Mag-log in"Riri tetap tidak bisa," balas Riri dengan tekad kuat.
"Riri, Papa mohon sama kamu, Nak. Papa akan memberikan apapun yang kamu mau kalau kamu mau melahirkan anak untuk mereka." "Heh ... Papa akan memberikan apapun?" cemooh Riri. Segitunya mereka demi Lili. Demi dia apa? "Ya, kami akan memberikan apapun yang kamu mau. Apa kamu mau mobil, rumah baru, apartemen, semua akan Mama berikan untuk kamu," tawar Azumi senang karena menganggap Riri akan menyetujui permintaan mereka. Mata Riri menatap kosong ke arah orang tuanya. Hatinya juga terasa kosong. Dia tidak pernah berharap orang tuanya akan menawarkan harta, selama ini yang diharapkan adalah kasih sayang dari kedua orang tuanya, bukan mobil, rumah atau apartemen. "Mobil, rumah, apartemen," ulang Riri dengan mata yang tidak ada lagi cahaya. Nyawanya seakan tidak ada lagi di raga. "Iya, kamu tinggal pilih saja. Mau yang mana?" "Bagaimana kalau Riri minta rumah ini hanya untuk Riri saja? Bagaimana?" tanya Riri basa-basi. "Mama akan memberikan apapun, tapi jangan rumah ini. Rumah ini telah diwasiatkan untuk Lili dan keluarganya," tolak Azumi. Riri sudah menduga jawaban kedua orang tuanya. Dulu dia tidak sengaja mendengar wasiat itu beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya tidak masalah jika dia tidak mendapatkan wasiat satu sen pun. Dia melakukan ini hanya untuk mengetes orang tuanya. Dugaannya memang benar. Apapun yang sudah diberikan untuk sang adik tidak boleh diganggu gugat. "Bukankah Riri juga anak Mama. Kenapa Mama pilih kasih sama Riri. Dari dulu Papa dan Mama tidak pernah menyayangi Riri sampai saat ini. Sekarang Papa dan Mama ingin menjual Riri. Apa sebegitu tidak berharganya Riri untuk Papa dan Mama," teriak Riri yang tidak bisa lagi menahan emosinya. "Riri, kamu jangan kurang ajar. Kamu sudah mulai berani sama kedua orang tua kamu," balas David. "Pa, Ma, apa lagi yang harus Riri lakukan. Riri sudah melakukan apapun agar menjadi seperti Lili. Tolong, tolong lihat Riri sedikit, walaupun hanya seujung kuku saja. Riri hanya ingin ada di hati Papa dan Mama. Riri hanya ingin Papa dan Mama menyayangi Riri seperti Papa dan Mama menyayangi Lili," mohon Riri dengan bersujud di depan kaki kedua orangnya. Riri sudah membuang harga diri kepada orang tuanya, bukan kepada orang lain. Dia hanya ingin seperti anak pada umumnya. Dia sudah mulai lelah dengan terus bertahan sendiri. Tidak ada yang mendukungnya. Azumi dan David kaget dengan tindakan Riri yang tidak terduga. Riri belum pernah memohon seperti itu. Selama ini Riri adalah orang yang pendiam dan sering mengalah. Oleh karena itu, apapun masalahnya, pasti mereka akan lebih membujuk Riri untuk mengalah demi Lili. Hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak Riri dan Lili kecil. Bagi mereka, mereka tidak pernah membandingkan antara Riri dan Lili. Hanya saja Lili perlu perhatian khusus karena dia lemah sejak kecil. Selain itu tidak ada beda. "Riri hanya ingin cinta dan kasih sayang dari Papa dan Mama. Riri tidak butuh yang lain," lanjut Riri sambil menangis tersedu-sedu. Sekarang saatnya Riri mengeluarkan seluruh emosinya yang sudah ditahan selama dua puluh tujuh tahun. Dia tidak peduli jika terlihat seperti anak kecil berusia lima tahun yang merengek minta permen. Saat ini semua egonya sudah dibuang. Sekarang saatnya Azumi dan David mendengar apa yang ada di dalam hatinya. Azumi bangun dari sofa. Dia menghampiri Riri yang masih saja berlutut di depan mereka. Tangannya meraih kedua tangan Riri. Dia menatap Riri dengan lembut. Salah satu tangannya sudah beralih ke muka Riri. Dengan lembut tangan itu mengelus pipi Riri yang sudah basah. Air mata Riri semakin mengalir deras. Tidak ada yang bisa menahannya. Hatinya ikut menghangat sejalan dengan tangan mamanya yang terus mengelus pipinya. 