Share

Bab 5: Bermuka Dua

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2026-01-28 11:39:31

“Saya Kylar, suaminya Ryn.”

Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.

Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.

Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.

“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”

Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.

“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.

“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”

Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.

Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan untuk bekerja, ikut menyahut.

“Papa sebetulnya nggak masalah,” kata Yanto, terdengar seperti orang yang ingin terlihat bijaksana. “Tapi kamu yakin menikah sama pria ini?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut yang sama yang biasanya hanya membuka suara kalau butuh uang.

Dini menatap Kylar dari atas ke bawah, lalu mendengus. “Lihat saja penampilannya.”

Kylar saat ini hanya memakai kemeja putih, lengannya digulung rapi sisa sesi foto tadi. Jam tangannya jelas mahal, tapi Dini tampaknya tidak punya kemampuan membedakan barang mewah dan barang palsu.

Dan Ryn bisa menebak satu hal, ibu angkatnya belum tahu mereka datang menggunakan mobil mewah. Mobil itu diparkir di luar gang, jauh dari jangkauan mata yang hobi menilai.

“Memang tampan,” Dini melanjutkan, seakan itu satu-satunya hal yang layak disebut, “tapi dia mapan nggak? Kayak Andy yang sudah jadi manajer keuangan?”

Ryn diam.

Kalau Dini tahu kalau Kylar sebenarnya adalah anak dari pemilik grup tempat Andy bekerja, Ryn yakin dia akan bersorak.

“Tenang saja, Om, Tante,” ucap Kylar tenang. Dia tidak tersinggung, tapi justru tersenyum kecil. “Pekerjaan saya cukup untuk menghidupi Ryn sebagai istri saya dan anak-anak kami nantinya.”

Anak-anak?

Mereka baru menikah dua jam. Namun, Kylar sudah bicara seperti mereka pasangan mapan yang tinggal menunggu nama bayi. Hebat sekali!

Ryn hampir ingin bertepuk tangan. Sungguh. Kalau Kylar bukan CEO, pria ini cocok jadi aktor.

“Yakin cukup?” desak Dini, masih keras kepala.

“Saya yakin cukup,” jawab Kylar tanpa ragu.

Ya, memang cukup. Bahkan cukup untuk membuat keluarganya bergelimangan harta tujuh turunan Kylar bisa, kalau mau.

Dini mencibir lagi. “Omong doang gampang.”

Kylar mengangguk kecil, seolah dia menghargai kekhawatiran itu meski jelas tidak setuju.

“Saya mengerti Tante khawatir,” ucap Kylar lembut. “Wajar. Ryn perempuan baik, saya juga tidak ingin dia hidup susah.”

Ryn hampir tertawa. Bukan karena lucu. Karena kalimat itu seperti dongeng. Selama ini, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang peduli Ryn hidup susah atau tidak. Yang penting Ryn bekerja dan tidak menyusahkan.

Kylar melanjutkan, masih dengan nada yang sama hangatnya, “Kalau Tante dan Om mengizinkan, saya ingin membawa Ryn tinggal bersama saya. Biar saya yang mengurus dia mulai sekarang. Saya yang bertanggung jawab.”

Dini terlihat seperti ingin menolak karena kehilangan ‘aset’. Yanto terlihat seperti ingin setuju karena mungkin ada peluang keuntungan.

Dan Ryn?

Perempuan itu hanya bisa menunduk.

Kylar menoleh sedikit ke arah Ryn. “Kamu nggak perlu takut,” katanya, cukup halus untuk terdengar seperti kalimat suami baik-baik.

Tidak perlu takut, katanya?

Melihat Kylar bisa berubah secepat ini saja sudah cukup membuat Ryn merinding setengah mati.

__

“Kenapa kamu tepuk tangan?” tanya Kylar begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.

Ryn berada di kursi penumpang. Naufal menyetir di depan dengan wajah datar seorang asisten yang sudah lelah melihat hal-hal mustahil terjadi dalam satu hari kerja. Di bagasi, koper Ryn yang isinya tidak seberapa itu ikut meluncur.

“Soalnya, akting Pak Kylar hebat. Bisa bikin keluarga saya yakin secepat itu,” jawab Ryn.

Kylar melirik sekilas. “Itu sarkas?”

Ryn mengatupkan senyum. “Pujian, Pak.”

Kylar hanya mendelik tipis. Tidak puas, tapi juga tidak memperpanjang. Mobil melaju dalam keheningan malam.

Bagaimana tidak hening? Ini sudah hampir tengah malam. Kota mulai sepi, dan Ryn duduk di samping orang yang pagi tadi masih dia panggil bos, sekarang jadi suami.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang dan lebih mahal.

Tepat saat keluar mobil, Ryn menelan ludah. Rumah Kylar berdiri gagah, minimalis, dan elegan. Lalu matanya turun ke lantai bawah, ke area parkir yang terbuka seperti garasi kaca.

Ryn terpaku. Di sana berjejer mobil sport yang mengilap, motor besar seperti Harley dengan bodi kokoh, dan satu-dua kendaraan yang Ryn bahkan tidak tahu namanya.

Ini rumah atau showroom?

“Bapak tinggal sendiri di sini?” tanya Ryn akhirnya, bukan karena kepo, tapi karena membayangkan tinggal dengan mertua kaya raya itu biasanya penuh drama.

Kylar meliriknya sekilas. “Kenapa? Kamu takut tinggal sama mertua?”

Ryn tersedak kecil. Kenapa Kylar bisa membaca pikirannya?

“Bukan begitu, Pak. Saya cuma memastikan,” kilah Ryn kemudian.

“Tidak usah banyak tanya.” Kylar berjalan duluan, dan Ryn mengikutinya.

Begitu mereka masuk, pintu dibukakan oleh seorang perempuan paruh baya dengan seragam rapi. Dia adalah kepala ART di rumah Kylar, sosok senior yang banyak mengetahui soal keadaan keluarga Ashwara.

“Selamat malam, Tuan,” sambut wanita itu sopan.

Kylar mengangguk singkat. “Malam, Bu Ratna.”

Ryn langsung menangkap sesuatu dari cara Kylar menyebut namanya. Bukan hangat, tapi terhormat. Seperti Kylar memang terbiasa menjaga jarak bahkan pada orang yang mengurus rumahnya.

Ratna lalu melirik ke belakang Kylar, tepat ke arah Ryn. “Ini siapa?” tanyanya hati-hati.

“Istri saya,” jawab Kylar.

Ratna membelalakkan mata, tapi hanya sepersekian detik. Lalu kembali profesional, seakan matanya tidak barusan mengalami kejutan.

“Selamat malam, Nyonya,” ucap Ratna cepat, membungkuk sopan.

Ryn refleks membalas, “Malam …”

Kylar menoleh ke Naufal yang baru masuk membawa koper Ryn.

“Kopernya bawa ke atas,” perintah Kylar. Dan dibalas anggukan dari Naufal.

Kylar melangkah naik ke lantai atas, dan Ryn mengikutinya. Mereka melewati koridor yang luas, wangi rumah yang bersih, sunyi yang rapi, serta beberapa lampu dinding yang redup tapi jelas tidak murah.

Kylar berhenti di depan sebuah pintu. Dia membukanya tanpa ragu. “Kamu tidur di sini.”

Ryn melangkah masuk lalu berhenti di ambang. Kamar itu besar, rapi, maskulin.

Sisi kiri ada meja dengan laptop. Di sudut ada rak buku dan jam tangan yang ditata. Di dalam walk-in closet, Ryn bahkan bisa melihat kemeja-kemeja putih dan jas yang tersusun rapi.

Ryn menoleh pelan ke Kylar. “Ini kamar saya? Tapi, kok banyak barang-barang Bapak?”

“Karena ini kamar saya juga,” sahut Kylar tak acuh.

Ryn membeku. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Dia butuh dua detik penuh untuk memastikan dia tidak salah paham.

“Maksudnya kita satu kamar?” tanya Ryn memastikan.

Kylar mengangkat alis tipis. Lalu menjawab tenang, “Mana ada suami istri yang kamarnya terpisah?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 8: Pembuktian

    “N–nggak perlu, Ky. Aku percaya kamu nggak gay. Beneran,” sahut Ryn cepat. Suaranya sedikit bergetar, dan dia membenci fakta bahwa Kylar pasti menyadarinya.Ryn mencoba bangkit sedikit. Sekadar menggeser posisi. Mencari ruang bernapas. Namun, gerakannya terpotong karena telapak tangan Kylar menekan bahu Ryn turun. Tekanannya tidak keras, tidak kasar, tapi cukup untuk membuat keseimbangan Ryn goyah.Ryn tersentak. Refleks, tangannya mencengkeram lengan atas Kylar. Bukan untuk melawan, melainkan menahan diri agar tidak jatuh sendirian.Tarikan itu kecil. Spontan. Namun, cukup membuat posisi Kylar ikut terdorong ke depan.Dalam satu detik yang terlalu cepat untuk dipikirkan, tubuh Ryn kembali jatuh ke sofa. Dan Kylar yang tertarik olehnya, ikut kehilangan tumpuan.Mereka terjatuh bersamaan.Ryn terlentang di sofa. Kylar tertahan di atasnya, satu lengannya masih menopang tubuhnya sendiri agar tidak sepenuhnya menindih. Jarak di antara mereka kini nyaris tidak ada.Ryn membeku.“Jangan kab

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 7: Bermain Peran

    “Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.Ini mode akting. Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 6: Malam Pertama

    “Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”Serius? Tidak ada opsi kasur?Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.“Baik, Pak. Saya–”“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 5: Bermuka Dua

    “Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan un

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 4: Pernikahan Kilat

    “Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’. Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.Kylar menoleh sekilas. “Serius.”Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket. Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.“Kalau nanti orang kantor tanya ten

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 3: Kita Menikah Hari Ini!

    Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.Ryn sedikit terkejut.“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status