LOGINAruna merasakan gairahnya kembali terpancing. Sentuhan tangan Keenan yang hangat dan tatapan matanya yang penuh keinginan membuat Aruna melupakan sejenak tentang Clarissa dan Sofia.
Keenan kembali melumat bibir Aruna dengan penuh gairah, jauh lebih menuntut dari sebelumnya, seolah ingin membuktikan kalau seluruh jiwa dan raganya hanya milik Aruna. Tangan Aruna meraba dada bidang Keenan yang berotot, merasakan detak jantung pria itu yang semakin liar.Di tengah keheninganKeenan mulai menciumi leher Aruna, menghisap kulit halusnya dengan intensitas yang membuat Aruna meremang. Tangan Keenan masuk ke bawah baju rumah sakit yang dikenakan Aruna, mengusap punggungnya yang mulus dengan telapak tangan yang panas. "Ahhh... Keenan..." Aruna mendesah, kepalanya terkulai ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi Keenan. Meskipun dalam kondisi emosional yang kacau, gairah di antara mereka selalu menjadi pelarian paling nyata. Keenan melumat bibir Aruna dengan lapar, seolah-olah sedang menyerap semua keraguan istrinya ke dalam dirinya. Sentuhan-sentuhan itu menjadi bahasa bisu bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, Aruna tetap miliknya sekarang. "Kamu hanya milikku, Aruna. Masa lalumu, rahasiamu, bahkan luka-lukamu... Semuanya tanggung jawabku," gumam Keenan di sela ciumannya. Keenan melepaskan ciumannya saat ponselnya bergetar di saku celana. Ia melihat nama Nando di l
Lampu merah di atas ruang Instalasi Gawat Darurat rumah sakit pusat Arkana Group menyala terang, suasana di lorong itu terasa sedikit mencekam. Keenan duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk, tangannya saling bertaut erat menunjukkan dengan jelas kalau saat ini dia sedang merasa cemas dan takut. Kemeja putihnya tampak berantakan, beberapa kancing atasnya terbuka, memperlihatkan napasnya yang memburu tak beraturan. Di sampingnya, Nando berdiri kaku. Ia belum pernah melihat sang ‘Singa Arkana’ tampak serapuh ini. Keenan biasanya mampu meruntuhkan lawan bisnis hanya dengan satu tatapan, namun saat ini, ia hanyalah seorang suami yang sedang ketakutan setengah mati menunggu kabar tentang istrinya di dalam IGD. "Keenan, minumlah dulu," tawar Nando sambil menyodorkan botol air mineral. Keenan tidak bergeming. Matanya tertuju pada sebuah benda kecil yang ia genggam di telapak tangan kanannya. Sebuah chip memori mikro berlabel "Lab 4B -
Keenan melepaskan ciumannya, tangannya tetap merangkul pinggang Aruna dengan protektif. "Atur nafasmu, kita lanjutkan nanti. Sekarang ayo turun!” Ajaknya. Saat melihat Nando, Keenan kembali pada mode CEO yang dominan, suaranya terdengar dingin dan masih sedikit berat karena gairah yang tertahan. “Ada masalah apalagi?" "Adrian. Dia ada di lobi Arkana Group sekarang. Dia membawa beberapa dokumen lama laboratorium pusat dan menuntut untuk bertemu dengan dewan komisaris. Dia mengklaim bahwa riset polimer cerdas yang kamu banggakan di NY kemarin sebenarnya adalah draf curian dari tiga tahun lalu," bisik Nando. Aruna yang mendengar itu hampir saja tersandung kalau Keenan tidak menahannya. Wajahnya pucat pasi. "Curian? Itu risetku! Aku yang menyempurnakannya!" suara Aruna bergetar karena marah. Keenan menatap Aruna dengan tajam. Ada keraguan sekilas yang melintas di matanya, namun
