LOGIN“Kami…. “Tangan Damien terangkat saat Rara mulai bicara. Lelaki itu lalu menggeleng.“Istriku lapar. Aku sedang tidak ingin mendengarkan penjelasan apa pun… lagi.”Tak peduli pada wajah penasaran Marcel dan Rara, Damien mengajak Melody ke restoran. Tetapi, Rara dan Marcel malah membuntuti, bahkan hingga masuk ke restoran.“Untuk dua orang, please,” ucap Damien pada pelayan.“Empat orang,” ralat Marcel. “Tolong siapkan meja untuk empat orang.”Pelayan itu mengerjap. Ia menatap Damien lalu Marcel. Dan tentu saja ia mengenal Marcel. Penyanyi tampan yang sedang naik daun. Pelayan berpikir akan sangat merugikan jika tidak memenuhi permintaan Marcel.“Bagaimana jika Marcel mengunggah di media sosial bahwa service di restoran mahal ini tidak baik?” Pelayan itu membatin dan berpikir cepat lalu segera menyiapkan meja yang diminta Marcel.Untungnya, Damien tidak peduli. Ia sedang fokus pada Melody yang kelaparan. “Damien, aku dan Marcel berpacaran.” Rara langsung melapor saat pelayan pergi s
Suara bariton yang menggelegar tiba-tiba itu sukses membuat Aristha tersentak kaget. Sang psikolog anak, yang biasanya selalu tampil luar biasa tenang dan profesional, seketika merona merah hingga ke telinga. Ia buru-buru menarik tubuhnya menjauh dan menunduk hormat dengan sangat canggung. "T-Tuan Damien. Nyonya Melody," sapa Aristha santun.Sementara itu, alih-alih panik karena tertangkap basah, Lionel hanya menarik tangannya perlahan. Lelaki itu menyandarkan punggungnya ke kursi, membalas tatapan membunuh Damien dengan senyum menawan yang sama sekali tidak memudar.Melody yang sudah berdiri di sebelah suaminya segera memegang lengan Damien untuk sekedar menenangkan sang suami."Ini pemandangan yang sangat... menarik," sindir Melody, menatap Lionel dan Aristha secara bergantian. Mendengar cecaran langsung dari sepasang suami istri yang terkenal tanpa ampun ini, Aristha tampak semakin salah tingkah, seolah ingin menghilang saja ditelan lantai pualam restoran tersebut.Namun Lionel j
Selesai bicara dengan Kakek Aiden, Damien berjalan gontai ke paviliun pribadinya.Gema nada terakhir dari permainan piano Melody perlahan mengudara dan memudar di keheningan paviliun. Tepat saat wanita itu melepaskan jemarinya dari tuts gading, Damien dengan sepasang lengan kekarnya melingkar posesif dari arah belakang, memeluk bahu dan pinggangnya dengan erat.Aroma maskulin dan aroma cologne mahal khas Damien membuat Melody tersenyum. Ia sampai tidak sadar sang suami sudah berada di dekatnya."Kakek Aiden suka banget denger permainan pianomu yang luar biasa ini terdengar lagi di paviliun," bisik Damien tepat di telinga Melody, mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi istrinya. Melody memutar tubuhnya di atas kursi piano, menatap suaminya dengan senyum manis. "Kakek Aiden bilang gitu? Aku tersanjung.”Damien tertawa rendah, menyandarkan pinggulnya di tepi grand piano."Tapi, kami tidak bicara banyak lagi tentang musikmu. Kakek menanyakan keputusan kita akan tinggal di mana setelah
Pagi ini, Melody dan Damien kembali mengantar Ivan ke paviliun. Kedatangan keluarga kecil Damien disambut oleh pemandangan yang cukup maskulin di area serambi.Lionel baru saja menyelesaikan rutinitas olahraga paginya yang intens. Kaus olahraga tanpa lengannya tampak sedikit menempel pada tubuh atletisnya akibat keringat, dengan sebuah handuk kecil tersampir santai di leher. Meskipun baru saja menguras tenaga, aura tampannya sama sekali tidak luntur.Begitu melihat kereta dorong Ivan memasuki paviliun, wajah Lionel langsung berbinar cerah."Selamat pagi, Jagoan Kecil!" sapa Lionel dengan nada riang, melangkah mendekat berniat menggoda keponakannya.Namun, sebelum jari Lionel sempat menyentuh pipi gembil Ivan, sebuah dehaman berat dan sarat akan peringatan terdengar dari arah belakang kereta dorong."Jaga jarakmu, Lionel. Jangan berani-berani menempelkan bakteri dan keringat pasca-olahragamu pada putraku yang baru saja mandi," titah Damien dengan nada bariton mutlaknya. Selain bentakan
“Lalu, mereka ngomong apa saat kamu sindir begitu?”Damien menatap istrinya yang bercerita tentang Lionel dan Rara yang menemani putra mereka.“Katanya, Nenek Ema yang meminta mereka menemani Ivan. Kasihan kalau hanya ditemani pengasuh dan Aristha.”“Bukannya Sharone ikut sama kalian?”“Sharone hanya satu jam di paviliun. Nggak tau pergi ke mana.”Damien mengangguk pelan. Matanya menatap Ivan yang sedang diajak ngobrol oleh Nada dan Gerry. Seperti mengerti, Ivan mengoceh dan dibalas oleh sang mertua.Sejak Damien datang untuk menjemput, ia hanya sempat mencium kepala Ivan. Nada dan Gerry tidak membolehkannya menggendong sang putra karena mereka bilang masih kangen pada cucu-nya.“Ma, Pa, makanannya sudah siap nih,” seru Melody yang telah selesai menata meja untuk makan malam.“Makan dulu, Ma, Pa.” Damien menjulurkan kedua tangannya ke depan Ivan. “Biar Ivan aku yang pangku saja.”“Eh, jangan,” tolak Nada. “Mama juga bisa pangku Ivan sambil makan.”Melody terkekeh. Ivan benar-benar did
“Kenapa mereka terlihat kelelahan begini?” Melody berbisik pada pengasuh Ivan.“Tuan Lionel dan Nona Rara benar-benar kelelahan. Siang tadi, jadwal Tuan Muda Ivan adalah kelas baby gymnastic untuk melatih motorik kasar dan kekuatan otot inti tubuhnya."Mata bulat Melody sedikit melebar, mendengarkan laporan tersebut dengan ketertarikan yang melonjak drastis.“Tuan Lionel dan Nona Rara ikutan berguling. Lalu melakukan tummy time di dada Tuan Lionel, hingga mengangkat Tuan Muda ke udara berkali-kali untuk melatih keseimbangan.""Sementara itu, Nona Rara bertugas memegang mainan kerincingan, menyanyi, dan melompat-lompat kecil di sekeliling mereka untuk menjaga fokus Tuan Muda. Mereka berdua melakukannya tanpa henti dengan semangat penuh."Mendengar penjelasan visual tersebut, Melody nyaris meledak dalam tawa jika saja ia tidak segera membekap mulutnya sendiri.Astaga! Membayangkan seorang Lionel dan Rara menghabiskan energi mereka menjadi pelatih pribadi untuk bayi empat bulan adalah ha
“Kamu pikir aku wanita murahan seperti selingkuhanmu?” Melody menjawab langsung tanpa jeda.Ia paham, Lionel sedang menggiring opini jika keputusannya menikahi Damien karena mereka telah berselingkuh sedari dulu.“Kamu bahkan lebih buruk dari Ruby, Melody,” sahut Lionel. Tidak lupa, ia mendecih. “W
“Sebenarnya apa tujuanmu untuk pernikahan ini? Kamu menjadikanku jalan keluar dari perjodohan yang tidak kamu inginkan?” tembak Melody.Damien yang sudah nyaris menanggalkan jasnya kembali memasangkan jas tersebut ke pundak. Lelaki itu membalikkan badan, menatap Melody.Tipis, Melody melihat ujung
Sosok-sosok yang juga hadir di pernikahannya yang gagal itu kini menatap Melody dengan pandangan yang berbeda-beda. Di antara orang-orang yang terperangah, seseorang kini menatap Melody dengan marah.“Apa maksudnya ini?” Elora—Ibu Lionel membuka suara lebih dulu. “Kamu batal menikah dengan Lionel…
Melody menatap Damien lama, seolah lelaki itu baru saja mengucapkan lelucon paling tidak lucu yang pernah ia dengar.Menikah? Dengan Damien Jeremy Princeton? Lelaki yang selama ini bahkan tidak pernah berusaha bersikap ramah padanya.Napas Melody masih belum stabil. Amarahnya belum benar-benar reda







