Share

Bab 7: Bermain Peran

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 01:13:11

“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.

“Uhuk–uhuk!”

Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!

“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.

Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.

Ini mode akting. 

Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.

“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”

Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!

Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk formalitas.”

Kylar hanya mengangkat alis tipis, seperti tidak peduli.

Sedangkan Ryn, hanya bisa berdoa dalam hati, semoga couple outfit ini tidak jadi bahan ledekan di kantor.

Setelah sarapan yang hampir membuat Ryn tersedak salad, Kylar tetap memaksa Ryn berangkat ke kantor menggunakan sopir keluarga.

Bukan karena perhatian. Lebih karena Kylar tidak suka ada detail yang bisa jadi celah. Kalau sampai Ratna melihat Ryn naik ojek online atau naik bus, laporan ke keluarga besar bisa langsung terdengar pagi itu juga.

Kini Ryn berada di ruang rapat bersama divisi finance. Bukannya disambut agenda, dia justru disambut kemarahan suami kontraknya.

“Saya kasih kalian satu jam untuk kumpulkan data lengkap. Kalau setelah itu saya masih dengar kata ‘sebagian’, saya potong semua budget yang membuat kalian nyaman,” tutup Kylar dingin.

Kylar berdiri mendadak. Dia merapikan jasnya seperti orang yang sudah selesai dengan kesabaran. 

Lalu tanpa menunggu siapa pun mengangguk lebih keras, Kylar keluar begitu saja diikuti Naufal.

Begitu pintu menutup, barulah ruangan seperti ingat cara bernapas lagi.

“Cie! Bajunya couplean sama si bos,” ledek Agis, sambil menyenggol Ryn yang duduk di sebelahnya.

Nah, kan.

Ryn sudah menduga ini akan terjadi. Dari dulu, siapa pun yang bajunya kebetulan senada dengan Kylar pasti langsung dijadikan bahan ledekan.

“Diem deh, Bang,” desis Ryn, mencoba terdengar galak kepada seniornya, tapi malah terdengar seperti orang yang sedang menahan malu.

Agis nyengir. “Tapi serius, Bosszilla harus punya istri sih. Biar nggak emosian. Tadi serem banget. Sumpah!”

Lala, staf pajak yang hobinya bergosip, langsung nyambar, “Gimana mau punya istri? Cewek yang dijodohin sama dia aja ditolak mentah-mentah. Jangan-jangan, gosip si bos gay itu beneran?”

“Hush! Jangan sembarangan ngomong. Kalau kedengaran, selesai kita semua.” Leon, Accounting Supervisor, mencoba jadi penengah.

“Tapi, ‘kan, ini fakta lapangan, Mas Leon,” bantah Lala.

Agis mencondongkan badan ke Ryn. “Kalau menurut kamu gimana, Ryn? Bosszilla itu gay apa nggak?”

“Aku nggak tahu. Tapi kalau dia nolak semua perempuan yang ngedeketin, ya bisa jadi,” jawab Ryn, senyumnya tipis dan aman.

“Nah, ‘kan!” Lala langsung bersorak.

Ryn menunduk, pura-pura mengetik sesuatu. Padahal dalam hati, dia juga mengangguk setuju.

Semalam saja, Kylar sama sekali tidak terlihat tertarik padanya. Bahkan ketika mereka satu kamar, pria itu lebih sibuk membaca tablet daripada sekadar melirik seperti pria normal.

“Oh ya, Ryn. Kamu yang tabah ya. Kita udah nerima undangan dari Acha.” Agis tiba-tiba mengubah topik.

Ryn mengangkat dagu sedikit, memasang wajah datar yang sok kuat. “Santai, Bang. Aku udah ada pengganti kok.”

“Siapa?!” tanya Agis dan Lala hampir serempak.

Ryn baru akan membuka mulut untuk berkilah, ketika pintu rapat mendadak terbuka.

Refleks, semua kepala menoleh ketika Naufal masuk dengan langkah cepat.

