Home / Romansa / Dinikahi tapi Tak Dicintai / Kebenaran yang Menyakitkan

Share

Dinikahi tapi Tak Dicintai
Dinikahi tapi Tak Dicintai
Author: iva dinata

Kebenaran yang Menyakitkan

Author: iva dinata
last update Last Updated: 2023-04-05 23:34:02

"Fagan tidak pernah mencintaimu." Kalimat itu keluar dari mulut seorang wanita cantik berwajah pucat.

Dia Mayang, mantan tunangan suamiku.

"Hanya akulah wanita yang ada di hatinya," katanya lagi.

Apa aku begitu bodoh? Langsung percaya dengan ucapan wanita yang sangat aku benci itu?

Tentu tidak. Hanya orang bodoh yang akan langsung percaya dengan hasutan mantan tunangan suaminya.

Meski marah, aku biarkan saja dia terus berbicara sesukanya.

"Sikap lembut yang Fagan tunjukkan hanya untuk menyakiti hati Ardiaz. Mungkin kamu tidak sadar, tapi Ardiaz sangat mencintaimu."

"Ardiaz sudah berusaha menghalangi kamu untuk menikahi Fagan. Tapi, kamu terlalu naif. Berlagak seperti pahlawan kesiangan demi menjaga nama baik keluarga yang gila hormat itu."

Ardiaz.

Wanita itu mulai membawa nama adik iparku. Dia bilang Ardiaz mencintaiku? Mustahil. Aku dan Ardiaz sudah seperti sahabat. Tidak ada cinta diantara kami.

Wanita ini memang tidak pernah berubah. Meski saat ini kini kondisinya sudah sangat buruk. Tapi hatinya tetap jahat. Mulutnya masih menebar fitnah demi merusak rumah tanggaku dengan Fagan.

Entah kapan dia akan bertobat?

Fagan benar. Harusnya aku tidak datang kesini. Fagan sudah melarangku. Tapi aku nekat datang karena rasa penasaran.

Dua hari yang lalu seseorang perawat datang ke rumah, menyampaikan pesan dari Mayang. Katanya, ingin bertemu denganku.

Perawat itu juga memberitahu, kondisi Mayang sudah tidak bisa disembuhkan. Tinggal menunggu waktu.

Fagan langsung melarangku pergi. Katanya, hidup mati Megan bukan urusan kami.

Melihat reaksi suamiku, aku jadi penasaran. Dan di sinilah aku sekarang. Dengan ditemani Adiba, sepupu Fagan, aku menemui Mayang.

Tubuh Mayang terlihat lebih kurus dari terakhir aku melihatnya. Wajahnya pucat dan mata sayu. "Kamu bodoh Zura," ucapnya tersenyum tipis.

Adiba yang sejak tadi diam, mulai gerah dengan omong kosong wanita ini. Beberapa kali dia berdecak kesal. "Kita pergi saja,"

"Sabarlah sebentar! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya Megan inginkan ?" bisikku pada Adiba.

"Fagan pasti melarang kamu datang menemuiku?" Mayang kembali bersuara. "Itu karena dia takut aku menceritakan kebenarannya padamu."

Aku mengerutkan dahi. Mayang langsung tersenyum. Dia berhasil memancing rasa penasaranku.

"Selama ini dia hanya berpura-pura mencintaimu supaya Ardiaz sakit hati. Percaya atau tidak tapi Ardiaz sangat mencintaimu. Dia rela melakukan apapun demi kamu. Kepergiannya ke luar negeri juga karena kamu." Nada bicara Megan mulai meninggi. Ada rasa tak terima dalam nada bicaranya. Nafasnya memburu.

"Suamimu hanya menjadikan kamu sebagai alat untuk membalas dendam pada Ardiaz karena dia berselingkuh denganku."

Duar......

Seperti petir yang menyambar tepat di atas kepala. Pengakuan Mayang membuat telingaku berdenging.

Selingkuh? Balas dendam?

"Ya aku berselingkuh dengan Ardiaz dan anak yang aku kandung adalah anak Ardiaz Tapi mereka memaksaku untuk menggugurkannya." Mayang berteriak. Wajahnya memerah padam.

Aku masih membeku di tempat. Mataku memandang wanita itu lekat. Wajahnya yang pucat berubah memerah. Ada luka di sorot matanya yang mulai berair.