'Apakah mama sudah bisa melihat Riri? Mama belum pernah melakukan hal seperti ini kepada Riri. Oh ... Tuhan. Jika waktu bisa berhenti, aku ingin waktu berhenti. Izinkan Mama tetap seperti ini kepadaku, Tuhan. Aku janji tidak akan meminta apapun lagi,' batin Riri. Riri sangat bersyukur karena mamanya bisa luluh. Dia sudah bisa merasakan bagaimana bahagia di dunia ini hanya daru sentuhan kecil tersebut. Hatinya seketika melambung tinggi seperti berada di awan. "Jadi yang kamu inginkan hanya kasih sayang dari Papa dan Mama?" tanya Azumi menatap lekat wajah Riri. "Iya Ma, Pa," sahut Riri ikut memegang tangan Azumi yang masih ada di pipinya. Tangan yang begitu hangat dan lembut. "Kalau itu yang Riri inginkan, baiklah," sahut Azumi tersenyum pertama kali melihat Riri. Riri tidak pernah sebahagia itu dalam hidupnya. Inilah sosok ibu yang selama ini didambakan. Tersenyum tulus melihat dirinya, bukan yang lain. "Mama dan Papa janji, mulai saat ini akan lebih mementingkan kamu. Mama dan Papa juga janji akan memperhatikan kamu sama seperti Mama dan Papa memperhatikan Lili," sambung Azumi. Azumi menarik dan memegang kedua tangan Riri. Dia akan menyakinkan Riri jika dia tidak akan berbohong. Jantung Riri berdetak sangat kencang. Tidak menyangka kata-kata yang selama ini ingin didengar akhirnya terucap dari mulut kedua orang tuanya. Orang tuanya akan menyayanginya sama seperti Lili. Jika itu mimpi, Riri tidak ingin bangun lagi. "Apa sekarang kamu senang?" "Iya, Ma, Riri sangat senang," sahut Riri cepat dengan air mata yang semakin deras keluar dari pipinya. "Kalau begitu, kamu setuju kan nikah sama Ansel?" sambung Azumi. Bersambung ...."Kenapa semua ini bisa terjadi sama Riri. Kenapa cobaan dia begitu berat." "Rey juga tidak tahu Om. Saat Rey kembali ke rumah sakit jiwa, rumah sakit itu sudah terbakar. Rey kembali ke sana karena Alex tertinggal di rumah sakit. Kalau Alex tidak tertinggal di sana, mungkin Rey tidak bisa menyelamatkan Riri. Ketika Rey menemukan mereka, Riri sudah tertimpa sama kayu. Rey gagal menyelamatkan dia," kata Reymon melihat ke arah Alex yang masih tertidur. Gilang juga ikut melihat ke arah Alex. Dia berterima kasih kepada Alex. Untung saja ada Alex, Alex merupakan berkah untuk Riri. "Bagaimana dengan Alex?" "Alex tidak apa-apa. Riri melindungi Alex dengan tubuhnya. Alex hanya tertidur saja." "Sekarang yang terpenting Riri sudah bisa diselamatkan. Kita hanya perlu memberikan perawatan yang lebih bagus agar dia bisa segera siuman," kata sang detektif memberikan kata semangat. "Jadi Om, apa Om bisa menceritakan kenapa Om bisa ada di sini? Terus, apa yang terjadi di masa lalu Riri. Kenapa se
***Riri dan Alex sudah selesai diperiksa dan dibawa ke ruang rawat. Mereka ditempatkan di satu ruang yang sama. Kondisi Alex tidak terlalu parah. Dia hanya menghirup asap sedikit saja. Dokter sudah melakukan pertolongan pertama dan perawatan. Tapi bedanya dengan Riri.Riri mengalami luka yang cukup parah. Kepalanya harus dijahit beberapa kali akibat terjatuh kayu. Kondisinya tidak bisa dibilang baik-baik saja. Dia perlu dilakukan rontgen untuk mengecek apakah ada gangguan di dalam otaknya. Kemudian kondisi kaki mengalami patah tulang. Dokter mengatakan, jika Riri tidak terbangun selama dua puluh empat jam, ada kemungkinan mengalami koma. Dia butuh pengobatan lebih lanjut.Reymon sudah membuat keputusan, dia akan membawa Riri keluar negeri secepat mungkin. Riri bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik di sana. Di sana juga ada kedua orang tua Reymon yang bisa membantu menjaga Alex dan Riri. Dia tidak bisa menjaga Alex dan Riri dua puluh empat jam. Reymon tidak bisa mempercayai ke
"Dia sudah mematikan teleponnya. Apa yang sebenarnya terjadi, Li? Kenapa Riri bisa di rumah sakit jiwa?" tanya Ansel beralih ke arah Lili."Itu ... itu ... bukannya kamu yang menyuruh aku untuk mencari keberadaan Riri," balas Lili tidak mau kalah. "Terus kenapa tidak bilang kalau Riri ada di rumah sakit jiwa? Kenapa dia bisa di sana?" "Aku juga tidak tahu. Aku barusan dapat telepon dari Meka. Mana aku tahu jika dia ada di sana. Kenapa kamu malah marah sama aku?" tanya Lili balik."Sudah Ansel, jangan berdebat lagi. