Share

Bab 7 Pernikahan Sah

Author: blazers990
Sudut Pandang Aria:

Di pagi hari setelah pertemuanku dengan Sophia, aku merasa luar biasa lega. Untuk pertama kalinya sejak insiden penembakan itu, aku bisa bernapas lebih ringan, seolah-olah beban berat yang lama menindih bahuku akhirnya terangkat. Percakapan semalam membuatku sadar betapa banyak kekuasaan yang kuberikan kepada Liam dan Sophia atas emosiku sendiri.

Aku sudah terlalu lama membiarkan diriku menjadi korban mereka. Tidak akan lagi.

Dengan permulaan baru ini, aku memutuskan untuk menikmati sesuatu yang sudah berminggu-minggu tak kulakukan, yaitu bermain piano. Musik selalu menjadi tempat pelarianku, dunia di mana tak ada yang tersisa selain tuts di bawah jemariku dan melodi yang tercipta darinya.

Aku begitu tenggelam dalam Chopin Nocturne ketika ponselku berdering. Tanpa melihat nama peneleponnya, aku mengangkat telepon dengan kesal.

"Sophia, kamu benar-benar keras kepala ya?" kataku tajam. "Kalau kamu memang sehebat itu, kenapa nggak suruh Liam nikahin kamu hari ini juga?!"

Hening sesaat, lalu suara laki-laki yang dalam dan maskulin menjawab, "Bu Aria, ini aku."

Suara Aiden yang tak kusangka-sangka membuatku begitu kaget sampai tanganku menekan tuts-tuts piano sembarangan, menghasilkan suara sumbang yang membuat burung-burung di pepohonan terbang melarikan diri.

"Pak Aiden?" Aku terbata-bata, malu bukan main.

"Aku ada di depan rumahmu, Bu Aria."

Aku buru-buru ke jendela dan menyingkap tirai. Benar saja, sebuah Bentley hitam mengilap terparkir di jalan masuk rumah kami. Aiden berdiri di sampingnya, ponsel di telinga, menatap ke arah jendelaku dengan mata tajamnya.

"Ada perlu apa, Pak Aiden?" tanyaku, meski jawabannya sudah sangat jelas. "Pak Aiden, tentang kemarin, aku bisa jelaskan ...."

Namun, apa yang bisa kujelaskan? Bahwa lamaranku yang impulsif itu hanyalah usaha putus asa untuk membalas Liam?

Saat aku bersiap bicara, aku sadar betapa tidak adilnya diriku. Meski lamaran konyol itu kulontarkan tanpa pikir panjang, Aiden menerimanya dengan serius. Lebih serius daripada aku sendiri.

"Jadi Bu Aria cuma main-main denganku, begitu?" Nada suaranya membawa ancaman samar yang membuat kulitku merinding.

"Bukan, bukan begitu," sanggahku cepat. "Aku turun sekarang."

Aku bergegas menuju lift, pikiranku kalut. Dari semua tindakan gegabah yang pernah kulakukan, melamar Aiden jelas berada di peringkat teratas. Namun, satu hal yang benar-benar tak kupahami adalah ... kenapa dia menyetujuinya?

Karena terburu-buru mencapai pintu depan, langkahku meleset dari anak tangga terakhir dan pergelangan kakiku terkilir. Aku menahan teriakan kesakitan saat rasa nyeri menusuk naik ke betisku, tubuhku kehilangan keseimbangan, siap jatuh.

Dalam sekejap, sebuah lengan kuat meraihku, menghentikanku sebelum jatuh. Aku terimpit di dada kokoh seseorang, aroma parfum mahal memenuhi indraku. Saat aku mendongak, tatapan intens Aiden hanya beberapa sentimeter dari wajahku.

Wajahnya bahkan lebih menakjubkan dari dekat. Rahang tegas, tulang pipi terpahat, dan mata biru tajam yang seolah-olah bisa menembusku. Ada kerutan kecil di antara alisnya saat dia mengamatiku, satu lengan menopang punggungku sementara lengan lainnya menyapu bawah lututku, membopongku dengan mudah.

