Share

Bab 6: Malam Pertama

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-28 11:42:39

“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.

Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.

Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.

Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”

Serius? Tidak ada opsi kasur?

Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?

Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.

“Baik, Pak. Saya–”

“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”

Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari. “Terus saya harus panggil apa?”

“Nama aja.”

Ryn ragu sebentar, lalu mencoba. “Kylar?”

“Hm.” Kylar mengangguk tipis.

“Oke, P–” Ryn nyaris kebiasaan, lalu buru-buru membenahi, “Kylar.”

Kylar tidak menatapnya, tapi ada sesuatu seperti senyum kecil di sudut bibirnya. Tipis, nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat Ryn makin kesal karena rasanya seperti dia baru saja kalah satu poin.

Ryn bangkit, berjalan menuju walk-in closet untuk membuka kopernya. 

Lima belas menit kemudian, Ryn keluar dari kamar mandi. Rambutnya setengah kering, wajahnya bersih tanpa riasan. 

Saat dia kembali ke kamar, Kylar sudah berbaring di ranjang. Satu tangan memegang tablet. Satu kaki sedikit tertekuk santai. Lampu tidur menyala hangat, membuat sudut wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya.

Ryn menelan ludah lagi, kali ini karena bingung harus bersikap seperti apa.

“Serius kamu pakai baju begitu?” tanya Kylar sambil melirik sekilas.

Ryn menunduk, menatap outfit-nya sendiri. Sweater tebal kebesaran yang menutupi setengah pahanya, dipasangkan dengan celana piyama panjang. Kombinasi yang membuatnya terlihat seperti orang yang siap tidur hibernasi sampai gajian berikutnya.

“Memang ada yang salah?” jawab Ryn.

“Maksudku, kamu kelihatan kayak mau ke kutub,” komentar Kylar sarkas.

“Dingin, Ky. Aku nggak biasa pakai AC di rumah,” kilah Ryn sambil mendengus kecil. Dia berjalan ke sofa. Di sana sudah ada bantal dan selimut baru yang ditata rapi. Dia duduk di ujung sofa, lalu menarik selimut sampai dada.

Kylar menatap Ryn sebentar. Seperti sedang menilai kenapa istri kontraknya tidur dengan mode darurat bencana.

“Kamu takut aku apa-apain?” tebak Kylar, suaranya datar, tapi menyebalkan.

Ryn langsung menoleh. “Bukan begitu.”

Kylar meletakkan tablet di atas dadanya sebentar, menatap Ryn lurus. “Tenang. Aku nggak ada niat nidurin kamu. Nggak usah kepedean.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan, tapi entah kenapa justru membuat Ryn semakin yakin pada rumor tentang Kylar yang tidak menyukai perempuan itu mungkin tidak sepenuhnya salah.

Ryn memilih untuk mengabaikan, lalu berbaring. Dia memunggungi Kylar, menarik selimut sampai dagu, dan memejamkan mata.

Namun, kantuk tidak datang. Mungkin karena dia tidak terbiasa tidur di tempat baru.

Ryn menggeliat, mengubah posisi. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dia tetap terjaga.

Di ranjang, Kylar sudah diam. Entah masih sibuk atau sudah tidur, Ryn tidak berani menoleh. Karena kalau dia menoleh, dia takut malah makin sulit tidur.

Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh bahunya. Ryn tersentak. Napasnya tercekat. Tubuhnya kaku seketika. Dia menoleh cepat.

Kylar berdiri di samping sofa. Rambutnya sedikit berantakan, matanya redup. “Kamu nggak bisa tidur?” tanyanya pelan.

Ryn menelan ludah, masih tegang. “A-aku …”

Kylar menghela napas pendek, lalu mengusap wajahnya sebentar seperti orang yang kesal pada sesuatu.

“Tidur di kasur,” titah Kylar.

Ryn membeku. “Hah?”

Ini ajakan tidur satu ranjang atau bagaimana?

“Aku yang tidur di sofa,” lanjut Kylar datar.

Ryn langsung mengembuskan napas lega. “Nggak usah, Ky. Aku bisa–”

“Ryn,” potong Kylar. Nadanya tidak keras, tapi tidak memberi pilihan. “Kalau besok kamu telat masuk kerja, aku potong gaji kamu.”

Nah, ‘kan? Selalu itu ancamannya.

“Oke,” jawab Ryn pasrah. Dia bangkit pelan dan berjalan ke ranjang dengan langkah hati-hati, lalu merangkak masuk ke bawah selimut.

__

Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit ketika Ryn sudah siap dengan pakaian kerja. Blouse putih, blazer warna abu, dan celana bahan senada.

Ryn keluar dari walk-in closet dengan tas kerja di tangan, lalu berhenti karena melihat Kylar masih tidur di sofa.

