Share

4. Nasihat Bapak

Penulis: Hanazawa Easzy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-30 21:17:15

Mobil Range Rover hitam yang kukendarai melambat di depan gerbang tinggi sebuah rumah mewah di kawasan Puri Cendana. Penjaga gerbang langsung sigap membukakan pintu, menyapa dengan hormat saat aku melajukan mobil masuk ke halaman yang luasnya separuh lapangan bola.

"Akhirnya pulang juga anak kesayangan Bapak."

Aku tersentak. Di sofa ruang tamu yang luas, duduk seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik santai. Rambutnya hampir memutih seluruhnya, namun sorot matanya masih setajam elang.

"Bapak?!" Aku langsung berlari dan menghambur ke pelukannya. Aroma parfum kayu cendana khas Bapak seketika menenangkan hatiku. "Kapan Bapak pulang? Kok nggak bilang-bilang? Kalau tahu Bapak pulang hari ini, Lena jemput di bandara!"

Bapak tertawa renyah, suara tawanya memenuhi ruangan. Ia mengacak puncak kepalaku yang tertutup pashmina dengan penuh kasih sayang.

"Bapak memang sengaja nggak kabarin kamu, Lena. Bapak mau bikin kejutan buat putri Bapak yang paling sibuk ini."

"Ah, Bapak nggak asyik!" balasku sambil mengerucutkan bibir, mencoba bersikap manja—sesuatu yang hanya bisa kulakukan di depan pria ini.

"Bapak nggak mau ganggu," ucap Bapak sambil menatapku dalam. "Tadi Toto sudah telepon. Katanya kamu baru saja beli ruko dan mau buka restoran di depan kantor kecamatan? Kenapa mendadak sekali?"

Aku terdiam sejenak, lalu duduk di sampingnya. Aku menceritakan semuanya. Tentang Aris, tentang penghinaan Bu Ratna soal bau amis, hingga tawaran merendahkan dari Santi untuk menjadi staf kebersihan. Aku menceritakan tujuanku membeli ruko itu untuk menampar kesombongan mereka dengan keberhasilanku.

Bapak mendengarkan tanpa menyela. Setelah aku selesai bercerita dengan napas yang memburu karena emosi, Bapak meraih tanganku, mengelus punggung tanganku yang kasar karena kerja lapangan dengan sangat lembut.

"Lena, dengar Bapak," ucapnya tenang dan berwibawa. "Kamu ndak perlu melakukan semua itu, Nak. Biarkan saja mereka dengan persangkaannya sendiri. Validasi dari orang-orang seperti mereka ndak akan membuatmu lebih bahagia."

"Tapi, Pak... mereka sudah keterlaluan. Mereka merendahkan profesi kita, merendahkan Bapak juga!" protesku tak terima.

Bapak tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh pengalaman hidup. "Nak, kalau kamu buka usaha hanya karena dendam pribadi, yang ada kamu cuma akan merasa sepi dan capek sendiri. Kamu akan terus memantau mereka, menunggu mereka kalah, dan itu akan memakan energimu."

Beliau menatap mataku lekat-lekat.

"Sekarang, luruskan niatmu. Ubah niat dendam itu jadi niat kebaikan. Niatkan restoran itu untuk membuka lapangan pekerjaan buat orang banyak. Niatkan untuk memberi makan orang dengan kualitas terbaik, supaya tubuh mereka sehat dan bisa dipakai ibadah ke Sang Maha Kuasa. Kalau niatmu benar, Tuhan yang akan mengurus musuh-musuhmu dengan cara-Nya sendiri, tanpa kamu perlu mengotori tanganmu."

Aku tertegun. Nasihat Bapak seperti air es yang menyiram api di kepalaku.

"Jadi, Lena nggak boleh balas dendam?" tanyaku pelan.

"Bukan ndak boleh," Bapak terkekeh. "Tapi balas dendam terbaik adalah menjadi sangat sukses dan tetap menjadi orang baik. Biarkan kesuksesanmu yang berisik, sementara kamu tetap tenang di kursi pemenang."

Aku mengangguk perlahan, mulai mengerti.

"Baik, Pak. Lena akan luruskan niat. Restoran itu akan jadi restoran terbaik, bukan cuma buat pamer, tapi buat membuktikan kalau berkah dari ikan bisa mensejahterakan banyak orang."

Bapak menepuk bahuku bangga.

"Ini baru putri Bapak. Oh ya, omong-omong soal Aris... Bapak dengar dia sudah lamaran resmi tadi malam?"

Aku mengangguk dengan wajah ketus.

"Iya, Pak. Sama CPNS yang katanya 'berkelas' itu tadi, yang Lena ceritain."

Bapak hanya tersenyum misterius.

"Ya sudah, nggak apa-apa. Berarti dia bukan jodoh kamu. Sekarang mandi, bersih-bersih, sholat. Bapak masakin udang asam manis pedas kesukaanmu."

"Siap, Bos!" Aku berdiri, memasang sikap hormat seperti seorang prajurit pada atasannya.

Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajiban, aku turun ke ruang makan. Aroma udang asam manis pedas buatan Bapak menyeruak, seketika membangkitkan selera makan yang sempat hilang karena emosi.

