MasukAku menarik gas motor matikku dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, dan geli bercampur jadi satu. Lucu sekali melihat Aris—laki-laki yang selama ini aku dukung secara finansial—tiba-tiba bicara soal "setara" hanya karena selembar SK.
Lima tahun pacaran dengannya, dia memang nggak pernah tahu identitasku sebenarnya sebagai putri tunggal eksportir besar. Yang dia tahu, aku jualan di pasar pagi, kemudian siang sampai sorenya kerja di gudang ikan. Saat melewati jalan protokol, mataku tertuju pada sebuah gedung ruko dua lantai yang letaknya tepat di sebelah Kantor Kecamatan—tempat Aris dan Santi memamerkan seragam cokelat mereka setiap hari. Aku menepikan motor. Pandangan mengejek dari Bu Ratna dan Santi masih kuingat jelas, membuat pikiranku terbang jauh ke depan. Aku harus menunjukkan kalau aku nggak bisa diremehkan. "Staf kebersihan, ya?" gumamku sambil menatap kantor kecamatan yang terlihat angkuh, mengingat tawaran tadi. Pandanganku beralih ke ruko tadi. Di kacanya tertempel spanduk besar. DISEWAKAN / HUBUNGI: 0812-XXXX-XXXX. Tanpa pikir panjang, aku segera merogoh ponsel dan mendial nomor tersebut. "Halo, selamat sore. Dengan pemilik ruko di sebelah kecamatan?" tanyaku tanpa basa-basi. "Iya, benar. Mau sewa, Mbak? Itu minimal dua tahun, ya. Per tahunnya empat puluh juta," jawab suara pria di ujung telepon dengan nada malas-malasan. Mungkin dia meragukan suaraku yang terdengar sedikit berisik karena suara knalpot motor di pinggir jalan. "Saya nggak mau sewa, Pak." "Lho? Kalau nggak mau sewa ya jangan telepon, Mbak. Saya sibuk." "Saya mau beli. Bapak buka harga berapa?" Hening sejenak. Aku bisa mendengar suara dehaman di seberang sana. "Beli? Mbak bercanda? Itu rukonya strategis, saya buka dua miliar kalau mau." "Dua miliar?" Aku mengingat saldo di aplikasi mobile banking-ku yang digitnya cukup untuk membeli puluhan ruko serupa. "Oke. Saya ambil. Tapi saya nggak mau lewat perantara atau cicil-cicilan bank. Saya bayar tunai besok kalau surat-suratnya lengkap." "Tunai?! Mbak ini siapa? Mau nge-prank ya?" Suara pria itu berubah jadi curiga. "Saya Magdalena Harum Puspita, anaknya Pak Himawan," jawabku santai. Terdengar gedebug cukup keras, seperti orang yang baru jatuh dari tempat tidur. "Pak Himawan yang punya gudang ikan di Jalan Sudirman?" "Iya. Besok siang jam dua belas, kita ketemu di depan ruko. Bawa notaris sekalian biar nggak buang waktu." "Baik, Mbak. Baik. Saya urus sekarang juga." Aku memutus sambungan telepon dengan puas. Terputar rencana di kepala, aku akan membangun restoran seafood paling enak di sini. Aku harus membuat Aris dan Santi melihat setiap hari dari jendela kantor mereka, bagaimana "si penjual ikan" yang mereka remehkan ini mengelola aset yang harganya bahkan nggak akan sanggup mereka cicil dengan gaji PNS, sampai pensiun sekalipun! Pukul dua belas siang esok harinya. Matahari sedang terik-teriknya, seolah ikut memanaskan suasana di depan Kantor Kecamatan. Aku turun dari Range Rover hitam milik Bapak yang mengkilap tertimpa cahaya matahari. Kali ini, tak ada lagi jilbab marun kusam yang lembap oleh peluh. Aku mengenakan pashmina sutra berwarna nude yang senada dengan blazer formal dan celana kain yang jatuh dengan