LOGIN“Saya Kylar, suaminya Ryn.”
Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.
Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.
Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.
“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”
Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.
“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.
“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”
Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.
Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan untuk bekerja, ikut menyahut.
“Papa sebetulnya nggak masalah,” kata Yanto, terdengar seperti orang yang ingin terlihat bijaksana. “Tapi kamu yakin menikah sama pria ini?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut yang sama yang biasanya hanya membuka suara kalau butuh uang.
Dini menatap Kylar dari atas ke bawah, lalu mendengus. “Lihat saja penampilannya.”
Kylar saat ini hanya memakai kemeja putih, lengannya digulung rapi sisa sesi foto tadi. Jam tangannya jelas mahal, tapi Dini tampaknya tidak punya kemampuan membedakan barang mewah dan barang palsu.
Dan Ryn bisa menebak satu hal, ibu angkatnya belum tahu mereka datang menggunakan mobil mewah. Mobil itu diparkir di luar gang, jauh dari jangkauan mata yang hobi menilai.
“Memang tampan,” Dini melanjutkan, seakan itu satu-satunya hal yang layak disebut, “tapi dia mapan nggak? Kayak Andy yang sudah jadi manajer keuangan?”
Ryn diam.
Kalau Dini tahu kalau Kylar sebenarnya adalah anak dari pemilik grup tempat Andy bekerja, Ryn yakin dia akan bersorak.
“Tenang saja, Om, Tante,” ucap Kylar tenang. Dia tidak tersinggung, tapi justru tersenyum kecil. “Pekerjaan saya cukup untuk menghidupi Ryn sebagai istri saya dan anak-anak kami nantinya.”
Anak-anak?
Mereka baru menikah dua jam. Namun, Kylar sudah bicara seperti mereka pasangan mapan yang tinggal menunggu nama bayi. Hebat sekali!
Ryn hampir ingin bertepuk tangan. Sungguh. Kalau Kylar bukan CEO, pria ini cocok jadi aktor.
“Yakin cukup?” desak Dini, masih keras kepala.
“Saya yakin cukup,” jawab Kylar tanpa ragu.
Ya, memang cukup. Bahkan cukup untuk membuat keluarganya bergelimangan harta tujuh turunan Kylar bisa, kalau mau.
Dini mencibir lagi. “Omong doang gampang.”
Kylar mengangguk kecil, seolah dia menghargai kekhawatiran itu meski jelas tidak setuju.
“Saya mengerti Tante khawatir,” ucap Kylar lembut. “Wajar. Ryn perempuan baik, saya juga tidak ingin dia hidup susah.”
Ryn hampir tertawa. Bukan karena lucu. Karena kalimat itu seperti dongeng. Selama ini, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang peduli Ryn hidup susah atau tidak. Yang penting Ryn bekerja dan tidak menyusahkan.
Kylar melanjutkan, masih dengan nada yang sama hangatnya, “Kalau Tante dan Om mengizinkan, saya ingin membawa Ryn tinggal bersama saya. Biar saya yang mengurus dia mulai sekarang. Saya yang bertanggung jawab.”
Dini terlihat seperti ingin menolak karena kehilangan ‘aset’. Yanto terlihat seperti ingin setuju karena mungkin ada peluang keuntungan.
Dan Ryn?
Perempuan itu hanya bisa menunduk.
Kylar menoleh sedikit ke arah Ryn. “Kamu nggak perlu takut,” katanya, cukup halus untuk terdengar seperti kalimat suami baik-baik.
Tidak perlu takut, katanya?
Melihat Kylar bisa berubah secepat ini saja sudah cukup membuat Ryn merinding setengah mati.
__
“Kenapa kamu tepuk tangan?” tanya Kylar begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.
Ryn berada di kursi penumpang. Naufal menyetir di depan dengan wajah datar seorang asisten yang sudah lelah melihat hal-hal mustahil terjadi dalam satu hari kerja. Di bagasi, koper Ryn yang isinya tidak seberapa itu ikut meluncur.
“Soalnya, akting Pak Kylar hebat. Bisa bikin keluarga saya yakin secepat itu,” jawab Ryn.
Kylar melirik sekilas. “Itu sarkas?”
Ryn mengatupkan senyum. “Pujian, Pak.”
Kylar hanya mendelik tipis. Tidak puas, tapi juga tidak memperpanjang. Mobil melaju dalam keheningan malam.
Bagaimana tidak hening? Ini sudah hampir tengah malam. Kota mulai sepi, dan Ryn duduk di samping orang yang pagi tadi masih dia panggil bos, sekarang jadi suami.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang dan lebih mahal.
Tepat saat keluar mobil, Ryn menelan ludah. Rumah Kylar berdiri gagah, minimalis, dan elegan. Lalu matanya turun ke lantai bawah, ke area parkir yang terbuka seperti garasi kaca.
Ryn terpaku. Di sana berjejer mobil sport yang mengilap, motor besar seperti Harley dengan bodi kokoh, dan satu-dua kendaraan yang Ryn bahkan tidak tahu namanya.
Ini rumah atau showroom?