Mayang menangis.

"Aku sudah hampir mati. Aku tidak akan berbohong. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan pada Adiba" Mayanh menujuk Adiba, membuat gadis itu gugup.

"Semua keluarga mereka juga tahu. Kalau pernikahanku dan Fagan batal karena aku berselingkuh dengan Ardiaz."

Aku menoleh, menatap Adiba. Gadis yang sejak tadi menggandeng tanganku itu menatapku sendu.

"Kak Fagan melarang kami cerita sama kamu," lirihnya namun bak ibarat pisau menyayat hatiku.

Degh.....

Dadaku berdenyut nyeri. Aku terkekeh, miris. Jadi, semua orang membohongiku?

Pengakuan Mayang mulai meracuni otak dan hatiku. Kenapa Fagan menipuku? Apa salahku?

Dia menikahiku untuk menjadikan aku alat balas dendam pada Ardiaz, tega!!

Sekuat tenaga, aku menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan mantan kekasih suamiku itu.

"Apa kamu ingat kedatangan terakhirku ke rumah orang tua Fagan?"

Kali ini aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan Mayang.

"Saat itu Fagan sengaja membiarkan aku mendorongmu untuk menyulut amarah Ardiaz. Fagan juga sengaja membiarkan Ardiaz menolongmu supaya aku melihat sikap lembut Ardiaz padamu. Saat kalian pergi, Fagan berbisik, 'Ardiaz hanya akan bersikap lembut pada orang yang dicintainya pertama Mamanya, kedua Meizura."

Tes....

Tak terbendung, lelehan bening mengalir deras dari kedua mataku. Aku sudah tak bisa lagi menahan perih dalam dadaku.

Detik ini, aku lihat Mayang tersenyum puas.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Adiba memegangi lenganku.

Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja."

Meski begitu, air mata mengalir semakin deras saja. Sampai membasahi kemeja merah maroon yang kukenakan.

"Jika masih kamu tidak percaya, pulanglah! Tanyakan sendiri pada Fagan!"

"Kenapa kamu baru memberitahu semua kebenaran ini sekarang?" tanyaku. Aku ingin tahu tujuannya.

"Karena aku merasa bersalah, telah membuatmu masuk ke dalam lingkaran dendam antara aku, Ardiaz dan Fagan."

Aku kembali terkekeh, merasa bersalah? Haruskah aku percaya dengan pengakuan wanita yang umurnya sudah tidak lama lagi ini?

"Apa mereka tahu jika janin yang kamu kandung itu anak Ardiaz?" Aku penasaran mengapa mertuaku memaksa Megan untuk aborsi.

Wanita itu menunduk sebentar lalu kembali menatapku datar. "Mereka tahu, tapi tidak percaya. Menurut mereka janin itu adalah anak Hendrick," jawabnya dengan suara tercekat.

Aku terkesiap. Hendrick? Dia membawa nama sepupu suamiku.

"Hendrick saudara sepupu Fagan, maksdumu?"

Megan mengangguk.

"Kamu juga selingkuh dengan Hendrick?" Aku melebarkan mataku. Rasanya tak percaya dengan apa yang tiba-tiba muncul di otakku.

"Iya,," jawab Mayang seraya membuang muka kearah jendela kamar. Dia tampak malu dan sedih.

Astaga.... Miris sekali wanita ini. Benar-benar gila.

"Pantas saja, mereka tidak percaya padamu! Kamu semurah itu," cibirku yang aku yakin menampar wanita itu telak.

Mayang menatapku tajam. Nafasnya memburu dan wajahnya kembali memerah. Dan aku tersenyum puas melihatnya.

Mungkin orang akan menganggap aku kejam. Tapi perbuatan Mayang sudah sangat keterlaluan. Berselingkuh dengan adik dan saudara sepupu Fagan. Dan membuatku terseret dalam arus percintaan mereka.

Jujur, aku tidak menyalahkan Fagan karena membencinya.Tapi Fagan tidak seharusnyaa menyeretku. Menjadikan aku alat balas dendam.

"Aku berselingkuh dari Fagan juga ada alasannya,"

Aku tersenyum sinis. Naif sekali, membenarkan sebuah kesalahan dengan menyalahkan korbannya.

