Mag-log inSisa siang itu kuhabiskan dengan energi yang meluap-luap. Aku tidak pulang ke rumah untuk meratapi nasib diputuskan tunangan. Sebaliknya, aku mendatangkan tim renovasi kilat. Lima orang pekerja sigap membersihkan sisa debu ruko, mengganti cat kusam dengan warna cream mewah, dan memasang kaca-kaca besar yang jauh lebih berkelas.
Puncaknya adalah pemasangan papan nama di atas ruko. Bahan stainless steel berkualitas tinggi dengan lampu LED yang akan menyala terang saat matahari terbenam. "MAGDALENA SEAFOOD & RESTO". Nama itu terpampang gagah, menantang gedung kecamatan di sebelahnya. "Mbak Lena, ini kursinya mau ditaruh di mana?" tanya Mas Toto yang mengangkat kotak kaca akuarium. Kuboyong dia ke sini untuk membantu beberes, meninggalkan urusan gudang ikan ke karyawan yang lain. "Taruh di dekat jendela saja, biar orang dari luar juga bisa lihat ikan nanti," jawabku sambil menyeka sedikit keringat di dahi. Blazer yang tadi kupakai saat datang, sudah kutanggalkan, menyisakan kaus hitam yang lengannya kugulung hingga siku. Aku memang tidak bisa diam kalau melihat pekerjaan belum beres. Tepat saat jam pulang kantor, sekitar pukul empat sore, pintu kaca rukoku terbuka kasar. Aku menoleh dan memutar mata karena jengah. Dua orang berseragam cokelat itu lagi. Aris dan Santi. Kali ini tidak ada Pak Broto yang menghalangi mereka di depan pintu, jadi keduanya bebas masuk begitu saja. Santi masuk dengan langkah anggun yang dibuat-buat, tapi matanya jelalatan meneliti setiap sudut ruko dengan sinis. Gemeletuk sepatu hak tingginya terdengar tik-tak-tik-tuk seperti suara sepatu kuda. Sementara Aris berdiri di belakangnya dengan wajah yang sulit dibaca, antara heran, penasaran, dan tentunya masih tidak percaya. "Wah, wah... totalitas banget ya aktingnya," Santi bertepuk tangan pelan, suaranya menggema di ruangan yang masih kosong ini. "Sampai manggil tukang cat segala. Mbak Lena, modalnya gede juga ya buat bikin skenario begini?" Aku menghentikan kegiatanku dan berdiri tegak menghadap mereka. "Akting? Maksud Mbak apa, ya?" Santi tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Halah, Mbak! Nggak usah bohong lagi. Tadi aku sama Mas Aris sudah browsing. Semua orang tahu kalau putri tunggal Pak Himawan itu kuliah di luar negeri. Nggak mungkin putri sultan ikan mau panas-panasan jadi kuli pasar, bau amis, dan angkat-angkat box ikan setiap subuh." "Kamu punya bukti kalau aku bukan dia?" tanyaku sambil mengangkat dagu, sengaja menantangnya. "Dia privat banget, nggak pernah posting wajahnya di media. Itu sebabnya kamu berani bohong jadi dia. Iya, kan?" Ia melangkah mendekat, jarinya menyentuh salah satu meja baru di dekatku dengan jijik. "Jujur aja nggak apa-apa, kok. Mbak Lena pasti cuma ngaku-ngaku, kan biar Mas Aris menyesal dan mau balikan?" "Siapa yang pengen balikan? Mimpi aja enggak," balasku sambil membuang muka, memasang ekspresi pura-pura muntah. Namun, mulut Santi ternyata belum mau berhenti. "Terus mobil Range Rover itu..." Dia berbalik, menunjuk kendaraan roda empat yang sekarang terparkir di sebelah ruko, bukan lagi di depan seperti siang tadi. "Pasti itu mobil punya juragan ikan tempat Mbak kerja, kan? Mbak cuma dikasih pinjam karena sudah lama jadi kuli di sana?" "Aku? Kuli?" Jari telunjukku menunjuk hidungku sendiri. "Iya. Mbak emang kuli, kan? Nggak apa-apa, nggak usah malu," jawabnya sambil mengibaskan tangan sok bijak. "San, jaga ucapan kamu," sela Aris pelan, memasang wajah sungkan padaku. "Santi nggak salah, kok. Aku memang cuma kuli. Benar kan, Mas Toto?" Pria dengan kulit sedikit legam—bekas terbakar matahari—itu hanya mengangguk sambil lalu. Dia dan Anna tahu, aku selama ini memang nggak pernah membuka identitasku sebagai putri orang kaya. "Tapi Len, Pak Broto bilang kamu anaknya Pak Himawan. Kalau itu benar, kenapa lima tahun kita pacaran kamu nggak pernah bilang? Selama ini, aku lihat kamu kerja siang malam sampai kurang tidur." "Nah, kan ketahuan bohongnya. Nggak mungkin anak orang kaya sesusah itu?" Santi ikut nimbrung, melanjutkan ucapan mantan pacarku yang menyebalkan itu. "Baju kamu juga tipis gini. Palingan beli di toko serba tiga lama." Aku hampir saja