"Kamu terluka?" tanyanya, suaranya rendah dan memerintah.

Aku tak bisa bicara. Aku belum pernah sedekat ini dengannya, belum pernah benar-benar menyadari betapa kuat aura yang dia pancarkan. Berbeda dari pesona milik Liam, Aiden memiliki sesuatu yang lebih liar, otoritas yang membuat detak jantungku kacau.

"Bu Aria?" ulangnya, kali ini lebih menuntut.

Aku berkedip, tersentak oleh pertanyaannya, lalu merasakan panas menyerbu pipiku saat sadar aku menatapnya seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.

"A ... aku ... nggak .... Aku baik-baik saja." Aku tergagap-gagap, buru-buru mengalihkan pandangan. "Kamu bisa menurunkan aku. Aku bisa jalan sendiri."

"Jelas kamu nggak bisa," jawab Aiden tanpa berniat menurunkanku, menggendongku menuju ruang tamu. "Apa setiap pagi kamu memulai hari seperti ini? Dengan mencederai diri sendiri?"

Ada nada geli yang samar dalam suaranya dan itu mengejutkanku. Aiden ... bercanda? Ini sangat bertolak belakang dengan semua rumor tentangnya sampai aku sempat kehilangan kata-kata. Pria yang membuat seluruh ruang rapat ketakutan dan sanggup menumbangkan para pesaingnya itu ternyata punya selera humor?

Aiden membawaku ke ruang tamu dengan mudah, lengannya yang kuat membuatku merasa ringan dan ... entah kenapa, aman. Dia menurunkanku perlahan di sofa, berlutut di depanku dengan intensitas yang membuat napasku tertahan.

"Biar kulihat," katanya, tegas tetapi juga lembut.

Saat jarinya menyentuh pergelangan kakiku, sensasi kejut menjalari seluruh kakiku. Sentuhannya klinis tetapi intim. Tangan besar dan mantap itu memeriksa cederaku dengan ketelitian seorang ahli. Rasanya sangat berbeda dengan cara Liam menyentuhku. Tangan Aiden lebih besar, sedikit kasar, tangan seseorang yang membangun kerajaan bisnisnya dengan kerja keras.

Saat dia memutar pelan pergelangan kakiku dan alisnya mengerut menilai kondisiku, aku malah memandangi wajahnya. Garis-garis tegas, rambut gelap yang sedikit jatuh ke dahinya saat dia menunduk. Ada sesuatu yang memikat saat melihat Aiden, pria yang dikenal kejam di dunia bisnis memperlakukanku dengan begitu hati-hati.

"Cuma keseleo ringan," simpulnya, menatapku. "Tapi kamu harus istirahat hari ini."

"Terima kasih, Pak Aiden," bisikku, hampir tak terdengar. "Karena menangkapku, dan ... memeriksaku."

Saat itu juga aku sadar ada beberapa pasang mata yang mengamati kami. Para pelayan rumah berkumpul diam-diam di berbagai sudut, mata mereka bolak-balik menatap antara Aiden dan aku. Aku sudah bisa membayangkan reaksi ayahku nanti. Siapa pria ini? Kenapa menyentuh pergelangan kaki putrinya? Apa yang sedang terjadi?

Karena malu, aku menarik kakiku cepat-cepat dari genggamannya.

"Martha," panggilku pada pengurus rumah, yang langsung maju. "Tolong ambilkan kotak P3K ya? Aku mau membalut pergelangan kakiku."

"Tentu, Nona Aria," jawabnya sambil bergegas, tetapi sempat melirik Aiden dengan penuh rasa ingin tahu sebelum pergi.

Saat Martha mengoleskan salep herbal dan membungkus kakiku, Aiden berdiri di dekat jendela, siluetnya yang gagah dibingkai sinar matahari. Dia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, sesekali mengecek arlojinya.

"Pak Aiden," kataku saat Martha selesai. "Kita ...." Sebelum kalimatku selesai, dia menunduk dan menggendongku lagi dengan mudah.

Aku memekik, kedua tanganku otomatis mencengkeram bahunya.

