LOGINAzumi mengernyitkan alis mendengar perkataan Lili. Seketika jadi membandingkan kehidupan Riri jauh lebih bebas di matanya. Tiba-tiba dia mempunyai ide agar Lili dan Ansel bisa bertahan. Dia juga tidak mau Lili bercerai dengan Ansel.
Jika mereka bercerai, mereka tidak lagi mempunyai penyokong dana perusahaan. Mereka bukan orang kaya, mereka berasal dari orang biasa. Sejak Lili dekat dengan Ansel kehidupan mereka semakin membaik. Keluarga Ansel sering membantu mereka. Apalagi sejak mereka menikah, keluarga Ansel menyumbang banyak dana sehingga perusahaan mereka semakin berkembang pesat. Azumi tidak mau jatuh miskin lagi seperti dulu. Dia akan melakukan apapun agar Ansel dan Lili tetap bisa bertahan. Keutuhan rumah tangga Ansel adalah kunci kekayaan mereka. "Mama punya ide," sahut Azumi gembira. "Apa ide Mama?" tanya Ansel penasaran. "Bagaimana jika Riri memberikan kalian anak. Pasti orang tua kalian tidak akan curiga," ujar Azumi egois. Mementingkan kepentingan diri sendiri dan ingin mengorbankan anak yang lain. "Maksud Mama?" tanya Lili pura-pura tidak mengerti. Lili sudah bisa menebak kemana arah pikiran sang mama. Dia dan Azumi sering bersama, sehingga bisa dengan cepat tahu gerak-gerik Azumi. "Maksud Mama, Ansel menikahlah dengan Riri. Setelah Riri memberikan kalian anak, kamu bisa bercerai lagi dengan Riri," kata Azumi tanpa beban. Bagai menawarkan harga sembako. "Mama, Mama jangan gila. Riri juga anak kita. Itu akan menghancurkan masa depan Riri, Ma," bantah David tidak setuju. "Ansel juga tidak setuju Ma. Ansel tidak mau menyakiti Riri apalagi Lili," tolak Ansel juga. "Jika itu demi pernikahan kita, Lili tidak apa-apa, Ansel. Lili ikhlas," jawab Lili menyakinkan Ansel. "Nggak Lili, aku tidak akan setuju dan tidak akan pernah setuju. Bagaimana aku menikahi Riri disaat kita sudah menikah. Dia itu kakak kandung kamu." "Semuanya bisa diatur. Untuk sementara kalian bisa bercerai secara sembunyi agar tidak diketahui oleh orang tua kamu. Setelah itu, kamu dan Riri bisa menikah rahasia sampai Riri memberikan kalian anak. Kemudian kalian bisa bercerai dan kamu bisa menikah lagi dengan Lili. Dengan begitu pernikahan kalian akan baik-baik. Orang tua kamu tidak akan curiga tentang anak itu. Lagian Lili dan Riri saudara kembar, selain mereka mirip maka DNA anak itu tidak akan jauh beda," usul Azumi. "Ma, pernikahan bukan permainan. Tidak bisa main cerai saja. Mama pikirkan juga perasaan Riri. Riri juga anak kandung kita, Ma!" "Papa diam saja. Apa Papa mau anak kita sedih dan bercerai. Apa Papa mau kita tidak berbesanan lagi sama orang tua Ansel. Apa Papa pikir, jika tidak ada keluarga Ansel kita bisa seperti sekarang? Apa Lili bisa sesehat sekarang? Papa harus ingat, keluarga Ansel yang telah banyak membantu kita menyembuhkan Lili?" tanya Azumi bertubi-tubi. "Pa … Papa …." David kehilangan semua kata-kata. Dia tidak bisa memungkiri jika orang tua Ansel sangat berpengaruh bagi bisnis dan keluarganya. "Pa, Ma cukup. Kalian jangan bertengkar lagi. Salahkan saja Lili," potong Lili. "Ini bukan salah kamu, Lili," sambung Ansel. "Jadi bagaimana Ansel?" tanya Azumi. "Maaf Ma, Ansel tidak…." "Ansel, aku tidak masalah kok. Aku akan sabar menunggu sampai anak itu lahir. Riri pasti juga tidak akan keberatan. Dia adalah kakak perempuan yang baik," bujuk Lili. "Tapi …." "Aku mohon, Ansel. Ini demi hubungan kita." "Tetap saja aku tidak bisa Lili. Aku …." "Jadi kamu memiliki berpisah sama aku?" tanya Lili dengan air mata yang keluar membasahi pipi. Hanya air