LOGINRyn balas menatapnya beberapa detik. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, tetapi kali ini dia tidak menghindari tatapan Kylar.“Tapi Mas suka, ‘kan?”Jawaban provokasi itu membuat sudut bibir Kylar kembali terangkat.Setelahnya, Kylar mulai menyisipkan jemari di antara kain celana dalam yang tipis itu, dia usap segala sisinya. Basah tentu saja, hangat, dan Kylar mulai gila. Dia tangkap sorot mata yang kini menatapnya redup, sayu, putus asa, tapi juga memuja.Ryn bergerak lebih dulu, mencium bibirnya dan menutup semua engah maupun desah dengan ciuman-ciuman yang nyaris putus asa, sementara Kylar mulai menggerakkan jemarinya untuk mencari tempat yang lebih hangat.Dan dia menemukannya. Tepat di titik itu.“Kalau nggak nyaman, bilang,” gumam Kylar sesaat setelah Ryn melepaskan ciuman. "Cium aku, atau–"Ryn lebih dulu menciumnya sebelum Kylar sempat menyelesaikan kalimatnya.Jadi, sudah dipastikan Ryn menyetujui segala aturan dan syarat yang ingin dia jelaskan.Kylar bergerak perlahan
“Serius kamu minta ini?” tanya Kylar heran. Dia tahu betul istrinya bukan tipe yang suka mengambil kendali.Biasanya Ryn lebih sering membiarkan dirinya memimpin. Karena itu, mendengar permintaan tersebut langsung dari mulut wanita itu terasa cukup mengejutkan.Bukan karena mereka belum pernah melakukannya dengan cara seperti ini. Hanya saja biasanya Kylar yang lebih dulu mengusulkannya, bukan Ryn.“Mas itu baru sembuh. Jadi biar aku aja yang ngatur malam ini.” Sudut bibir Ryn terangkat tipis. “Enjoy the game.”Setelah itu Ryn langsung naik ke pangkuan suaminya. Kylar refleks menahan pinggang wanita itu agar tidak kehilangan keseimbangan, mengingat mereka masih duduk di sofa.Untuk kesekian kali, Kylar mampu mengusap langsung kulit wanita itu dengan ujung-ujung jemarinya. Dia sentuh dengan hati-hati, dia lewati jengkal demi jengkal siluet tubuhnya perlahan.Angin malam berembus dari pintu balkon yang terbuka. Vitrase putih tipis menggelembung pelan lalu menyapu lantai ruangan. Dari ke
“Tapi Mas baru keluar dari rumah sakit, loh. Memang udah kuat?” tanya Ryn gugup karena pandangan suaminya terasa semakin sulit diabaikan. Dia jelas tahu ke mana arahnya ini.“Pasti kuat.” Bahkan rasanya Kylar akan sanggup melawan dunia dan seisinya hanya untuk bisa mencium bibir kecil kesayangannya itu.Perlahan dia bergerak mendekat. Jemarinya mengangkat dagu istrinya pelan sebelum akhirnya mengecup bibir yang sudah terlalu lama tidak bisa dia rasakan.Awalnya singkat. Hampir hati-hati. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.Terlalu banyak rindu yang menumpuk. Terlalu banyak ketakutan yang belum sepenuhnya hilang. Dan terlalu banyak hari yang terlewat tanpa bisa menyentuh istrinya.Biasanya satu hari saja sudah cukup membuatnya rewel. Sekarang sudah hampir dua minggu, dan sialnya, bahkan kata sakau terasa terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang dia rasakan saat ini.Dua lengan Ryn perlahan terangkat mengalung di tengkuk suaminya. Gerakan kecil itu langsung membuat pertahanan te
“Iya, Mas.” Ryn mengangguk kecil. “Aku akan coba andalkan kamu mulai sekarang.”“Good girl.” Kylar mengacak pelan rambut istrinya sebelum mengulurkan tangan meminta sesuatu. “Boleh pinjam ponsel kamu dulu? Aku mau hubungi Naufal.”Memang setelah ponselnya hilang di laut, Kylar belum membeli yang baru. Tujuannya sederhana. Untuk sekali ini dia ingin masa pemulihannya berjalan tanpa notifikasi pekerjaan yang tidak ada habisnya. Setidaknya sampai dokter benar-benar mengizinkannya kembali bekerja penuh.Karena itulah selama beberapa hari terakhir dia lebih sering meminjam ponsel Ryn setiap kali benar-benar perlu menghubungi seseorang.“Padahal Mas Naufal ada di unit sebelah loh.” Ryn mengangkat alis heran. “Kenapa nggak dipanggil aja?”“Aku nggak mau dia ganggu waktu kita berduaan.”Ryn mendengus geli. “Dasar.”Meski begitu, dia tetap mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di samping sofa lalu menyerahkannya kepada sang suami.Kylar menerima gawai tersebut dan langsung berdiri. Buk