“Bapak tinggal sendiri di sini?” tanya Ryn akhirnya, bukan karena kepo, tapi karena membayangkan tinggal dengan mertua kaya raya itu biasanya penuh drama.
Kylar meliriknya sekilas. “Kenapa? Kamu takut tinggal sama mertua?”
Ryn tersedak kecil. Kenapa Kylar bisa membaca pikirannya?
“Bukan begitu, Pak. Saya cuma memastikan,” kilah Ryn kemudian.
“Tidak usah banyak tanya.” Kylar berjalan duluan, dan Ryn mengikutinya.
Begitu mereka masuk, pintu dibukakan oleh seorang perempuan paruh baya dengan seragam rapi. Dia adalah kepala ART di rumah Kylar, sosok senior yang banyak mengetahui soal keadaan keluarga Ashwara.
“Selamat malam, Tuan,” sambut wanita itu sopan.
Kylar mengangguk singkat. “Malam, Bu Ratna.”
Ryn langsung menangkap sesuatu dari cara Kylar menyebut namanya. Bukan hangat, tapi terhormat. Seperti Kylar memang terbiasa menjaga jarak bahkan pada orang yang mengurus rumahnya.
Ratna lalu melirik ke belakang Kylar, tepat ke arah Ryn. “Ini siapa?” tanyanya hati-hati.
“Istri saya,” jawab Kylar.
Ratna membelalakkan mata, tapi hanya sepersekian detik. Lalu kembali profesional, seakan matanya tidak barusan mengalami kejutan.
“Selamat malam, Nyonya,” ucap Ratna cepat, membungkuk sopan.
Ryn refleks membalas, “Malam …”
Kylar menoleh ke Naufal yang baru masuk membawa koper Ryn.
“Kopernya bawa ke atas,” perintah Kylar. Dan dibalas anggukan dari Naufal.
Kylar melangkah naik ke lantai atas, dan Ryn mengikutinya. Mereka melewati koridor yang luas, wangi rumah yang bersih, sunyi yang rapi, serta beberapa lampu dinding yang redup tapi jelas tidak murah.
Kylar berhenti di depan sebuah pintu. Dia membukanya tanpa ragu. “Kamu tidur di sini.”
Ryn melangkah masuk lalu berhenti di ambang. Kamar itu besar, rapi, maskulin.
Sisi kiri ada meja dengan laptop. Di sudut ada rak buku dan jam tangan yang ditata. Di dalam walk-in closet, Ryn bahkan bisa melihat kemeja-kemeja putih dan jas yang tersusun rapi.
Ryn menoleh pelan ke Kylar. “Ini kamar saya? Tapi, kok banyak barang-barang Bapak?”
“Karena ini kamar saya juga,” sahut Kylar tak acuh.
Ryn membeku. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Dia butuh dua detik penuh untuk memastikan dia tidak salah paham.
“Maksudnya kita satu kamar?” tanya Ryn memastikan.
Kylar mengangkat alis tipis. Lalu menjawab tenang, “Mana ada suami istri yang kamarnya terpisah?”
“Mau pada ngapain di sini?” tanya Kylar pada kedua wanita itu. Sambil berbicara, dia memberi isyarat kecil kepada manajer restoran agar pergi. Pria itu langsung berdiri dan menghilang.“Mau main bola, Ky,” kelakar perempuan bergaun hitam. Lalu dia menunjuk meja di belakang mereka dengan dagunya. “Ya makan lah. Sambil berharap mudah-mudahan ketemu owner, biar makannya gratis.”Kylar mengangkat alis tipis. “Aku aja bayar.”“Yaelah, garing banget jawabannya,” sahut perempuan itu sambil memutar mata.“Nggak mau dikenalin nih?” Di sampingnya, perempuan bergaun merah sejak tadi sudah memperhatikan Ryn dengan rasa penasaran yang tidak disembunyikan sama sekali. Tatapannya naik turun beberapa kali, jelas sedang menilai.Kylar akhirnya berdiri dari kursinya, membuat Ryn ikut berdiri secara refleks.“Kenalin,” kata Kylar sambil menunjuk perempuan bergaun hitam. “Ini Avanira.”Lalu Kylar menunjuk perempuan bergaun merah di sebelahnya. “Dan ini Lily.”Kylar melanjutkan dengan nada yang sama datar
Ryn menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu yang hangat merayap pelan di dadanya, walaupun dia masih mencoba terlihat biasa saja.“Tapi tadi di meeting kamu galak banget,” gumam Ryn.“Karena kalau aku biarin kamu keluar dari meeting itu, kamu bakal langsung lari ke rumah sakit dan ngurus semuanya sendiri lagi.” Kylar mengambil gelas wine-nya dan menyesap sedikit sebelum melanjutkan, “Padahal semuanya udah aku urus duluan.”Ryn menghela napas kecil. “Makasih ya udah mau ngurusin aku.”Kylar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengulurkan tangannya dan mengusap punggung tangan Ryn yang berada di atas meja. Sentuhan singkat itu cukup membuat Ryn tersenyum.Mereka kembali makan beberapa menit dalam diam.Di sela-sela itu Kylar sempat melirik ke arah dapur lagi, memastikan semuanya berjalan seperti seharusnya.Setelah makanan mereka tandas dan pelayan mulai membersihkan meja, Kylar akhirnya berkata, “Nanti malam aku terbang ke Singapura.”“Hah?” Ryn langsung mendongak.“Barusan Naufa