"Aiden! Turunkan aku, aku bisa jalan!"

"Kamu nggak boleh jalan," balasnya tenang, sudah melangkah menuju pintu.

"Aku serius, turunkan aku!" Aku menggeliat, pipiku panas, bukan hanya malu, tetapi karena caranya menggendongku terasa begitu alami.

"Perintah dokter," ujarnya seenaknya, membawaku menuju pintu. "Istirahat dulu hari ini. Itu artinya nggak boleh jalan dulu."

Sebelum aku bisa memprotes lagi, aku sudah berada di dalam mobilnya, dan dia menyuruh sopir melaju ke pusat kota. Baru ketika mobil berhenti di depan kantor catatan sipil, aku sadar apa yang terjadi.

Aku belum siap. Rasanya aku tidak akan pernah siap. Namun, aku tak sempat berkata apa-apa. Aiden sudah turun dan membukakan pintu, menggendongku lagi sebelum aku sempat bernapas.

Di dalam, semuanya terasa tidak nyata. Formulir ditandatangani, foto diambil, para saksi yang entah sejak kapan sudah dia siapkan, membubuhkan tanda tangan. Sepanjang proses itu, aku merasa seperti melayang keluar dari tubuhku sendiri, menonton diriku melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan terjadi seperti ini.

Dengan begitu saja, semuanya selesai.

Aku duduk di kursi belakang mobil, memandangi akta pernikahan di pangkuanku dengan tatapan kosong. Benarkah aku baru saja menikahi Aiden Candra, rival terbesar mantan tunanganku, karena dorongan balas dendam semata?

"Semuanya sudah lengkap, Bu Aria?" Suara dalam Aiden memecah lamunanku.

Sapaan itu membuatku tersentak begitu keras sampai dokumennya jatuh dari tanganku. Saat aku membungkuk mengambilnya, tangan kami bersentuhan, tangannya menutupi tanganku sepenuhnya. Kehangatan yang merambat dari sentuhannya membuatku merinding sekali lagi.

Saat aku menatapnya, wajahnya jauh lebih dekat dari yang kuduga. Aku bisa melihat bintik-bintik biru gelap di matanya, bayangan halus di rahangnya. Sejenak, tak seorang pun dari kami bergerak menjauh.

"Fotonya bagus," komentarnya, suaranya lebih rendah, sembari membantuku merapikan akta itu.

Aku menunduk melihat foto pernikahan resmi kami. Mengejutkannya, kami terlihat ... serasi. Aku berdiri sedikit condong ke arahnya, ekspresiku lebih tenang daripada perasaanku, sementara dia menatap kamera dengan kepercayaan dirinya yang khas. Kami tampak seperti pasangan yang saling memilih dengan sengaja, bukan dua orang yang memasuki pernikahan bisnis terselubung.

Sesampainya kembali di rumah, dia menggendongku ke kamar meski aku bersikeras bisa jalan sendiri. Saat dia menurunkanku di atas ranjang, kedekatannya kembali membuatku terpana.

"Aku beri kamu seminggu untuk mengurus semuanya. Lalu aku akan menjemputmu."

Ada sesuatu dalam ucapannya yang membuat perutku bergejolak.

"Menjemputku?" ulangku.

Dia melangkah mendekat dan aku merasakan kasurnya sedikit turun saat dia menaruh satu tangan di sampingku, mencondongkan tubuh sampai wajah kami sejajar.

"Ya, Bu Candra," ujarnya, suaranya turun ke nada yang terasa bergetar di seluruh tubuhku. "Seminggu lagi, kamu akan pindah ke rumahku. Sebagai istriku."

Kedekatannya membuatku pening. Aku bisa mencium parfumnya lagi, aroma kayu cedar dan sesuatu yang lebih gelap, lebih liar, dan merasakan hangat tubuhnya yang begitu dekat. Dia tidak menyentuhku, tetapi rasanya seluruh ruang dipenuhi dirinya.

"Dan ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu," tambahnya, tatapannya tak pernah lepas dari mataku.

