Mag-log in“Nggak ada yang berani macam-macam, orang aku dikawal empat bodyguard, kok,” pangkas Ryn sebelum suaminya sempat menyelesaikan ancaman.“Ya, aku tahu!” Kylar mengangguk cepat. “Dan aku bersyukur kamu bawa pengawal. Tapi kenapa kamu nggak bilang sama aku dari awal? Kenapa aku harus tahu dari Naufal setelah kamu hampir dicekik orang?”Ryn membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Oke, poin itu memang agak sulit dibantah. Namun, mengingat siapa suaminya, dia merasa keputusan untuk tidak memberi tahu Kylar sejak awal merupakan langkah strategis yang cukup masuk akal.“Aku takut kamu nggak ngizinin.”“Ya jelas aku nggak ngizinin kamu pergi ke klub buat ketemu Jihan sendirian!”“Lah, aku nggak sendirian!”“Udah aku bilang, bukan itu poinnya, Sayang!”Ryn meringis, sedangkan Kylar menjatuhkan kepala ke sandaran ranjang sambil mengembuskan napas panjang.Menghadapi istrinya dari jarak ribuan kilometer ternyata membutuhkan kesabaran setara mengelola perusahaan multinasional, ditambah kemampuan negos
“Habis ngapain kamu, Ryn Laverna Ashwara?”Begitu panggilan video akhirnya tersambung, wajah Kylar langsung memenuhi layar ponsel Ryn. Rambut laki-laki itu masih sedikit berantakan, kemeja hitamnya sudah berganti kaus rumahan, tetapi sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan keramahan.Dia bahkan tidak mengucapkan salam, apalagi bertanya apakah istrinya baik-baik saja. Sepertinya jabatan CEO Ashwara Group sementara waktu sudah dialihkan menjadi kepala kepolisian rumah tangga.Ryn yang sedang berbaring miring sambil memastikan Reyansh masih terlelap di sebelahnya, mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi. “Barusan Reyansh mau tidur di kamar aku, jadi aku habis pukpukin dia sampai tidur lagi.”Tidak salah, ‘kan? Memang itu yang dia lakukan. Bahwa sebelum itu dia sempat berburu penjahat, hampir dicekik, dan membuat kepala pengawalnya bekerja lembur, rasanya tidak perlu dimasukkan ke dalam laporan kegiatan malam ini.Kylar memejamkan mata sebentar, seperti sedang mengumpulkan kesabaran ya
Bruk!Ryn buru-buru membanting pintu mobil begitu berhasil memarkirkannya di garasi. Dia bahkan tidak repot-repot memeriksa apakah pintunya sudah terkunci sebelum bergegas masuk ke rumah.Rambutnya sudah berantakan, tenggorokannya masih terasa perih, dan suasana hatinya campur aduk antara puas, kesal, serta ingin membenturkan kepala ke tembok.Bukan karena Jihan. Perempuan itu sudah dia serahkan kepada pengawalnya untuk dibawa ke hotel dan diperiksa keterangannya besok pagi. Urusan Aozora setidaknya bergerak satu langkah lebih maju.Masalah sebenarnya adalah seorang laki-laki bernama Kylar Ashwara Putra yang sudah menelepon Naufal tiga kali pada dini hari.Tiga kali!Kalau suaminya sampai tahu dia menghabiskan malam di klub, hampir mencekik balik seorang perempuan, lalu pulang dengan leher merah-merah, Ryn tidak yakin rumah tangga mereka akan selamat tanpa rapat darurat.Dia harus menghubungi Kylar lebih dulu, menyusun penjelasan yang masuk akal, dan kalau perlu mengalihkan pembicaraa
“Jangan pikir aku nggak berani!” Jihan semakin murka.Ryn masih berusaha melepaskan tangan Jihan dari lehernya. Napasnya tersengal, matanya mulai berair, tetapi alih-alih terlihat ketakutan, dia justru menatap Jihan dengan ekspresi yang perlahan berubah menyebalkan.“Aku bilang ... bunuh aja kalau bisa,” ulang Ryn terbata-bata. “Tapi kalau cuma modal ... cekik-cekik begini, tukang pijat refleksi juga bisa.”“PEREMPUAN SIALAN!”“Ya ampun, iya. Aku perempuan sialan. Tapi sekarang, coba deh, lihat kanan kiri mobil ini.”Jihan mengernyit, tetapi cengkeramannya sedikit mengendur.“Lihat!” Ryn mendesak, suaranya serak. “Kanan. Kiri. Jangan lihat aku terus, emangnya aku pajangan?”Jihan akhirnya melirik ke luar jendela. Dan saat itulah dia melihat mereka.Dua laki-laki berdiri di sisi kanan mobil, sementara dua lainnya berada di sisi kiri. Keempatnya berpakaian gelap, dengan postur tegap dan sorot mata yang sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk ikut bercanda.Mereka tidak berusaha me
Jihan terdiam. Tatapannya bergerak dari wajah Ryn ke saku jaketnya, kemudian kembali lagi. Ada kepanikan yang berusaha disembunyikannya di balik amarah.Ryn melihat perubahan itu dan nyaris ingin bertepuk tangan. Akhirnya. Setelah berjam-jam menunggu, perempuan itu mulai menunjukkan reaksi yang dia harapkan.“Aku nggak peduli kamu mau jadi pecandu atau pengedar narkoba,” kata Ryn santai. “Serius. Kamu mau melakukan apa sama hidup kamu, itu urusan kamu. Mau bikin hidup berantakan sampai nggak berbentuk juga silakan. Aku nggak punya cita-cita jadi malaikat pelindung kamu.”“Kalau begitu, jangan ikut campur!”“Lah, masalahnya kamu ikut campur ke hidup aku!” Ryn langsung menoleh tajam. “Kamu tuh kenapa, sih? Hidup kamu kurang kerjaan banget sampai harus ngurusin bisnis aku? Aku punya restoran, kamu sabotase. Aku cari uang, kamu bikin orang takut makan di tempatku. Aku berusaha bangun bisnis baik-baik, kamu malah sibuk nyari cara supaya semuanya berantakan. Memangnya aku pernah datang ke r
“Mau ke mana kamu, Jihan? Buru-buru banget?”Jihan yang baru keluar dari klub langsung menghentikan langkahnya. Jam digital di dasbor mobil Ryn menunjukkan pukul tiga lewat beberapa menit, dan suasana di depan Velvet Room mulai lengang.Sebagian pengunjung sudah pulang, sementara beberapa lainnya masih bergerombol di dekat pintu masuk.Jihan sendiri berjalan sempoyongan dengan riasan yang mulai berantakan. Gerak-geriknya tidak teratur, emosinya tampak naik turun, dan laki-laki yang berjalan di sampingnya sesekali harus menahan lengannya agar dia tidak kehilangan keseimbangan.“Jangan ganggu aku, Ryn!” bentak Jihan dengan emosi yang mendadak meledak. Dia melotot seolah-olah Ryn baru saja mengumumkan kebangkrutan seluruh keluarganya.Ryn mengangkat kedua tangan. “Lho, aku belum ngomong apa-apa, kamu udah emosi. Santai, dong. Darah tinggi nanti.”“Pergi sana!”“Ya ampun, galak banget. Aku cuma mau ngobrol.” Ryn kemudian melirik lelaki yang berdiri di samping Jihan. Penampilannya cukup me
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap







