Se connecterSinta menundukkan wajahnya sembari tersenyum, seburat rona merah muncul di kedua pipinya.Acara lamaran hari itu berjalan dengan lancar, penuh kehangatan dan keakraban. Anggota keluarga Pandawa dan keluarga Nenek Gayatri saling berbaur dan berbincang dengan akrab seolah perbedaan kasta yang tinggi tidak ada di antara mereka.Berita tentang pewaris Pandawa Group yang datang melamar Sinta Saraswati, janda dari Abimanyu Djaja, menyebar dengan cepat menjadi gosip terpanas bahkan sebelum acara lamaran itu selesai.Berbagai tanggapan positif dan negatif memenuhi kolom komentar berbagai portal gosip yang mengunggah acara lamaran itu.Ada yang mencurigai bahwa Sinta dan Arjuna telah menjalin hubungan sebelum wanita itu bercerai, ada juga yang mengatakan bahwa Sinta buru-buru dilamar karena sudah berbadan dua.Akun media sosial Sinta dibanjiri dengan berbagai komentar miring.Sinta sama sekali tidak tahu karena dia sedang fokus dengan acara itu.Sampai saat rombongan keluarga Pandawa telah ber
Sinta berpapasan dengan Arjuna di depan pintu aula. Pemuda itu tampak sedang mencarinya."Sinta, kamu tidak apa-apa? Aku baru saja akan mencarimu..."Sinta tertegun sesaat, rasa haru sekaligus hangat memenuhi hatinya. Arjuna tidak bertanya ia dari mana, atau bertanya kenapa dia begitu lama di toilet, melainkan menanyakan keadaannya.Dengan mata berkaca-kaca, Sinta menjawab, "Aku baik-baik saja, terima kasih."Alih-alih menjawab, Arjuna justru meraih Sinta ke dalam pelukannya. Sinta memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pemuda itu hingga ia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdegup kencang."Aku melihat Rashta dan Bima keluar dari aula, aku khawatir mereka mengikutimu. Tadinya aku mau langsung memastikan, namun ada sahabat baik ayahku yang tiba-tiba datang menyapa, aku jadi tidak bisa pergi menyusulmu, maaf."Sinta tersenyum manis. "Tidak apa-apa kok, kamu tidak perlu meminta maaf, Juna.""Apa mereka berdua benar-benar menemuinmu?"Sinta mengangguk. "H
"Begitu ya, berarti selama ini roda kehidupanku selalu di atas dong, soalnya kamu selalu kalah, Sinta. Ibumu mati, ayahmu memilih selingkuhannya, lalu anakmu mati karena suamimu lebih memilihku, mungkin... sebentar lagi nenekmu juga mati kalau kamu masih berani merayu—"Plak!!Suara tamparan keras yang nyaring menggema di ruang toilet yang lengang. Wajah Rashta menoleh ke samping, jejak lima jari menempel di wajahnya yang putih, tampak merah menyala."Tutup mulutmu." Sinta maju ke depan. Belum sempat Rashta bereaksi, jemari Sinta lebih dulu mencengkeram rambut gadis itu dengan kuat. Rashta meringis kesakitan."Aku biasanya tidak melakukan kekerasan, tapi sepertinya, kamu adalah pengecualian. Rashta, dengar ucapanku ini dan ingat baik-baik."Sinta mendekatkan bibirnya ke telinga Rashta. Bola mata gadis itu membola sempurna, wajahnya yang putih tampak pucat pasi."Dulu, aku tidak bisa berbuat apa-apa atas semua kejahatanmu karena aku tidak mempunyai apa-apa. Sekarang, kalau kamu berani
Semua orang hampir tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, namun Sinta dan Arjuna tampak tidak peduli sama sekali.Abimanyu baru saja akan mengatakan sesuatu, namun suara seseorang dari arah belakang menghentikannya seketika."M-mas Bima..."Sinta pun bernapas lega. Akhirnya, orang itu datang.Jika dulu kedatangannya membuat Sinta sedih dan terluka, sekarang kehadirannya justru membuat Sinta bisa bernapas lega."Rashta?"Abimanyu tidak tampak terkejut, namun ekspresi lembut yang biasa ditunjukkan untuk gadis itu juga tidak tampak. Pria itu menatap Rashta dengan ekspresi datar, bahkan terkesan dingin."Bima, kenapa kamu pergi ke acara jamuan ini sendirian? Kami bertiga menunggumu berjam-jam di depan rumahmu."Alih-alih menjawab, Abimanyu justru meminum jus di tangannya dengan tenang, lalu berkata, "Aku sudah ada janji dengan orang lain."Melihat ketidakpedulian di wajah Abimanyu, Rashta tampak kesal sesaat, namun dengan cepat gadis itu mengatur ekspresinya, tampak polos dan lembut
Sinta menarik napas sejenak lalu mengabaikan ucapan Abimanyu sepenuhnya. Ia merasa Abimanyu mulai kehilangan akal sehatnya.Kenapa Abimanyu tiba-tiba bersikap aneh seperti itu?Sinta awalnya begitu terganggu, namun baru sekarang ia menyadari bahwa perasaan yang tersisa untuk mantan suaminya itu hanyalah kekosongan, sama seperti perasaan terhadap orang asing.Padahal dipikir-pikir, ia bercerai dengan Abimanyu kurang dari setahun, tapi perasaannya terhadap pria itu telah sirna sepenuhnya."Pak Bima, silakan jalan duluan. Kita datang bersama bukan berarti harus terus menempel dan bergandengan tangan."Setelah berkata demikian, Sinta memalingkan wajahnya. Dari sudut matanya, diam-diam dia melirik pada mobil Arjuna yang baru saja tiba. Sudut bibirnya sedikit terangkat.Pada saat itu, tiba-tiba salah seorang tamu dari jamuan makan tersebut menghampirinya dan Abimanyu."Wah, wah... Apakah Nyonya Sinta dan Tuan Abimanyu memutuskan untuk rujuk? Luar biasa sekali..."Setelah mendengar ucapan it
Genggaman tangan Sinta pada ponselnya mengencang. Suara Abimanyu di seberang telepon terdengar begitu santai, seolah-olah telah melakukan hal yang sangat terpuji. "Sudah." Sinta menjawabnya dengan singkat dan dingin. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak kunjung ada respons dari Abimanyu, Sinta akhirnya bertanya, "Ada lagi? Kalau tidak, saya akan tutup teleponnya." "Apa kamu menyukainya?" "Tidak. Aku benci warna hijau." Tut. Tanpa menunggu respons Abimanyu, Sinta memutuskan panggilan itu. Sesaat kemudian, ponselnya tidak berhenti bergetar karena deretan pesan singkat yang masuk. Dan semuanya dari Abimanyu. Sinta memijat pelipisnya, tampak frustrasi. "Kenapa dia berisik banget, sih?" Sinta menggerutu, sebelum akhirnya membalikkan layar ponselnya menghadap ke meja lalu menyalakan mode pesawat. Kemudian, ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Meskipun hari ini adalah hari Sabtu, Sinta tetap masuk ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum har