"Siapa?" bisikku, bahkan mengucap satu kata saja terasa sulit.

"Kamu akan lihat nanti," jawabnya samar sebelum berbalik pergi. Di ambang pintu, dia berhenti. "Istirahatlah, Bu Candra. Aku mau istriku pulih sepenuhnya saat pulang ke rumah."

Dengan itu, dia pergi, meninggalkanku dengan pergelangan kaki terkilir, akta pernikahan, dan kenyataan bahwa aku baru saja menikahi rival terbesar mantan tunanganku. Sungguh sulit dipercaya.

Aku menatap dokumen itu, huruf-huruf tebal namaku yang baru tertera jelas di bagian bawah.

Apa ini nyata?

Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 50 Bekas Cupang

    Sudut Pandang Aria:Aku terbangun dengan kepala berdenyut hebat, mulutku kering seperti ampelas. Sinar matahari menyusup lewat celah tirai, menusuk mataku seperti jarum.Sambil mengerang, aku berguling mencari kegelapan yang menenangkan, lalu membeku ketika tanganku menyentuh sesuatu yang padat dan hangat.Mataku terbuka lebar meski terasa perih. Di sana, jaraknya kurang dari sejengkal, terbaring Aiden. Di ranjang yang sama. Bersamaku.Sial.Aku duduk tersentak, langsung menyesali gerakan mendadak itu ketika kepalaku berdenyut protes. Ruangan berputar-putar hingga membuatku mual, memaksaku memejamkan mata dan menarik beberapa napas dalam.Saat berani menatap lagi, dia masih di sana, tidur dengan tenang. Rambut hitamnya terbaring acak di bantal, dada telanjangnya naik turun mengikuti napasnya.Apa yang terjadi semalam? Pikiranku berpacu, berusaha menyusun potongan ingatan yang terpecah-pecah. Makan malam. Anggur ... begitu banyak anggur. Aiden menggendongku ... lalu apa?Aku melirik dir

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 49 Jangan Minum Sebanyak Itu Lagi

    Sudut Pandang Aiden:Mobil menepi dengan mulus ke pinggir jalan. Aku membantu Aria mendekat ke jendela, yang dia buka dengan tangan gemetar. Udara malam yang sejuk langsung masuk, sedikit mengusir kabut dari pikiran kami berdua.Setelah beberapa tarikan napas dalam, warna wajahnya kembali normal dan rasa mual itu tampaknya sudah mereda. Dia bersandar ke dadaku, kepalanya menempel di dadaku sambil menunjuk ke luar jendela."Aiden, mobil itu goyang banget."Aku bahkan tidak menoleh, mendorong tangannya kembali ke bawah. "Kamu cuma berhalusinasi.""Nggak, aku nggak berhalusinasi," bantahnya dengan keyakinan khas orang mabuk. "Lihat, mobil itu benaran goyang parah."Dia tiba-tiba terdiam, lalu menatapku dengan mata membelalak penuh rasa terkejut. "Goyangnya parah banget .... Menurutmu mereka lagi ... lagi berhubungan di dalam?"Aku terdiam. Di ruang mobil yang sempit, kata-katanya yang tanpa filter terdengar jelas.Situasi yang absurd ini, istriku yang biasanya pendiam dan sopan, tiba-tiba

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 48 Kamu Menusukku

    Sudut Pandang Aiden:Pendingin udara di dalam mobil menyala kencang, tetapi pipi Aria justru semakin memerah dari menit ke menit, jelas karena pengaruh alkohol.Saat mobil berhenti di lampu merah, aku menyadari kalau dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan restoran, dan keheningan di dalam mobil terasa tidak biasa, begitu menekan.Untuk pertama kalinya, aku justru ingin mengajaknya bicara.Aku melirik ke arahnya. Dia melakukan sesuatu yang aneh, tangan kirinya menempel pada kaca jendela, jemarinya mencengkeram udara seolah-olah mencoba meraih sesuatu yang tidak kasatmata.Ketika lampu berganti hijau dan mobil kembali melaju, dia kehilangan keseimbangan sesaat, kepalanya membentur kaca.Dia meringis, tangannya terangkat ke dahi, mengusap bagian itu dengan gerakan kikuk."Biar aku lihat," kataku sambil meraih tangannya dari dahinya. Kulitnya hangat di bawah sentuhanku, terlalu hangat.Matanya, mata yang selalu menarik perhatianku, tampak sayu oleh alkohol dan sesua

