LOGIN“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.
“Uhuk–uhuk!”
Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!
“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.
Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.
Ini mode akting.
Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.
“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”
Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!
Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk formalitas.”
Kylar hanya mengangkat alis tipis, seperti tidak peduli.
Sedangkan Ryn, hanya bisa berdoa dalam hati, semoga couple outfit ini tidak jadi bahan ledekan di kantor.
Setelah sarapan yang hampir membuat Ryn tersedak salad, Kylar tetap memaksa Ryn berangkat ke kantor menggunakan sopir keluarga.
Bukan karena perhatian. Lebih karena Kylar tidak suka ada detail yang bisa jadi celah. Kalau sampai Ratna melihat Ryn naik ojek online atau naik bus, laporan ke keluarga besar bisa langsung terdengar pagi itu juga.
Kini Ryn berada di ruang rapat bersama divisi finance. Bukannya disambut agenda, dia justru disambut kemarahan suami kontraknya.
“Saya kasih kalian satu jam untuk kumpulkan data lengkap. Kalau setelah itu saya masih dengar kata ‘sebagian’, saya potong semua budget yang membuat kalian nyaman,” tutup Kylar dingin.
Kylar berdiri mendadak. Dia merapikan jasnya seperti orang yang sudah selesai dengan kesabaran.
Lalu tanpa menunggu siapa pun mengangguk lebih keras, Kylar keluar begitu saja diikuti Naufal.
Begitu pintu menutup, barulah ruangan seperti ingat cara bernapas lagi.
“Cie! Bajunya couplean sama si bos,” ledek Agis, sambil menyenggol Ryn yang duduk di sebelahnya.
Nah, kan.
Ryn sudah menduga ini akan terjadi. Dari dulu, siapa pun yang bajunya kebetulan senada dengan Kylar pasti langsung dijadikan bahan ledekan.
“Diem deh, Bang,” desis Ryn, mencoba terdengar galak kepada seniornya, tapi malah terdengar seperti orang yang sedang menahan malu.
Agis nyengir. “Tapi serius, Bosszilla harus punya istri sih. Biar nggak emosian. Tadi serem banget. Sumpah!”
Lala, staf pajak yang hobinya bergosip, langsung nyambar, “Gimana mau punya istri? Cewek yang dijodohin sama dia aja ditolak mentah-mentah. Jangan-jangan, gosip si bos gay itu beneran?”
“Hush! Jangan sembarangan ngomong. Kalau kedengaran, selesai kita semua.” Leon, Accounting Supervisor, mencoba jadi penengah.
“Tapi, ‘kan, ini fakta lapangan, Mas Leon,” bantah Lala.
Agis mencondongkan badan ke Ryn. “Kalau menurut kamu gimana, Ryn? Bosszilla itu gay apa nggak?”
“Aku nggak tahu. Tapi kalau dia nolak semua perempuan yang ngedeketin, ya bisa jadi,” jawab Ryn, senyumnya tipis dan aman.
“Nah, ‘kan!” Lala langsung bersorak.
Ryn menunduk, pura-pura mengetik sesuatu. Padahal dalam hati, dia juga mengangguk setuju.
Semalam saja, Kylar sama sekali tidak terlihat tertarik padanya. Bahkan ketika mereka satu kamar, pria itu lebih sibuk membaca tablet daripada sekadar melirik seperti pria normal.
“Oh ya, Ryn. Kamu yang tabah ya. Kita udah nerima undangan dari Acha.” Agis tiba-tiba mengubah topik.
Ryn mengangkat dagu sedikit, memasang wajah datar yang sok kuat. “Santai, Bang. Aku udah ada pengganti kok.”
“Siapa?!” tanya Agis dan Lala hampir serempak.
Ryn baru akan membuka mulut untuk berkilah, ketika pintu rapat mendadak terbuka.
Refleks, semua kepala menoleh ketika Naufal masuk dengan langkah cepat.
“Eh, Mas Naufal,” sapa Ryn refleks, suaranya mendadak terlalu ceria untuk ukuran situasi. “Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?”
“Ponsel kantor ketinggalan,” kata Naufal singkat sambil mengangkat gawai itu dari atas meja.
Dan detik itu juga, semua orang tahu, ponsel itu adalah ponsel yang selalu Naufal gunakan untuk merekam rapat.
Artinya, kalimat ‘Bosszilla gay’ kemungkinan besar ikut terekam juga.
Sontak, mereka saling melempar tatapan terkejut. Mampus, habis sudah nasib mereka.
__
“Kayaknya kamu lebih sibuk dari CEO. Jam segini baru pulang,” sindir Kylar dari arah ruang keluarga, begitu Ryn muncul. Tablet di tangannya dia turunkan pelan ke sofa.