sempurna. Aroma parfum niche yang mahal langsung menguap, menggantikan bau anyir gudang yang kemarin mereka hina. Di depan ruko, Pak Broto sang pemilik ruko sudah berdiri gelisah bersama seorang wanita berkacamata—sang notaris. "Mbak Magdalena? Aduh, maafkan kelancangan saya di telepon kemarin ya, Mbak," sapa Pak Broto sambil membungkuk berkali-kali. Wajahnya yang kemarin malas-malasan kini penuh pengabdian. "Saya benar-benar tidak tahu kalau Mbak ini putri tunggal Pak Himawan." "Nggak apa-apa, Pak. Yang penting semua berkasnya siap?" tanyaku tenang. Tepat saat itu, lonceng jam istirahat seolah berbunyi. Pintu pagar kantor kecamatan di seberang jalan terbuka lebar. Puluhan pegawai berseragam cokelat berhamburan keluar mencari makan siang. Di antara kerumunan itu, aku melihat Aris dan Santi berjalan beriringan. Langkah mereka terhenti seketika. Mereka terpaku menatap mobil mewah yang terparkir sembarangan di depan ruko kosong itu, lalu mata mereka beralih padaku. "Lena?" Aris bergumam cukup keras, suaranya terdengar kaget bercampur tidak percaya. Aku mengabaikannya. Aku menerima map dari Ibu Notaris dan membacanya sekilas. "Semua sudah oke. Saya transfer sekarang, ya? Dua miliar, lunas." "Iya, Mbak. Silakan," jawab Pak Broto dengan suara bergetar senang. Cukup beberapa ketukan di layar ponsel, transaksi selesai. Ting! Notifikasi masuk ke ponsel Pak Broto. "Lunas ya, Pak. Mana kuncinya?" Saat Pak Broto menyerahkan kunci ruko itu dengan sangat hormat, Aris dan Santi sudah berdiri di pinggir jalan, hanya terpisah jarak beberapa meter. Wajah Santi yang tadi tampak angkuh dengan seragam CPNS-nya kini berubah pucat, sementara Aris terlihat seperti baru saja ditampar kenyataan. "Len, kamu... kamu ngapain di sini? Itu mobil siapa? Kamu sewa?" Aris bertanya dengan nada menghakimi, seolah aku adalah penipu yang sedang bersandiwara. Santi ikut menyambar dengan nada ketus, mencoba menutupi rasa minder yang mendadak muncul. "Mbak Lena mau pamer ya? Biar apa? Biar nggak jadi putus sama Mas Aris? Sadar Mbak, mau sewa mobil mahal pun, bau amis pasar itu nggak bakal hilang!" Aku memutar-mutar kunci ruko di jariku, lalu menatap mereka berdua dengan tatapan paling dingin. "Maaf, ya, Mbak Santi, saya ke sini bukan untuk mencari perhatian," ucapku santai. "Saya ke sini buat beli ruko ini." "Beli?! Mana mungkin!" jerit Santi tak percaya. Aku tersenyum tipis, sengaja tak menanggapinya. "Oh ya, selamat ya buat tunangannya semalam. Gimana ikannya? Enak, kan? Masih mau lagi?" tanyaku dengan suara seramah mungkin, meski ada nada sarkasme yang kental di sana. Aris tampak menelan ludah, sementara Santi hanya bisa merengut masam. "Ah, tapi saya lupa. Karena kita udah nggak ada hubungan apa-apa, mulai sekarang nggak ada yang gratisan lagi, ya! Kalau mau ikan segar kualitas ekspor seperti kemarin, silakan beli sendiri dengan harga normal. Itu pun kalau dompet kalian sanggup," imbuhku sambil tertawa kecil. "Lena! Kamu—" Aris mengepalkan tangannya, wajahnya memerah padam antara malu dan emosi karena merasa dipermalukan di depan rekan-rekan sekantornya. Aku tidak peduli. Aku memutar tubuh, melangkah santai masuk ke dalam ruko yang pintunya baru saja kubuka lebar-lebar. "Len! Tunggu! Kita