Share

Bab 5 Pesan Tak Terduga

Author: blazers990
Sudut Pandang Aria:

Aku menatap pintu yang baru saja dilewati Aiden, otakku masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Benarkah dia setuju menikah denganku? Begitu saja?

Kesepakatan yang barusan kuajukan terasa hampir konyol sekarang setelah aku punya waktu untuk benar-benar memikirkannya. Aku, Aria Japardi, menikahi Aiden Candra, pewaris kerajaan bisnis Grup Candra yang berusia 32 tahun dan rival terbesar mantan tunanganku dalam dunia bisnis.

Sebuah pernikahan yang akan menyelesaikan masalah kami berdua. Masalahku, yaitu membebaskan diri dari penghinaan karena ditinggalkan di hari pernikahanku sendiri. Dan masalah Aiden, yaitu mendapatkan sebidang tanah yang sudah lama diincar perusahaannya.

Pikiranku buyar ketika Lillian menerobos masuk ke kamar rumah sakit, matanya membelalak.

"Tadi yang baru keluar dari sini itu Aiden Candra?" tanyanya, suaranya naik satu oktaf.

Aku mengangguk, masih agak linglung.

"Aiden Candra? Sang Presdir Grup Candra? Yang masuk daftar 30 pengusaha paling berpengaruh di bawah usia 40 tahun versi Forbes? Aiden Candra yang itu?"

"Ya, yang itu," jawabku sambil mengatur posisi duduk di ranjang.

"Ngapain dia di sini? Tunggu, ini gara-gara kecelakaan itu?"

Aku memberi tahu sebagian ceritanya, dengan sengaja menyembunyikan bagian soal lamaran pernikahan yang baru saja kulontarkan. "Dia ke sini membahas kompensasi untuk cedera yang kudapat karena kecelakaan mobil itu."

Lillian terlihat ragu, tetapi tidak mendesak lebih jauh. Setelah membantuku mengemasi barang-barang, dia mengantarku pulang agar aku bisa berganti pakaian sebelum kembali ke rumah sakit untuk menjaga ayahku.

Ayahku hanya pingsan karena gangguan emosional. Tidak serius, tetapi dokter ingin mengobservasinya sedikit lebih lama.

Sesampainya di rumah, aku berganti mengenakan sweter dan jeans yang nyaman, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan apa yang baru saja kumulai. Apakah aku benar-benar akan menikahi Aiden? Seorang pria yang nyaris tidak kukenal selain reputasinya sebagai pebisnis kejam?

Kembali ke rumah sakit, kondisi ayahku jauh lebih baik daripada sehari sebelumnya. Aku merasa beban di dadaku sedikit terangkat. Setidaknya ada sesuatu yang berjalan sesuai harapan.

Keesokan harinya, saat aku duduk di samping tempat tidurnya sambil membaca buku sementara ayahku tidur, pintu kamar rumah sakit terbuka. Aku mendongak, mengira akan melihat perawat atau dokter.

Sebaliknya, Liam berdiri di ambang pintu, membawa seikat bunga.

Hatiku sangat sakit saat melihatnya. Pria yang berjanji akan mencintaiku selamanya. Pria yang meninggalkanku sendirian di altar. Pria yang memilih Sophia daripada aku ketika peluru beterbangan.

"Aria ...," katanya pelan, penuh nada menyesal. "Aku dengar tentang ayahmu. Aku ingin tahu gimana keadaan kalian."

Sebelum aku sempat menjawab, Lillian sudah bangkit dari kursi di sudut ruangan.

"Berani sekali kamu muncul di sini setelah apa yang kamu lakukan? Kamu meninggalkan dia di altar, dasar berengsek! Dan sekarang kamu punya nyali masuk ke sini seolah-olah nggak terjadi apa-apa?" hardik Lillian.

Mata ayahku perlahan terbuka karena keributan itu. Saat melihat Liam, ekspresinya langsung menggelap.

"Keluar," kata Ayahku, suaranya lemah tetapi tegas.

Liam melangkah maju. "Pak Benjamin, aku mohon, aku cuma mau menjelaskan ...."

"Kubilang keluar!" Suara Ayahku meninggi, membuat monitor detak jantung berbunyi lebih cepat. "Kamu sudah cukup menyakiti putriku."

Aku tetap diam, menatap Liam dengan dingin, perasaan yang tak pernah kubayangkan bisa kutujukan padanya. Ini pria yang telah kucintai selama 12 tahun. Pria yang kubayangkan akan menghabiskan hidup bersamaku. Sekarang, menatapnya, aku tidak merasakan apa-apa. Hanya kehampaan yang menganga di tempat hatiku seharusnya ada.

"Aria, aku mohon ...." pinta Liam, menatapku dengan mata yang dulu bisa membuat lututku lemas.

"Kamu dengar kata ayahku." Akhirnya aku berkata, suaraku stabil. "Pergi."

Lillian mendorongnya keluar pintu. Suaranya yang marah terdengar dari lorong, menghujani Liam tanpa ampun.

"Kembalilah ke Sophia-mu dan jangan ganggu Aria lagi sebelum aku panggil satpam untuk menyeretmu keluar!"

Saat kembali, wajah Lillian masih memerah karena emosi. Dia menatapku dengan cemas.

"Kamu baik-baik saja?"

Aku mengangguk, terkejut karena ternyata aku benar-benar baik-baik saja. Melihat Liam tidak sesakit yang kubayangkan.

Beberapa hari berikutnya, aku menyadari kalau aku tidak bisa mengakses media sosial apa pun di ponsel atau tabletku. Lillian diam-diam memutus koneksinya untuk melindungiku dari komentar kejam. Namun, aku menegurnya.

"Aku ingin tahu apa yang mereka bilang, Lillian," kataku tegas.

Dahinya berkerut karena khawatir. "Kenapa kamu mau menyiksa dirimu begitu?"

Aku tersenyum getir. "Butuh 12 tahun sampai aku sadar. Kalau aku nggak menaburkan sedikit garam ke luka ini, aku mungkin akan lupa rasanya sakit begitu sembuh nanti."

Mendengar itu, mata Lillian langsung berkaca-kaca, tetapi dia tetap menyerahkan ponselnya dengan enggan.

"Orang-orang kejam sekali," gumamnya sambil memperhatikan aku menggulir komentar di situs gosip. "Teganya mereka menulis hal seperti itu!"

Aku membaca komentar-komentar itu. Publik benar-benar tidak berbelas kasih, berspekulasi soal alasan Liam meninggalkanku. Ada yang menyebut aku tidak cukup baik untuknya. Ada yang bilang aku pasti melakukan sesuatu yang buruk. Ada juga yang justru merayakan pilihannya bersama Sophia, menggambarkan wanita itu sebagai pahlawan romantis yang berhasil melawan segala rintangan.

Setiap komentar terasa seperti pisau kecil, tetapi dengan setiap goresan, tekadku justru semakin kuat. Selama ini aku terlalu naif, percaya pada dongeng cinta yang sebenarnya tidak pernah ada. Sekarang waktunya menghadapi kenyataan dan melangkah maju.

Di hari ayahku dipulangkan dari rumah sakit, kami sedang membereskan barang-barangnya ketika ponselku bergetar. Aku melihat pesan itu diam-diam dan jantungku berdetak kencang saat melihat bahwa pengirimnya adalah Aiden.

[ Aku ada waktu besok. Temui aku di kantor urusan sipil jam 10 pagi. Bawa semua dokumenmu. Dari Aiden. ]

Aku membaca pesan itu tiga kali, jantungku makin berpacu. Meski dia sudah setuju waktu di rumah sakit, sebagian diriku masih belum percaya bahwa Aiden benar-benar akan menjalankan kesepakatan kami.

"Itu dari siapa, sayang?" tanya ayahku, memperhatikan perubahan ekspresiku.

"Cuma urusan kerja," jawabku cepat, menyelipkan ponsel ke saku. "Nggak penting."

Dalam perjalanan pulang, Lillian langsung menyeretku masuk ke kamar.

"Oke, cepat cerita!" katanya, meloncat ke atas ranjang dengan mata penuh semangat.

"Aku lihat siapa yang mengirim pesan tadi. Itu Aiden, 'kan? Aiden yang itu!"

"Iya." Aku mengaku, berusaha terdengar santai. "Tapi bukan hal penting."

"Bukan hal penting?" Dia menaikkan alis, jelas tidak percaya.

"Bujangan paling diincar di kota ini nggak mengirim pesan begitu saja untuk hal yang 'nggak penting'."