Ryn yang tadinya berniat langsung kabur ke kamar, refleks berhenti. Bahunya menegang tipis, tapi wajahnya tetap berusaha normal.
“Maaf, Pa–” Ryn buru-buru mengganti, “Ky.”
“Tadi habis jalan dulu sama temen-temen kantor,” kilah Ryn, suaranya dibuat seringan mungkin. Dia tidak mungkin bilang pulang dari kerja part time. Bisa-bisa langsung dipecat dia.
“Temen-temen yang tadi gosipin aku gay itu?” Kylar menyandarkan punggungnya santai sekali, tapi suaranya jelas tidak santai.
Oh, sudah pasti Naufal melaporkan semuanya pada Kylar.
“Itu bukan aku yang mulai, Ky,” sahut Ryn defensif. Tidak ada jawaban yang aman. Yang ada hanya jawaban yang lebih sedikit tidak berbahaya daripada pilihan lain.
Kylar menatapnya beberapa detik, lalu mendengus pelan. “Tapi kamu ada di dalam obrolan, dan mengiyakan gosip itu.”
Ryn menelan ludah. Tatapan Kylar terasa lebih mengerikan saat ini.
Selama ini, gosip itu memang sudah lama beredar dan Ryn yakin, telinga Kylar tidak mungkin melewatkannya. Tapi, dia tidak menyangka jika sekarang Kylar bisa bereaksi seperti ini.
“Maaf ….” lirih Ryn sambil menundukkan kepalanya, tubuhnya kaku.
Kylar menatap Ryn yang masih mematung. “Memang sopan ngobrol sama suami sambil berdiri begitu?”
Ryn sedikit tersentak. Kata suami itu selalu terdengar salah di telinga Ryn, meski secara hukum ya, memang begitu.
“Oh, iya. Maaf,” jawab Ryn akhirnya. Dia melangkah mendekat lalu duduk di ujung sofa ujung, bagian yang paling aman menurutnya. Jaraknya cukup untuk menjaga kewarasan dan harga diri sekaligus.
“Katanya aku gay, tapi kenapa kamu masih takut duduk dekat-dekat?” Kylar melirik jarak itu sebentar, seperti sedang menilai keputusan Ryn yang jelas-jelas terlalu berhati-hati.
Tiba-tiba saja Kylar berdiri. Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Ryn. Tatapannya lebih dingin, tapi Ryn bisa menangkap ada rasa kesal dan tidak suka di sana.
Ryn otomatis menegakkan punggung, refleks tubuh yang tahu kapan harus siaga.
Kylar menunduk sedikit, satu tangannya menekan sandaran sofa di sisi Ryn, membuat ruang gerak istri kontraknya menyempit.
Demi Tuhan, Ryn bisa merasakan napas Kylar di wajahnya.
“Perlu aku buktikan, kalau aku nggak gay?” gertak Kylar, satu alisnya terangkat. Nada suara yang dingin dan tatapannya yang menusuk membuat Ryn merasa semakin tercekat.
Hai! Bertemu dengan cerita baru Kylar dan Ryn. Semoga kalian suka. Dan jangan lupa tinggalkan komentar dan dukungan ya :)
“N–nggak perlu, Ky. Aku percaya kamu nggak gay. Beneran,” sahut Ryn cepat. Suaranya sedikit bergetar, dan dia membenci fakta bahwa Kylar pasti menyadarinya.Ryn mencoba bangkit sedikit. Sekadar menggeser posisi. Mencari ruang bernapas. Namun, gerakannya terpotong karena telapak tangan Kylar menekan bahu Ryn turun. Tekanannya tidak keras, tidak kasar, tapi cukup untuk membuat keseimbangan Ryn goyah.Ryn tersentak. Refleks, tangannya mencengkeram lengan atas Kylar. Bukan untuk melawan, melainkan menahan diri agar tidak jatuh sendirian.Tarikan itu kecil. Spontan. Namun, cukup membuat posisi Kylar ikut terdorong ke depan.Dalam satu detik yang terlalu cepat untuk dipikirkan, tubuh Ryn kembali jatuh ke sofa. Dan Kylar yang tertarik olehnya, ikut kehilangan tumpuan.Mereka terjatuh bersamaan.Ryn terlentang di sofa. Kylar tertahan di atasnya, satu lengannya masih menopang tubuhnya sendiri agar tidak sepenuhnya menindih. Jarak di antara mereka kini nyaris tidak ada.Ryn membeku.“Jangan kab
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.Ini mode akting. Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”Serius? Tidak ada opsi kasur?Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.“Baik, Pak. Saya–”“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan un
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’. Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.Kylar menoleh sekilas. “Serius.”Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket. Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.“Kalau nanti orang kantor tanya ten
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.Ryn sedikit terkejut.“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!





![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