perlu bicara!" Aris berniat menyusul langkahku, hendak masuk ke dalam gedung pribadiku itu. Namun, baru satu langkah dia bergerak, tubuh gempal Pak Broto sudah menghadangnya dengan tangan terentang. "Eits! Mau ngapain kamu, Mas?" tegur Pak Broto galak. "Saya mau bicara sama pacar saya, Pak!" seru Aris emosi. Pak Broto tertawa meremehkan. "Pacar? Mbak Magdalena ini maksud kamu? Mas, Mas... sadar diri sedikit. Mbak Magdalena ini putri tunggalnya Pak Himawan, Sultan Ikan dan Udang penguasa gudang Sudirman. Dia baru saja beli ruko ini cash dua miliar." "APA?!"Proses di kantor imigrasi tidak sedrama yang dibayangkan Anna. Berkat layanan percepatan yang sudah diatur, segalanya berjalan lancar. Lena dengan setia menemani asisten merangkap sahabatnya itu mengisi lembar demi lembar data. Ketakutan Anna soal wawancara yang sulit pun menguap begitu saja. Saat petugas menanyakan tujuan keberangkatan dan detail perjalanan, Anna cukup menunjukkan bukti reservasi paket wisata dari travel agen yang sudah dicetak Lena. Yang sedikit lama hanya sesi pengambilan sidik jari. Anna yang gugup sampai tangannya gemetar, harus mengulangnya berkali-kali."Gampang banget ya, Mbak. Kayak bikin SIM tembak. Pagi bikin, sore langsung bisa diambil," bisik Anna saat mereka melangkah keluar gedung imigrasi."Udah aku bilang, kan? Nggak usah banyak drama. Manut aja," sahut Lena santai sambil memakai kacamata hitamnya. "Ini udah selesai berarti ya, Mbak? Langsung pulang?" "Ngapain pulang?! Kita ke mall sekarang."
"Mbak, lain kali mbok ya kalau mau liburan ke luar negeri itu jangan dadakan begini! Ini bukan mau ke pasar kaget, lho, Mbak. Ini mau ke tiga negara!" omel Anna tanpa menoleh. Ia menyabet handuk dari kepalanya, mengucek rambutnya dengan gerakan kasar yang menunjukkan betapa gusarnya saraf-saraf di kepalanya pagi ini.Mess karyawan di belakang gudang ikan yang biasanya tenang, mendadak gaduh oleh suara gerutuan yang tak putus-putus. Wajahnya yang tampak sayu karena kurang tidur, tak menyurutkan kesibukannya yang mondar-mandir di antara tumpukan baju basah, memilah baju-baju dari lemari, dan mengisi koper ukuran sedang yang terbuka di atas kasur."Hmm."Lena, sang tersangka utama, justru terlihat sangat tenang. Ia hanya bergumam samar, duduk di lantai sambil menikmati bubur ayam hangat yang dibawanya tadi. Tidak ada raut bersalah sedikit pun, justru wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan kemarin."Mbak Lena, denger nggak sih? Dari tadi cuma ham hem, ham hem!" Anna berhenti di d
"Kamu lihat kapal itu," Pak Himawan menunjuk sebuah kapal kargo yang sedang bongkar muat. "Dia pernah dihantam badai, lambungnya lecet, mesinnya mungkin pernah mati. Bukan cuma sekali atau dua kali, bisa jadi puluhan kali. Tapi bukti nyatanya, dia ndak pernah tenggelam. Dia tetap berlayar setelah diperbaiki."Lena mengikuti arah pandang ayahnya, membiarkan ujung jilbab pasmina hitam di punggung beterbangan tertiup angin malam. "Memaafkan itu untuk ketenanganmu, Nak, tapi kembali mempercayai itu soal kualifikasi Aris. Kamu bukan lagi anak kecil yang bisa luluh karena sesuap makanan. Kamu wanita yang punya kendali atas hidupmu sendiri. Jangan biarkan orang masuk ke rumahmu hanya karena kamu kasihan. Ambil atau hempaskan, kamulah yang menentukan."Lena menarik napas panjang. Setiap nasihat Pak Himawan selalu menjadi sandaran dalam kebimbangan."Lena nggak mau gegabah, Pak. Rasanya terlalu mudah kalau baru berubah sedikit, langsung dikasih kesempatan
