Mag-log inMengetahui tentang Xavier yang tak ada kabar sejak kemarin, akhirnya Nathan mengajak ayahnya untuk segera menemui keluarga Xavier. Orang yang pertama mereka temui adalah ibu kandung Xavier.
Dari cerita Savira, orang tua Xavier memang sudah bercerai sejak 12 tahun yang lalu. Ketika orang tuanya bercerai, Xavier memilih untuk tinggal bersama dengan ibunya. Karena itulah, ibu kandung Xavier menjadi orang pertama yang Nathan dan ayahnya cari. Sesampainya di rumah yang selama ini mereka tahu sebagai tempat tinggal Xavier, mereka berhasil bertemu dengan ibu kandung Xavier yang bernama Wanda. Nathan dan ayahnya datang dengan niat menanyakan keberadaan dan keadaan Xavier. Mereka juga bicara dengan baik-baik pada Wanda. Namun, jawaban yang mereka terima dari Wanda berhasil membuat emosi mendidih. "Pak Chandra, sejak awal Xavier tidak siap untuk menikah. Tapi sayang sekali anak Anda memaksa dan mendesak anak saya untuk segera menikahinya. Lebih baik batalkan saja pernikahannya. Lagi pula, Savira juga salah karena terlalu berharap pada Xavier." Jawaban yang di berikan Wanda berhasil memancing emosi Chandra, ayah kandung Savira. Ingin sekali rasanya Chandra dan Nathan memaki Wanda yang dengan enteng berbicara seperti itu. Namun, tak sopan rasanya jika mereka mengamuk di rumah orang yang bisa saja jadi salah paham para tetangga nantinya. Akhirnya, Chandra dan Nathan pergi dari rumah Wanda. Setelah dari rumah Wanda, Chandra bersama Nathan akhirnya memutuskan menemui ayah kandung Xavier. Mereka berharap ayah kandung Xavier mengetahui di mana keberadaan laki-laki itu sekarang. Namun, jawaban yang mereka terima dari ayah Xavier juga mengecewakan. "Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya benar-benar tidak tahu di mana keberadaan Xavier. Saya pikir dia bersama ibunya dan sedang sibuk dengan persiapan pernikahannya." Jawaban yang mereka dapat dari ayah kandung Xavier benar-benar membuat tubuh lemas seketika. "Pak Abian, hari pernikahan mereka akan dilangsungkan dua hari lagi tapi Xavier malah menghilang. Saya tidak mau tahu, Anda harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Tolong cari anak Anda secepat mungkin. Jika dia tak muncul sampai hari pernikahan, maka keluarga saya dan keluarga Anda juga yang akan menanggung malu. Tak peduli apa yang akan terjadi setelahnya, yang penting Xavier harus ada di hari pernikahan nanti." Chandra berusaha keras menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Melihat raut wajah Abian sekarang, sepertinya pria itu memang tidak mengetahui tentang Xavier yang pergi entah kemana. Namun, Chandra tak bisa percaya begitu saja. Karena sejatinya, orang tua akan selalu berusaha melindungi anak mereka. "Sekali lagi saya meminta maaf, Pak Chandra. Saya janji akan mencari anak saya dan menemukannya sebelum hari pernikahan tiba." Abian tak henti meminta maaf pada Chandra dan Nathan. Selesai bicara pada Abian, Chandra dan Nathan pun memutuskan untuk pulang. Sementara Abian sendiri kebingungan dengan informasi yang baru saja dia dapatkan. Kemana anaknya pergi? *** Abian Pratama, seorang pengusaha kaya yang berstatus duda dan memiliki satu anak, yaitu Xavier. Saat resmi menjadi duda, Abian mendapatkan hak asuh Xavier. Namun saat Xavier beranjak remaja, putranya tersebut membuat pilihan sendiri dan memilih untuk tinggal bersama dengan Wanda, mantan istri Abian. Semenjak Xavier tinggal dengan Wanda, Abian kesulitan untuk menghubungi anaknya sendiri. Xavier datang padanya hanya saat butuh uang saja, dan tak pernah bertanya tentang kabar ayahnya tersebut. Hingga akhirnya Abian merasa Xavier membatasi interaksi dengannya. Bahkan saat mendengar kabar Xavier akan menikah, Abian tidak dilibatkan sedikit pun. Abian ingin membantu persiapan pernikahan anaknya tersebut, namun Wanda dan Xavier sendiri berkata kalau sebaiknya Abian diam saja dan tidak ikut campur. Saat Chandra datang menemuinya, jelas Abian heran. Dan dia tak bisa untuk tak merasa terkejut saat mendengar anaknya hilang kabar. Abian memiliki firasat, kalau kepergian Xavier pasti ada hubungannya dengan Wanda. Karena pemikirannya itulah yang membuat Abian sekarang berhadapan dengan mantan istrinya tersebut. Setelah ditemui oleh Chandra dan Nathan, Wanda bahkan masih bisa terlihat santai dan tenang-tenang