"Fagan terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaan. Hampir setiap hari dia menghabiskan waktunya di kampus dan kantor. Mengangkat telfonku saja tidak sempat. Berbeda dengan Ardiaz. Kapanpun aku minta, dia pasti akan datang dan mengantarku kemanapun aku ingin pergi."

Alasan yang diutarakannya sama sekali tak merubah penilaianku. Aku membenci wanita ini. Wanita jahat yang lidahnya penuh bisa beracun.

Dia salah jika ingin mencari simpati dariku. Sayang sekali aku bukan wanita berhati lembut yang mudah luluh dengan air mata dan wajah melasnya itu.

"Apa kamu sudah selesai bicara? Jika sudah, aku akan pergi. Semoga kamu cepat sembuh dan punya waktu untuk bertobat," pungkasku.

Tanpa menunggu jawaban, langsung berbalik dan keluar dari ruang perawatan yang penuh dengan aroma obat dan disinfektan itu.

"Aku harus menemui Fagan. Dia harus menjelang semuanya,"

🍂🍂🍂

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
green
ceritanya bagus ...
goodnovel comment avatar
sulikah
Ceritanya bagus lanjut...
goodnovel comment avatar
Ipin Arifin
gitu aja nanges,,lebay pdhl b. aja..hanya omong kosong seorang mantan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Tujuh bulanan.

    Tak terasa kehamilanku sudah menginjak tujuh bulan. Dan hari ini akan diadakan tasyakuran tujuh bulanan calon anak kami. Aku begitu bahagia juga berdebar-debar menunggu hari kelahiran anak kami yang tinggal dua bulan lagi. Bukan tanpa alasan aku merasakan kegelisahan ini, dua kehamilanku sebelumnya tidak pernah sampai menginjak bulan ke tujuh. Mas Fagan yang nampak tenang pun sempat takut dan overprotective begitu Kehamilanku menginjak bulan kelima. Bulan dimana dua calon anak kami gugur dan kembali ke pangkuan ilahi tanpa sempat kami dekap. "Hati-hati jalannya, Sayang, jangan buru-buru! Tamunya juga gak akan pergi kok," tegur Mas Fagan saat aku buru-buru ke depan saat mendengar kedatangan Zaskia. "Iya, Mas, ini jalanya sudah pelan kok." Aku Memperlambat jalanku. Disamping karena teguran Mas Fagan juga karena tanganku yang di pegangnya. Pelan tapi pasti hubungan Papa dengan Papa mertuaku pun membaik. Di hari yang kaya orang Jawa di sebut tingkepan ini, keluarga besar kami benar-b

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Hidup yang penuh warna.

    Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Perlahan zemuanya mulai membaik. Hari- hariku terasa penuh warna. Tidka lagi monoton dan penuh sandiwara.Hpir setiap pagi aku terbangun oleh suara Mas Fagan yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Suara cukup keras sampai membuat seisi rumah terbangun tepat jam tiga pagi Ya, diambil baiknya saja, mungkin calon anak kami ingin orang tuanya beribadah di sepertiga malam. Dan anehnya, mual Mas Fagan akan hilang setelah kami berdua mengambil air wudhu untuk sholat sunah.Dan mualnya akan kembali setelah selesai sholat shubuh. Bukanlah itu pertanda. Anak kami pasti akan jadi anak sholeh nantinya.Meski begitu tersiksa dengan mual dan nyidam yang tiba-tiba saja dirasakannya. Namun tak sekalipun suamiku itu mengeluh atau menyalahkan kehamilanku. Mas Fagan begitu sabar dan ikhlas menjalani perannya. Ia bahkan selalu mengunci kamar mandi setiap kali muntah, takut aku menyusul masuk ke dalam katanya. "Sudah di atas ranjang saja, jangan ikut masu

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Ternyata sudah 4 minggu.