tertawa terbahak-bahak. Ternyata di mata mereka, kesederhanaan adalah bukti kemiskinan dan kerja keras adalah tanda ketidakmampuan. "Mas Aris, aku nggak pernah bilang kerja siang malam karena aku susah atau butuh uang. Buktinya, biaya waktu kamu proses CPNS, semua aku yang tanggung. Apa aku kelihatan kekurangan uang?" Aris tak menjawab, dia menunduk, tampak berpikir. "Terus kalau kamu tanya, kenapa aku nggak pernah jujur soal identitasku? Aku pernah mau jujur tahun lalu, ngajak kamu sama Ibu main ke rumah. Tapi ibu kamu yang nolak mentah-mentah, Mas. Katanya takut muntah karena bau ikan," balasku tajam. "Padahal rumahku ada di Puri Cendana. Nggak ada bau ikannya sama sekali." "Halah! Alasan!" Santi memotong dengan suara melengking dan berbalik menggamit lengan tunangannya. "Mas, jangan percaya ucapannya. Dia ini cuma terobsesi sama kamu. Dia nggak terima kamu pilih aku, CPNS yang lebih berkelas, makanya rela habisin tabungannya buat sewa ruko ini dan ngaku-ngaku jadi anak sultan." "Terserah kalau kalian nggak percaya." Aku mengangkat bahu, nggak mau ambil pusing. "Kalau nggak ada urusan lain lagi, silakan pergi. Takutnya seragam PNS kalian yang elegan ini kena percik cat. Aduuuuh, hilang wibawanya," imbuhku sengaja mendramatisir. Santi tersenyum miring. "Ayo Mas, kita pulang. Nggak usah diladeni orang halu kayak dia. Paling bulan depan ruko ini tutup karena nggak sanggup bayar tagihan listriknya." Aris menatapku sekali lagi, ada keraguan di matanya, tapi kemudian dia berbalik mengikuti Santi. "Maaf, Len. Kamu nggak perlu sampai sejauh ini cuma buat bikin aku cemburu. Hubungan kita udah bener-bener berakhir. Aku mau nikah sama Santi." Aku hanya diam, membiarkan mereka keluar dari ruko. Buat apa berteriak membuktikan siapa diriku? Waktu yang akan menarik kerah baju mereka dan memaksa keduanya berlutut memohon pertolonganku. Dan Aris, aku akan hitung mundur seratus hari. Aku yakin bisa membuatmu merangkak minta bantuanku! "Mbak Lena, perlu saya panggil satpam gudang buat berjaga di depan dan ngusir mereka kalau datang lagi?" tanya Mas Toto yang sejak tadi menahan geram. "Nggak usah," jawabku sambil tersenyum misterius. "Biarkan saja. Makin tinggi mereka terbang karena meremehkanku, makin sakit nanti saat mereka jatuh menghantam kenyataan!""Ris, ajudan saya masih belum bisa masuk sore ini. Kamu dampingi saya lagi, ya? Ada undangan rapat koordinasi di DPRD satu jam lagi. Kamu segera bersiap, kita berangkat sekarang."Aris mendadak merasa pundaknya sedikit ringan. Ketakutannya tak pernah jadi nyata. Justru perintah itu bagaikan pelampung di tengah badai, menyelamatkannya dari rentetan omelan dan wajah menyebalkan Santi yang sedang terbakar cemburu di meja sebelah."Baik, Pak. Saya siapkan mobilnya segera," jawab Aris cekatan.Saat berjalan keluar untuk mengambil kunci mobil, ia melewati meja Santi. Wanita itu menatapnya dengan pandangan tajam, namun Aris memilih untuk menatap lurus ke depan. Untuk sesaat, ia merasa bekerja lebih baik daripada harus berurusan dengan emosi Santi yang makin tidak terkendali.Beberapa menit kemudian, saat mobil dinas Pak Camat perlahan keluar dari pelataran kantor kecamatan, mata Aris tak sengaja melirik ke arah restoran. Di depan pintu masuk, ia melihat salah satu staf Lena dengan sangat sop
Suasana restoran mulai melandai satu jam usai pembukaan. Pak Camat berdiri, merapikan kemeja batiknya, lalu menyalami Lena dengan senyum terkembang."Sukses besar, Mbak Lena. Saya benar-benar kagum," ujar Pak Camat tulus.Lena mengangguk, menyambut jabat tangan itu dengan sopan. "Terima kasih, Pak. Tiga hari ini memang ada promo bayar lima puluh persen saja. Biar warga sekitar sini bisa mencicipi menu kami.""Wah, strategi yang bagus," puji Pak Camat."Bukan cuma itu, Pak," tambah Lena sambil melirik ke arah area kosong di samping restoran. "Nanti tiap hari Jumat, bumil dan balita bisa makan gratis di tempat. Saya juga sudah pesan wahana playground, perosotan dan kawan-kawannya, tapi belum datang. Saya ingin restoran ini ramah keluarga."Pak Camat geleng-geleng kepala, tampak terkesan. "Luar biasa. Bukan cuma cari untung, tapi juga cari berkah. Semoga rezekinya makin melimpah ya, Mbak."Satu per satu staf kecamatan berpamitan, menyalami Lena sambil memuji kelezatan ikan bakarnya. Hany