“Eh, Mas Naufal,” sapa Ryn refleks, suaranya mendadak terlalu ceria untuk ukuran situasi. “Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?”

“Ponsel kantor ketinggalan,” kata Naufal singkat sambil mengangkat gawai itu dari atas meja.

Dan detik itu juga, semua orang tahu, ponsel itu adalah ponsel yang selalu Naufal gunakan untuk merekam rapat.

Artinya, kalimat ‘Bosszilla gay’ kemungkinan besar ikut terekam juga.

Sontak, mereka saling melempar tatapan terkejut. Mampus, habis sudah nasib mereka.

__

“Kayaknya kamu lebih sibuk dari CEO. Jam segini baru pulang,” sindir Kylar dari arah ruang keluarga, begitu Ryn muncul. Tablet di tangannya dia turunkan pelan ke sofa.

Ryn yang tadinya berniat langsung kabur ke kamar, refleks berhenti. Bahunya menegang tipis, tapi wajahnya tetap berusaha normal.

“Maaf, Pa–” Ryn buru-buru mengganti, “Ky.”

“Tadi habis jalan dulu sama temen-temen kantor,” kilah Ryn, suaranya dibuat seringan mungkin. Dia tidak mungkin bilang pulang dari kerja part time. Bisa-bisa langsung dipecat dia.

“Temen-temen yang tadi gosipin aku gay itu?” Kylar menyandarkan punggungnya santai sekali, tapi suaranya jelas tidak santai.

Oh, sudah pasti Naufal melaporkan semuanya pada Kylar.

“Itu bukan aku yang mulai, Ky,” sahut Ryn defensif. Tidak ada jawaban yang aman. Yang ada hanya jawaban yang lebih sedikit tidak berbahaya daripada pilihan lain.

Kylar menatapnya beberapa detik, lalu mendengus pelan. “Tapi kamu ada di dalam obrolan, dan mengiyakan gosip itu.”

Ryn menelan ludah. Tatapan Kylar terasa lebih mengerikan saat ini.

Selama ini, gosip itu memang sudah lama beredar dan Ryn yakin, telinga Kylar tidak mungkin melewatkannya. Tapi, dia tidak menyangka jika sekarang Kylar bisa bereaksi seperti ini.

“Maaf ….” lirih Ryn sambil menundukkan kepalanya, tubuhnya kaku.

Kylar menatap Ryn yang masih mematung. “Memang sopan ngobrol sama suami sambil berdiri begitu?”

Ryn sedikit tersentak. Kata suami itu selalu terdengar salah di telinga Ryn, meski secara hukum ya, memang begitu.

“Oh, iya. Maaf,” jawab Ryn akhirnya. Dia melangkah mendekat lalu duduk di ujung sofa ujung, bagian yang paling aman menurutnya. Jaraknya cukup untuk menjaga kewarasan dan harga diri sekaligus.

“Katanya aku gay, tapi kenapa kamu masih takut duduk dekat-dekat?” Kylar melirik jarak itu sebentar, seperti sedang menilai keputusan Ryn yang jelas-jelas terlalu berhati-hati.

Tiba-tiba saja Kylar berdiri. Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Ryn. Tatapannya lebih dingin, tapi Ryn bisa menangkap ada rasa kesal dan tidak suka di sana.

Ryn otomatis menegakkan punggung, refleks tubuh yang tahu kapan harus siaga.

Kylar menunduk sedikit, satu tangannya menekan sandaran sofa di sisi Ryn, membuat ruang gerak istri kontraknya menyempit.

Demi Tuhan, Ryn bisa merasakan napas Kylar di wajahnya.

“Perlu aku buktikan, kalau aku nggak gay?” gertak Kylar, satu alisnya terangkat. Nada suara yang dingin dan tatapannya yang menusuk membuat Ryn merasa semakin tercekat.