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Riri," lerai David.David bisa menebak dari obrolan Ansel dan Lili. Intinya Riri tidak dalam keadaan baik. 'Apa ini firasat dari bayi Arka. Dia dari tadi tidak mau berhenti menangis,' tebak Azumi dalam hati."Ma, Mama di sini ya. Mama jaga baik bayi Arka. Papa dan Ansel akan ke tempat Riri," saran David."Baik Pa." "Saya juga akan di sini menemani Azumi dan bayi Arka," sambung Miranda berdiri samping Azumi."Li
*** Di kediaman David. Jam hampir menunjukkan tengah malam, tapi tidak ada satu seorang pun yang tertidur. Azumi dan Miranda sedang menenangkan bayi Arka. Bayi Arka terus saja menangis sejak matahari mulai terbenam. Suara tangisan Arka sangat kencang. Memenuhi seluruh penjuru rumah. Mereka sudah berusaha menenangkan Arka dengan cara apapun. Namun tidak membuahkan hasil. Bayi Arka tidak berhenti menangis karena bisa merasakan jika ibu kandungnya sedang dalam bahaya. "Sayang, udah dong. Jangan menangis lagi," bujuk Azumi. "Iya, sayang. Kamu jangan nangis lagi ya. Ada apa kamu sama kamu. Cup cup cup, jangan nangis lagi," sambung Miranda. Di depan mereka berdua duduk Lili yang menatap bosan. Dia ingin segera pergi dari sana. Berhubung ingin mencari simpati dari Ansel yang ada juga, makanya dia bergabung. Dia sudah mencari muka di depan Miranda seolah-olah berusaha juga untuk membujuk bayi Arka. Lagi-lagi bayi Arka bertambah kencang menangis. Tidak suka berdekatan dengan Lili
Riri mendekat ke arah gelas dengan cara ngesot. Tangannya meraih gelas yang ada di atas meja. Lalu meletakkan di samping tubuh. Dia dengan tergesa merobek ujung selimut lalu disiram dengan air. Dia akan menggunakan kain itu untuk menutup hidung dan mulut Alex agar Alex terhindar dari asap. Setelah selesai Riri kembali ingin ke arah Alex. Dia meletakkan sobekan selimut tadi di mulut Alex. "Alex pegang ini ya," suruh Riri melekatkan kain tadi di mulut Alex. Alex menganggukan kepala. Dia memegang kain yang basah di mulut dengan patuh. Kini dia kembali bisa menarik nafas dengan baik, tidak terbatuk-batuk seperti tadi. Riri melihat sekitar ruangan yang sudah semakin terbakar. Dia menguatkan diri untuk bangun dengan pelan-pelan. Kakinya sudah bisa mulai digerakkan kembali walaupun masih lemah. "Ayo Alex," ajak Riri keluar. Riri mengulurkan tangan ke arah Alex. Alex menganggukkan kepala dan meraih uluran tangan Riri. Dia percaya sepenuhnya pada Riri. Baru selangkah mereka berj
*** Reymon kembali ke rumah sakit dengan kecepatan penuh. Dia sangat khawatir dengan keadaan Alex. Alex belum terbiasa di Indonesia. Walaupun Alex berada di luar negeri, dia bisa menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa tempat kelahiran keluarganya. Reymon sudah berada di rumah sakit jiwa. Pemandangan yang dia lihat saat pertama kali ke rumah sakit dengan sekarang sangat berbeda. Rumah sakit itu sudah dikerumuni oleh api yang mulai menjalar. Reymon dengan cepat-cepat keluar dari mobil. Dia tidak sanggup berpikir apapun lagi. Kecuali hanya berharap agar Alex baik-baik saja. Termasuk Riri. "Jangan biarkan api semakin menyebar. Kalian bahwa semua pasien yang masih bisa diselamatkan. Siram air pada tempat yang belum terbakar terlebih dahulu agar apinya tidak merambat ke tempat lain," perintah dokter Brian. "Baik, Dok." Para suster serta pekerja lain berusaha memadamkan api dan menyelamatkan pasien. Karena banyak penghuni rumah sakit adalah orang yang istimewa, maka mereka sedikit kesusa