    Malamnya suster Erina langsung datang ke rumah bersama seorang bidan setelah siangnya mendapatkan telpon dari Mas Fagan. Perempuan berwajah tegas itu datang dengan membawa alat-alat medis yang tidak semuanya aku tahu namanya. Suster Erina dan dua orang perawat laki-laki menata alat-alat medis atas intruksi snag Bidan. Ya Alloh.... kenapa aku merasa akan menjadi pasien di rumahku sendiri. Aku hanya sedang hamil bukan habis kecelakaan dan sedang koma. Saat ini aku duduk bersandar di atas ranjang dengan Mas Fagan yang setia menemani sambil menggenggam satu tanganku. "Zenia, dengerin Sus, beliau ini teman Sus, namanya Bidan Hana. Dia akan memeriksa kondisimu. Jangan menolak!" Belum apa-apa Suster Erina sudah memberiku peringatan. Meski nadanya dibuat lembut tapi tatapannya itu tatapan tak ingin dibantah. Wanita ini bahkan lebih tegas dari Papa dan Mas Fagan. Aku mengangguk penuh kepasrahan. Sepatah kata penolakan dariku akan berbuntut panjang dan membuatku harus menjalani terapi len

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Kabar gembira

    Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan kami sudah sampai di pelataran sebuah klinik terdekat dari rumah. Dengan dipegangi pak sopir di sisi kanan Mas Fagan dan aku di sisi kirinya. Kami turun dan menuju kursi tunggu. Sedangkan Bi Sarti lebih dulu turun dan langsung mendaftar di tempat pendaftaran. Di siang hari yang terik seperti saat ini suasana klinik yang nampak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih datang di sore hari saat udara lebih sejuk. Hanya ada dua orang pasien yang menunggu antrian. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit akhirnya namaku di panggil. Aku sedikit bingung, yang sakit Mas Fagan kenapa Bibi mendaftarkan namaku. "Sayang.... ini klinik bersalin tentu saja nama kamu yang di daftarkan Bibi." ujar Mas Fagan merangkulku lalu mengelus lembut lenganku.Lama-lama Mas Fagan sudah seperti Suster Erina yang bisa membaca isi hatiku. Dan sikapnya lembutnya selalu sukses membuat hatiku bergetar dan semakin merasa bergantung padanya. Kami pun akhirnya masuk dengan

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Sakit.

    Beberapa hari ini Mas Fagan kurang enak badan. Setiap pagi selepas sholat shubuh dia pasti akan muntah-muntah. padahal perutnya msih kosong. aku pikir itu asam lambung, aku mengajaknya ke dokter untuk periksa tapi bukan Mas Fagan jika tidak keras kepala. Laki-laki itu tegas menolak dan mengatakan akan segera membaik jika aku memanjakannya. Ada-ada saja suamiku ini. Memang ada penyakit yang sembuh hanya dengan dimanjakan? Pagi ini kondisinya semakin membuatku khawatir. Sejak pagi intensitas muntahnya makin sering sampai-sampai membuat tubuh kekarnya itu lemas.Dan sekarang hanya bisa berbaring di atas tempat tidur sambil memelukku. Tak sedetikpun aku di izinkan jauh darinya. Bahkan untuk sarapan aku sampai merepotkan Bi Sarti untuk mengantar ke kamar. Tak berhenti berdrama, sarapan pun aku harus membujuknya seperti anak kecil. Ya Alloh...... Mas. Melihatnya seperti ini membuatku teringat kondisiku ketika aku hamil anak pertama kami dulu. Saat itu aku begitu manja dan malas untuk

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   prioritas.

    Pov Meizura. Setelah hari ke tujuh kematian Ardiaz, aku dan Mas Fagan kembali pulang ke rumah Eyang. Jakarta kota yang panas dan sangat bising membuatku tidak betah berlama-lama di sana. Bunda dan Mbak Zahra sangat sedih ketika kami memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Eyang. Bunda berusaha membujukku untuk tetap tinggal namun aku menolak. Rasanya masih belum nyaman untuk bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa laluku dan Mas Fagan. Dua hari yang lalu kami pulang dengan diantar Bunda. Beliau menginap satu hari sebelum kembali pulang karena harus mengurus Azqiara yang masih sekolah. Adik sambungku itu masih butuh pengawasan di usia peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Bunda dan Papa tidak oleh teledor mengingat pergaulan sekarang yang yang begitu bebas. Malam ini kulihat Mas Fagan nampak gelisah. Sejak tadi dia banyak melamun. Sama seperti saat ini, dengan bertelanjang dada, duduk melamun dengan laptop di pangkuannya.Setelah satu jam yang lalu pria jangkung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status