Ryn mengernyit. Ini pemandangan aneh. Kylar biasanya seperti jam dinding: tepat waktu, tegang, tidak pernah terlihat lengah.

Namun, membangunkan juga bukan ide bagus. Mengingat hubungan mereka masih sangat canggung.

Akhirnya Ryn memilih untuk turun lebih dulu.

Di ruang makan sudah ada Ratna. Begitu melihat Ryn, Ratna menatap rambutnya yang masih sedikit lembap, lalu berdecak pelan.

“Aduh, Nyonya. Kalau habis keramas, dikeringkan dulu rambutnya. Nanti pusing,” ujar Ratna, ambigu tapi terdengar seperti perhatian.

Ryn berhenti sepersekian detik. Lalu membenarkan rambutnya, berusaha terlihat biasa saja. “Oh. Iya, Bu.”

“Duduk dulu, Nyonya. Sarapan,” sambung Ratna.

Ryn yang tadinya berniat langsung berangkat kerja, akhirnya duduk. Di depannya sudah ada segelas air dan semangkuk salad.

Sarapan orang kaya memang begini, ya?

Lima belas menit kemudian, Kylar turun dengan langkah tergesa. Rambutnya masih setengah basah, jas abunya masih belum sempurna, tapi wajahnya tetap punya aura CEO yang siap memotong anggaran.

Kylar baru menarik kursi ketika Ratna datang membawa piring tambahan. Dia meletakkannya di meja, lalu menatap Kylar dengan senyum yang terlalu paham.

“Wah. Tuan Kylar tumben baru turun jam segini,” komentar Ratna ringan.

Kylar hanya melirik sebentar. “Saya sedikit terlambat bangun.”

Ratna mengangguk paham, dia menaruh sendok, merapikan posisi piring, lalu menambahkan dengan nada yang terlalu santai untuk dampaknya, “Malam pertamanya sukses ya, Tuan? Pantas tidurnya nyenyak.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 113: Kepribadian Ganda

    “Maaf, Pak. Orang tua saya sedang sakit,” cicit Ryn. Dia tahu Kylar sudah tahu keadaan itu. Toh pria itu juga yang mengantarnya ke rumah sakit beberapa hari lalu. Tapi ini di kantor, di forum seperti ini, tentu dia harus menjelaskannya secara formal.Kylar menyilangkan tangan di dada. “Semua orang di ruangan ini juga punya urusan masing-masing di luar kantor.”Tidak ada yang berani bersuara.“Kalau setiap orang pergi saat meeting masih berjalan,” lanjut Kylar, “rapat ini tidak akan pernah selesai.”Ryn terdiam.“Ini laporan kuartal. Dan kamu bagian dari tim yang mengerjakannya.” Kalimat itu tidak terdengar marah. Justru terlalu profesional. Namun tetap saja membuat Ryn merasa seperti sedang ditegur. “Kalau semua orang masih di sini, kamu juga tetap di sini.”Semua orang nyaris menahan napas dalam ketegangan. Beberapa bertukar kode lewat isyarat mata. Sisanya berdoa dalam hati agar Kylar dibukakan pintu hatinya dan dilapangkan jalan pikirannya.Ryn akhirnya mengangguk kecil. “Baik, Pak

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 112: Meeting Dengan Bosszilla

    Di ujung meja, Leon yang sejak tadi sudah siap dengan dokumen meeting akhirnya menghela napas. “Udah-udah. Kita cepetan ke ruang meeting,” kata Leon sambil berdiri. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau Pak Kylar datang duluan dan lihat kalian masih gosip di sini, bisa-bisa kena semprot semua.”Kalimat itu langsung membuat mereka bergerak lebih cepat. Laptop diambil, tablet dibawa, dan mereka berjalan bersama menuju ruang meeting.Meeting sore itu memang penting. Mereka akan membahas review final laporan kuartal, memastikan semua angka yang akan diserahkan ke direksi sudah bersih dan tidak ada selisih.Begitu pintu ruang meeting dibuka, ruangan itu masih kosong.Leon langsung mengambil tempat di sisi kiri meja panjang, sementara Ryn duduk di dekat layar presentasi. Lala dan Agis memilih duduk berdampingan seperti biasa.Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.Kylar masuk lebih dulu. Setelan jasnya masih rapi seperti biasanya, langkahnya tenang tapi membuat ruangan l