saja. Melihat reaksi Wanda sekarang, Abian sangat yakin kalau mantan istrinya itu tahu kemana Xavier pergi. "Aku yakin kamu tahu kemana Xavier pergi, Wanda." Abian berkata dengan mata memicing tajam ke arah Wanda. Wanda yang semula sibuk memperhatikan kukunya akhirnya menatap Abian yang duduk di depannya. "Apa kamu akan mendukung mereka untuk memaksa Xavier menikahi Savira?" Wanda melontarkan sebuah pertanyaan. "Wanda, hari pernikahan mereka sudah ditentukan. Kita tak bisa membiarkan mereka menanggung malu jika sampai Xavier tidak hadir di hari pernikahannya sendiri," ujar Abian dengan sedikit emosi. Wanda tersenyum mengejek saat mendengar itu. "Pantas saja Xavier memilih tinggal bersamaku. Ternyata memang benar kalau kamu selalu memaksakan kehendak pada Xavier sejak dulu. Bahkan sekarang kamu masih tidak mau memahami apa keinginan anakmu yang sebenarnya." Wanda berucap. Abian menarik nafas panjang dan berusaha untuk tidak terpancing emosi. "Pernikahan ini direncanakan jelas karena dia setuju. Jika dia menolak sejak awal, aku yakin pihak perempuan juga tidak akan memaksa." "Kamu tahu apa, Abian? Sejak awal Xavier sudah berkata kalau dia belum siap untuk menikah. Tapi perempuan itu mendesak agar Xavier segera menikahinya dengan alasan-alasan yang tak masuk akal. Salah dia sendiri kenapa dia tak bisa memahami keinginan Xavier yang sebenarnya. Harusnya dia sadar kalau Xavier masih dalam masa ingin kebebasan." Abian terdiam mendengar perkataan Wanda. Jelas Abian tidak setuju dengan setiap kata yang mantan istrinya tersebut lontarkan. Inilah salah satu alasan kenapa mereka bercerai dulu. Perbedaan cara berpikir mereka terlalu jauh yang setiap harinya selalu menimbulkan perselisihan. "Katakan padaku di mana Xavier sekarang." Abian menekankan setiap kata yang dia ucapkan. Namun melihat respon Wanda, Abian yakin kalau wanita tersebut tidak akan memberikan jawaban. "Xavier sedang bersenang-senang ditempat yang jauh bersama dengan perempuan yang mampu memahami segala keinginannya. Kamu mungkin bisa menemukan keberadaannya, tapi kamu tidak akan berhasil secepat itu. Jika kamu sangat khawatir tentang malu yang akan ditanggung mereka, kenapa tidak kamu saja yang nikahi perempuan itu? Tenang saja, Xavier tidak akan marah. Karena sejak awal Savira hanya pelampiasan saja. Salahnya juga yang terlalu berharap banyak pada Xavier." Sungguh, Abian merasa kalau kata-kata Wanda sangatlah tidak pantas untuk diucapkan. Abian tak merasa heran kenapa anaknya semakin bebal sekarang. Karena Xavier terlalu dibebaskan oleh Wanda.Savira duduk di atas ranjang dengan Aira yang berada dalam gendongannya. Savira baru saja selesai menyusui Aira. ASI-nya memang baru keluar sedikit, tapi perawat bilang Savira harus sering menyusukannya agar ASI-nya terangsang dan bisa cepat keluar. Setelah menyusu, Aira tidur lelap dalam gendongan sang ibu. Savira pun tak bisa mengalihkan tatapannya walau hanya sesaat dari Aira. Dia merasa kagum melihat malaikat kecilnya yang cantik dan mungil tersebut. "Cantik sepertimu." Abian berucap seraya berdiri di samping ranjang. Matanya ikut tertuju pada putri kecilnya yang sedang tidur. Senyum Abian pun terus terukir di bibirnya. Memberikan tanda kalau dia sangat bahagia dengan kelahiran putrinya ke dunia ini. Saat keduanya sedang sibuk memandangi Aira yang tidur pulas, tiba-tiba pintu kamar inap Savira terbuka. Tatapan Abian dan Savira pun spontan mengarah ke arah pintu. Dan ternyata, Xavier lah yang datang berkunjung. "Xavier? Kapan kamu tiba?" Abian bertanya seraya menghampiri putran
Jam menunjukkan pukul 11 siang, dan sekarang Savira berada di sebuah kamar inap VIP rumah sakit. Dia tidak sendirian di sana, karena ada Abian yang menemani. Selain Abian, orang tua Savira juga turut hadir di sana. "Operasinya dilakukan jam berapa?" Chandra bertanya pada Abian seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam satu siang nanti," jawab Abian. Dia kini duduk di samping ranjang pasien, dengan tangan yang terus menggenggam tangan Savira. Sementara Savira berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang sudah memakai baju pasien. "Papa dan Mama sebaiknya pulang saja. Masih dua jam lagi sampai waktu untuk operasi nanti," ucap Savira pada kedua orang tuanya. Keadaan dia sebenarnya sehat-sehat saja sekarang, tak terlihat mengkhawatirkan. Namun sebagai orang tua, Chandra dan Nina tetap saja merasa khawatir. "Tak apa. Kami akan ikut menunggu di sini," balas Nina. Savira tersenyum mendengar itu. Sebenarnya, keadaan dia dan calon anaknya sehat-sehat saja. Namun set
