MasukThomas mendongakkan kepala. Pakaiannya kusut tak terurus.Di sela jarinya ada sebatang rokok. Asap rokok menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya kerut kesedihan di antara alisnya yang tak bisa disamarkan.Setelah tidak bertemu selama beberapa waktu, kedua orang itu sama-sama tampak jauh lebih kurus, seolah satu embusan angin saja bisa menjatuhkan mereka. Aku berpura-pura tidak melihat, berniat langsung melewati mereka."Nancy, akhirnya kamu kembali." Thomas melangkah ke hadapanku, suaranya sarat dengan emosi.Aku malas membuang waktu dan langsung bertanya, "Ada perlu apa?"Dia mengangkat sudut bibirnya sedikit dan tersenyum getir, "Apa benar ... kita sudah sama sekali nggak mungkin lagi?"Aku menatap ke kejauhan dan menjawab dengan datar, "Thomas, kita sudah lama berakhir. Nggak ada kemungkinan apa pun lagi."Orang di hadapanku ini, pernah kucintai dengan seluruh hidupku selama sepuluh tahun. Namun setelah benar-benar melepaskannya sekarang, hatiku sudah terasa begitu tenang. Rasa suka
Dia berlari tergesa-gesa menghampiri kami, berdiri melindungi Thomas di belakangnya, lalu menatapku dengan wajah penuh permusuhan. "Nancy, selama aku masih di sini, jangan harap kamu bisa menindas Thomas!""Aku peringatkan kamu, dasar perempuan matre. Bukankah tujuanmu hanya ingin terus menempel pada Thomas dan nggak mau bercerai? Kita sama-sama perempuan, jangan kira aku nggak tahu apa yang ada di pikiranmu!"Aku sangat paham, dia hanya sedang mengadu domba dan pamer diri seperti biasa. Aku pun mengangkat tangan dengan tidak sabar untuk menghentikannya. "Diam. Aku nggak punya waktu mendengar omong kosongmu."Setelah itu aku hendak pergi, tetapi Brittany belum juga berhenti. Dia malah mencoba menerjang ke depan dan ingin mencengkeramku. Jadi, aku langsung mengangkat tangan untuk menampar wajahnya. Tamparan itu membuatnya terjatuh ke tanah."Kalau kamu ingin mati, silakan saja coba."Merasa dipermalukan, Brittany hendak membalas.Detik berikutnya, terdengar suara tamparan yang sangat ny
Sementara itu, jerih payah kerjaku selama beberapa waktu akhirnya membuahkan hasil. Tidak lama kemudian, laporan akademik baruku berhasil dipublikasikan.Hari itu, dosen pembimbing mengadakan jamuan perayaan. Rekan-rekan kerja bahkan membentangkan spanduk untukku. Suasananya sangat meriah. Aku memeluk bunga yang dikirim oleh Sierra dan Aira, lalu tersenyum dari lubuk hati yang terdalam.Mungkin ini adalah hari paling membahagiakan yang pernah kurasakan selama bertahun-tahun.Setelah acara berakhir, aku keluar dari hotel diiringi kerumunan orang, tubuh dan pikiranku terasa ringan. Tak kusangka, begitu keluar aku melihat Thomas datang bersama Jay. Di tangan mereka juga ada rangkaian bunga.Begitu melihatku, Thomas segera menyongsong ke depan, ekspresinya tampak agak canggung. "Nancy, selamat."Entah bagaimana, Jay juga berkata dengan patuh, "Mama, kamu hebat sekali."Nada bicaranya terdengar begitu alami, seolah-olah kami masih satu keluarga, seolah semua luka itu tidak pernah terjadi. H
Jay menatapku dengan wajah penuh keluhan, lalu membuka mulut dan memanggil, "Mama, aku seharian belum makan, lambungku sangat sakit."Namun aku tetap berdiri di tempat, tidak tergerak sedikit pun. "Mama, bisa nggak kamu memasakkan sup iga dan daging kecap untukku?"Kali ini, aku langsung melewatinya begitu saja, lalu mengeluarkan kunci dan membuka pintu. "Nggak bisa."Melihat sikapku yang begitu tegas, Jay tertegun sejenak, barulah dia menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda."Mama, bukankah Mama paling menyayangi Jay? Kamu nggak bisa nggak peduli padaku."Aku tersenyum dan balik bertanya, "Atas dasar apa? Kenapa aku harus mengurusmu?""Jay, aku sudah bukan ibumu. Hak asuhmu ada pada Thomas. Waktu itu juga kamu sendiri yang memilih ikut dengannya dan menyuruhku angkat kaki dari rumah kalian."Jay mulai panik. Dia berdiri dari tanah dan berusaha menarik lenganku. "Mama, meski kamu dan Papa bercerai, kita tetap ibu dan anak kandung. Darah yang mengalir di tubuh kita sama."Benar. Justr
Jay menggigit bibirnya sambil menatapku, di matanya bahkan tampak sedikit rasa tersinggung dan sedih.Aku tidak mengerti. Bukankah dia paling membenci jika aku menunjukkan perhatian kepadanya di depan umum? Lalu untuk siapa sikap seperti ini dia perlihatkan?Lagi pula, sekarang aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengan mereka. Karena itu, aku bahkan tidak melirik mereka sedikit pun.Namun, Aira tiba-tiba berdiri di depan untuk melindungiku. "Kalian orang-orang jahat, nggak boleh menindas Mama Nancy!"Jay tetaplah anak kecil. Begitu terpancing, dia langsung kehilangan kendali dan berteriak keras ke arah Aira, "Dia itu mamaku, bukan milikmu!"Itu adalah pertama kalinya Jay mengakui di depan orang lain bahwa aku adalah ibunya. Namun aku tahu, dia hanya menganggapku sebagai miliknya sendiri, tidak mengizinkan orang lain menyentuh atau memilikinya.Itu bukan cinta.Melihat dia masih hendak maju dan mendorong Aira, aku segera menghalangi Jay. Tanpa sengaja, dia sendiri malah terjatuh ke ta
Di belakangku, Thomas melihatku tetap setenang itu dan langsung naik pitam. Akhirnya aku menemukan Aira, lalu mengeluarkan kue kecil yang kubuat khusus untuknya. Gadis kecil itu langsung tersenyum lebar."Wow, Mama Nancy hebat banget!""Enak sekali, ini kue kecil paling enak yang pernah aku makan."Sambil bicara, dia membagikannya kepada teman-teman sekelasnya. Anak-anak yang bermulut manis pun ikut memuji, "Aira, mama angkat kamu baik sekali. Aku jadi iri!""Jelas dong. Mama angkatku bukan cuma masak enak, tapi juga bisa meneliti obat, bisa menyelamatkan banyak nyawa. Hebat banget!"Melihat ekspresi bangga dan penuh kebanggaan di wajah Aira, hatiku terasa hangat. Perasaan seperti ini belum pernah kurasakan dari Jay.Aku teringat suatu kali, guru mengatakan bahwa dia tidak makan sampai kenyang di sekolah. Saat itu aku benar-benar panik, sehingga menyiapkan bekal dan jus dengan penuh perhatian, lalu segera mengantarkannya ke sekolah.Namun di hadapanku, dia malah membuang semuanya ke te