Lena melajukan motor matiknya membelah angin malam, membiarkan dingin menyusup di sela-sela jaketnya. Ia berhenti tepat di ujung dermaga, tempat kapal-kapal besi raksasa bersandar. Bangkai besi itu tampak megah dengan panjang puluhan meter. Pemandangan yang biasa bagi Lena sejak kecil, membawa momen dejavu saat dirinya sering menyusul Bapak bekerja di sini.Namun setelah dewasa, Lena lebih suka memandang lautan lepas seperti saat ini. Ia tepekur dalam waktu yang lama, memandang lampu-lampu kecil—yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang di atas air hitam yang tenang—di kejauhan. Itu kapal-kapal nelayan. Mereka sedang mengadu peruntungan di atas gulungan ombak yang tak menentu."Di luar sana, ada orang-orang yang mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi di rumah. Sementara aku? Aku oleng cuma karena urusan perasaan yang belum tentu jadi jaminan masa depan," bisiknya getir. Lena menyadari bahwa egonya terlalu besar jika terus meratapi luka, sementara semesta menyuguhkan perjuangan hidup y
"Pesanan nomor tiga belas," ucapnya lirih, sedikit serak, sambil menunjukkan layar ponselnya ke arahku. Benda pipih itu menjadi salah satu tanda cintaku untuknya."Len. Ehm, Mbak Lena." "Ah, oh, iya." Aku tersentak, mendapati tangan Mas Aris bergerak-gerak di depan wajahku, menyadarkan dari lamunan singkat yang tidak bisa kusangkal."Pesanannya masih diproses koki. Tunggu sebentar, Mas. Duduk dulu," jawabku kaku, berusaha membuang muka.Sialnya, tidak ada Anna atau Mas Toto di sini yang bisa menemaninya berbincang. Mereka pergi ke gudang ikan di jalan Sudirman karena ada bongkar muat ikan yang baru datang dari pelabuhan. Situasi semakin canggung karena tidak ada pelanggan lain. Benar-benar hanya kami berdua. Aku tidak ingin terlihat tidak sopan atau menyimpan dendam yang kekanak-kanakan. Tanpa diminta, aku menuangkan segelas teh dari dispenser di sudut ruangan, menambahkan bongkah es, dan menyerahkannya. "Minum dulu,
POV Lena Aku berdiri mematung di balik kaca besar lantai dua restoran, tempat yang biasanya kugunakan untuk mengevaluasi kinerja karyawan. Tanganku masih memegang plastik berisi jilbab krem yang kini sudah tak layak pakai.Meski sudah berganti pakaian dan membasuh wajah berkali-kali, aroma telur busuk itu seolah masih menempel di kulit, menusuk-nusuk indra penciumanku.Di bawah sana, aku melihat sosok tegap berseragam cokelat itu melangkah pergi.Mas Aris berjalan melewati pembatas jalan menuju kantor kecamatan tanpa menoleh lagi. Bahunya yang dulu sering ikut berguncang saat tertawa denganku, kini terlihat sedikit merosot, seolah memikul beban yang sangat berat."Mbak Lena...." Suara Anna membuatku sedikit tersentak. Aku tidak berbalik, mataku tetap terpaku pada pintu masuk kantor kecamatan yang baru saja "menelan" sosok mantan pacarku."Mas Aris sudah pergi, Mbak. Tadi dia yang bersihkan lantai di bawah. Mas Toto sudah melarang, tapi dia maksa," lapor Anna. Ia melangkah mendekat, b