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Xavier akhirnya berkunjung lagi ke rumah ayahnya. Dia datang sendirian ke sana atas keinginannya sendiri. Kedatangannya pun tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Xavier berdiri di depan pintu rumah ayahnya dan menekan bel. Dia menunggu selama beberapa saat di sana hingga akhirnya pintu terbuka. Terlihat lah sosok Savira dengan perutnya yang memperlihatkan kehamilannya. Savira pun terlihat terkejut dengan kedatangan Xavier. "Apa kedatanganku mengganggumu dan Papa?" Xavier bertanya dengan suara pelan. Savira mengerjap lalu menggelengkan kepala. "Tidak kok. Maaf aku terkejut dengan kedatanganmu. Ayo masuk," ucap Savira. Dia membuka pintu dengan lebar, mempersilakan Xavier untuk masuk. Setelah itu dia menutup pintunya lagi dengan rapat. "Mas Bian sedang di kamar mandi. Tak akan lama kok," ucap Savira. Xavier mengangguk pelan. Dia lalu duduk di sofa ruang tamu dengan mata melihat sekeliling. Tak banyak yang berubah di rumah itu, sejak dia menin
Savira berjalan membawa dua gelas air putih dan satu air botol kemasan menuju ruang keluarga di apartemen Xavier. Abian memesan makanan untuk mereka bertiga, dan kebetulan makanan mereka sudah datang. Benar saja perkiraan Savira, kedatangan Abian ke sana membuat perasaan Xavier sedikit membaik. "Apa gelas di dapur habis?" Xavier bertanya saat melihat Savira memilih minum dari botol kemasan ketimbang memakai gelas. Ya, Xavier memang belum tahu tentang keadaan Savira sekarang. "Enggak. Gelas di dapur masih banyak kok," jawab Savira. Dia menutup botol kemasan itu dengan rapat agar airnya tidak tumpah. "Savira mual kalau minum memakai gelas," ucap Abian, memberikan jawaban pada Xavier. Savira dan Xavier menengok serentak ke arah Abian. Tatapan Savira terlihat terkejut, sedangkan Xavier terlihat bingung. Dan Abian mengabaikan tatapan dari keduanya. "Tak lama lagi kamu akan punya adik, Xavier." Abian berucap dengan tenang dan santai. Xavier terdiam beberapa saat, berusaha mencerna perka
Savira duduk di ruang keluarga dengan televisi yang menyala, memutar sebuah film. Savira menonton film di ruang keluarga tidak sendirian, karena selalu ada Abian yang setia menemaninya di mana pun dan kapan pun. "Kabar Xavier bagaimana, Mas?" Savira bertanya seraya menengok ke arah Abian yang sedang menikmati kopi miliknya. "Keadaan dia kurang baik sekarang," jawab Abian dengan jujur. Dia tak merasa cemburu atau curiga saat Savira menanyakan tentang Xavier. Karena Abian percaya, Savira akan selalu setia padanya. Bentuk perhatian Savira pada Xavier sekarang hanya karena mereka sudah menjadi keluarga. Abian tahu itu. "Dia sakit?" tanya Savira lagi. Dia lalu bergerak mendekat ke arah Abian. "Bisa dibilang begitu." Abian memberikan jawaban yang kurang Savira pahami. "Xavier sudah tahu semuanya tentang Wanda sekarang. Minggu kemarin, dia menemukan banyak rahasia yang selama ini Wanda simpan. Xavier langsung drop setelah itu," lanjut Abian, memberikan sebuah penjelasan. Savira membela
Hari sudah sore dan sudah waktunya pulang kerja. Sebagian teman sepekerjaan Xavier sudah pulang, namun dia masih diam di kantor dengan perasaan campur aduk. Dia memang tidak memergoki langsung ibunya. Namun mengetahui ibunya masuk ke hotel dengan dua pria, sudah bisa dijelaskan apa yang terjadi di sana. Kalau memang urusannya hanya sekedar obrolan, bisa kan memilih cafe atau restoran. Namun hotel, entahlah. Xavier belum mendapatkan kabar lagi dari ibunya. Walaupun ibunya malam ini pulang, entah kenapa Xavier enggan untuk bertemu. Dia belum memiliki bukti kuat untuk menghakimi kelakuan bejat ibunya. Namun Xavier takut tak bisa menahan emosinya sendiri jika langsung bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya tersebut. "Tuan Xavier, sudah waktunya untuk pulang. Mari saya antar," ucap Reza menghampiri Xavier yang terlihat merenung. Xavier sampai kaget sendiri mendengar suara Reza. "Aku belum ingin pulang," ucap Xavier dengan suara pelan. Reza terdiam mendengar itu. Sebagai seseor