Dia mengedip nakal. "Ayolah, itu tentang apa?"

Aku menghela napas. "Ini cuma ... soal kompensasi. Untuk kecelakaan itu."

"Kompensasi?" Matanya membelalak. "Kompensasi macam apa? Dia nabrak anjingmu atau gimana?"

Aku terdiam. Bagaimana cara menjelaskan bahwa aku meminta Aiden, pebisnis paling berkuasa di kota ini, untuk berpura-pura jadi suamiku? Fakta bahwa permintaanku itu begitu aneh kembali menghantamku.

Lillian salah menafsirkan diamku. "Aria, jangan malu soal minta uang. Aiden bahkan bisa mandi pakai uang. Masalah yang bisa diselesaikan dengan uang bukan masalah buat dia." Dia menyeringai. "Jadi, kamu minta berapa? Cepat, cerahkan hariku!"

"Aku nggak minta uang," jawabku akhirnya. "Aku minta hal lain."

Rasa penasarannya langsung memuncak. "Hal apa?"

Aku menarik napas dalam-dalam, siap mengakui lamaran impulsifku ... ketika pintu terbuka dan Martha, salah satu pengurus rumah, memasuki kamarku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 50 Bekas Cupang

    Sudut Pandang Aria:Aku terbangun dengan kepala berdenyut hebat, mulutku kering seperti ampelas. Sinar matahari menyusup lewat celah tirai, menusuk mataku seperti jarum.Sambil mengerang, aku berguling mencari kegelapan yang menenangkan, lalu membeku ketika tanganku menyentuh sesuatu yang padat dan hangat.Mataku terbuka lebar meski terasa perih. Di sana, jaraknya kurang dari sejengkal, terbaring Aiden. Di ranjang yang sama. Bersamaku.Sial.Aku duduk tersentak, langsung menyesali gerakan mendadak itu ketika kepalaku berdenyut protes. Ruangan berputar-putar hingga membuatku mual, memaksaku memejamkan mata dan menarik beberapa napas dalam.Saat berani menatap lagi, dia masih di sana, tidur dengan tenang. Rambut hitamnya terbaring acak di bantal, dada telanjangnya naik turun mengikuti napasnya.Apa yang terjadi semalam? Pikiranku berpacu, berusaha menyusun potongan ingatan yang terpecah-pecah. Makan malam. Anggur ... begitu banyak anggur. Aiden menggendongku ... lalu apa?Aku melirik dir

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 49 Jangan Minum Sebanyak Itu Lagi

    Sudut Pandang Aiden:Mobil menepi dengan mulus ke pinggir jalan. Aku membantu Aria mendekat ke jendela, yang dia buka dengan tangan gemetar. Udara malam yang sejuk langsung masuk, sedikit mengusir kabut dari pikiran kami berdua.Setelah beberapa tarikan napas dalam, warna wajahnya kembali normal dan rasa mual itu tampaknya sudah mereda. Dia bersandar ke dadaku, kepalanya menempel di dadaku sambil menunjuk ke luar jendela."Aiden, mobil itu goyang banget."Aku bahkan tidak menoleh, mendorong tangannya kembali ke bawah. "Kamu cuma berhalusinasi.""Nggak, aku nggak berhalusinasi," bantahnya dengan keyakinan khas orang mabuk. "Lihat, mobil itu benaran goyang parah."Dia tiba-tiba terdiam, lalu menatapku dengan mata membelalak penuh rasa terkejut. "Goyangnya parah banget .... Menurutmu mereka lagi ... lagi berhubungan di dalam?"Aku terdiam. Di ruang mobil yang sempit, kata-katanya yang tanpa filter terdengar jelas.Situasi yang absurd ini, istriku yang biasanya pendiam dan sopan, tiba-tiba