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 111: Karma

    Pertanyaan semacam ini dijawab salah bisa bahaya. Tidak dijawab, lebih bahaya lagi.Apalagi yang bertanya istrinya sendiri.Kylar menghela napas kecil, lalu menjawab santai, “Ya pernah dong. Suami kamu ini normal, Ryn.”Ryn langsung terdiam. Ekspresinya berubah dalam sepersekian detik. Alisnya naik, matanya menyipit, dan mulutnya sedikit mengerucut seperti orang yang baru saja menemukan informasi yang sangat tidak menyenangkan.Kylar hampir tertawa melihat perubahan wajah itu. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Melihat Ryn cemburu justru terasa menyenangkan.“Siapa?” tanya Ryn cepat.“Hm …” Kylar mengangkat bahu ringan, pura-pura berpikir. “Mas!”“Ada lah.”Ryn langsung menyilangkan tangan di dada. “Kalau ‘ada lah’ jawabannya? Berarti lebih dari satu dong?”Kylar akhirnya benar-benar tertawa kecil. “Ini kenapa jadi interogasi?”“Karena kamu jawabnya mencurigakan!” tukas Ryn.Kylar memperhatikan wajah Ryn beberapa detik. Ada kesal di sana, ada cemburu juga, meskipun jelas Ryn berusa

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 110: Gawat!

    “Tumben jemput aku?” tanya Ryn agak keras karena suara angin dan helm fullface yang mereka pakai. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar suaranya bisa terdengar.Kylar tertawa kecil di depan. “Takut diambil alih orang lain kalau aku nggak jemput.”Ryn langsung tahu maksudnya. “Masih dendam aja sama Papi,” katanya sambil menepuk ringan punggung Kylar.Kylar menggeleng sedikit, walau gerakannya hampir tidak terlihat karena helm.“Bukan dendam. Cuma masih inget aja,” jawab Kylar santai.Di dalam kepalanya, Kylar sebenarnya masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ayahnya dengan santai menawarkan tumpangan pada Ryn berkali-kali. Dan yang membuatnya tidak suka bukan soal tumpangannya, tapi karena Ryn terlihat nyaman menerimanya.Kylar memperlambat motor sedikit ketika lampu lalu lintas berubah merah.“Kamu udah makan?” tanyanya kemudian.“Belum,” jawab Ryn. “Terakhir itu minum kopi yang kamu kirim tadi sore.”Kylar melirik kaca spion sebentar, seolah ingin memastikan Ryn baik-baik s

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 109: Suami Ryn

    “Mas Naufal baru pulang juga?”Lala menyapa lebih dulu ketika mereka keluar dari lift dan melewati lobi kantor. Naufal baru saja keluar dari toilet pria di ujung koridor, masih merapikan jam tangannya ketika melihat mereka berdua.“Iya, kebetulan baru beres,” jawab Naufal santai. Dia lalu menoleh ke Ryn dan Lala yang berjalan beriringan menuju pintu depan. “Kalian baru pulang juga? Pasti lembur ya karena laporan kuartal.”“Biasa, Mas. Mode zombie. Pergi paling pagi, pulang paling malam. Biasanya jam delapan malam udah tiduran di kamar. Sekarang malah masih di kantor,” keluh Ryn dramatis. Dia mengibaskan tangannya seolah benar-benar kelelahan.Lala langsung terkikik. “Kasihan suami Cici. Biasanya jam segini pasti lagi dikelonin.”“Eh jangan gitu! Malu ada Mas Naufal,” protes Ryn cepat sambil pura-pura menutup wajahnya.Naufal menahan senyum kecil. Namun, sebelum dia sempat berkata apa-apa, Lala sudah melanjutkan topik lain.“Btw, Mas Naufal nggak bareng sama Pak Kylar?”“Pak Kylar suda

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 108: Kiriman

    Ryn langsung menoleh. “Kenapa?”Kylar menatapnya dengan ekspresi datar yang sengaja dibuat serius, seolah sedang menyampaikan sesuatu yang sangat penting. “Karena ternyata istriku jauh lebih berbahaya.”Ryn mendengus kecil, tapi kemudian dia menoleh lagi dengan tatapan sedikit lebih usil.“Tapi bener kamu memang nggak ada perasaan apa-apa sama Dara?” tanyanya ringan.Pertanyaan itu terdengar santai, hampir seperti candaan. Padahal Ryn sendiri sudah tahu jawabannya. Hanya saja, kadang perempuan memang butuh sedikit validasi, meskipun logikanya sudah lebih dulu percaya.“Kamu ini lagi cari masalah ya pagi-pagi?”Kylar berhenti berjalan. Dia menoleh perlahan ke arah Ryn, matanya menyipit sedikit seperti seseorang yang sedang menilai apakah lawan bicaranya serius atau hanya mencari gara-gara.Ryn mengangkat bahu santai. “Nanya doang!”Kylar menatapnya beberapa detik lagi, lalu akhirnya tertawa pelan. Dia kembali melanjutkan langkahnya di lintasan.“Kalau aku tertarik sama dia,” katanya sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status