Duvessa

Hai! Bertemu dengan cerita baru Kylar dan Ryn. Semoga kalian suka. Dan jangan lupa tinggalkan komentar dan dukungan ya :)

| 20
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Chairunnisa
sukaa sm alur ceritanya wlp baru part awal, tp sdh menarik minat untuk baca part - part selanjutnya. smg ga. mengecewakan. semangat author ...
goodnovel comment avatar
Duvessa
yup betul kak :)
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
ini anakny zara sm chef kael kak???
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 113: Kepribadian Ganda

    “Maaf, Pak. Orang tua saya sedang sakit,” cicit Ryn. Dia tahu Kylar sudah tahu keadaan itu. Toh pria itu juga yang mengantarnya ke rumah sakit beberapa hari lalu. Tapi ini di kantor, di forum seperti ini, tentu dia harus menjelaskannya secara formal.Kylar menyilangkan tangan di dada. “Semua orang di ruangan ini juga punya urusan masing-masing di luar kantor.”Tidak ada yang berani bersuara.“Kalau setiap orang pergi saat meeting masih berjalan,” lanjut Kylar, “rapat ini tidak akan pernah selesai.”Ryn terdiam.“Ini laporan kuartal. Dan kamu bagian dari tim yang mengerjakannya.” Kalimat itu tidak terdengar marah. Justru terlalu profesional. Namun tetap saja membuat Ryn merasa seperti sedang ditegur. “Kalau semua orang masih di sini, kamu juga tetap di sini.”Semua orang nyaris menahan napas dalam ketegangan. Beberapa bertukar kode lewat isyarat mata. Sisanya berdoa dalam hati agar Kylar dibukakan pintu hatinya dan dilapangkan jalan pikirannya.Ryn akhirnya mengangguk kecil. “Baik, Pak

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 112: Meeting Dengan Bosszilla

    Di ujung meja, Leon yang sejak tadi sudah siap dengan dokumen meeting akhirnya menghela napas. “Udah-udah. Kita cepetan ke ruang meeting,” kata Leon sambil berdiri. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau Pak Kylar datang duluan dan lihat kalian masih gosip di sini, bisa-bisa kena semprot semua.”Kalimat itu langsung membuat mereka bergerak lebih cepat. Laptop diambil, tablet dibawa, dan mereka berjalan bersama menuju ruang meeting.Meeting sore itu memang penting. Mereka akan membahas review final laporan kuartal, memastikan semua angka yang akan diserahkan ke direksi sudah bersih dan tidak ada selisih.Begitu pintu ruang meeting dibuka, ruangan itu masih kosong.Leon langsung mengambil tempat di sisi kiri meja panjang, sementara Ryn duduk di dekat layar presentasi. Lala dan Agis memilih duduk berdampingan seperti biasa.Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.Kylar masuk lebih dulu. Setelan jasnya masih rapi seperti biasanya, langkahnya tenang tapi membuat ruangan l

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 111: Karma

    Pertanyaan semacam ini dijawab salah bisa bahaya. Tidak dijawab, lebih bahaya lagi.Apalagi yang bertanya istrinya sendiri.Kylar menghela napas kecil, lalu menjawab santai, “Ya pernah dong. Suami kamu ini normal, Ryn.”Ryn langsung terdiam. Ekspresinya berubah dalam sepersekian detik. Alisnya naik, matanya menyipit, dan mulutnya sedikit mengerucut seperti orang yang baru saja menemukan informasi yang sangat tidak menyenangkan.Kylar hampir tertawa melihat perubahan wajah itu. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Melihat Ryn cemburu justru terasa menyenangkan.“Siapa?” tanya Ryn cepat.“Hm …” Kylar mengangkat bahu ringan, pura-pura berpikir. “Mas!”“Ada lah.”Ryn langsung menyilangkan tangan di dada. “Kalau ‘ada lah’ jawabannya? Berarti lebih dari satu dong?”Kylar akhirnya benar-benar tertawa kecil. “Ini kenapa jadi interogasi?”“Karena kamu jawabnya mencurigakan!” tukas Ryn.Kylar memperhatikan wajah Ryn beberapa detik. Ada kesal di sana, ada cemburu juga, meskipun jelas Ryn berusa

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 110: Gawat!