mata solusi terakhir saat Ansel tidak bisa menuruti kemaunya. "Nggak Lili, kita tidak akan berpisah." "Jadi kamu setuju Ansel?" tanya Azumi senang. "Ma, biarkan Ansel berpikir dulu. Ini keputusan yang sangat berat," sahut Ansel tidak berani menatap mereka. "Ansel, terima kasih," kata Lili senang dan memeluk Ansel. Lili sangat percaya diri jika Ansel akan menyetujui ide. Seketika sebuah senyuman miring terukir manis di mulutnya. Sekarang semua sesuai dengan rencana. "Sekarang soal Riri serahkan saja sama Papa. Papa yang akan mengurus semua," ujar Azumi. "Kok Papa, Ma. Ini kan ide Mama. Papa masih belum setuju," sahut David kaget. Kenapa semuanya jadi dilimpahkan sama dia. "Kalian berdua istirahat saja. Biar Mama bicara dulu sama Papa ya." "Baik Ma," jawab Lili. Azumi segera menyeret David keluar dari kamar Lili. Setelah jauh dari kamar Lili. Azumi memberikan wejangan yang panjang dan lebar kepada David. Dia terus saja membujuk David agar setuju dengan sarannya. Akhirnya David setuju dengan terpaksa. Bersambung …."Kenapa semua ini bisa terjadi sama Riri. Kenapa cobaan dia begitu berat." "Rey juga tidak tahu Om. Saat Rey kembali ke rumah sakit jiwa, rumah sakit itu sudah terbakar. Rey kembali ke sana karena Alex tertinggal di rumah sakit. Kalau Alex tidak tertinggal di sana, mungkin Rey tidak bisa menyelamatkan Riri. Ketika Rey menemukan mereka, Riri sudah tertimpa sama kayu. Rey gagal menyelamatkan dia," kata Reymon melihat ke arah Alex yang masih tertidur. Gilang juga ikut melihat ke arah Alex. Dia berterima kasih kepada Alex. Untung saja ada Alex, Alex merupakan berkah untuk Riri. "Bagaimana dengan Alex?" "Alex tidak apa-apa. Riri melindungi Alex dengan tubuhnya. Alex hanya tertidur saja." "Sekarang yang terpenting Riri sudah bisa diselamatkan. Kita hanya perlu memberikan perawatan yang lebih bagus agar dia bisa segera siuman," kata sang detektif memberikan kata semangat. "Jadi Om, apa Om bisa menceritakan kenapa Om bisa ada di sini? Terus, apa yang terjadi di masa lalu Riri. Kenapa se
***Riri dan Alex sudah selesai diperiksa dan dibawa ke ruang rawat. Mereka ditempatkan di satu ruang yang sama. Kondisi Alex tidak terlalu parah. Dia hanya menghirup asap sedikit saja. Dokter sudah melakukan pertolongan pertama dan perawatan. Tapi bedanya dengan Riri.Riri mengalami luka yang cukup parah. Kepalanya harus dijahit beberapa kali akibat terjatuh kayu. Kondisinya tidak bisa dibilang baik-baik saja. Dia perlu dilakukan rontgen untuk mengecek apakah ada gangguan di dalam otaknya. Kemudian kondisi kaki mengalami patah tulang. Dokter mengatakan, jika Riri tidak terbangun selama dua puluh empat jam, ada kemungkinan mengalami koma. Dia butuh pengobatan lebih lanjut.Reymon sudah membuat keputusan, dia akan membawa Riri keluar negeri secepat mungkin. Riri bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik di sana. Di sana juga ada kedua orang tua Reymon yang bisa membantu menjaga Alex dan Riri. Dia tidak bisa menjaga Alex dan Riri dua puluh empat jam. Reymon tidak bisa mempercayai ke
"Dia sudah mematikan teleponnya. Apa yang sebenarnya terjadi, Li? Kenapa Riri bisa di rumah sakit jiwa?" tanya Ansel beralih ke arah Lili."Itu ... itu ... bukannya kamu yang menyuruh aku untuk mencari keberadaan Riri," balas Lili tidak mau kalah. "Terus kenapa tidak bilang kalau Riri ada di rumah sakit jiwa? Kenapa dia bisa di sana?" "Aku juga tidak tahu. Aku barusan dapat telepon dari Meka. Mana aku tahu jika dia ada di sana. Kenapa kamu malah marah sama aku?" tanya Lili balik."Sudah Ansel, jangan berdebat lagi. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Riri," lerai David.David bisa menebak dari obrolan Ansel dan Lili. Intinya Riri tidak dalam keadaan baik. 'Apa ini firasat dari bayi Arka. Dia dari tadi tidak mau berhenti menangis,' tebak Azumi dalam hati."Ma, Mama di sini ya. Mama jaga baik bayi Arka. Papa dan Ansel akan ke tempat Riri," saran David."Baik Pa." "Saya juga akan di sini menemani Azumi dan bayi Arka," sambung Miranda berdiri samping Azumi."Li
