LOGINTimah memandang masakannya yang belum tersentuh di atas meja. Ia menghela napas berat.
“Padahal aku bikinin masakan kesukaan dia beberapa hari ini, tapi ngga pernah disentuh,” ujar Timah sambil memasukkan lauk itu ke dalam rak.
“Mungkin lagi sibuk sama kuliahnya, Bu. Kan ini sudah masuk semester akhir.”
“Aku khawatir sama dia, Pak.” Timah duduk di kursi makan lalu duduk merenung. Ayahnya dulu juga ngga cerita apa-apa waktu divonis tumor otak …” Pranoto yang sedang membersihkan kipas angin terdiam. Ia memandang istrinya lama.
“Dia itu persis seperti Mas Ghani. Jika ada masalah hanya dipendam sendiri. Bahkan dia ngga cerita saat istrinya selingkuh dan kabur sama lelaki lain …” Timah menghela napas. Terasa dadanya dihimpit sesuatu yang begitu besar. Yang tak mau enyah meskipun ia menghela napas berkali-kali.
“Aku khawatir sama Arumi, Pak …” Timah mulai terisak. Pranoto menghela napas. istrinya memang suka berlebihan kalau menyangkut tentang Arumi. Lelaki itu meninggalkan pekerjaannya lalu berusaha menenangkan sang istri.
“Aku takut dia sakit, Pak …”
“Arumi baik-baik saja, Bu. Mungkin dia sedang sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Dia kan sudah mau lulus,” ulang Pranoto lagi seolah mengingatkan.
“Tapi beberapa hari ini aku sering dengar dia muntah-muntah, Pak. Wajahnya pucat. Tubuhnya juga jadi kurus.” Timah mulai terisak.
“Kamu jangan mikir yang aneh-aneh ah.”
“Aku mau memastikan keadaannya, Pak.”
“Bagaimana caranya?”
“Ayo kita periksa kamarnya.” Pranoto tampak ragu.
“Tapi itu kan tidak sopan, Bu.”
“Tapi aku khawatir, Pak. Ibu ngga tenang kalau belum memastikan keadaan Arumi.” Pranoto menghela napas lalu mengangguk lemah. Ia mengikuti sang istri yang berjalan menuju kamar Arumi.
“Tuh kan dikunci,” ujarnya saat Timah mendorong pintu yang bergeming.
“Aku ada kunci serepnya.” Timah menunjukkan sebuah anak kunci dan memasukkan ke dalam lubangnya. Ia memutar sekali, dan pintu di hadapannya terbuka perlahan. Dengan langkah pelan ia berjalan masuk diikuti Pranoto.
Tidak ada yang aneh dari kamar Arumi. Tempat tidurnya tertata rapi. Lemarinya tertutup rapat. Di seberangnya terdapat meja belajar dengan buku-buku tersusun di atasnya, juga sebuah kalender dengan tanggal yang banyak dilingkari.
Tangan Timah terulur merapikan tumpukan buku yang sedikit berantakan. Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah benda di balik sebuah buku. Ia menariknya.
“Yaa Allah …” Tubuh Timah limbung saat menyadari benda di tangannya. Pranoto segera memapah tubuh istrinya. Ia menarik kursi dan mendudukkan Timah di sana.
“I-ini … ini testpack, Pak” Wajah Pranoto langsung berubah
“Hasilnya positif …” lirih Timah.
“Ngga mungkin, Bu. Arumi anak yang baik. Ngga mungkin dia ber …” Tidak sampai hati Pranoto mengucapkan hal itu. Apalagi saat melihat Timah yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Bi-bibi sama Paman ngapain di kamarku?” Timah dan Pranoto tersentak kaget. Mereka berdua menatap Arumi yang berdiri di ambang pintu. Arumi menatap Timah, kemudian matanya teralih pada hasil testpack di tangan bibinya. Arumi terhenyak. Timah berjalan menghampiir.
Plak!
Arumi yang masih syok hanya bisa terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
“Apa yang kamu lakukan, Arumi?! Kamu berzina?!” Arumi menggeleng. Airmatanya deras berjatuhan.
“Ngga, Bi. Aku ngga melakukan itu …”
“Lalu apa ini?!”
“I-Itu …” Arumi tidak bisa menjawab.
“Katakan siapa lelaki itu, Nduk?” Pranoto bertanya lembut.
“Biar Paman dan Bibi mendatangi orangtuanya.”
“Paman …” Arumi menubruk tubuh Pranoto dan menangis. Segala yang selama ini ia pendam tertumpahkan di bahu paman yang sudah dianggap ayahnya sendiri itu.
“A-aku ngga tahu, Paman …” Pranoto dan Timah saling bertatapan.
“Kamu ngga tahu siapa yang menghamili kamu?”
“Bu-bukan itu …”
“Ya sudah, kamu tenangkan diri kamu dulu ya. Paman dan Bibi akan bicara dulu.”
“Ngga ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak,” tandas Timah. Ia berjalan menghampiri Arumi.“Bereskan barang-barang kamu. Pergi dari rumah ini.”
“Bu!” Pranoto terkejut mendengar ucapan istrinya.
“Setiap sore Pamanmu mengajar mengaji di lingkungan ini. Apa yang akan dikatakan orang-orang jika keponakannya hamil di luar nikah.” Arumi jatuh berlutut dan menangis sambil memeluk kaki Timah.
“jangan usir aku, Bi. Aku harus pergi ke mana? …” ucap Arumi diantara isaknya.
“Temui Bibi dan Paman lagi bersama lelaki itu.” Keputusan Timah membuat Arumi terdiam. Ia mengajak suaminya meninggalkan Arumi sendirian. Pranoto menatap keponakannya dengan sedih, kemudian mengikuti langkah istrinya. Meninggalkan Arumi dalam kesendirian. Tangis perempuan itu semakin menghebat.
Pranoto duduk di hadapan istrinya di ruang dapur.
“Bu, kamu jangan sekeras itu sama Arumi.”
“Aku merasa gagal mendidik dia, Pak …” lirih Timah.
“Sebaiknya tenangkan diri dulu, Bu. Baru kita cari jalan keluarnya. Anak itu juga sedang bingung saat ini. Kita jangan mendesaknya dulu.” Timah merasa ucapan suaminya itu benar. Ia mengangguk pelan. merasa bersalah karena tadi telah menekan Arumi.
“Tolong antarkan makanan ke kamar Arumi, Pak. Aku takut dia belum makan dari pagi. Kasihan anak dalam kandungannya.”
“Aku buatkan sup ayam buat Rumi ya. kebetulan masih ada ayam dan sayuran sisa jualan sayur tadi.” Timah mengangguk pelan.
“Aku istirahat dulu ya. Kepalaku sakit banget.”
“Iya, Bu. Jangan sampai vertigo kamu kambuh. Biar aku yang jaga Arumi.” Pranoto memotong ayam dan meracik bumbu. Tangan dan pikirannya sama-sama sibuk bekerja. Setelah selesai ia membawa makanan itu ke kamar Arumi.
“Rum …” Pranoto mengetuk pintu kamar pelan. Tidak ada jawaban.
“Paman bikinin sup ayam buat kamu.” Tetap hening. Pranoto mendorong handle pintu. Kamar itu tampak lengang dan sunyi.
“Rum!” Pranoto melirik ke kamar mandi. Pintunya terbuka dan kosong. Lelaki itu menaruh baki berisi nasi dan sup di atas meja. Ia membuka lemari pakaian. Isinya hanya tersisa sedikit. Tas yang tadi dipakai Arumi juga sudah tidak ada. Pranoto tampak bingung. Dengan linglung ia keluar dari kamar Arumi, menuju ke kamarnya sendiri di lantai bawah. Ia harus memberitahu Timah, tapi ia takut istrinya itu kaget. Pranoto menatap Timah yang sudah tertidur. Wajah perempuan itu tampak basah karena airmata.
“Bu …” Lelaki itu mengguncangkan tubuh Timah perlahan. Perempuan itu membuka mata.
“Rumi, Bu …” Pranoto tampak bimbang.
“Kenapa Rumi, Pak?”
“Dia … Ngga ada di kamarnya …” Timah bangun dengan terburu-buru.
“Kemana dia, Pak?”
“Bapak ngga tahu, Bu. tadi kamarnya sudah kosong.”
“Coba cari dulu, Pak.” Pranoto pergi dan mencari Arumi di sekitar rumah. Namun ia kembali tanpa mendapatkan hasil. Timah tampak sedang mencoba menghubungi seseorang.
“Nduk, kamu di mana? Cepat kembali. Jangan menambah masalah.”
“Aku akan kembali bersama ayah anak ini, Bi,” balas Arumi di seberang.