"Biarin saja, Mas Toto. Mendingan nonton drama ini dulu. Lebih seru dibandingkan drama ikan terbang!" seloroh Anna yang ikut hadir di sana mendampingi Lena."Ada-ada aja kalian." Lena terkekeh pelan, menatap ketiga orang tamu tak diundangnya—Aris yang salah tingkah, Santi yang meledak-ledak, dan Bu Ratna yang mengomeli calon mantunya—dengan tatapan yang sulit diartikan.Pak Camat hanya bisa berdehem canggung, sesekali menutup mulut dengan punggung tangan untuk menyembunyikan senyum gelinya. Sementara itu, Bu Ratna makin menjadi-jadi. Ia tidak mempedulikan wajah Santi yang sudah menangis sesenggukan karena dipermalukan di depan orang banyak."Nak Lena, abaikan saja dia. Namanya juga anak kemarin sore, nggak tahu sopan santun sama mertua," ucap Bu Ratna sambil kembali mencoba merangkul bahu Lena. "Ayo, potong pitanya bareng Aris, Nak. Biar auranya makin dapet."Lena menghindar dengan sangat halus, bergeser dua langkah ke samping. Ia menatap Bu Ratna, lalu beralih ke roti buaya raksasa y
Tepat pukul delapan pagi, mobil dinas Pak Camat berhenti di depan restoran milik Lena. Puluhan sepeda motor sudah memenuhi separuh tempat itu, milik orang-orang yang berdiri teratur di depan bangunan. Mereka bukan sekadar kerumunan biasa, melainkan barisan rapi yang menunggu pembukaan restoran dan toko seafood segar.Aris turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Pak Camat. Salah satu staf restoran menyambut di depan, membawa keduanya masuk melewati baris antrean."Wah, luar biasa ya, Ris. Baru buka udah rame aja," puji Pak Camat dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikannya. Aris hanya mengangguk, mengiyakan, sibuk menyusun kata-kata untuk menyapa Pak Himawan. Ia mengekor di belakang Pak Camat sambil menoleh ke sana kemari. Namun, yang ia nantikan tak kelihatan. Ayah Lena tak ada di sana.Matanya justru terbelalak lebar saat melihat sosok yang berdiri di tengah ruangan. Di sana, di bawah lampu gantung kristal yang mewah, berdiri seorang wanita yang membuat jantungnya berdegup k
POV Aris"Mas, kamu jemput Pak Camat, terus aku berangkat sama siapa?" Santi mengejar langkahku ke teras. "Nggak usah manja. Ojek banyak!" sahut Ibu sambil mendekat ke arahku dan merapikan kerah kemeja biar presisi. "Lagian siapa suruh kamu nggak bisa naik motor!" "Bukan nggak bisa, Bu! Tapi kalau naik motor nanti riasan Santi rusak kena debu jalanan!" bela Santi dengan nada tinggi, padahal aslinya dia memang tidak bisa menyalakan mesin motor apalagi mengendarainya. Ibu mendengus kasar, seolah omelan Santi hanya angin lalu yang mengganggu. Sikapnya benar-benar berubah 180 derajat. "Halah, alasan! Bilang saja memang nggak bisa. Sudah, Ris, berangkat sana. Nanti Pak Camat nungguin. Ibu mau ke rumah Bu RT dulu ambil kue pesanan." Aku tak berani menoleh lagi. Dengan langkah seribu, aku menyalakan motor PCX-ku—motor yang BPKB-nya kini sedang terancam karena dicabutnya jaminan dari Lena. "Mas! Mas Aris! Tunggu!" teriak Santi putus asa dari teras, kakinya menghentak-hentak lantai, tapi
POV Aris"Aris, sudah siap belum? Ayo cepat ke rumah Pak Camat. Kamu yang bawa mobilnya, kan?" Suara Ibu melengking dari arah kamar, memecah keheningan pagi yang baru saja dimulai."Bentar, Bu! Ini tanggung, nyemir sepatu tinggal satu lagi," sahutku sambil menggosok pantofel hitamku sekuat tenaga agar mengkilap sempurna.Pintu kamar terbuka. Aku hampir tidak mengenali ibuku sendiri. Beliau tampil sangat heboh dengan kebaya kutubaru berwarna cerah. Riasan wajahnya sangat on point, bibirnya merah menyala, dan bulu mata palsu yang dipasangnya tampak sangat lentur setiap kali beliau berkedip. Ibu benar-benar berdandan seolah dia adalah tamu kehormatan.Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Santi melangkah masuk dengan wajah bingung yang seketika berubah jadi heran melihat penampilan calon mertuanya."Ibu mau ke mana? Kok rapi banget?" tanya Santi. Matanya memindai Ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki."Ibu mau ikut acara pembukaan restorannya Lena," jawab Ibu enteng sambil mematut diri







