Share

2. Ruko Dua Miliar

last update publish date: 2026-01-30 21:13:57

Aku menarik gas motor matikku dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, dan geli bercampur jadi satu. Lucu sekali melihat Aris—laki-laki yang selama ini aku dukung secara finansial—tiba-tiba bicara soal "setara" hanya karena selembar SK.

Lima tahun pacaran dengannya, dia memang nggak pernah tahu identitasku sebenarnya sebagai putri tunggal eksportir besar. Yang dia tahu, aku jualan di pasar pagi, kemudian siang sampai sorenya kerja di gudang ikan.

Saat melewati jalan protokol, mataku tertuju pada sebuah gedung ruko dua lantai yang letaknya tepat di sebelah Kantor Kecamatan—tempat Aris dan Santi memamerkan seragam cokelat mereka setiap hari.

Aku menepikan motor. Pandangan mengejek dari Bu Ratna dan Santi masih kuingat jelas, membuat pikiranku terbang jauh ke depan. Aku harus menunjukkan kalau aku nggak bisa diremehkan.

"Staf kebersihan, ya?" gumamku sambil menatap kantor kecamatan yang terlihat angkuh, mengingat tawaran tadi.

Pandanganku beralih ke ruko tadi. Di kacanya tertempel spanduk besar. DISEWAKAN / HUBUNGI: 0812-XXXX-XXXX.

Tanpa pikir panjang, aku segera merogoh ponsel dan mendial nomor tersebut.

"Halo, selamat sore. Dengan pemilik ruko di sebelah kecamatan?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Iya, benar. Mau sewa, Mbak? Itu minimal dua tahun, ya. Per tahunnya empat puluh juta," jawab suara pria di ujung telepon dengan nada malas-malasan. Mungkin dia meragukan suaraku yang terdengar sedikit berisik karena suara knalpot motor di pinggir jalan.

"Saya nggak mau sewa, Pak."

"Lho? Kalau nggak mau sewa ya jangan telepon, Mbak. Saya sibuk."

"Saya mau beli. Bapak buka harga berapa?"

Hening sejenak. Aku bisa mendengar suara dehaman di seberang sana.

"Beli? Mbak bercanda? Itu rukonya strategis, saya buka dua miliar kalau mau."

"Dua miliar?" Aku mengingat saldo di aplikasi mobile banking-ku yang digitnya cukup untuk membeli puluhan ruko serupa.

"Oke. Saya ambil. Tapi saya nggak mau lewat perantara atau cicil-cicilan bank. Saya bayar tunai besok kalau surat-suratnya lengkap."

"Tunai?! Mbak ini siapa? Mau nge-prank ya?" Suara pria itu berubah jadi curiga.

"Saya Magdalena Harum Puspita, anaknya Pak Himawan," jawabku santai.

Terdengar gedebug cukup keras, seperti orang yang baru jatuh dari tempat tidur.

"Pak Himawan yang punya gudang ikan di Jalan Sudirman?"

"Iya. Besok siang jam dua belas, kita ketemu di depan ruko. Bawa notaris sekalian biar nggak buang waktu."

"Baik, Mbak. Baik. Saya urus sekarang juga."

Aku memutus sambungan telepon dengan puas. Terputar rencana di kepala, aku akan membangun restoran seafood paling enak di sini. Aku harus membuat Aris dan Santi melihat setiap hari dari jendela kantor mereka, bagaimana "si penjual ikan" yang mereka remehkan ini mengelola aset yang harganya bahkan nggak akan sanggup mereka cicil dengan gaji PNS, sampai pensiun sekalipun!

Pukul dua belas siang esok harinya. Matahari sedang terik-teriknya, seolah ikut memanaskan suasana di depan Kantor Kecamatan.

Aku turun dari Range Rover hitam milik Bapak yang mengkilap tertimpa cahaya matahari. Kali ini, tak ada lagi jilbab marun kusam yang lembap oleh peluh. Aku mengenakan pashmina sutra berwarna nude yang senada dengan blazer formal dan celana kain yang jatuh dengan sempurna. Aroma parfum niche yang mahal langsung menguap, menggantikan bau anyir gudang yang kemarin mereka hina.

Di depan ruko, Pak Broto sang pemilik ruko sudah berdiri gelisah bersama seorang wanita berkacamata—sang notaris.

"Mbak Magdalena? Aduh, maafkan kelancangan saya di telepon kemarin ya, Mbak," sapa Pak Broto sambil membungkuk berkali-kali. Wajahnya yang kemarin malas-malasan kini penuh pengabdian. "Saya benar-benar tidak tahu kalau Mbak ini putri tunggal Pak Himawan."

"Nggak apa-apa, Pak. Yang penting semua berkasnya siap?" tanyaku tenang.

Tepat saat itu, lonceng jam istirahat seolah berbunyi. Pintu pagar kantor kecamatan di seberang jalan terbuka lebar. Puluhan pegawai berseragam cokelat berhamburan keluar mencari makan siang. Di antara kerumunan itu, aku melihat Aris dan Santi berjalan beriringan.

Langkah mereka terhenti seketika. Mereka terpaku menatap mobil mewah yang terparkir sembarangan di depan ruko kosong itu, lalu mata mereka beralih padaku.

"Lena?" Aris bergumam cukup keras, suaranya terdengar kaget bercampur tidak percaya.

Aku mengabaikannya. Aku menerima map dari Ibu Notaris dan membacanya sekilas. "Semua sudah oke. Saya transfer sekarang, ya? Dua miliar, lunas."

"Iya, Mbak. Silakan," jawab Pak Broto dengan suara bergetar senang.

Cukup beberapa ketukan di layar ponsel, transaksi selesai. Ting! Notifikasi masuk ke ponsel Pak Broto.

"Lunas ya, Pak. Mana kuncinya?"

Saat Pak Broto menyerahkan kunci ruko itu dengan sangat hormat, Aris dan Santi sudah berdiri di pinggir jalan, hanya terpisah jarak beberapa meter. Wajah Santi yang tadi tampak angkuh dengan seragam CPNS-nya kini berubah pucat, sementara Aris terlihat seperti baru saja ditampar kenyataan.

"Len, kamu... kamu ngapain di sini? Itu mobil siapa? Kamu sewa?" Aris bertanya dengan nada menghakimi, seolah aku adalah penipu yang sedang bersandiwara.

Santi ikut menyambar dengan nada ketus, mencoba menutupi rasa minder yang mendadak muncul.

"Mbak Lena mau pamer ya? Biar apa? Biar nggak jadi putus sama Mas Aris? Sadar Mbak, mau sewa mobil mahal pun, bau amis pasar itu nggak bakal hilang!"

Aku memutar-mutar kunci ruko di jariku, lalu menatap mereka berdua dengan tatapan paling dingin.

"Maaf, ya, Mbak Santi, saya ke sini bukan untuk mencari perhatian," ucapku santai. "Saya ke sini buat beli ruko ini."

"Beli?! Mana mungkin!" jerit Santi tak percaya.

Aku tersenyum tipis, sengaja tak menanggapinya.

"Oh ya, selamat ya buat tunangannya semalam. Gimana ikannya? Enak, kan? Masih mau lagi?" tanyaku dengan suara seramah mungkin, meski ada nada sarkasme yang kental di sana.

Aris tampak menelan ludah, sementara Santi hanya bisa merengut masam.

"Ah, tapi saya lupa. Karena kita udah nggak ada hubungan apa-apa, mulai sekarang nggak ada yang gratisan lagi, ya! Kalau mau ikan segar kualitas ekspor seperti kemarin, silakan beli sendiri dengan harga normal. Itu pun kalau dompet kalian sanggup," imbuhku sambil tertawa kecil.

"Lena! Kamu—" Aris mengepalkan tangannya, wajahnya memerah padam antara malu dan emosi karena merasa dipermalukan di depan rekan-rekan sekantornya.

Aku tidak peduli. Aku memutar tubuh, melangkah santai masuk ke dalam ruko yang pintunya baru saja kubuka lebar-lebar.

"Len! Tunggu! Kita perlu bicara!" Aris berniat menyusul langkahku, hendak masuk ke dalam gedung pribadiku itu. Namun, baru satu langkah dia bergerak, tubuh gempal Pak Broto sudah menghadangnya dengan tangan terentang.

"Eits! Mau ngapain kamu, Mas?" tegur Pak Broto galak.

"Saya mau bicara sama pacar saya, Pak!" seru Aris emosi.

Pak Broto tertawa meremehkan. "Pacar? Mbak Magdalena ini maksud kamu? Mas, Mas... sadar diri sedikit. Mbak Magdalena ini putri tunggalnya Pak Himawan, Sultan Ikan dan Udang penguasa gudang Sudirman. Dia baru saja beli ruko ini cash dua miliar."

