로그인"Tuan Abimanyu berpikir terlalu jauh. Saya hanya sedikit mengingatkan, bukan berarti saya akan mengingkari janji." Sinta berusaha untuk tetap tenang, kemudian melanjutkan, "Lagi pula, perjanjian itu hanya menyatakan bahwa saya wajib mendampingi Anda sebagai partner bisnis setiap akhir pekan. Tidak ada klausul khusus yang menyatakan bahwa saya harus memakai gaun pemberian Anda."Abimanyu menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu melipat kedua tangannya di dada. Senyum tipis yang sarat akan dominasi kembali terukir di bibirnya."Memang tidak tertulis secara spesifik, Bu Sinta," ucap Abimanyu santai, namun terdengar begitu mengintimidasi. "Namun, saya punya standar sendiri, jadi sebaiknya Bu Sinta mengikuti standar saya. Bu Sinta tahu, kan, bahwa saya sangat menjaga martabat dan kehormatan keluarga Djaja?""Apa hubungannya gaun dengan kehormatan keluarga?""Tentu saja ada hubungannya, Bu Sinta. Jamuan makan yang saya hadiri merupakan acara bergengsi yang dihadiri oleh banyak pejabat, pengus
Saat itu, terdengar suara ketukan pintu yang lembut. Sinta segera mengusap air matanya dengan cepat, kemudian menarik napas dalam-dalam. "Masuk..." Marilyn masuk ke dalam ruangan itu dengan ekspresi cerah. Sinta menyambutnya dengan ceria. "Kak Marilyn? Apa ada sesuatu?" Marilyn mengangguk, kemudian meletakkan sebuah map di atas meja kerja Sinta. Saat ini, Marilyn telah resmi dipindahtugaskan menjadi sekretaris pribadi Sinta atas permintaan langsung dari Arjuna. Jadi, untuk ke depannya, Marilyn yang akan mendampingi dan mengajari Sinta agar bisa menjadi pemimpin perusahaan yang mumpuni. "Nona Sinta, ini adalah perjanjian kerja sama dari klien Jayadi Group sebelumnya. Kerja sama itu belum terlaksana. Saya sudah menjadwalkan pertemuan dengan pimpinan perusahaan ini besok lusa. Agendanya adalah membahas tentang kelanjutan proses pembangunan sepuluh blok apartemen bersubsidi di kawasan Tanah Abang yang sempat tertunda akibat krisis manajemen dan keuangan dari Jayadi Group sebelumny
"D-Dua triliun? Tidak mungkin!" Ruslan tampak sangat terkejut melihat surat perjanjian yang ada di hadapannya. Tubuhnya nyaris limbung ke belakang hingga pria itu harus berpegangan pada ujung meja rapat. Tidak hanya Ruslan yang seolah hampir kehilangan kesadaran, Renata, Ambar, Krisna, serta orang-orang yang ada di dalam ruang rapat itu langsung membeku. Wajah Renata dan Ambar bahkan sudah seputih kertas. Entah sejak kapan, Sinta merasa dalam dirinya telah tumbuh sisi iblis, hingga pemandangan di depannya membuat darahnya berdesir aneh, seperti rasa dahaga yang akhirnya bisa terpuaskan. Sinta menatap Renata dan Ruslan, yang sejak tadi paling bersemangat merendahkannya, secara bergantian. "Pak Ruslan, sesuai dengan perjanjian kita sebelumnya, karena saya berhasil mendapatkan tanah itu, maka Anda harus memohon maaf kepada saya dan dikeluarkan dari Saraswati Corp secara tidak hormat. Selain itu... Anda juga tidak akan mendapatkan pesangon sepeser pun karena Anda telah terbukti menyel
Pagi itu juga, setelah mendapatkan surat tanda jual-beli yang sah atas lahan yang disebutkan oleh Ruslan, Sinta dan Marilyn datang ke kantor Saraswati Corp.Saat tiba di ruang rapat, ternyata Arjuna sudah berada di sana. Sinta tersenyum ke arah pemuda itu.Dari jauh, Sinta juga melihat anggota baru dalam peserta rapat kali ini, Renata Jayadi—saudari tirinya yang kini menatapnya dengan penuh dendam."Selamat pagi, semuanya," sapa Sinta dengan sopan. Meski hanya segelintir orang yang menjawab, Sinta tampaknya tidak terpengaruh sama sekali. Dia duduk di kursi kosong yang berada di samping kanan Arjuna dengan anggun dan elegan.Di seberangnya, Ruslan menatapnya sinis dengan tatapan penuh meremehkan. Pria itu tiba-tiba berdiri, dan dengan sikapnya yang arogan, ia berkata, "Karena semua jajaran direksi dan komisaris sudah berkumpul lengkap," suara Ruslan mengudara, sengaja dikeras-keraskan agar memenuhi setiap sudut ruang rapat yang megah itu, "maka tidak ada alasan lagi untuk menunda agend
Sinta menahan napas. Ia tidak menyangka bahwa Abimanyu akan memberikan syarat semacam itu untuknya. Apa maksudnya? Menghadiri jamuan makan setiap minggu sebagai mitra? Yang benar saja. Saat masih istrinya dulu, kenapa pria ini tidak memikirkan hal itu? Alih-alih mengajak istrinya, dia malah lebih suka membawa Rashta ke mana-mana, sampai Sinta selalu menjadi bahan olok-olokan keluarga Djaja, bahkan oleh orang luar juga. Sekarang, pria itu malah menjadikan hal itu sebagai syarat agar mau menjual tanahnya? Konyol sekali. "Saya harus memikirkannya dulu. Saya tidak bisa mengambil keputusan secara gegabah," jawab Sinta dengan ketus. "Satu kali 24 jam. Saya hanya akan memberi waktu Anda satu kali 24 jam. Jika tidak ada keputusan selama kurun waktu itu, maka saya anggap penawaran jual-beli ini tidak pernah terjadi." Sinta terdiam beberapa saat sampai akhirnya menjawab, "Baik, saya akan berikan jawabannya secepat mungkin." Setelah itu, ketegangan di antara mereka sedikit menurun. Roge
Melihat ekspresi panik di wajah Sinta, Abimanyu tampak tersenyum tipis. Suasana di ruangan itu pun semakin dipenuhi dengan ketegangan. Bahkan, Roger sendiri tampak kebingungan melihat aura permusuhan yang kuat di antara dua orang di hadapannya. Namun, dia hanya datang sebagai perantara, jadi dia tidak ingin terlalu banyak bicara. "Yang pertama—" "Yang pertama? Pak Abimanyu, Anda tidak bermasalah mengajukan 100 syarat kepada saya, kan?" potong Sinta cepat, wajah cantiknya semakin memerah karena menahan amarah. "Tidak banyak, hanya dua syarat, kok, Bu Sinta. Mau dilanjutkan atau tidak?" Sinta menekan bibirnya ke dalam sembari melayangkan tatapan tajam ke arah pria itu. "Silakan lanjutkan," ucapnya dengan suara bergetar. "Yang pertama, saya dengar bahwa Anda mewakili Saraswati Corp yang merupakan perusahaan baru hasil akuisisi Jayadi Group, benar?" "Ya." "Apakah Anda sendiri yang akan mengelola proyek ini?" "Ya, kurang lebih begitu." "Hm. Saya hanya ingin menjual tanah ini kep