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 47 Gairah di antara Kita

    Sudut Pandang Aria:Aku menyadari kalau aku sangat menikmati makan malam bersama Aiden di Restoran Akasha ini, bahkan lebih baik dari kuharapkan.Pemandangan lampu kota yang terbentang luas menciptakan suasana bak mimpi, selaras dengan hidangan lezat dan percakapan ringan di antara kami."Coba ini," saran Aiden sambil menuangkan cairan merah tua ke dalam gelasku. "Ini anggur vintage langka dari kebun kecil di Franca. Aku rasa kamu bakal menyukainya."Aku ragu, teringat toleransiku terhadap alkohol yang rendah. "Sepertinya nggak dulu deh. Aku nggak kuat minum anggur.""Cuma seteguk," kata Aiden, bersikeras dengan nada tegas yang entah kenapa membuatku ingin menurutinya. "Profil rasanya luar biasa."Satu teguk berubah menjadi beberapa gelas seiring berjalannya malam.Anggurnya memang istimewa, menghangatkanku dari dalam dan melonggarkan ketegangan yang baru kusadari selama ini bertumpuk di bahuku."Pipimu memerah," ujar Aiden, matanya terpaku di wajahku dengan intensitas yang membuat det

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 46 Sadar Telah Kehilanganmu

    Sudut Pandang Penulis:Liam terpaku saat melihat Aria berada di Restoran Akasha. Selama ini dia sengaja menghindari tempat apa pun yang berpotensi membuat mereka bertemu, tetapi takdir seakan bersikeras mempertemukan mereka."Aria!" panggilnya spontan, nama itu terlepas dari bibirnya sebelum dia sempat menahannya.Namun suaranya seakan tak terdengar, karena Aiden sudah lebih dulu menuntun Aria masuk ke dalam restoran, pintunya menutup rapat di belakang mereka.Raut wajah Liam menggelap saat dia menoleh ke pendampingnya, Madeline, putri Keluarga Rasian yang hubungan bisnisnya dengan Keluarga Waskito sudah terjalin sejak bertahun-tahun lalu."Nona Madeline, gimana kalau kita jadwalkan ulang pertemuan kita di lain malam?" usulnya, mendadak merasa enggan melanjutkan makan malam bersama ini.Namun, Madeline tidak berniat melewatkan kesempatan ini. Selama berbulan-bulan dia berusaha mengajak Liam untuk makan malam berdua. Sekarang setelah akhirnya berhasil membawanya ke sini, dia tidak akan

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 45 Nikmati Malam Ini

    Sudut Pandang Aria:Aku berdiri di depan lemari pakaian, jari-jariku memilih dengan ragu di antara beberapa deretan busana.Aiden tidak memberi detail apa pun tentang rencana makan malam kami, tetapi dari nada bicaranya, ada sesuatu yang membuatku merasa ini bukan sekadar acara bisnis biasa.Setelah menimbang beberapa saat, aku memilih gaun panjang menyentuh lantai dari bahan lembut yang jatuh, terlihat elegan tanpa berlebihan.Riasanku kubuat natural, hanya sedikit warna di bibir. Lalu, aku menghabiskan waktu hingga hampir sepuluh menit untuk mengepang rambutku menjadi kepang fishtail yang rapi.Setelah merasa puas melihat bayanganku di cermin, aku mengambil tas genggam dan turun ke bawah.Aiden sudah menunggu di ruang keluarga, sibuk menatap ponselnya. Saat mendengar langkah kakiku, dia mendongak, dan tatapan matanya yang sedikit melebar membuat merasa gugup."Kamu cantik," katanya dengan suara dalam dan rendah yang selalu membuat kakiku terasa lemas."Makasih," jawabku, merasakan pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status