    “Tumben jemput aku?” tanya Ryn agak keras karena suara angin dan helm fullface yang mereka pakai. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar suaranya bisa terdengar.Kylar tertawa kecil di depan. “Takut diambil alih orang lain kalau aku nggak jemput.”Ryn langsung tahu maksudnya. “Masih dendam aja sama Papi,” katanya sambil menepuk ringan punggung Kylar.Kylar menggeleng sedikit, walau gerakannya hampir tidak terlihat karena helm.“Bukan dendam. Cuma masih inget aja,” jawab Kylar santai.Di dalam kepalanya, Kylar sebenarnya masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ayahnya dengan santai menawarkan tumpangan pada Ryn berkali-kali. Dan yang membuatnya tidak suka bukan soal tumpangannya, tapi karena Ryn terlihat nyaman menerimanya.Kylar memperlambat motor sedikit ketika lampu lalu lintas berubah merah.“Kamu udah makan?” tanyanya kemudian.“Belum,” jawab Ryn. “Terakhir itu minum kopi yang kamu kirim tadi sore.”Kylar melirik kaca spion sebentar, seolah ingin memastikan Ryn baik-baik s

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 109: Suami Ryn

    “Mas Naufal baru pulang juga?”Lala menyapa lebih dulu ketika mereka keluar dari lift dan melewati lobi kantor. Naufal baru saja keluar dari toilet pria di ujung koridor, masih merapikan jam tangannya ketika melihat mereka berdua.“Iya, kebetulan baru beres,” jawab Naufal santai. Dia lalu menoleh ke Ryn dan Lala yang berjalan beriringan menuju pintu depan. “Kalian baru pulang juga? Pasti lembur ya karena laporan kuartal.”“Biasa, Mas. Mode zombie. Pergi paling pagi, pulang paling malam. Biasanya jam delapan malam udah tiduran di kamar. Sekarang malah masih di kantor,” keluh Ryn dramatis. Dia mengibaskan tangannya seolah benar-benar kelelahan.Lala langsung terkikik. “Kasihan suami Cici. Biasanya jam segini pasti lagi dikelonin.”“Eh jangan gitu! Malu ada Mas Naufal,” protes Ryn cepat sambil pura-pura menutup wajahnya.Naufal menahan senyum kecil. Namun, sebelum dia sempat berkata apa-apa, Lala sudah melanjutkan topik lain.“Btw, Mas Naufal nggak bareng sama Pak Kylar?”“Pak Kylar suda

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 108: Kiriman

    Ryn langsung menoleh. “Kenapa?”Kylar menatapnya dengan ekspresi datar yang sengaja dibuat serius, seolah sedang menyampaikan sesuatu yang sangat penting. “Karena ternyata istriku jauh lebih berbahaya.”Ryn mendengus kecil, tapi kemudian dia menoleh lagi dengan tatapan sedikit lebih usil.“Tapi bener kamu memang nggak ada perasaan apa-apa sama Dara?” tanyanya ringan.Pertanyaan itu terdengar santai, hampir seperti candaan. Padahal Ryn sendiri sudah tahu jawabannya. Hanya saja, kadang perempuan memang butuh sedikit validasi, meskipun logikanya sudah lebih dulu percaya.“Kamu ini lagi cari masalah ya pagi-pagi?”Kylar berhenti berjalan. Dia menoleh perlahan ke arah Ryn, matanya menyipit sedikit seperti seseorang yang sedang menilai apakah lawan bicaranya serius atau hanya mencari gara-gara.Ryn mengangkat bahu santai. “Nanya doang!”Kylar menatapnya beberapa detik lagi, lalu akhirnya tertawa pelan. Dia kembali melanjutkan langkahnya di lintasan.“Kalau aku tertarik sama dia,” katanya sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status