LOGINKeenan melepaskan pagutan bibir mereka, turun menuju telinga Aruna dan menggigit kecil daun telinganya. "Katakan, Aruna... Siapa yang pemilik tubuh mu?" "Kamu... Ahhh... Hanya kamu, Keenan," rintih Aruna. Suaranya terdengar pecah karena gairah yang sudah di ujung tanduk. Keenan menyeringai puas. Ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Aruna yang terbuka lebar. Dengan gerakan yang perlahan namun penuh tekanan, ia kembali menyatu dengan Aruna. Sentuhan kulit ke kulit yang begitu intim membuat keduanya memekik nikmat. Setiap hentakan yang diberikan Keenan terasa begitu dalam, seolah ia ingin menyentuh jiwa Aruna, bukan sekadar tubuhnya. "Aku mencintaimu... Aruna... Sangat mencintaimu..." gumam Keenan serak. Napasnya memburu di depan wajah Aruna. Ia meraih kedua tangan Aruna, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi meremas aset berharga Aruna dengan penuh gairah. Malam itu, penthouse baru mereka menjadi saksi bisu betapa frustrasinya
Keenan mencoba membuka kancing paling atas, namun jemarinya yang gemetar karena menahan hasrat justru membuat kancing itu semakin sulit dilepas. "Sial, kancing ini kecil sekali!" "Apa mungkin aku harus mengambil gunting?" tanya Felicia dengan nada pura-pura khawatir. "Jangan berani-berani merusak kebaya ini, Felicia!" bentak Keenan. Ia menunduk, wajahnya berada tepat di samping leher Aruna. Hembusan napas panasnya mengenai kulit Aruna, membuat wanita itu merinding. "Keenan... Aahhh, sesak..." Aruna mulai merasa pusing karena paru-parunya tidak bisa mengembang sempurna. Keenan kehilangan kesabaran. Ia merangkul pinggang Aruna dengan tangan kiri untuk menopang tubuh wanita itu, sementara tangan kanannya bekerja lebih intens. Sentuhan tangan Keenan di punggung polos Aruna yang terbuka di sela-sela brokat justru kembali membakar gairah di antara mereka. "Tahan sebentar, Sayang," bisik Keenan serak. Ia tidak peduli lagi pada keberadaan Felicia di ruangan itu. Ia mencium bahu Aru
Wajah Aruna memucat seketika itu. Ia segera melompat turun dari meja dapur dan merapikan jubah mandinya dengan tangan gemetar. Sementara Keenan menggeram rendah, rahangnya mengeras. Ia sangat mengenali suara itu. Suara yang sangat akrab, tapi bukan suara Alexander, bukan juga suara Nando. Itu terdengar seperti suara seorang wanita, bernada tinggi, elegan, namun penuh dengan kepercayaan diri yang mengintimidasi. "Felicia?" gumam Keenan dengan nada tidak percaya sekaligus kesal. Seorang wanita cantik dengan setelan kerja yang sangat modis dan kacamata hitam bertengger di kepalanya muncul di ambang pintu area dapur. Ia memegang kunci cadangan di tangannya dengan santai. "Ups... Sepertinya aku datang di saat yang... Sangat tidak tepat?" Felicia menurunkan kacamatanya, menatap Keenan dengan senyum simpul yang sulit diartikan, lalu matanya beralih menatap Aruna yang berdiri di belakang Keenan dengan rambut berantakan dan wajah merah padam. Suasana dapur yang tadi panas karena gai
Aruna melangkah ke dapur dengan kaki yang masih sedikit gemetar, mencoba mencari bahan makanan di kulkas baru mereka. Namun, saat ia mulai menyalakan kompor, ia merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya dan bibir Keenan mulai menjelajahi tengkuknya lagi. "Keenan, biarkan aku masak dulu!" "Masaklah, Aruna. Aku tidak mengganggumu. Aku hanya ingin memastikan... Apakah kamu lebih manis daripada masakanmu nanti," bisik Keenan sambil tangannya mulai menyelinap ke dalam jubah mandi Aruna yang longgar. Aruna berusaha fokus pada wajan di depannya. Aroma mentega yang meleleh mulai tercium, bercampur dengan wangi bawang putih yang ia geprek kasar. Aruna berencana membuat pasta aglio olio sederhana karena itu yang paling cepat. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali helaan napas Keenan menerpa kulit lehernya yang masih lembap. "Keenan, jangan seperti ini... Aku bisa menjatuhkan wajan ini kalau kamu terus begini," protes Aruna, meskipun suaranya sama sekali tidak terdengar tegas
"Tidak bisa, Aruna. Aku sudah menunggu kamu selesai dengan 'tamu bulanan' itu seperti ribuan tahun," geram Keenan. Ia merunduk, melahap salah satu pucuk choco chips yang sudah menegang karena dingin dan gairah. Isapan yang kuat itu membuat Aruna mencengkeram bahu Keenan, kuku-kukunya menggores kulit pria itu. "Ohh... Gila... Kamu benar-benar gila, Keenan!" desah Aruna dengan mata terpejam. Keenan tidak berhenti. Tangannya kini turun, menjelajahi paha mulus Aruna, perlahan masuk ke celah sensitif yang sudah sangat merindukannya. Ia merasa keadaan di dalam goa itu sudah sangat siap untuknya. "Lihat, Aruna... Tubuhmu bahkan lebih tidak sabar dariku," goda Keenan dengan suara rendah tepat di telinga Aruna. Keenan mengangkat satu kaki Aruna, melingkarkan di pinggangnya yang kokoh. Posisi ini membuat goa Aruna semakin terbuka, membiarkan Keenan merasakan betapa panasnya gairah wanita itu. Dengan satu gerakan, Keenan melepaskan naganya yang sudah menegang hebat dan mengarahkannya pada
Keenan segera melumat bibir Aruna, dengan penuh gairah. Tangannya meremas bakpao Aruna dengan gemas, sementara tubuhnya mendorong Aruna hingga menyentuh cermin besar yang dingin. Kontras antara kulit hangat Keenan dan cermin dingin membuat Aruna memekik nikmat di dalam ciuman mereka."Kamu milikku, Aruna. Semua yang kamu pakai hanya untuk ku," geram Keenan di sela hisapannya pada dada Aruna.Suasana di ruang ganti itu menjadi sangat panas dan pengap karena gairah Keenan. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu luar area ruang ganti."Pak Keenan, maaf mengganggu. Ada telepon penting dari Pak Alexander di lobi," suara pelayan itu memecah suasana.Keenan menghentikan aktivitasnya dengan umpatan kasar. Ia menyandarkan dahinya di bahu Aruna, mencoba mengatur nafasnya yang memburu. "Sial! Papa selalu tahu kapan harus menggangguku."Ia menatap Aruna yang wajahnya sudah sangat berantakan karena gairah, bibirnya bengkak dan merah. "Pakai bajumu. Kita ambil semua ini. Tidak perl







