi…. Selamat pagi.”Ethan tersenyum dan langsung menyambut Keira. Telapak tangan yang awalnya bergerak ragu, kemudian memeluk tubuh setinggi pinggangnya itu setelah Cahya mensejajarinya.Mata Cahya mengedip dan mengangguk. Wanita itu tersenyum lega saat suaminya mengingat yang dia ucapkan. Semalam setelah kebersamaan mereka, Cahya dan Ethan berbincang lama sambil tiduran. Sang istri rebah di lengan suami.“Jalan hidup kita sering tidak tertebak, ya. Kita bertemu dengan kesalahan dan berakhir bahagia seperti sekarang ini,” ucap Cahya sambil mengusap-usap dada Ethan yang berbulu.“Siapa bilang itu kesalahan?”“Iya, gara-gara aku salah kira kamu sopir taxi o
“Apa aku kembalikan dia kepada keluarga Siska saja?”Cahya terkesiap.“Keira?! Jangan! Jangan, Sayangku. Bagiku Keira sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak mau berpisah dengannya,” sahut Cahya sambil memegang kedua tangan suaminya."Tapi, Aya. Kamu tahu tidak, setiap melihat dia pikiranku langsung membayangkan Siska bersama dengan lelaki bangsat itu. Kamu tahu rasanya sebagai suami saat membayangkan istrinya dipakai lelaki yang aku tidak tahu siapa dia?!” Mata Ethan menyala nyalang. Kedua alisnya bertaut. “Saya mengerti. Tetapi semua ini bukan salah Keira, Sayang. Dia tidak tahu apa-apa. Coba kamu bayangkan kalau menjadi Keira. Dari lahir yang dia tahu inilah rumahnya. Kamulah papinya.""Tapi bagaimana dengan aku?" ucap Ethan dengan sorot mata memohon. Cahya menghela napas. Ini sungguh berat. Kemudian dia berguman, "Jangan sampai kesalahan orang dewasa menyakiti Keira yang tidak bersalah.”"Aku pun berpikir demikian, Aya."Mereka sama-sama terdiam.“Tapi, Aya. Itulah yang membuat
Keira dan Satria sudah tidur. Cahya duduk di tepi ranjang memandang keduanya.Wajah damai mereka menyunggingkan senyuman. Tangan kecil Keira memeluk tubuh gembul Satria. Sedangkan kaki si kecil bertumpu pada tubuh Keira.Selalu begitu kalau mereka tidur bersama. Tak ubahnya saudara mereka saling menyayangi. Keira yang selalu mengatur, sedangkan Satria yang suka dimanja.“Keira, Sayang. Mama Aya akan selalu menyayangi dirimu. Siapa pun kamu. Selamanya akan menjadi anak mama,” bisik Cahya sambil membelai rambut berwarna coklat itu.Dada Cahya begitu berat mengingat kemungkinan karena golongan darah itu. Anak ini tidak bersalah. Orang dewasalah yang keliru.“Huuft semoga Ethan tidak menyadari itu,” desah Cahya meskipun di sudut hati merasa ada perubahan sikap pada suaminya.“Semoga tidak.” Di menggelengkan kepala menolak pikiran buruk yang terlintas.Jarum jam dinding sudah menunjuk malam sudah larut. Ingin rasanya melihat keadaan suaminya. Dia mengatakan banyak pekerjaan. Kalau pun tida







