LOGIN"Mas!"Kylar baru menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Dia menahan senyum sebelum buru-buru mengoreksi, "Buka mulut maksud aku."Padahal, kalau Ryn benar-benar menuruti ucapan pertamanya, bisa saja kegiatan mandi mereka pagi itu kembali berubah arah."Kamu tuh ngeselin!" seru Ryn.Kylar terkekeh pelan, lalu mengambil sikat gigi yang sudah diberi pasta dan mengangkatnya ke depan wajah istrinya. "Udah, buka." Meski masih mengomel, Ryn akhirnya menurut. Bukan karena dia tidak bisa menyikat giginya sendiri, melainkan karena pemandangan seperti ini sudah terlalu biasa bagi mereka.Kadang Kylar yang menyuapi sarapan ketika Ryn sedang terburu-buru, mengeringkan rambutnya setelah mandi, atau tanpa diminta mengambil alih hal-hal kecil yang sebenarnya masih mampu dia kerjakan sendiri.Lima tahun bersama membuat perhatian-perhatian sederhana itu terasa seperti bagian dari keseharian mereka. Kylar memang tidak pernah menganggap Ryn terlalu manja hanya karena sesekali membiarkannya
Ryn mengangguk kecil."Kalau memang tujuan Nenek mau mendekatkan aku sama Anne ..." Kylar berhenti sejenak, memastikan Ryn benar-benar mendengarkan. "Harusnya Nenek minta Anne kerja sama aku. Jadi sekretaris, staf pribadi, atau apa pun yang setiap hari ada di sekitar aku."Ryn terdiam."Tapi yang terjadi justru sebaliknya." Kylar melanjutkan dengan sabar. "Anne ditempatkan buat mendampingi kamu. Yang lebih sering ketemu dia nanti juga kamu, bukan aku. Bahkan bisa jadi dalam sehari aku cuma ketemu dia beberapa menit."Penjelasan itu membuat Ryn mulai berpikir."Belum lagi ..." Kylar tersenyum tipis. "Aku juga nggak mungkin tiba-tiba ngobrol berdua sama asisten pribadi istri sendiri tanpa alasan yang jelas. Justru kalau Anne bekerja buat kamu, batasnya akan jauh lebih jelas."Ryn masih diam, mencerna setiap ucapan suaminya."Aku nggak bilang firasat kamu pasti salah," sambung Kylar lembut. "Aku juga nggak bisa baca isi hati Nenek. Tapi menurutku, untuk saat ini kita jangan buru-buru men
Beberapa jam sebelumnya."Mbak tunggu dulu, ya. Di luar masih hujan. Saya ambilkan payung dulu."Hujan masih turun cukup deras ketika mobil yang dikendarai Naufal berhenti di halaman kediaman keluarga Wijaya. Pria itu segera keluar, membuka bagasi, lalu mengambil sebuah payung hitam sebelum bergegas membukakan pintu untuk Ryn."Makasih, Mas." Ryn tersenyum kecil sambil melangkah turun dari mobil. Setelah keduanya tiba di teras rumah, dia mengembalikan payung itu kepada Naufal. "Mas boleh pulang dulu. Nanti aku pulangnya sama Mas Kylar.""Baik, Mbak.""Oh iya." Ryn tiba-tiba tersenyum usil. "Jangan kepikiran Lala terus, ya?"Naufal langsung terkekeh pelan sambil menggeleng. "Jangan bahas Mbak Lala terus. Takut saya malah tidak bisa tidur malam ini."Kelakar itu berhasil mengundang tawa kecil dari Ryn."Yaudah, hati-hati di jalan.""Siap, Mbak."Naufal kembali menuju mobilnya, sementara Ryn melangkah memasuki rumah besar bergaya Eropa yang sudah tidak asing lagi baginya. Baru beberapa l
"Kalau memang Anne butuh tempat tinggal, nanti aku sewakan apartemen dekat rumah kami. Biar tetap dekat sama Ryn, tapi dia juga punya tempat tinggal sendiri."Menurut Kylar, itu solusi yang paling masuk akal. Anne tetap tidak perlu menempuh perjalanan jauh setiap hari, sementara privasi semua orang juga tetap terjaga.Namun Anjana perlahan menggeleng. "Ngapain harus sewa apartemen?""Supaya lebih nyaman buat semuanya.""Anne itu perempuan." Anjana memandang cucunya dengan tenang. "Lebih aman kalau tinggal bersama kalian daripada pulang malam sendirian. Lagipula dia kan mendampingi Ryn. Kalau sewaktu-waktu Ryn butuh bantuan, Anne juga lebih mudah.""Apartemennya dekat, Nek. Paling lima menit dari rumah," bantah Kylar mencoba memberi jalan tengah."Lima menit tetap lima menit." Anjana menggeleng pelan. "Kalau Ryn butuh sesuatu tengah malam bagaimana? Kalau harus berangkat subuh bagaimana? Bukankah lebih praktis kalau Anne tinggal dengan kalian? Lagi pula Anne bukan orang asing untuk kam
