LOGIN“Ziva setuju buat ketemu,” beri tahu Kylar begitu selesai menelepon putrinya. Dia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menoleh kepada Ryn yang sejak tadi menunggu kabar dengan penuh rasa ingin tahu.“Dia minta ditemenin nggak? Kalau dia mau, aku bisa ke sana,” tawar Ryn spontan. Sebagai ibu, dia tentu ingin memastikan Ziva baik-baik saja, apalagi pertemuan itu pasti bukan perkara mudah bagi putri mereka.Kylar langsung menoleh, menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit dibantah.“Sayang, ingat keadaan kamu sekarang, ya? Berhenti mikirin semua hal seolah-olah kamu harus turun tangan sendiri.” Dia meraih tangan Ryn, menggenggamnya lembut. “Ziva tadi bilang mau pergi sendiri. Jadi, biarin dia jalani ini dengan caranya. Kalau nanti dia butuh kita, dia tahu harus menghubungi siapa.”Ryn mengembuskan napas pelan sebelum mengangguk. Dia tahu Kylar benar, meskipun kebiasaannya mengkhawatirkan anak-anak terkadang membuatnya sulit duduk diam ketika mereka menghadapi masalah.“Iya, deh. Tapi M
“Perkenalkan, saya Rizal, orang kepercayaan Pak Mada.” Pria paruh baya itu mengulurkan tangan, lalu menyambut jabatan tangan Kylar dengan sopan.Nama itu membuat ekspresi Kylar sedikit berubah. Dia tentu mengenal pria yang disebut Rizal, bahkan terlalu mengenalnya untuk bisa bersikap biasa saja setiap kali nama itu muncul.Kylar tidak punya alasan untuk menyambut kedatangan orang suruhan Mada dengan antusias. Namun, dia juga tidak ingin langsung menunjukkan sikap bermusuhan kepada seseorang yang belum tahu apa-apa tentang persoalan mereka.“Begitu. Mari masuk, Pak Rizal,” ujar Kylar akhirnya, mempersilakan tamunya masuk ke rumah.Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Kylar baru saja hendak membuka percakapan ketika Ratna datang membawa minuman dan meletakkannya di atas meja. Setelah perempuan itu kembali ke dapur, Kylar mengalihkan perhatian kepada tamunya.“Ada keperluan apa, Pak? Sepertinya bukan sekadar kunjungan biasa sampai Pak Rizal datang langsung ke sini.”Rizal merapatkan ke
Kylar mengangguk mantap. “Aku yakin, Pi. Aku bukan mau lepas tangan begitu aja. Aku cuma nggak mau terus-terusan berada di Paris.”Kael mengamati putranya beberapa saat. Dia tahu Kylar bukan tipe orang yang mudah meninggalkan tanggung jawab. Sejak mengambil alih perusahaan, putranya selalu berusaha memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Karena itu, Kael ingin memahami apa yang membuat Kylar mantap mengambil keputusan tersebut.“Ada sesuatu yang terjadi? Atau ini karena kecelakaan Reynash kemarin?”“Sebagian karena itu.” Kylar menarik napas pelan. “Tapi bukan cuma soal Reynash, Pi. Aku sadar ada banyak hal yang selama ini aku lewatkan. Aku selalu berpikir semuanya bisa diatur selama pekerjaan selesai dan kebutuhan keluarga terpenuhi. Ternyata, nggak sesederhana itu.”Kylar terdiam sejenak, teringat Ryn yang duduk di sofa kamar mereka, menatap televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ditayangkan. Bahkan ketika Aurea menangis, istrinya seolah tidak mendengarnya sampai
Postpartum depression atau depresi pascapersalinan.Mendengar diagnosis itu membuat Ryn merasa seolah sedang berdiri di depan pintu keluar yang tak kunjung bisa dia capai. Dia tahu dirinya sedang tidak baik-baik saja, tetapi mengetahui bahwa kondisinya memiliki nama justru membuatnya takut.Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa dia akan mengalami hal seperti ini.Siapa yang akan menyangka seorang ibu dengan kehidupan yang terlihat sempurna bisa mengalami hal seperti ini?Ryn memiliki suami yang menyayanginya, anak-anak yang sehat dan menggemaskan, kehidupan berkecukupan, serta bisnis yang perlahan kembali stabil setelah berbagai masalah menerpanya.Namun, semua itu tidak serta-merta membuat Ryn kebal terhadap rasa sakit yang tak terlihat. Depresi tidak memilih seseorang berdasarkan seberapa banyak yang dia miliki atau seberapa bahagia hidupnya tampak di mata orang lain.“Sayang, udah. Jangan dipikirin semuanya sekaligus, ya.” Kylar mengusap punggung tangan Ryn ketika mereka duduk
“Si kembar di mana, Bu?” tanya Ryn sambil menyusui Aurea di ruang keluarga. Kain menyusui menutupi bagian dadanya, sementara satu tangannya menyangga tubuh mungil putrinya.“Sepertinya sedang di ruang bermain, Nyonya. Tadi Tuan Kylar juga ikut naik ke atas,” jawab Ratna yang sedang merapikan beberapa mainan di dekat sofa.Ryn mengangguk kecil. Dia menunduk, memperhatikan Aurea yang menyusu dengan tenang sampai akhirnya bayi itu melepaskan mulutnya sendiri. Setelah memastikan putrinya sudah cukup kenyang, Ryn membenarkan pakaiannya, menggendong Aurea, lalu naik ke lantai dua untuk melihat anak-anaknya.Langkahnya berhenti ketika sampai di ambang pintu ruang bermain. Di dalam, Kylar duduk bersila di atas karpet bersama Lucius dan Reynash.Seminggu setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Reynash sudah kembali bugar. Lengan yang sempat patah masih harus dijaga agar tidak terlalu banyak bergerak, tetapi semangatnya untuk bermain seolah tidak pernah berkurang.Di hadapan mereka berse
“Kamu bilang gitu cuma karena mau bikin Reynash berhenti ngerengek atau gimana, sih, Mas?” Ryn kembali menagih jawaban ketika mereka duduk berdampingan di sebuah kafe dekat rumah sakit.Reynash sudah tertidur setelah disuapi Kylar, meminum obat, dan mengeluh sebentar karena rasa sakit di lengannya belum sepenuhnya hilang. Seorang pengasuh juga menemani bocah itu di kamar, sehingga Ryn dan Kylar bisa keluar sebentar untuk makan dan berbicara tanpa khawatir meninggalkannya sendirian.“Aku emang nggak akan kerja di Paris lagi,” jawab Kylar.Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Pelayan meletakkan secangkir coffee latte di hadapan Kylar, sementara Ryn mendapat jus stroberi dan sepotong cheesecake kesukaannya.Kylar mengucapkan terima kasih, lalu menunggu sampai pelayan pergi sebelum kembali menatap istrinya.“Terus perusahaan kamu gimana? Emangnya Papi udah setuju?” Ryn masih sulit mempercayai keputusan itu. Dia tahu betapa besar tanggung jawab Kylar di Paris dan tidak ingin suaminy
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad







