Share

Bab 2

Penulis: Smiley
Begitu kata-kata itu terucap, ayah dan anak yang duduk di sofa bahkan tidak mengubah ekspresi sedikit pun, malah merasa aku tidak tahu diri.

"Nancy, kamu perlu segitunya membesar-besarkan masalah? Jelas-jelas kamu sendiri yang salah. Kami hanya menyuruhmu merenung di luar semalam, memangnya salah?"

Aku membuka mulut, tetapi tak mampu membantah sepatah kata pun. Dia mengatakannya dengan begitu enteng, seolah-olah lupa bahwa di bulan ini, wilayah utara sudah lama memasuki musim dingin.

Sebelumnya aku kehujanan deras di jalan selama beberapa jam sambil menunggu ayah dan anak itu, lalu bertahan di luar semalaman dengan suhu yang rendah. Akibatnya, aku demam tinggi hingga berubah menjadi pneumonia. Kalau bukan karena ada yang berbaik hati mengantarku ke rumah sakit, mungkin nyawaku sudah melayang.

Wajahku tetap tenang. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum pahit. "Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan. Tanda tangani saja."

Mendengar itu, ekspresi Thomas tampak sedikit terkejut. Selama ini, hanya dia yang pernah mengungkit perceraian saat bertengkar denganku. Kapan aku pernah mengajukannya lebih dulu?

"Nancy, kamu sadar apa yang kamu lakukan?"

Efek sisa demam tinggi membuat tubuhku lemas. Aku memaksa diri tetap berdiri tegak dan berujar dengan tegas, "Aku tahu. Pernikahan ini sudah nggak perlu dilanjutkan lagi."

Thomas yang sejak dulu terbiasa dipuja dan dituruti, melihat sikapku yang begitu tegas, langsung memasang wajah suram. Amarahnya meledak. "Oke! Cerai ya cerai!"

Dia meraih surat perjanjian perceraian itu, lalu melemparkannya dengan keras ke wajahku. "Nancy, aku beri tahu kamu, perempuan sepertimu sama sekali nggak pantas untukku! Kamu nggak punya uang, nggak punya kekuasaan. Aku mau lihat, setelah cerai dariku, gimana kamu bisa hidup!"

"Jangan harap kamu bisa merebut anakku dariku. Hak asuh Jay harus jatuh ke tanganku. Aku nggak akan membiarkan dia ikut hidup miskin bersamamu!"

Saat itu, Jay buru-buru memeluk kaki ayahnya dan berteriak lantang, "Hanya perempuan selembut dan sebaik Tante Brittany yang pantas untuk Papa! Dia bisa main piano, bisa mengajariku berenang. Nggak seperti kamu, nggak bisa apa-apa! Kamu bukan mamaku lagi! Pergi dari rumah kami!"

Wajah anak kecil itu cukup mirip denganku, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya menusuk tepat ke jantung. Seandainya aku yang dulu mendengar ucapan seperti ini, pasti sudah menangis hingga hancur.

Namun sekarang, di kepalaku hanya ada satu pikiran. Ikatan ibu dan anak telah sampai di ujung.

"Tenang saja, aku nggak akan memperebutkan hak asuh." Kemudian, aku menatap Jay dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Mulai sekarang, kamu juga bukan anakku lagi. Terserah kamu mau siapa jadi ibumu."

Setelah mengatakan itu, aku bahkan tidak melirik mereka berdua dan langsung menuju kamar untuk berkemas. Barang-barangku sangat sedikit, hanya beberapa set pakaian ganti. Itulah seluruh hartaku.

Selama bertahun-tahun ini, hidupku sepenuhnya berputar di sekitar Thomas dan Jay. Mereka senang, aku pun senang, sampai-sampai aku hampir kehilangan diriku sendiri.

Aku melepaskan segalanya demi menjaga rumah ini, tetapi di mata mereka, keluarga ini ternyata bisa ada atau tidak ada. Kupikir ketulusan akan dibalas dengan ketulusan, tetapi ternyata aku terlalu bodoh.

Sebelum pergi, aku sengaja melepas cincin di jari manisku dan meletakkannya di atas nakas. Cincin ini kupakai selama sepuluh tahun, juga mengurungku selama sepuluh tahun. Sekarang, aku bebas.

Saat aku membawa koper dan pergi, Thomas dan Jay sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Dari layar ponsel, terdengar suara perempuan.

"Jay hari ini patuh nggak? Besok Tante Brittany akan bawain kamu hadiah, boneka beruang yang kamu inginkan."

Itu adalah Brittany.

Jay menyahut dengan antusias. Suaranya manis dan ceria. "Tante Brittany paling baik! Sampai ketemu besok!"

Sorot mata Thomas terlihat lembut, sikapnya seperti suami teladan, sama sekali berbeda dengan sosok arogan dan kasar sebelumnya. "Brittany, jangan terlalu memanjakan anak ini. Nanti jadi manja."

Seketika, seluruh rumah dipenuhi tawa dan keceriaan mereka bertiga, sementara aku kembali menjadi orang yang paling tidak dibutuhkan. Namun, semua itu sudah tidak penting lagi. Setelah berkali-kali terluka, cintaku pada mereka telah habis terkuras.

Kepalaku semakin pusing. Aku tahu sudah waktunya pergi. Kali ini, aku melangkah dengan tegas, tanpa ragu dan tanpa suara.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ditinggalkan Suami Dan Anak Demi Cinta Pertamanya   Bab 12

    Thomas mendongakkan kepala. Pakaiannya kusut tak terurus.Di sela jarinya ada sebatang rokok. Asap rokok menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya kerut kesedihan di antara alisnya yang tak bisa disamarkan.Setelah tidak bertemu selama beberapa waktu, kedua orang itu sama-sama tampak jauh lebih kurus, seolah satu embusan angin saja bisa menjatuhkan mereka. Aku berpura-pura tidak melihat, berniat langsung melewati mereka."Nancy, akhirnya kamu kembali." Thomas melangkah ke hadapanku, suaranya sarat dengan emosi.Aku malas membuang waktu dan langsung bertanya, "Ada perlu apa?"Dia mengangkat sudut bibirnya sedikit dan tersenyum getir, "Apa benar ... kita sudah sama sekali nggak mungkin lagi?"Aku menatap ke kejauhan dan menjawab dengan datar, "Thomas, kita sudah lama berakhir. Nggak ada kemungkinan apa pun lagi."Orang di hadapanku ini, pernah kucintai dengan seluruh hidupku selama sepuluh tahun. Namun setelah benar-benar melepaskannya sekarang, hatiku sudah terasa begitu tenang. Rasa suka

  • Ditinggalkan Suami Dan Anak Demi Cinta Pertamanya   Bab 11

    Dia berlari tergesa-gesa menghampiri kami, berdiri melindungi Thomas di belakangnya, lalu menatapku dengan wajah penuh permusuhan. "Nancy, selama aku masih di sini, jangan harap kamu bisa menindas Thomas!""Aku peringatkan kamu, dasar perempuan matre. Bukankah tujuanmu hanya ingin terus menempel pada Thomas dan nggak mau bercerai? Kita sama-sama perempuan, jangan kira aku nggak tahu apa yang ada di pikiranmu!"Aku sangat paham, dia hanya sedang mengadu domba dan pamer diri seperti biasa. Aku pun mengangkat tangan dengan tidak sabar untuk menghentikannya. "Diam. Aku nggak punya waktu mendengar omong kosongmu."Setelah itu aku hendak pergi, tetapi Brittany belum juga berhenti. Dia malah mencoba menerjang ke depan dan ingin mencengkeramku. Jadi, aku langsung mengangkat tangan untuk menampar wajahnya. Tamparan itu membuatnya terjatuh ke tanah."Kalau kamu ingin mati, silakan saja coba."Merasa dipermalukan, Brittany hendak membalas.Detik berikutnya, terdengar suara tamparan yang sangat ny

  • Ditinggalkan Suami Dan Anak Demi Cinta Pertamanya   Bab 10

    Sementara itu, jerih payah kerjaku selama beberapa waktu akhirnya membuahkan hasil. Tidak lama kemudian, laporan akademik baruku berhasil dipublikasikan.Hari itu, dosen pembimbing mengadakan jamuan perayaan. Rekan-rekan kerja bahkan membentangkan spanduk untukku. Suasananya sangat meriah. Aku memeluk bunga yang dikirim oleh Sierra dan Aira, lalu tersenyum dari lubuk hati yang terdalam.Mungkin ini adalah hari paling membahagiakan yang pernah kurasakan selama bertahun-tahun.Setelah acara berakhir, aku keluar dari hotel diiringi kerumunan orang, tubuh dan pikiranku terasa ringan. Tak kusangka, begitu keluar aku melihat Thomas datang bersama Jay. Di tangan mereka juga ada rangkaian bunga.Begitu melihatku, Thomas segera menyongsong ke depan, ekspresinya tampak agak canggung. "Nancy, selamat."Entah bagaimana, Jay juga berkata dengan patuh, "Mama, kamu hebat sekali."Nada bicaranya terdengar begitu alami, seolah-olah kami masih satu keluarga, seolah semua luka itu tidak pernah terjadi. H

  • Ditinggalkan Suami Dan Anak Demi Cinta Pertamanya   Bab 9

    Jay menatapku dengan wajah penuh keluhan, lalu membuka mulut dan memanggil, "Mama, aku seharian belum makan, lambungku sangat sakit."Namun aku tetap berdiri di tempat, tidak tergerak sedikit pun. "Mama, bisa nggak kamu memasakkan sup iga dan daging kecap untukku?"Kali ini, aku langsung melewatinya begitu saja, lalu mengeluarkan kunci dan membuka pintu. "Nggak bisa."Melihat sikapku yang begitu tegas, Jay tertegun sejenak, barulah dia menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda."Mama, bukankah Mama paling menyayangi Jay? Kamu nggak bisa nggak peduli padaku."Aku tersenyum dan balik bertanya, "Atas dasar apa? Kenapa aku harus mengurusmu?""Jay, aku sudah bukan ibumu. Hak asuhmu ada pada Thomas. Waktu itu juga kamu sendiri yang memilih ikut dengannya dan menyuruhku angkat kaki dari rumah kalian."Jay mulai panik. Dia berdiri dari tanah dan berusaha menarik lenganku. "Mama, meski kamu dan Papa bercerai, kita tetap ibu dan anak kandung. Darah yang mengalir di tubuh kita sama."Benar. Justr

  • Ditinggalkan Suami Dan Anak Demi Cinta Pertamanya   Bab 8

    Jay menggigit bibirnya sambil menatapku, di matanya bahkan tampak sedikit rasa tersinggung dan sedih.Aku tidak mengerti. Bukankah dia paling membenci jika aku menunjukkan perhatian kepadanya di depan umum? Lalu untuk siapa sikap seperti ini dia perlihatkan?Lagi pula, sekarang aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengan mereka. Karena itu, aku bahkan tidak melirik mereka sedikit pun.Namun, Aira tiba-tiba berdiri di depan untuk melindungiku. "Kalian orang-orang jahat, nggak boleh menindas Mama Nancy!"Jay tetaplah anak kecil. Begitu terpancing, dia langsung kehilangan kendali dan berteriak keras ke arah Aira, "Dia itu mamaku, bukan milikmu!"Itu adalah pertama kalinya Jay mengakui di depan orang lain bahwa aku adalah ibunya. Namun aku tahu, dia hanya menganggapku sebagai miliknya sendiri, tidak mengizinkan orang lain menyentuh atau memilikinya.Itu bukan cinta.Melihat dia masih hendak maju dan mendorong Aira, aku segera menghalangi Jay. Tanpa sengaja, dia sendiri malah terjatuh ke ta

  • Ditinggalkan Suami Dan Anak Demi Cinta Pertamanya   Bab 7

    Di belakangku, Thomas melihatku tetap setenang itu dan langsung naik pitam. Akhirnya aku menemukan Aira, lalu mengeluarkan kue kecil yang kubuat khusus untuknya. Gadis kecil itu langsung tersenyum lebar."Wow, Mama Nancy hebat banget!""Enak sekali, ini kue kecil paling enak yang pernah aku makan."Sambil bicara, dia membagikannya kepada teman-teman sekelasnya. Anak-anak yang bermulut manis pun ikut memuji, "Aira, mama angkat kamu baik sekali. Aku jadi iri!""Jelas dong. Mama angkatku bukan cuma masak enak, tapi juga bisa meneliti obat, bisa menyelamatkan banyak nyawa. Hebat banget!"Melihat ekspresi bangga dan penuh kebanggaan di wajah Aira, hatiku terasa hangat. Perasaan seperti ini belum pernah kurasakan dari Jay.Aku teringat suatu kali, guru mengatakan bahwa dia tidak makan sampai kenyang di sekolah. Saat itu aku benar-benar panik, sehingga menyiapkan bekal dan jus dengan penuh perhatian, lalu segera mengantarkannya ke sekolah.Namun di hadapanku, dia malah membuang semuanya ke te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status