LOGINIbu Tanumihardja menoleh penasaran ke arah jendela, alisnya terangkat. “Suara siapa itu, Nyonya Evelyn? Anak-anak?”
Ibu Wijaya langsung tegang.“Ah, itu hanya—” Ibu Wijaya mulai, suaranya meninggi, siap melontarkan alasan untuk menutupi keberadaan Rara.“Itu adik saya, Bu.” Evelyn memotong dengan suara tenang, tidak membiarkan Ibu Wijaya menyelesaikan kebohongannya. Ia menatap Ibu Tanumihardja dengan senyum tulus. “Namanya Rara. Dia sedang dalam masa pemulihan setelIbu Tanumihardja menoleh penasaran ke arah jendela, alisnya terangkat. “Suara siapa itu, Nyonya Evelyn? Anak-anak?”Ibu Wijaya langsung tegang.“Ah, itu hanya—” Ibu Wijaya mulai, suaranya meninggi, siap melontarkan alasan untuk menutupi keberadaan Rara.“Itu adik saya, Bu.” Evelyn memotong dengan suara tenang, tidak membiarkan Ibu Wijaya menyelesaikan kebohongannya. Ia menatap Ibu Tanumihardja dengan senyum tulus. “Namanya Rara. Dia sedang dalam masa pemulihan setelah operasi jantung, jadi kami membiarkannya bermain di taman sambil diawasi.”Pak Tanumihardja yang tadinya sibuk dengan tehnya, kini menaruh cangkirnya dan menatap Evelyn. “Operasi jantung untuk anak seusia itu? Pasti berat sekali.”Evelyn mengangguk. “Iya, Pak. Dokter bilang proses pemulihan bisa memakan waktu hingga satu tahun penuh.”“Anak yang kuat, saya bisa membayangkan betapa sulitnya bagi Anda sebagai kakak.” Ibu Tanumihardja bergumam, matanya berbinar.
Di depan kamar Rara, Evelyn menemukan Ibu Wijaya berdiri dengan tangan terlipat di depan dadanya. Rara duduk di ranjang dengan wajah ketakutan.“Bu, ada apa?” tanya Evelyn buru-buru masuk, tubuhnya berada di antara Ibu Wijaya dan Rara. “Kenapa Ibu masuk ke kamar Rara tanpa memberitahuku dulu?”Ibu Wijaya menoleh. “Aku nggak perlu izin masuk ke rumah yang juga rumahku, Evelyn. Apalagi memeriksa kondisi anak yang dibawa masuk ke sini tanpa persetujuanku.”“Ibu—”“Diam dulu!” potong Ibu Wijaya dengan suara meninggi. “Aku baru saja memeriksa kondisi anak ini dan aku memutuskan, dia harus dikembalikan ke rumah sakit hari ini juga.”“Kenapa? Dokter bilang kondisinya sudah stabil. Dia cuma perlu istirahat dan pengawasan ringan.” suara Evelyn bergetar. Ibu Wijaya mendekat. “Bukan soal kesehatannya, Evelyn. Aku baru mendapat kabar dari asistenku besok pagi ada kunjungan dari keluarga Tanumihardja. Aku nggak mau mereka melihat a
Mobil berhenti di halaman mansion menjelang sore.Rara menempelkan wajahnya ke kaca jendela mobil, kagum melihat gerbang besi yang menjulang tinggi.“Kakak tinggal di rumah sebesar ini?” bisik Rara takjub.“Iya, Ra.” Evelyn tersenyum. Ia membantu Rara turun dari mobil.Rara berdiri diam beberapa saat, menatap sekeliling dengan mata yang masih tidak percaya.“Ayo, kita masuk.”Belum sempat mereka melangkah, suara sepatu hak tinggi terdengar dari pintu utama. Ibu Wijaya berdiri di ambang pintu, matanya langsung menyipit begitu melihat anak kecil yang digandeng Evelyn.“Siapa ini?” tanya Ibu Wijaya tajam, membuat Rara refleks bersembunyi di balik lengan Evelyn.Evelyn berusaha tenang. “Adikku, Bu. Dia baru saja keluar dari rumah sakit dan butuh masa pemulihan.”Ibu Wijaya turun dari teras, mengamati Rara dari ujung rambutnya yang kusut hingga ujung sepatu rumah sakit.“Kenapa anak ini ada di sini?