Roda pesawat milik Arkana Group menyentuh aspal Bandara dengan hentakan halus. Di dalam kabin utama yang mewah, Aruna perlahan membuka matanya. Ia merasakan kehangatan yang familiar menyelimuti tubuhnya. Keenan masih di sana, memeluknya dari belakang dengan tangan yang mengunci pinggangnya, seakan menunjukkan sisi protektifnya secara nyata. "Keenan, apa kita sudah sampai?" bisik Aruna dengan suara serak khas orang bangun tidur. Keenan mengecup bahu Aruna yang terbuka di balik selimut sutra. "Baru saja mendarat, Sayang. Tidurmu nyenyak sekali." Aruna berbalik dalam dekapan Keenan, menatap mata suaminya yang terlihat lelah namun tetap tajam. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Keenan, ada kegelisahan yang disembunyikan di balik topeng posesifnya. "Keenan, ada apa? Kenapa kamu terus menatapku seperti itu," tanya Aruna sambil mengusap rahang tegas suaminya. Keenan terdiam sejenak. Pikirannya
Di dalam limosin yang melaju kencang menuju bandara JFK, suasana sangat emosional. Aruna berbaring di pangkuan Keenan, kepalanya bersandar di dada bidang suaminya. Keenan terus membelai rambut Aruna, sementara tangan lainnya tak lepas dari perut istrinya yang kini terasa sedikit kencang. "Maafkan aku, Aruna... Aku gagal menjagamu dari bajingan itu," gumam Keenan. Suaranya terdengar penuh penyesalan. Aruna mendongak, menatap dagu kokoh Keenan. Ia mengulurkan tangan, menyentuh luka bakar ringan di punggung tangan Keenan akibat cipratan cairan tadi. "Kamu tidak gagal, Keenan. Kamu menyelamatkanku. Kamu selalu jadi pahlawanku." Keenan menunduk, mencium bibir Aruna. Awalnya lembut, namun segera berubah menjadi ciuman yang penuh dengan hasrat dan emosi yang meluap. Ia menghisap bibir Aruna dengan lapar, seolah ingin memastikan bahwa wanita ini benar-benar masih ada di pelukannya, bernapas, dan nyata.
“Jas ini bisa aku beli lagi, Aruna. Tapi kalau sampai kamu kenapa-kenapa, aku akan menyesal seumur hidup!” Keenan mengabaikan rasa panas di punggungnya. Ia segera menendang dada pria asing itu hingga terjungkal ke belakang. “Brengsek! Berani sekali kamu! Apa kamu bosan hidup?!” geramnya. Nando dan tim keamanan langsung menyerbu pria itu, menindihnya ke lantai ballroom di bawah tatapan ngeri ribuan pasang mata. "Lepaskan aku! Aruna Arkana harus hancur! Vincent menjanjikan aku posisi kalau dia hancur!" raung pria itu sebelum mulutnya dibekap oleh petugas keamanan. Keenan segera melepaskan jasnya yang berasap dan melemparnya ke lantai. Ia kini hanya mengenakan kemeja putih yang mulai tampak sedikit basah oleh peluh. Ia berbalik, mencengkram bahu Aruna dengan tangan gemetar. "Kamu terluka, sayang? Katakan padaku, apa kamu terkena cairan sialan itu?" tanya Keenan panik. Matanya menyisir setiap inci tubuh Aruna, mencari luka
Aruna mengangguk sambil tersenyum, "Sangat enak. Aku tidak tahu kamu berbakat jadi koki," pujinya dengan tulus. Baru saja Aruna hendak menerima suapan kelima, ponsel Keenan yang tergeletak di atas tempat tidur berdering nyaring. Nama 'Nando' berkedip di layar ponsel. Keenan menden
Keenan melepaskan tangannya dari bahu Aruna. Ia duduk dengan tegak, memberikan jarak sekitar sepuluh senti dari Aruna. Aruna sendiri merasa tantangan ini lucu, namun ia tidak tahu bahwa Keenan sudah menyiapkan strategi lain. Makan siang dimulai. Awalnya semua berjalan normal. Nando terus mengaw
Aruna mendongak karena mendapat serangan dadakan dari Keenan yang langsung melahap squishy nya dengan rakus. Ie bersandar di sofa dengan pasrah, keinginan Keenan seakan tidak bisa lagi terbantahkan. “Oouugghhh.. Keenan kamu benar-benar singa kelaparan..” Desis Aruna. “Mangsamu ini belum kenyang,
"Kamu wangi sekali, Sayang... Aku mau lagi," bisik Keenan serak, hidungnya mulai menjelajahi ceruk leher Aruna yang sensitif. "Ehem! Tolong ya, ingat ada orang jomblo dan orang mabuk di sini!" seru Nando yang suaranya sudah mulai cadel. "Zaskia, ayo kita masuk. Kepalaku sudah mau