"APA?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    57. Kesempatan Kedua (Tamat)

    Bab 33 Semburat jingga di ufuk barat mulai menyapa, namun suasana di meja pojok belakang kedai Magdalena Seafood and Resto terasa begitu dingin. Mas Toto duduk dengan punggung tegak, sementara Aris baru saja meletakkan helmnya dengan tangan sedikit gemetar. "Mas Aris, terima kasih sudah datang," buka Mas Toto tanpa basa-basi. "Sama-sama, Mas Toto. Kebetulan saya juga ingin bertanya soal tuntutan hukum pada Sinta. Apa itu perintah Lena?" Mas Toto menggeleng pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang mulai keriput. "Bukan. Mbak Lena itu hatinya terlalu lembut untuk memenjarakan orang, meskipun dia sangat marah. Yang melaporkan Sinta ke polisi itu... Pak Himawan sendiri." Aris tertegun. "Om Himawan?" "Benar. Bapak tidak terima putri semata wayangnya dipermalukan seperti itu. Beliau ingin memberi pelajaran bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya. Jadi, kalau Mas Aris mau minta Lena cabut laporan, itu salah alamat. Keputusan ada di tangan Bapak." Aris terdiam, lidahnya

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    56. Tolong Sinta, Nak!

    Aris memarkir motornya dengan tergesa di halaman kantor kelurahan. Napasnya masih sedikit memburu sisa perjalanan dari rumah sakit. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat melihat dua sosok yang sangat familiar duduk di kursi tunggu panjang depan lobi.Orang tua Sinta.Wajah mereka nampak sangat kuyu, mata mereka sembab, dan sang ibu terus meremas sapu tangan yang sudah basah. Begitu melihat sosok Aris, ayah Sinta langsung berdiri dengan tumpuan yang goyah."Nak Aris!" seru pria paruh baya itu dengan suara serak.Aris menghampiri mereka dengan dahi berkerut. "Lho, Bapak, Ibu? Ada apa pagi-pagi sudah di sini?" Ibu Sinta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru histeris, langsung meraih tangan Aris dan menggenggamnya erat, seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai."Nak Aris, tolong... tolong Sinta, Nak. Ibu mohon, bantu Sinta keluar dari sana. Dia tidak kuat, Nak. Dia ketakutan," tangis Ibu Sinta pecah, mengundang perhatian beberapa staf kelurahan yang mulai be

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    55. Nikah Kontrak Aja!

    "Ternyata Mbak Lena di sini. Kirain ke mana, dicariin sampai ke kantin nggak ada."Lena tidak menoleh. Ia tetap bergeming di tepian pagar pembatas atap rumah sakit, membiarkan angin pagi yang cukup kencang memainkan ujung jilbab hitamnya. Matanya tertuju lurus ke bawah, ke arah area parkir di mana sebuah motor baru saja melaju meninggalkan gerbang rumah sakit. Ia tahu itu Aris."Mbak? Malah bengong," Anna menyandarkan punggungnya di pagar yang sama, ikut memandang ke arah yang sama dengan Lena."Nggak apa-apa, Ann. Cuma mau cari oksigen yang nggak bau karbol," sahut Lena datar. Tatapannya masih kosong.Anna terdiam sejenak, memperhatikan profil samping wajah bosnya yang rahangnya tampak kaku. "Bapak ngomong apa tadi, Mbak? Sampai Mas Aris keluar mukanya kayak orang habis menang lotre. Seneng tapi bingung cara nyairinnya."Lena akhirnya menoleh, menatap Anna dengan sisa-sisa mata sembapnya."Eh, kok mata Mbak merah? Habis nangis? Atau jangan-jangan ... Bapak minta Mbak balikan sama ma

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    54. Permintaan Terakhir Bapak(2)

    "Bukan, Om. Justru saya yang harus minta maaf. Saya yang bodoh. Selama bertahun-tahun saya sudah sangat merepotkan Lena, menerima semua kebaikannya, tapi akhirnya... saya justru mengkhianati ketulusannya hanya karena silau dengan hal lain."Suasana mendadak hening. Hanya terdengar bunyi detak jantung dari monitor di samping ranjang. Lena menunduk, menyembunyikan genangan air di matanya yang mulai merembes jatuh ke atas sprei."Sudah, yang lalu biar berlalu," ujar Pak Himawan sambil meraih tangan Lena dan Aris, mencoba menyatukannya di atas pangkuan. Namun, Lena menarik tangannya lebih dulu—setelah bersentuhan dengan tangan Aris sebentar—untuk menyeka air mata. "Nasi sudah jadi bubur, seperti yang ada di depan kalian ini. Tapi bubur pun kalau bumbunya pas, tetap terasa nikmat, kan?" Pak Himawan menatap Aris dengan tatapan menguji, tapi tetap bersahabat. Aris menatap Lena dalam diam, tapi tak menjawab."Kamu masih sayang sama anak Om yang keras kepala ini?""Pak!" protes Lena segera,