Mobil Bram melaju kencang menyusuri jalanan kota yang mulai ramai dengan aktivitas pagi hari. Evelyn duduk di kursi depan, matanya menyapu setiap sudut berharap menemukan adiknya di antara keramaian.“Coba periksa taman dekat apartemen lamaku.” kata Evelyn, suaranya bergetar hebat.“Taman mana? Aku nggak tahu ada taman di sekitar apartemen lama kalian.” tanya Bram, matanya fokus pada jalan di depannya.“Di belakang kompleks, sekitar seratus meter dari gedung.”Bram membelokkan mobil ke arah yang ditunjukkan Evelyn tanpa bertanya lebih jauh.~~~Sesampainya di taman kecil, Evelyn langsung melompat keluar dari mobil sebelum Bram benar-benar berhenti. Kakinya hampir terkilir saat mendarat di trotoar, tapi ia tidak peduli. Ia berlari ke segala arah, matanya liar mencari, suaranya memanggil dengan penuh harap.“Rara! Rara, kamu di mana?”Beberapa pengunjung taman menoleh ke arah Evelyn dengan heran.Evelyn m
Beberapa tamu terdekat menajamkan telinga. Ada yang mengangkat alis, ada yang berbisik pelan, ada yang mencondongkan tubuh sedikit untuk mendengar lebih jelas. Evelyn menatap Sinta dengan tenang, tersenyum kecil.“Cuma kesalahpahaman kecil dari petugas keamanan, Sinta. Sudah diselesaikan dengan baik. Terima kasih sudah khawatir.” jawab Evelyn.“Oh, syukurlah.” Sinta tersenyum, kecewa karena jawaban Evelyn tidak memberikan celah untuk diperbesar. Matanya menyipit sedikit, mencari cara lain untuk menusuk. “Aku dengar dari pelayan kalau itu ada hubungannya dengan keluargamu, Evelyn. Seorang pria tua mabuk yang membawa beberapa orang kasar.”Darah Evelyn mendidih mendengar kata-kata itu. Sebelum Evelyn sempat menjawab, Bram tiba-tiba memotong tajam.“Pelayan mana yang bicara seperti itu?” tanya Bram, matanya menatap Sinta.Sinta terkejut, tidak menyangka Bram akan bereaksi secepat dan seagresif itu. “A-aku cuma dengar sekilas, Bram,
Ruangan menjadi sunyi setelah pintu tertutup. Hanya menyisakan Bram, Evelyn, dan ayah Evelyn yang masih terduduk lemas di kursi, kepalanya tertunduk.“Terima kasih, Tuan.” bisik ayah Evelyn akhirnya, suaranya serak dan pecah. Air mata mulai mengalir di wajahnya penuh penyesalan. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku janji ini yang terakhir—”“Diam.” potong Bram tajam. Ia mendekati ayah Evelyn, lalu membungkukkan badannya hingga sejajar dengan wajah pria tua itu. “Aku nggak melunasi utangmu karena aku peduli padamu. Aku melakukannya karena setiap kali kau muncul dengan masalah baru, itu mencoreng nama yang sekarang disandang anakmu. Evelyn adalah Nyonya Wijaya sekarang. Namanya terhubung dengan keluargaku dan aku nggak akan membiarkan siapa pun merusak reputasi itu.”Ayah Evelyn menunduk lebih dalam, bahunya bergetar pelan, tangisnya tertahan di tenggorokan.“Malam ini, kau akan diantar pulang oleh sopirku.” lanjut Bram. “Mulai besok, kau







