เข้าสู่ระบบTanpa gerak-gerik yang mencurigakan, pelayan itu kembali mengedarkan minuman kepada semua tamu, tanpa terkecuali. Hingga saat berada di hadapan Abimanyu, ia berkata, "Minumannya, Tuan? Kebetulan jus jeruknya cuma tinggal satu, apa Anda mau?"Abimanyu sangat menyukai jus jeruk. Melihat di dalam nampan hanya ada sisa satu jus jeruk dan satu minuman lain, dia pun mengangguk dan meraih jus jeruk itu tanpa ragu."Terima kasih."Melihat Abimanyu menyesap minuman itu perlahan, Rashta yang memperhatikan dari kejauhan pun tersenyum puas.Karena suasana yang begitu ramai, tidak ada yang menyadari keberadaan Rashta dan gelagatnya yang aneh.Sampai beberapa saat, tidak ada yang terjadi pada Abimanyu. Pria itu masih diam-diam memperhatikan Sinta yang datang bersama dengan Arjuna dan tengah mendampingi sang pewaris Pandawa Group itu berbincang dengan rekan bisnisnya.Saat melihat Sinta yang tampak begitu manja di samping pria lain, genggaman tangan Abimanyu di gelas minumannya semakin mengencang. N
Mendengar pertanyaan yang memalukan itu, wajah Renata seketika memucat. Ambar pun menunduk dalam-dalam. Wanita itu pasti tidak menyangka bahwa Tuan Prabu akan memperlakukannya seperti itu secara terang-terangan di depan banyak orang."Tuan, tidak seharusnya Anda melakukan ini—""Pak Krisna, Anda merusak suasana di acara penting putra semata wayangku," potong Tuan Prabu sambil meraih sebuah pistol dari balik jasnya, lalu mengarahkannya dengan santai tepat ke arah kepala Krisna.Begitu melihat ujung senjata api di tangan Tuan Prabu yang diarahkan kepadanya, Krisna seketika menegang, menelan ludahnya dengan susah payah."T-Tuan Prabu—" Napas pria paruh baya itu tercekat, wajahnya pun makin memucat."Aku tidak sampai membunuhmu saja sudah merupakan sebuah pengampunan, Pak Krisna."Krisna melangkah mundur, diikuti oleh Ambar dan Renata yang gemetar ketakutan.Detik berikutnya...Duar!Suara letupan senjata api membuat semua orang syok, bahkan ada beberapa anggota keluarga Nenek Gayatri yan
Sinta menundukkan wajahnya sembari tersenyum, seburat rona merah muncul di kedua pipinya.Acara lamaran hari itu berjalan dengan lancar, penuh kehangatan dan keakraban. Anggota keluarga Pandawa dan keluarga Nenek Gayatri saling berbaur dan berbincang dengan akrab seolah perbedaan kasta yang tinggi tidak ada di antara mereka.Berita tentang pewaris Pandawa Group yang datang melamar Sinta Saraswati, janda dari Abimanyu Djaja, menyebar dengan cepat menjadi gosip terpanas bahkan sebelum acara lamaran itu selesai.Berbagai tanggapan positif dan negatif memenuhi kolom komentar berbagai portal gosip yang mengunggah acara lamaran itu.Ada yang mencurigai bahwa Sinta dan Arjuna telah menjalin hubungan sebelum wanita itu bercerai, ada juga yang mengatakan bahwa Sinta buru-buru dilamar karena sudah berbadan dua.Akun media sosial Sinta dibanjiri dengan berbagai komentar miring.Sinta sama sekali tidak tahu karena dia sedang fokus dengan acara itu.Sampai saat rombongan keluarga Pandawa telah ber
Sinta berpapasan dengan Arjuna di depan pintu aula. Pemuda itu tampak sedang mencarinya."Sinta, kamu tidak apa-apa? Aku baru saja akan mencarimu..."Sinta tertegun sesaat, rasa haru sekaligus hangat memenuhi hatinya. Arjuna tidak bertanya ia dari mana, atau bertanya kenapa dia begitu lama di toilet, melainkan menanyakan keadaannya.Dengan mata berkaca-kaca, Sinta menjawab, "Aku baik-baik saja, terima kasih."Alih-alih menjawab, Arjuna justru meraih Sinta ke dalam pelukannya. Sinta memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pemuda itu hingga ia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdegup kencang."Aku melihat Rashta dan Bima keluar dari aula, aku khawatir mereka mengikutimu. Tadinya aku mau langsung memastikan, namun ada sahabat baik ayahku yang tiba-tiba datang menyapa, aku jadi tidak bisa pergi menyusulmu, maaf."Sinta tersenyum manis. "Tidak apa-apa kok, kamu tidak perlu meminta maaf, Juna.""Apa mereka berdua benar-benar menemuinmu?"Sinta mengangguk. "H
"Begitu ya, berarti selama ini roda kehidupanku selalu di atas dong, soalnya kamu selalu kalah, Sinta. Ibumu mati, ayahmu memilih selingkuhannya, lalu anakmu mati karena suamimu lebih memilihku, mungkin... sebentar lagi nenekmu juga mati kalau kamu masih berani merayu—"Plak!!Suara tamparan keras yang nyaring menggema di ruang toilet yang lengang. Wajah Rashta menoleh ke samping, jejak lima jari menempel di wajahnya yang putih, tampak merah menyala."Tutup mulutmu." Sinta maju ke depan. Belum sempat Rashta bereaksi, jemari Sinta lebih dulu mencengkeram rambut gadis itu dengan kuat. Rashta meringis kesakitan."Aku biasanya tidak melakukan kekerasan, tapi sepertinya, kamu adalah pengecualian. Rashta, dengar ucapanku ini dan ingat baik-baik."Sinta mendekatkan bibirnya ke telinga Rashta. Bola mata gadis itu membola sempurna, wajahnya yang putih tampak pucat pasi."Dulu, aku tidak bisa berbuat apa-apa atas semua kejahatanmu karena aku tidak mempunyai apa-apa. Sekarang, kalau kamu berani
Semua orang hampir tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, namun Sinta dan Arjuna tampak tidak peduli sama sekali.Abimanyu baru saja akan mengatakan sesuatu, namun suara seseorang dari arah belakang menghentikannya seketika."M-mas Bima..."Sinta pun bernapas lega. Akhirnya, orang itu datang.Jika dulu kedatangannya membuat Sinta sedih dan terluka, sekarang kehadirannya justru membuat Sinta bisa bernapas lega."Rashta?"Abimanyu tidak tampak terkejut, namun ekspresi lembut yang biasa ditunjukkan untuk gadis itu juga tidak tampak. Pria itu menatap Rashta dengan ekspresi datar, bahkan terkesan dingin."Bima, kenapa kamu pergi ke acara jamuan ini sendirian? Kami bertiga menunggumu berjam-jam di depan rumahmu."Alih-alih menjawab, Abimanyu justru meminum jus di tangannya dengan tenang, lalu berkata, "Aku sudah ada janji dengan orang lain."Melihat ketidakpedulian di wajah Abimanyu, Rashta tampak kesal sesaat, namun dengan cepat gadis itu mengatur ekspresinya, tampak polos dan lembut