"Ky, kamu masih ingat gadis ini, ‘kan?" Anjana tersenyum sambil menoleh ke arah perempuan muda yang sudah duduk di sampingnya. "Dia Anne, cucu Pak Nata. Dulu waktu kecil sering ikut kakeknya ke sini. Lihat sekarang, gadis kecil itu sudah tumbuh jadi perempuan secantik ini."Kylar mengangguk pelan. "Ingat."Bagaimana mungkin Kylar lupa?Usia mereka memang terpaut sekitar sepuluh tahun. Saat Kylar masih duduk di bangku SMA hingga kuliah, Anne kecil sering berlarian di rumah keluarga Wijaya setiap kali Nata, tangan kanan Anjana, datang menghadap atasannya.Bocah itu bahkan kerap mengikutinya ke mana-mana, mengajaknya bermain atau sekadar mengobrol, meski sebagian besar waktu hanya dibalas anggukan singkat oleh Kylar yang memang tidak terlalu pandai menghadapi anak kecil.Beberapa tahun kemudian, setelah Anne beranjak remaja, keluarganya kembali ke kampung halaman dan sejak saat itu mereka nyaris tidak pernah bertemu lagi."Ah, Nyonya bisa saja." Anne tertawa kecil sambil menundukkan kepa
"Menikah lagi?" ulang Kylar, benar-benar tidak menyangka akan mendengar usulan itu. Dia menggeleng tanpa ragu. "Nek, maaf, tapi aku mulai nggak suka sama arah pembicaraan ini.""Apa yang salah?" Anjana balik bertanya tanpa merasa sedang mengatakan sesuatu yang keliru. "Kamu tetap bisa mempertahankan Ryn sebagai istrimu, tapi keluarga ini juga tetap punya penerus.""Aku nggak akan berpoligami." Jawaban Kylar datang tanpa jeda.Anjana terdiam sesaat. Dia memang sudah menduga cucunya akan menolak."Baik." Anjana mengangguk pelan, seolah menerima penolakan itu. "Kalau begitu lupakan soal poligami."Kylar mengembuskan napas pendek. Dia mengira pembicaraan itu akhirnya selesai. Ternyata belum."Kalau kamu tetap ingin setia sama Ryn, sekarang juga banyak pasangan yang menggunakan ibu pengganti." Anjana menatap cucunya dengan serius. "Embrionya tetap berasal dari sel telur Ryn dan sperma kamu. Secara biologis anak itu tetap anak kalian berdua. Hanya rahimnya saja yang dipinjam.""Nek ...""De
Tok. Tok. Tok.Ketukan kecil terdengar dari pintu.“Ayah, maaf mengganggu.”Suara itu halus, rapi, dan terlalu sopan untuk ukuran anak kecil.Kylar langsung berdiri dan membuka pintu. Di luar, Ziva berdiri tegak dengan piyama pastel dan rambut yang sudah disisir rapi seperti hendak menghadiri rapat
Di rooftop, setelah pintu lift tertutup dan bayangan Kylar yang menggendong Ryn menghilang dari pandangan, suasana langsung berubah jadi ruang sidang darurat tanpa hakim.Naufal bergerak maju setengah langkah. Timing-nya presisi seperti biasa. Pria ini bukan hanya asisten, dia semacam damage contro
Kylar memperdalam ciuman itu tanpa tergesa, memastikan Ryn tidak terdorong oleh mabuk semata. Namun, ketika Ryn justru semakin mendekat, semakin berani, mencengkeram kemejanya lebih kuat, napasnya menghangat di kulitnya, Kylar berhenti.Kylar menempelkan dahinya ke dahi Ryn. “Nanti kamu nyesel,” gum
“Pagi, Pak,” sapa Agis santai ketika melihat Kylar sudah duduk di area sarapan hotel bersama Naufal dan Dara.Kylar mengangguk tipis. Kemeja linen putihnya rapi, tapi lingkar tipis di bawah matanya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Dia mengangkat cangkir teh tanpa benar-benar meminumnya.“Pagi.







