Mag-log inDi depan kamar Rara, Evelyn menemukan Ibu Wijaya berdiri dengan tangan terlipat di depan dadanya.
Rara duduk di ranjang dengan wajah ketakutan.“Bu, ada apa?” tanya Evelyn buru-buru masuk, tubuhnya berada di antara Ibu Wijaya dan Rara. “Kenapa Ibu masuk ke kamar Rara tanpa memberitahuku dulu?”Ibu Wijaya menoleh. “Aku nggak perlu izin masuk ke rumah yang juga rumahku, Evelyn. Apalagi memeriksa kondisi anak yang dibawa masuk ke sini tanpa persetujuanku.”“IBeberapa menit kemudian, saat makan malam mulai mereda dan para pelayan mulai membersihkan meja, Pak Budi mendekati Bram. Ia membawa map tipis.“Tuan, daftar peserta rapat besok pagi sudah disiapkan. Mereka meminta konfirmasi terakhir sebelum rapat dimulai.”Bram mengangguk dan mengambil map itu, ia langsung menyerahkannya kepada Evelyn di sampingnya. “Bacalah.”Evelyn menerima map itu lalu membukanya perlahan. Evelyn menelan ludah, menggenggam map itu erat-erat.Kevin melirik. “Wah, kakak beneran akan memimpin rapat itu?”Rara yang sedang asyik dengan makanan penutupnya mendengar kata-kata Kevin ikut penasaran. “Ada apa, Kak Kevin?”Kevin tertawa kecil, mengacak rambut Rara dengan lembut. “Kakakmu besok jadi bos besar, Ra. Dia akan memimpin banyak orang di rapat penting.”Mata Rara berbinar penuh kebanggaan. “Kak Evelyn hebat!”Ibu Wijaya menyandarkan tubuhnya. “Memimpin rapat tidak semudah memakai gaun bagus di acara amal, Evelyn. Di rapat, orang-orang akan menguji kemampuanmu, menc
Sementara di luar kamar, langkah kaki Ibu Wijaya tidak menuju kamarnya. Wanita itu justru berjalan lurus ke ruang kerja Bram di ujung koridor. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan kasar.“Bram.”Bram mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya, pena di tangannya berhenti bergerak. “Ada apa, Bu?”“Aku ingin bicara tentang Kevin.” Ibu Wijaya menutup pintu di belakangnya.Bram menutup map di hadapannya. Ia mengangkat kepalanya, menatap ibunya yang berdiri di ambang pintu.“Ada apa dengan Kevin?” tanya Bram.Ibu Wijaya masuk tanpa dipersilakan. “Adikmu semakin tidak tahu batas, Bram.”Bram tetap duduk, tidak bergeming oleh kemarahan ibunya. “Kenapa? Apa yang Kevin lakukan?”“Ia membelikan buku dan mainan untuk anak itu tanpa seizinku. Ketika aku menegurnya, ia berani berkata bahwa aku salah. Ia berani mengatakan bahwa ibunya sendiri keterlaluan.”“Mereka adalah bagian dari keluarga ini sekarang,
Namun Clarissa tidak langsung bergerak. Ia tetap duduk di sofa, matanya menatap Bram. “Bram, kalau nanti ada waktu... boleh kita makan siang bersama?” Tatapan Ibu Wijaya langsung berpindah kepada Bram. Bram menjawab tanpa ragu, suaranya datar dan tegas. “Kalau untuk urusan pekerjaan, silakan hubungi sekretarisku.” Senyum Clarissa membeku, tidak menyangka akan dijawab dengan cara itu. “Maksudku sebagai teman lama, Bram.” “Aku sudah menikah, Clarissa. Terlalu banyak hal yang harus kujaga. Aku yakin kau mengerti.” Ibu Wijaya menggenggam sandaran kursi erat, wajahnya tegang. Pak Surya yang merasakan ketegangan segera berbalik lebih dulu. “Ayo, Clarissa.” Clarissa mengulurkan tangannya pada Evelyn. “Senang bertemu dengan kalian.” Evelyn membalas dengan senyum sopan, tangannya menjabat tangan Clarissa. “Hati-hati di jalan, Clarissa. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Keesokan harinya, saat matahari mulai condong ke barat, mobil hitam Bram Wijaya masuk melewati gerbang besi mansion.Evelyn baru saja turun ketika Bram berjalan lebih dulu tanpa menoleh. Beberapa langkah di belakangnya, Evelyn mengikuti.Belum sempat mereka masuk, Pak Budi muncul dengan langkah tergesa-gesa. “Tuan Bram, ada pak Surya bersama putrinya. Mereka meminta bertemu secara pribadi dengan Tuan dan Nyonya.”Bram mengangguk singkat. “Persilakan ke ruang tamu, saya akan menyusul setelah berganti pakaian.”Pak Budi tampak ragu, kakinya tidak langsung bergerak. “Mereka bersikeras ingin bertemu langsung dengan Nyonya juga, Tuan. Mereka bilang ada beberapa hal penting yang ingin dibahas dengan Nyonya secara langsung.”Bram akhirnya menoleh ke arah Evelyn. “Kau ikut, Evelyn.”Evelyn sedikit terkejut, alisnya terangkat. “Aku? Bukankah—”“Mulai hari ini, setiap tamu penting keluarga akan mengenalmu sebagai Nyonya Wijaya. Tu
Suasana di rumah kaca mewah itu terasa seperti ruang sidang. Dinding kaca memperlihatkan taman mawar, tapi keindahan itu terasa palsu di hadapan selusin pasang mata yang menatap Evelyn sejak ia melangkah masuk. Ibu Wijaya menyambutnya dengan senyum manis. Dari kursi kehormatan di ujung meja, ibu mertuanya mengangkat tangan mengundang Evelyn mendekat.“Ah, akhirnya menantuku datang. Evelyn, kemarilah. Jangan biarkan para Nyonya ini menunggu terlalu lama.” ucap ibu Wijaya Evelyn membungkuk sopan. “Selamat siang, Ibu. Selamat siang, para Nyonya. Maaf jika saya sedikit terlambat.”Ia duduk di kursi yang telah disediakan, tepat di samping Ibu Wijaya.Ibu Wijaya beralih ke para tamu, tiba-tiba bertutur dalam bahasa Prancis, sengaja memamerkan kemampuannya.“Mesdames, voici la femme de Bram. Elle est encore en train d'apprendre nos coutumes, alors soyez indulgentes.” (Nyonya, inilah istri Bram. Dia masih belajar adat istiadat kita, ja
Evelyn memandang Bram dengan tatapan penuh tanya. “Mereka bergerak?”“Mereka sedang mengecek pemilik kendaraan berdasarkan pelat nomor itu. Butuh beberapa menit untuk mengakses database.” Bram menatap layar yang masih menampilkan gambar pelat nomor. “Sementara itu, kita tunggu.”Evelyn kembali duduk di kursinya, tetapi matanya tidak pernah lepas dari ponsel Bram yang tergeletak di atas meja.Tak lama kemudian, ponsel Bram bergetar di atas meja. Bram segera meraihnya dan mengangkat. “Ya.”Beberapa detik ia hanya mendengarkan. Matanya berubah semakin tajam. Alisnya naik sedikit, lalu mengerut. “Kirim lokasinya.”Telepon ditutup dengan gerakan cepat, Bram menoleh kepada Evelyn. “Mobil itu pakai identitas palsu, tapi mereka berhasil mengikuti” Bram mengambil tablet dari atas meja dan membuka peta digital.“Ke mana tepatnya?” Evelyn berdiri dan menghampiri Bram, matanya menyusuri peta di layar tablet.Bram menunjukkan titik m