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 48 Kamu Menusukku

    Sudut Pandang Aiden:Pendingin udara di dalam mobil menyala kencang, tetapi pipi Aria justru semakin memerah dari menit ke menit, jelas karena pengaruh alkohol.Saat mobil berhenti di lampu merah, aku menyadari kalau dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan restoran, dan keheningan di dalam mobil terasa tidak biasa, begitu menekan.Untuk pertama kalinya, aku justru ingin mengajaknya bicara.Aku melirik ke arahnya. Dia melakukan sesuatu yang aneh, tangan kirinya menempel pada kaca jendela, jemarinya mencengkeram udara seolah-olah mencoba meraih sesuatu yang tidak kasatmata.Ketika lampu berganti hijau dan mobil kembali melaju, dia kehilangan keseimbangan sesaat, kepalanya membentur kaca.Dia meringis, tangannya terangkat ke dahi, mengusap bagian itu dengan gerakan kikuk."Biar aku lihat," kataku sambil meraih tangannya dari dahinya. Kulitnya hangat di bawah sentuhanku, terlalu hangat.Matanya, mata yang selalu menarik perhatianku, tampak sayu oleh alkohol dan sesua

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 47 Gairah di antara Kita

    Sudut Pandang Aria:Aku menyadari kalau aku sangat menikmati makan malam bersama Aiden di Restoran Akasha ini, bahkan lebih baik dari kuharapkan.Pemandangan lampu kota yang terbentang luas menciptakan suasana bak mimpi, selaras dengan hidangan lezat dan percakapan ringan di antara kami."Coba ini," saran Aiden sambil menuangkan cairan merah tua ke dalam gelasku. "Ini anggur vintage langka dari kebun kecil di Franca. Aku rasa kamu bakal menyukainya."Aku ragu, teringat toleransiku terhadap alkohol yang rendah. "Sepertinya nggak dulu deh. Aku nggak kuat minum anggur.""Cuma seteguk," kata Aiden, bersikeras dengan nada tegas yang entah kenapa membuatku ingin menurutinya. "Profil rasanya luar biasa."Satu teguk berubah menjadi beberapa gelas seiring berjalannya malam.Anggurnya memang istimewa, menghangatkanku dari dalam dan melonggarkan ketegangan yang baru kusadari selama ini bertumpuk di bahuku."Pipimu memerah," ujar Aiden, matanya terpaku di wajahku dengan intensitas yang membuat det

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 46 Sadar Telah Kehilanganmu

    Sudut Pandang Penulis:Liam terpaku saat melihat Aria berada di Restoran Akasha. Selama ini dia sengaja menghindari tempat apa pun yang berpotensi membuat mereka bertemu, tetapi takdir seakan bersikeras mempertemukan mereka."Aria!" panggilnya spontan, nama itu terlepas dari bibirnya sebelum dia sempat menahannya.Namun suaranya seakan tak terdengar, karena Aiden sudah lebih dulu menuntun Aria masuk ke dalam restoran, pintunya menutup rapat di belakang mereka.Raut wajah Liam menggelap saat dia menoleh ke pendampingnya, Madeline, putri Keluarga Rasian yang hubungan bisnisnya dengan Keluarga Waskito sudah terjalin sejak bertahun-tahun lalu."Nona Madeline, gimana kalau kita jadwalkan ulang pertemuan kita di lain malam?" usulnya, mendadak merasa enggan melanjutkan makan malam bersama ini.Namun, Madeline tidak berniat melewatkan kesempatan ini. Selama berbulan-bulan dia berusaha mengajak Liam untuk makan malam berdua. Sekarang setelah akhirnya berhasil membawanya ke sini, dia tidak akan

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 45 Nikmati Malam Ini

    Sudut Pandang Aria:Aku berdiri di depan lemari pakaian, jari-jariku memilih dengan ragu di antara beberapa deretan busana.Aiden tidak memberi detail apa pun tentang rencana makan malam kami, tetapi dari nada bicaranya, ada sesuatu yang membuatku merasa ini bukan sekadar acara bisnis biasa.Setelah menimbang beberapa saat, aku memilih gaun panjang menyentuh lantai dari bahan lembut yang jatuh, terlihat elegan tanpa berlebihan.Riasanku kubuat natural, hanya sedikit warna di bibir. Lalu, aku menghabiskan waktu hingga hampir sepuluh menit untuk mengepang rambutku menjadi kepang fishtail yang rapi.Setelah merasa puas melihat bayanganku di cermin, aku mengambil tas genggam dan turun ke bawah.Aiden sudah menunggu di ruang keluarga, sibuk menatap ponselnya. Saat mendengar langkah kakiku, dia mendongak, dan tatapan matanya yang sedikit melebar membuat merasa gugup."Kamu cantik," katanya dengan suara dalam dan rendah yang selalu membuat kakiku terasa lemas."Makasih," jawabku, merasakan pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status