“Maaf, Pak. Orang tua saya sedang sakit,” cicit Ryn. Dia tahu Kylar sudah tahu keadaan itu. Toh pria itu juga yang mengantarnya ke rumah sakit beberapa hari lalu. Tapi ini di kantor, di forum seperti ini, tentu dia harus menjelaskannya secara formal.Kylar menyilangkan tangan di dada. “Semua orang di ruangan ini juga punya urusan masing-masing di luar kantor.”Tidak ada yang berani bersuara.“Kalau setiap orang pergi saat meeting masih berjalan,” lanjut Kylar, “rapat ini tidak akan pernah selesai.”Ryn terdiam.“Ini laporan kuartal. Dan kamu bagian dari tim yang mengerjakannya.” Kalimat itu tidak terdengar marah. Justru terlalu profesional. Namun tetap saja membuat Ryn merasa seperti sedang ditegur. “Kalau semua orang masih di sini, kamu juga tetap di sini.”Semua orang nyaris menahan napas dalam ketegangan. Beberapa bertukar kode lewat isyarat mata. Sisanya berdoa dalam hati agar Kylar dibukakan pintu hatinya dan dilapangkan jalan pikirannya.Ryn akhirnya mengangguk kecil. “Baik, Pak
Di ujung meja, Leon yang sejak tadi sudah siap dengan dokumen meeting akhirnya menghela napas. “Udah-udah. Kita cepetan ke ruang meeting,” kata Leon sambil berdiri. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau Pak Kylar datang duluan dan lihat kalian masih gosip di sini, bisa-bisa kena semprot semua.”Kalimat itu langsung membuat mereka bergerak lebih cepat. Laptop diambil, tablet dibawa, dan mereka berjalan bersama menuju ruang meeting.Meeting sore itu memang penting. Mereka akan membahas review final laporan kuartal, memastikan semua angka yang akan diserahkan ke direksi sudah bersih dan tidak ada selisih.Begitu pintu ruang meeting dibuka, ruangan itu masih kosong.Leon langsung mengambil tempat di sisi kiri meja panjang, sementara Ryn duduk di dekat layar presentasi. Lala dan Agis memilih duduk berdampingan seperti biasa.Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.Kylar masuk lebih dulu. Setelan jasnya masih rapi seperti biasanya, langkahnya tenang tapi membuat ruangan l
Pertanyaan semacam ini dijawab salah bisa bahaya. Tidak dijawab, lebih bahaya lagi.Apalagi yang bertanya istrinya sendiri.Kylar menghela napas kecil, lalu menjawab santai, “Ya pernah dong. Suami kamu ini normal, Ryn.”Ryn langsung terdiam. Ekspresinya berubah dalam sepersekian detik. Alisnya naik, matanya menyipit, dan mulutnya sedikit mengerucut seperti orang yang baru saja menemukan informasi yang sangat tidak menyenangkan.Kylar hampir tertawa melihat perubahan wajah itu. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Melihat Ryn cemburu justru terasa menyenangkan.“Siapa?” tanya Ryn cepat.“Hm …” Kylar mengangkat bahu ringan, pura-pura berpikir. “Mas!”“Ada lah.”Ryn langsung menyilangkan tangan di dada. “Kalau ‘ada lah’ jawabannya? Berarti lebih dari satu dong?”Kylar akhirnya benar-benar tertawa kecil. “Ini kenapa jadi interogasi?”“Karena kamu jawabnya mencurigakan!” tukas Ryn.Kylar memperhatikan wajah Ryn beberapa detik. Ada kesal di sana, ada cemburu juga, meskipun jelas Ryn berusa
“Tumben jemput aku?” tanya Ryn agak keras karena suara angin dan helm fullface yang mereka pakai. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar suaranya bisa terdengar.Kylar tertawa kecil di depan. “Takut diambil alih orang lain kalau aku nggak jemput.”Ryn langsung tahu maksudnya. “Masih dendam aja sama Papi,” katanya sambil menepuk ringan punggung Kylar.Kylar menggeleng sedikit, walau gerakannya hampir tidak terlihat karena helm.“Bukan dendam. Cuma masih inget aja,” jawab Kylar santai.Di dalam kepalanya, Kylar sebenarnya masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ayahnya dengan santai menawarkan tumpangan pada Ryn berkali-kali. Dan yang membuatnya tidak suka bukan soal tumpangannya, tapi karena Ryn terlihat nyaman menerimanya.Kylar memperlambat motor sedikit ketika lampu lalu lintas berubah merah.“Kamu udah makan?” tanyanya kemudian.“Belum,” jawab Ryn. “Terakhir itu minum kopi yang kamu kirim tadi sore.”Kylar melirik kaca spion sebentar, seolah ingin memastikan Ryn baik-baik s