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    53. Permintaan Terakhir Bapak

    Suara motor yang berhenti di depan pagar membuat Bu Ratna terbangun. Ia melongok dari balik gorden, mendapati putra tunggalnya melangkah masuk dengan bahu yang nampak merosot. Jarum jam di dinding ruang tamu menunjuk angka dua pagi."Dari mana, Ris? Kok baru pulang jam segini?" sapa Bu Ratna saat Aris baru saja menutup pintu depan. Suaranya serak khas orang bangun tidur, tapi matanya penuh selidik."Rumah sakit, Bu," jawab Aris pendek. Ia melepas sepatu dengan gerakan lambat, seolah bebannya berpindah ke kaki.Wajah Bu Ratna seketika pucat. Ia menghambur mendekati Aris, memutar tubuh anaknya itu ke kiri dan ke kanan. "Rumah sakit? Kamu kenapa? Mana yang luka? Ada yang sakit?"Aris menggeleng lemah, menepis pelan tangan ibunya. "Bukan aku, Bu. Bapaknya Lena yang pingsan. Mas Toto nggak bisa jemput Lena di bandara, jadi minta tolong aku, sekalian antar dia ke rumah sakit." Bu Ratna tertegun, tangannya menggantung di udara. "Pak Himawan kenapa? Sakit?""Sakit jantung, Bu. Tadi sempat ma

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    52. Bukan Siapa-siapa (2)

    "Gimana keadaan Bapak saya, Dokter?" tanya Lena sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan sang dokter."Kondisi Pak Himawan sudah melewati masa kritis. Jantungnya sudah merespons obat-obatan dengan baik. Beliau sudah jauh lebih baik, sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan dan kemungkinan besar akan segera siuman."Mendengar itu, bahu Lena yang semula tegang sedikit mengendur, tapi ia tetap menjaga postur tubuhnya. Tidak ada tangisan histeris lagi, hanya ada embusan napas panjang yang penuh dengan rasa syukur."Alhamdulillah. Terima kasih, Dok," jawab Lena tulus."Sama-sama. Setelah ini perawat akan mengurus perpindahan kamar. Anda bisa menemuinya setelah beliau dipindahkan," tambah dokter itu sebelum melangkah pergi.Lena berbalik menatap Toto dan Aris. Matanya yang merah karena tangis kini sudah kembali fokus."Mas Toto, tolong urus administrasi ke perawat. Ambil ruang VIP. Pastikan yang fasilitasnya paling lengkap. Aku nggak mau Bapak terganggu suara berisik.""Siap, Mb

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    38. Gebrakan Anak Orang Kaya (2)

    "Kamu lihat kapal itu," Pak Himawan menunjuk sebuah kapal kargo yang sedang bongkar muat. "Dia pernah dihantam badai, lambungnya lecet, mesinnya mungkin pernah mati. Bukan cuma sekali atau dua kali, bisa jadi puluhan kali. Tapi bukti nyatanya, dia ndak pernah tenggelam. Dia tetap berlayar setelah

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    37. Gebrakan Anak Orang Kaya

    Lena melajukan motor matiknya membelah angin malam, membiarkan dingin menyusup di sela-sela jaketnya. Ia berhenti tepat di ujung dermaga, tempat kapal-kapal besi raksasa bersandar. Bangkai besi itu tampak megah dengan panjang puluhan meter. Pemandangan yang biasa bagi Lena sejak kecil, membawa mome

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    36. Runtuh (2)

    "Pesanan nomor tiga belas," ucapnya lirih, sedikit serak, sambil menunjukkan layar ponselnya ke arahku. Benda pipih itu menjadi salah satu tanda cintaku untuknya."Len. Ehm, Mbak Lena." "Ah, oh, iya." Aku tersentak, mendapati tangan Mas Aris bergerak-gerak di depan wajahku, men

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    33. Bikin Onar

    POV Aris "Yah, telat kita, Ris! Harusnya tadi kita ambil saf paling belakang. Jadi begitu selesai salam, bisa langsung nyerbu nasi kotak gratis," gerutu Mas Bondan sambil menepuk-nepuk perutnya yang keroncongan. "Belum rezeki kita, Mas." Aku terkekeh sambil menyampirkan sajadah di bahu. "Tapi l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status