*** Di kediaman David. Jam hampir menunjukkan tengah malam, tapi tidak ada satu seorang pun yang tertidur. Azumi dan Miranda sedang menenangkan bayi Arka. Bayi Arka terus saja menangis sejak matahari mulai terbenam. Suara tangisan Arka sangat kencang. Memenuhi seluruh penjuru rumah. Mereka sudah berusaha menenangkan Arka dengan cara apapun. Namun tidak membuahkan hasil. Bayi Arka tidak berhenti menangis karena bisa merasakan jika ibu kandungnya sedang dalam bahaya. "Sayang, udah dong. Jangan menangis lagi," bujuk Azumi. "Iya, sayang. Kamu jangan nangis lagi ya. Ada apa kamu sama kamu. Cup cup cup, jangan nangis lagi," sambung Miranda. Di depan mereka berdua duduk Lili yang menatap bosan. Dia ingin segera pergi dari sana. Berhubung ingin mencari simpati dari Ansel yang ada juga, makanya dia bergabung. Dia sudah mencari muka di depan Miranda seolah-olah berusaha juga untuk membujuk bayi Arka. Lagi-lagi bayi Arka bertambah kencang menangis. Tidak suka berdekatan dengan Lili
Riri mendekat ke arah gelas dengan cara ngesot. Tangannya meraih gelas yang ada di atas meja. Lalu meletakkan di samping tubuh. Dia dengan tergesa merobek ujung selimut lalu disiram dengan air. Dia akan menggunakan kain itu untuk menutup hidung dan mulut Alex agar Alex terhindar dari asap. Setelah selesai Riri kembali ingin ke arah Alex. Dia meletakkan sobekan selimut tadi di mulut Alex. "Alex pegang ini ya," suruh Riri melekatkan kain tadi di mulut Alex. Alex menganggukan kepala. Dia memegang kain yang basah di mulut dengan patuh. Kini dia kembali bisa menarik nafas dengan baik, tidak terbatuk-batuk seperti tadi. Riri melihat sekitar ruangan yang sudah semakin terbakar. Dia menguatkan diri untuk bangun dengan pelan-pelan. Kakinya sudah bisa mulai digerakkan kembali walaupun masih lemah. "Ayo Alex," ajak Riri keluar. Riri mengulurkan tangan ke arah Alex. Alex menganggukkan kepala dan meraih uluran tangan Riri. Dia percaya sepenuhnya pada Riri. Baru selangkah mereka berj
*** Reymon kembali ke rumah sakit dengan kecepatan penuh. Dia sangat khawatir dengan keadaan Alex. Alex belum terbiasa di Indonesia. Walaupun Alex berada di luar negeri, dia bisa menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa tempat kelahiran keluarganya. Reymon sudah berada di rumah sakit jiwa. Pemandangan yang dia lihat saat pertama kali ke rumah sakit dengan sekarang sangat berbeda. Rumah sakit itu sudah dikerumuni oleh api yang mulai menjalar. Reymon dengan cepat-cepat keluar dari mobil. Dia tidak sanggup berpikir apapun lagi. Kecuali hanya berharap agar Alex baik-baik saja. Termasuk Riri. "Jangan biarkan api semakin menyebar. Kalian bahwa semua pasien yang masih bisa diselamatkan. Siram air pada tempat yang belum terbakar terlebih dahulu agar apinya tidak merambat ke tempat lain," perintah dokter Brian. "Baik, Dok." Para suster serta pekerja lain berusaha memadamkan api dan menyelamatkan pasien. Karena banyak penghuni rumah sakit adalah orang yang istimewa, maka mereka sedikit kesusa







