LOGINSementara itu, di apartemennya, Sinta duduk di depan laptop, membaca ulang artikel bisnis lama tentang rapat komisaris Grup Wijaya yang akan datang. Ia tersenyum puas membaca kabar bahwa Pak Halim mulai mempertanyakan integritas Bram di depan pemegang saham lain.Ponselnya berdering.Pesan dari kontak yang baru ia hubungi kemarin malam, seseorang yang bekerja di divisi hubungan investor Grup Wijaya, yang selama ini diam-diam kecewa karena tidak mendapat promosi yang ia harapkan di bawah kepemimpinan Bram."Berhasil. Pak Halim sudah minta pertemuan resmi. Rapat komisaris minggu depan bakal jadi momen penting. Semoga ini yang kau inginkan."Sinta mengetik balasan singkat, senyum tipis masih tersungging di bibirnya. "Ini baru permulaan. Terima kasih sudah membantu."Ia menutup laptopnya, menatap keluar jendela apartemennya yang menghadap gemerlap kota malam itu.Kalau Bram tidak bisa ia miliki, setidaknya ia bisa memastikan Bram merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang selama
Pagi berikutnya, kantor Grup Wijaya masih sibuk seperti biasa. Para karyawan berjalan cepat di lorong-lorong. Tidak ada yang tahu bahwa di balik pintu tertutup ruang kerja lantai teratas, Bram baru saja menerima kabar yang membuat rahangnya mengeras.Sekretarisnya, berdiri di depan meja dengan map berisi jadwal harian di tangan. Wajahnya sedikit tegang, karena ia tahu bahwa berita yang ia bawa bukanlah berita yang menyenangkan."Pak Halim ingin bertemu Tuan sore ini. Katanya mendesak. Beliau tidak mau menunda." kata sekretaris sambil meletakkan map itu di atas meja.Bram mengernyit."Apa dia bilang soal apa?" tanya Bram."Tidak, Tuan. Hanya bilang penting dan tidak bisa ditunda." jawab sekretaris sambil menunduk sedikit.Bram mengangguk pelan, meskipun firasatnya mulai tidak enak. "Atur jam empat sore dan tolong minta Pak Budi ikut mendampingi."Sekretarisnya mengangguk dan segera keluar untuk mengatur pertemuan itu. Bram menatap pintu yang tertutup untuk beberapa saat, lalu kembali k
Bram tidak menunggu lama. Begitu percakapan dengan ibunya selesai, ia langsung mencari Sinta ke seluruh mansion. Ia menemukannya di ruang tamu utama, duduk di sofa sambil berpura-pura sibuk dengan ponselnya, meski jelas dari gerak-geriknya bahwa ia baru saja terburu-buru menjauh dari jendela ruang tengah."Sinta." panggil Bram, suaranya datar tapi tegas.Sinta mendongak, mencoba memasang senyum seperti biasa. "Bram? Kau pulang cepat hari ini.""Kita perlu bicara sekarang."Nada suara Bram membuat Sinta terdiam sejenak sebelum akhirnya meletakkan ponselnya. "Ada apa? Kau terlihat marah.""Aku baru tahu kau yang mendatangi Rumah Sakit dua bulan lalu, menanyakan riwayat pembayaran operasi Rara." Bram berdiri di depannya, tangannya terlipat di dada. "Aku baru tahu kau yang membisikkan pada ibuku bahwa biayanya 'jauh lebih besar dari seharusnya', seolah-olah Evelyn memanfaatkanku."Wajah Sinta berubah sesaat, tapi ia cepat menguasai d
Malam itu Bram tidak bisa tidur.Ia duduk di ruang kerja mansion, laptop menyala di depannya tapi layarnya sudah lama gelap karena tidak disentuh. Pikirannya terus berputar pada Sinta.Bram mengambil ponselnya, membuka riwayat pesan lama antara dirinya dan Sinta. Tidak banyak, hanya percakapan basa-basi sejak ibunya memintanya menemani Bram beberapa hari setelah pengumuman perpisahan. Namun, ia ingat jelas caranya Sinta menyinggung masa lalu mereka seolah masih ada peluang di sana.Ia menghela napas, meletakkan ponsel kembali ke meja.Menuduh tanpa bukti hanya akan membuatnya terlihat seperti orang yang paranoid, tapi membiarkan begitu saja juga bukan pilihan terutama kalau benar Sinta yang mulai menyebarkan keraguan pada ibunya sendiri.Ia butuh bicara langsung dengan Pak Budi besok pagi.~~~Keesokan harinya, Bram memanggil Pak Budi ke ruang kerjanya lebih awal dari jam kantor biasa."Ada yang bisa saya bantu,
Di luar ruang sidang, koridor pengadilan mulai ramai oleh orang-orang yang menunggu giliran kasus masing-masing.Evelyn berjalan keluar lebih dulu, diikuti pengacaranya, sementara Bram masih berbincang sebentar dengan pengacaranya sendiri di dalam ruangan.Begitu keluar dari gedung pengadilan, Evelyn terkejut mendapati sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan, dengan wanita berdiri di sampingnya, mengenakan kacamata hitam besar yang menutupi sebagian wajahnya.Sinta.Evelyn berhenti sejenak, menatap Sinta dari kejauhan. Sinta membalas tatapan itu, tidak bergerak dari tempatnya, seolah sengaja menunggu untuk dilihat.Tidak lama kemudian, Bram keluar dari gedung pengadilan, berjalan mendekati Evelyn yang masih berdiri di anak tangga."Evelyn, kau baik-baik saja?" tanya Bram, belum menyadari kehadiran Sinta di seberang jalan.Evelyn mengangguk pelan, meski matanya masih melirik ke arah mobil hitam itu. "Aku baik-baik saja. Aku duluan, ya."Ia melangkah cepat menuju mobil yang sudah
Bram sudah duduk di meja paling pojok dekat jendela ketika Evelyn tiba lima menit setelahnya."Maaf, agak macet di jalan." kata Evelyn sambil duduk di seberangnya."Tidak apa-apa." Bram menggeser secangkir cokelat hangat ke arah Evelyn, tanpa perlu bertanya lagi apa yang biasa ia pesan. "Aku pesankan ini, kalau kau masih suka yang sama seperti dulu."Evelyn menatap cangkir itu sesaat. "Masih.""Kamis nanti," Bram akhirnya membuka pembicaraan, "mediator akan bertanya soal pembagian aset dan mungkin soal alasan perpisahan. Aku sudah bicara dengan pengacaraku, kita bisa sepakat untuk tidak membuka detail soal kontrak awal pernikahan kita."Evelyn mengangguk pelan, memutar-mutar cangkir di tangannya. "Aku juga sudah bicara dengan pengacaraku. Katanya, kalau kita berdua sepakat soal poin-poin utama sebelum sidang, prosesnya bisa lebih cepat.""Soal aset, aku tidak akan meminta apa pun darimu dan aku juga tidak berharap kau meminta apa pun dariku selain yang memang menjadi hakmu. Aku hanya