Ryn langsung tahu ke mana arah pikiran suaminya. “Dia nggak bermaksud–”“Nggak.” Potongan itu keluar cepat. Nada suara Kylar tidak tinggi dan tidak pula membentak. Namun justru karena itulah terdengar jauh lebih berbahaya. “Jangan bela dia.”Ryn langsung menutup mulutnya kembali.“Aku nggak peduli dia anak angkat siapa. Aku nggak peduli dia merasa bersalah. Aku juga nggak peduli dia bilang mau melindungi kamu.” Kylar menyandarkan kepalanya ke sofa lalu tertawa pendek sekali lagi. “Kalau memang mau melindungi kamu, dia bisa mulai dengan nggak mengawasi kamu bertahun-tahun.”Kalimat itu membuat Ryn terdiam. Karena bagian itu memang sulit dibantah.“Aku bahkan nggak tahu mana yang lebih bikin aku kesal.” Tatapan Kylar akhirnya beralih ke wajah istrinya. “Fakta kalau hidup kamu ternyata diawasi selama itu, atau fakta kalau dia masih punya keberanian buat ngomong soal perasaannya setelah semuanya.”“Dia cuma jujur.”“Dan aku cuma marah.”Ryn langsung terdiam lagi. Karena jawaban itu memang
“Aku sedih malam itu.” Suara Ryn terdengar jauh lebih pelan sekarang. “Aku marah, bingung, dan aku ngerasa hidup aku kayak lagi dipermainkan. Tapi aku masih bisa mikir. Aku masih bisa jalan. Aku masih bisa nangis.”Jemarinya perlahan menggenggam tangan Kylar lebih erat.“Tapi pas Pak Bimo bilang kamu nggak bisa dihubungi ...” Ryn berhenti sejenak, seolah harus mengumpulkan keberanian untuk mengingat kembali malam itu. “Aku nggak bisa mikir apa-apa lagi.”Kylar menatap wajah istrinya tanpa berkedip.“Aku bahkan nggak sempat marah sama Bu Indri lagi.” Sudut bibir Ryn terangkat tipis, meskipun matanya mulai berkaca-kaca. “Karena yang ada di kepala aku cuma kamu.”Dada Ryn terasa sesak lagi saat mengingatnya. Taman yang sepi, ponselnya yang mati, pesan terakhir yang tidak pernah dibaca, dan ketakutan bahwa mungkin dia tidak akan pernah mendapat balasan.“Aku takut kalau pesan terakhir aku ke kamu itu benar-benar jadi pesan terakhir.” Suara Ryn mulai bergetar. “Aku takut kalau terakhir kal
“Lama juga boleh.” Ryn langsung membuka kedua tangannya.Dan seperti seseorang yang baru sadar betapa penat harinya sejak pagi, Kylar langsung menunduk dan memeluk tubuh istrinya erat. Lengannya melingkar di pinggang Ryn, sementara kepalanya bersandar di bahu wanita itu perlahan. Matanya bahkan ter
Boleh jujur tidak kalau tangan Ryn kini benar-benar bergetar saat membubuhkan tanda tangan di atas dokumen yang Irene bawa?Bagaimana tidak? Karena Ya Tuhan.Bisa-bisanya suami Ryn Laverna membeli sebuah restoran Jepang atas nama dirinya hanya karena dia sempat ngambek karena tidak bisa makan sushi
Di sana sudah duduk seorang wanita berambut hitam sebahu dengan penampilan rapi dan elegan. Umurnya mungkin sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan.Dan entah kenapa, itu justru membuat alarm kecil di kepala Ryn berbunyi makin keras.Wanita itu langsung berdiri begitu melihat Ryn masuk.“Pe
“Sayang, aku capek.”Keluhan itu keluar begitu saja dari mulut Kylar Ashwara sesaat setelah sambungan telepon tersambung.Setelah mengantar Kael turun sampai lobi utama, pria itu langsung kembali ke ruang kerjanya tanpa membuang waktu. Jasnya bahkan belum sempat dia lepas lagi saat tubuhnya langsun