“Pulang dulu, Nduk. Kita bicarakan ini bersama.”
“Ngga, Bi. Ini masalah Arumi. Aku akan menyelesaikannya sendiri …”
“Maafkan Bibi, Nduk. Bibi ngga bisa berpikir dengan jernih tadi. Bibi ngga bermaksud mengusir kamu.” Arumi mengusap airmatanya.
“Tolong doakan Rumi ya, Bi,” ucap Arumi sebelum memutus sambungan telepon. Ia menggigit bibir menahan tangis. Menimang kartu nama di tangannya. Perlukah ia menghubungi orang itu?
Arumi hendak mengetikkan sebuah nomor di ponselnya namun di kejauhan ia melihat bus yang sedang ditunggunya sudah tiba. Ia menghela napas. Ia akan mengumpulkan keberanian lagi nanti untuk menghubungi Bastian.
Arumi meraih tas besarnya lalu menyebrang jalan, namun …
Bruaakkkk!
Lampu di lorong Rumah Sakit yang melintas begitu cepat di atas kepalanya. Arumi memejamkan mata hingga roda brankar itu berdecit pelan dan berhenti. Perempuan itu membuka mata. Tampak perawat sedang menutup tirai pembatas. Di seberangnya bednya, tampak seorang perempuan terbaring lemah, ditemani seorang lelaki yang sibuk dengan gadgetnya.Bastian membelai lembut rambut Arumi. Perawat yang tadi mengantar mereka telah menghilang.“Maaf ya, Arumi. Kamar VIP ataupun VVIPnya sedang full. Kamu ngga apa-apa kan dirawat bersama orang lain. Nanti kalau sudah ada kamar VIP yang kosong, aku sudah minta biar kamu dipindahkan.” Arumi menggeleng lemah. Ia tidak menyangka harapannya untuk ke Rumah Sakit dikabulkan meskipun dengan cara yang tidak wajar. Ia tidak peduli jika harus berbaring di parkiran Rumah Sakit sekalipun asal janinnya dapat diselamatkan.“Masih mulas?” Arumi menggeleng lagi.“Pendarahannya sudah berhenti. Sekarang kamu istirahat saja ya.” Arumi memejamkan mata. Bastian menutup tira
Arumi duduk di ruang periksa dengan raut khawatir. Tangannya meremas ujung baju untuk meredakan kegelisahan. Bidan Rahayu yang duduk di hadapannya tampak memeriksa buku KIA Arumi dengan dahi berkerut.“Ibu jarang kontrol kandungan ya?”“I-iya, Bu Bidan,” jawab Arumi lirih.“Ibu ada keluhan apalagi selain pusing dan sakit kepala?”“Kadang saya merasa mual dan nyeri ulu hati. Juga …” Arumi ragu-ragu meneruskan kalimatnya. Takut bidan tersebut menghakimi dirinya karena jarang kontrol kandungan.“Kenapa? Ibu harus jujur dalam pemeriksaan agar mudah terdeteksi jika ada kelainan pada janin?”“Sepertinya bayinya tidak bergerak lincah, Bu Bidan,” ucap Arumi akhirnya. Perempuan setengah baya itu tidak menjawab. Ia menulis sesuatu di buku KIA dan kartu status pasien.“Saya buatkan rujukan ke rumah sakit ya, Bu.” Arumi tertegun.“Apa ngga bisa disembuhkan di sini, saja, Bu?” Bidan Rahayu Menggeleng.Tensi Ibu tinggi. Itu bisa berbahaya untuk janin jika dibiarkan terlalu lama. Alat-alat di sini j
“Ma-Maaf …,” ucap Arumi gugup sambil menunduk hendak memungut sendok tersebut., namun Maika menahannya.“Oh, No! No, Sayang!” Ia berkata kepada para followernya.“Ingat ya, Gais, alat makan yang sudah terjatuh jangan dipungut kembali.” Maika tertawa, namun terdengar bagai ejekan bagi Arumi.“Masa gitu ajah ngga ngerti.”“Money can't buy class.”“Bastian salah pilih istri.”“Memalukan.”“Semoga Bastian cerain dia dan jadian sama Maika.”“Tegakkan tubuh kamu, Arumi. Ayo, kita mulai makan.” Arumi menegakkan tubuhnya dengan kaku.Bastian mendatangi mereka. Maika melihat lewat ekor matanya dan tersenyum licik. Ia sengaja mengarahkan Arumi untuk mengambil garpu dan pisau yang salah.“Kita mulai dengan bruschetta ya untuk appetizernya.”“Halo, Mai.” sapa Bastian “Hai, Bas. Gimana kabar kamu?” Maika menyapanya hangat seakan ingin menunjukkan kedekatan mereka pada Arumi.“Aku lagi ajarin Arumi table manner nih. Arumi kan sudah jadi bagian keluarga Burhanuddin. Harus belajar sedikit-sedikit.”
