LOGINPagi itu juga, setelah mendapatkan surat tanda jual-beli yang sah atas lahan yang disebutkan oleh Ruslan, Sinta dan Marilyn datang ke kantor Saraswati Corp.Saat tiba di ruang rapat, ternyata Arjuna sudah berada di sana. Sinta tersenyum ke arah pemuda itu.Dari jauh, Sinta juga melihat anggota baru dalam peserta rapat kali ini, Renata Jayadi—saudari tirinya yang kini menatapnya dengan penuh dendam."Selamat pagi, semuanya," sapa Sinta dengan sopan. Meski hanya segelintir orang yang menjawab, Sinta tampaknya tidak terpengaruh sama sekali. Dia duduk di kursi kosong yang berada di samping kanan Arjuna dengan anggun dan elegan.Di seberangnya, Ruslan menatapnya sinis dengan tatapan penuh meremehkan. Pria itu tiba-tiba berdiri, dan dengan sikapnya yang arogan, ia berkata, "Karena semua jajaran direksi dan komisaris sudah berkumpul lengkap," suara Ruslan mengudara, sengaja dikeras-keraskan agar memenuhi setiap sudut ruang rapat yang megah itu, "maka tidak ada alasan lagi untuk menunda agend
Sinta menahan napas. Ia tidak menyangka bahwa Abimanyu akan memberikan syarat semacam itu untuknya. Apa maksudnya? Menghadiri jamuan makan setiap minggu sebagai mitra? Yang benar saja. Saat masih istrinya dulu, kenapa pria ini tidak memikirkan hal itu? Alih-alih mengajak istrinya, dia malah lebih suka membawa Rashta ke mana-mana, sampai Sinta selalu menjadi bahan olok-olokan keluarga Djaja, bahkan oleh orang luar juga. Sekarang, pria itu malah menjadikan hal itu sebagai syarat agar mau menjual tanahnya? Konyol sekali. "Saya harus memikirkannya dulu. Saya tidak bisa mengambil keputusan secara gegabah," jawab Sinta dengan ketus. "Satu kali 24 jam. Saya hanya akan memberi waktu Anda satu kali 24 jam. Jika tidak ada keputusan selama kurun waktu itu, maka saya anggap penawaran jual-beli ini tidak pernah terjadi." Sinta terdiam beberapa saat sampai akhirnya menjawab, "Baik, saya akan berikan jawabannya secepat mungkin." Setelah itu, ketegangan di antara mereka sedikit menurun. Roge
Melihat ekspresi panik di wajah Sinta, Abimanyu tampak tersenyum tipis. Suasana di ruangan itu pun semakin dipenuhi dengan ketegangan. Bahkan, Roger sendiri tampak kebingungan melihat aura permusuhan yang kuat di antara dua orang di hadapannya. Namun, dia hanya datang sebagai perantara, jadi dia tidak ingin terlalu banyak bicara. "Yang pertama—" "Yang pertama? Pak Abimanyu, Anda tidak bermasalah mengajukan 100 syarat kepada saya, kan?" potong Sinta cepat, wajah cantiknya semakin memerah karena menahan amarah. "Tidak banyak, hanya dua syarat, kok, Bu Sinta. Mau dilanjutkan atau tidak?" Sinta menekan bibirnya ke dalam sembari melayangkan tatapan tajam ke arah pria itu. "Silakan lanjutkan," ucapnya dengan suara bergetar. "Yang pertama, saya dengar bahwa Anda mewakili Saraswati Corp yang merupakan perusahaan baru hasil akuisisi Jayadi Group, benar?" "Ya." "Apakah Anda sendiri yang akan mengelola proyek ini?" "Ya, kurang lebih begitu." "Hm. Saya hanya ingin menjual tanah ini kep
Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah pintu. Namun, ekspresi Abimanyu sama sekali tidak terlihat terkejut. Pria itu menatap Sinta dengan tenang, tatapannya begitu dalam hingga mampu membuat Sinta merinding."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sinta dengan ekspresi tidak senang."Menurutmu, apa yang aku lakukan di sini?"Belum sempat Sinta menjawab, anak dari pemilik tanah yang lama muncul dari belakang tubuh Abimanyu. Sapaannya yang ramah memecah ketegangan yang menguar di antara Sinta dan Abimanyu."Pak Bima, kenapa berdiri di tengah pintu?""Maaf, Pak Roger, saya hanya terkejut melihat orang yang akan membeli tanah saya," ucap Abimanyu seraya tersenyum tipis.Mendengar jawaban itu, tubuh Sinta semakin membeku dan terasa kaku.Jadi, tanah itu...Sinta menelan ludahnya dengan susah payah. Sebagian otaknya memerintahkan untuk keluar dari ruangan itu sekarang juga. Namun, sebagian lainnya menyuruh untuk tetap tinggal karena perjanjiannya dengan Ruslan tidak boleh gagal."N
Napas Sinta tertahan sejenak sebelum akhirnya tersenyum cerah."Be-benarkah? Di mana saya harus menemui beliau?""Saya akan memberikan alamatnya lewat SMS, ya, Nona Sinta.""Baik, baik. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya, Pak.""Sama-sama. Sampai bertemu nanti.""Ya, Pak, sampai bertemu nanti."Panggilan ditutup. Sinta seketika bangkit dari kursi kerjanya, ia nyaris melompat kegirangan. Di saat itu, Marylin baru saja masuk ke dalam ruangan dan melihat Sinta tampak begitu senang."Ada apa, Nona Sinta? Anda terlihat sangat senang.""Kak Marylin!" Sinta berjalan mendekat ke arah sang sekretaris. "Barusan anak dari pemilik tanah lama menghubungiku. Beliau bilang pemilik baru tanah itu bersedia untuk bertemu denganku dan membahas penawaran harganya."Mendengar kabar itu, Marylin tersenyum lebar."Nona Sinta, Anda luar biasa. Berkat kegigihan dan kerja keras Anda, akhirnya pemilik tanah misterius itu bersedia menemui Anda."Sinta mengangguk cepat, namun sejurus kemudian wajah wanita
Mendengar jawaban Sinta yang terdengar begitu meyakinkan dan tanpa keraguan sedikit pun, Ruslan tampak terkejut. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara tawa dari ujung meja yang sarat akan ejekan."Sinta... Sinta... Aku tahu kamu didukung oleh Tuan Muda keluarga Pandawa, tetapi bukan berarti kamu bisa melakukan segalanya. Pemilik tanah itu tidak akan menjual tanah tersebut. Bahkan, sekelas Tuan Hendra Kusuma saja tidak bisa mendapatkan tanah itu, apalagi anak bau kencur sepertimu. Percaya diri juga ada batasnya," ucap Ambar dengan penuh keangkuhan.Setelah itu, Krisna juga berkata, "Yang dikatakan istriku benar adanya. Sinta, jangan nekat! Alih-alih mendapatkan tanah itu, kamu malah akan mempermalukan nama baik keluarga Pandawa."Sinta mengepalkan tangannya kuat-kuat. Saat itu, Arjuna juga tidak mengatakan apa pun karena kenyataannya keluarga Pandawa memang mengincar tanah tersebut. Namun, pemilik tanah itu sangat misterius dan tidak pernah muncul ke publik. Saat mencari tahu nama