Arumi dan Mbok Ngah duduk di bangku kayu di halaman depan. Mbok Ngah tampak mengolesi tangan dan jemari Arumi dengan salep luka bakar. “Seharusnya segera diobati pas kena kemarin. Kalau kelamaan nanti jadi bertanda.” Ucap Mbok Ngah sambil mengolesi obat tersebut dengan telaten. Arumi hanya terdiam melamun. Tidak lagi dapat merasakan nyeri dan panas di tangannya.“Sepertinya aku telah membuat kesalahan besar, Mbok …” gumam Arumi sambil menatap Mbok Ngah yang telaten mengobati tangannya. Perempuan tua itu mengalihkan tatapannya dan tersenyum.“Sabar, Nduk.” Suaranya terdengar lembut.“Kesabaran akan membuahkan hasil. Meskipun memakan waktu. Seperti batu yang terkikis air.”“Berapa lama air mengikis sebuah batu besar, Mbok?” tanya Arumi sambil menyandarkan kepalanya ke tembok di belakang.Suara deru mobil menyadarkan mereka. Sebuah mobil berhenti diikuti mobil lainnya dari dalamnya keluar seorang gadis cantik dan modis yang sedang live di akun sosmednya dengan kamera ponselnya.“Hello,
“Kalian sedang apa?” Bastian menatap bingung -orang.“Oh kamu sudah pulang, Bastian.” Lenny memecahkan suasana canggung yang tercipta.“Kami balik dulu ya, Bas.” ujar Nita sambil mengajak kedua temannya pergi.“Lho kok sudah mau pulang, Tante? Tumben.”“Kamu tanya aja sama dia.” tunjuk Nita ke arah Arumi yang masih bergeming di tempatnya. Setelah itu ketiga perempuan tersebut meninggalkan tempat itu.“Ada apa sih, Rum?” tanya Bastian setelah hanya tinggal mereka bertiga di sana. Arumi masih membisu.“Bund?” Bastian mencari jawaban lain.“Apa yang terjadi?” Lenny pura-pura menebah dadanya.“Aduh, Bunda bingung harus jelasin bagaimana. Ini lho, Arumi …”“Kenapa dengan Arumi?” Bastian tampak khawatir.“Tadi dia hampir menyakiti teman-teman Bunda. Arumi … “ Lenny menjeda kalimatnya seakan menambah kesan dramatis.“ … Menyiramkan air panas ke Tante Nita dan dan Tante Ratih.” “Apa?” Bastian menatap tak percaya. Wajah Arumi semakin pucat.“Ngga, Bas. Bukan begitu kejadiannya.” Arumi menatap
Nampan di tangan Arumi terjatuh menimpa meja kaca. Menimbulkan bunyi berisik yang mengganggu. Teko dan cangkir saling tumpang tindih. Sebagian jatuh ke bawah meja. Menimbulkan suara yang keras dan nyaring saat beradu dengan lantai marmer dan kemudian pecah berserakan..Dengan terburu-buru dan panik Arumi segera merapikan teko dan cangkir yang terjungkal. ia tidak mempedulikan tangannya yang tersiram air panas, atau jarinya yang tergores pecahan cangkir.“Apa-apaan kamu, Arumi!” Lenny bangkit dan tampak marah besar. Ia menarik lengan Arumi dan mendorongnya dengan kasar“Kamu bisa kerja ngga sih?! kalau teman-teman saya terluka gimana?! kamu mau tanggung jawab?!” cecar Lenny.“Bu- Bukan aku, Bund …” Arumi menggoyangkan telapak tangannya ke depan dada.“Bukan aku yang melakukannya ...”“Duh, tanganku kena air panas nih. Melepuh.” Seorang teman Lenny sengaja menyiramkan bensin dalam kobaran api.“Aku juga kecipratan air panas.” Yang lain ikut membawakan kompor“Kamu dapat pembantu dari