Kami makan dalam keheningan yang hangat, hanya suara denting sendok dan piring yang terdengar. Bagi kami, momen makan bersama adalah ibadah kecil yang tidak boleh diganggu oleh gawai atau obrolan berat.

"Besok pagi, Bapak mau mampir ke ruko barumu," ucap Bapak setelah menyudahi santap malamnya dan menyesap teh hangat di cangkir.

"Ngapain?"

"Bapak mau lihat, apa ruko dua miliar itu cukup pantas untuk menampung cita-cita besar putri tunggal Bapak ini."

Aku segera meletakkan sendok, lalu menggeleng cepat.

"Jangan, Pak. Jangan sekarang."

"Lho, kenapa?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Takut Bapak malu-maluin kamu karena rambut Bapak sudah putih semua?"

"Bukan begitu, Pak," aku tertawa kecil. "Tadi Bapak sendiri yang bilang kalau Lena nggak perlu membuktikan apa pun ke siapa pun. Jadi, biarin aja mereka dengan salah pahamnya. Justru bagus kalau orang-orang nggak tahu identitasku yang sebenarnya."

Aku menatap Bapak dengan serius.

"Kalau mereka tahu aku anaknya Pak Himawan, nanti banyak yang mendekat cuma buat jilat atau cari koneksi ke Bapak. Lena mau usaha ini berdiri karena kerja keras sendiri, bukan karena bayang-bayang nama besar Bapak."

Pria yang sukses menjadi cinta pertamaku itu terdiam sejenak, menatapku dengan binar bangga yang semakin dalam. Beliau lalu mengangguk setuju.

"Begitu memang lebih baik. Bapak nggak akan ikut campur, tapi kapan pun kamu butuh bantuan, langsung hubungi Bapak dan jangan sembunyikan masalah sekecil apa pun dari Bapak," ucap beliau sambil tersenyum lebar.

"Sip! Setuju!" balasku puas sambil mengacungkan jempol.

Sambil merebahkan tubuh di atas kasur king size yang empuk, aku membuka laptop. Jariku menari lincah mendesain flyer rekrutmen karyawan untuk Magdalena Seafood & Resto. Aku butuh koki, pelayan, dan beberapa staf lainnya. Setelah selesai, aku mengunggahnya ke Story WA, eFBi, dan I***a-gram.

Aku ingin melihat seberapa cepat kabar ini menyebar di lingkaran pertemananku.

Benar saja. Baru lima menit berselang, sebuah notifikasi pesan masuk. Jantungku sempat mencelos saat melihat nama pengirimnya Mas Aris.

[Lowongan kerja? Kamu yang bikin sendiri flyer-nya?]

Aku mengerutkan kening. Baru sadar kalau aku belum menghapus, apalagi memblokir nomor laki-laki ini.

Sebuah seringai muncul di wajahku. Kupikir-pikir, buat apa diblokir? Biarkan saja dia tetap di sana, menjadi penonton story-ku.

Belum sempat jempolku mengetik balasan, pesan berikutnya masuk dengan nada yang jauh lebih tajam.

[Anak orang kaya nggak mungkin bikin iklan lowongan kerja sendiri. Desainnya juga amatir banget. Dasar tukang halu! Ngaku-ngaku anak sultan cuma buat nutupin rasa malu karena diputusin? Kasihan.]

Mataku terbelalak. Ini bukan gaya bahasa Aris. Pasti Santi yang lagi pegang ponselnya!

Aku terkekeh pelan. Balas apa ya yang bisa bikin dia jengkel?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    16. Langit Bumi (2)

    "Ris, ajudan saya masih belum bisa masuk sore ini. Kamu dampingi saya lagi, ya? Ada undangan rapat koordinasi di DPRD satu jam lagi. Kamu segera bersiap, kita berangkat sekarang."Aris mendadak merasa pundaknya sedikit ringan. Ketakutannya tak pernah jadi nyata. Justru perintah itu bagaikan pelampung di tengah badai, menyelamatkannya dari rentetan omelan dan wajah menyebalkan Santi yang sedang terbakar cemburu di meja sebelah."Baik, Pak. Saya siapkan mobilnya segera," jawab Aris cekatan.Saat berjalan keluar untuk mengambil kunci mobil, ia melewati meja Santi. Wanita itu menatapnya dengan pandangan tajam, namun Aris memilih untuk menatap lurus ke depan. Untuk sesaat, ia merasa bekerja lebih baik daripada harus berurusan dengan emosi Santi yang makin tidak terkendali.Beberapa menit kemudian, saat mobil dinas Pak Camat perlahan keluar dari pelataran kantor kecamatan, mata Aris tak sengaja melirik ke arah restoran. Di depan pintu masuk, ia melihat salah satu staf Lena dengan sangat sop

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    15. Langit Bumi

    Suasana restoran mulai melandai satu jam usai pembukaan. Pak Camat berdiri, merapikan kemeja batiknya, lalu menyalami Lena dengan senyum terkembang."Sukses besar, Mbak Lena. Saya benar-benar kagum," ujar Pak Camat tulus.Lena mengangguk, menyambut jabat tangan itu dengan sopan. "Terima kasih, Pak. Tiga hari ini memang ada promo bayar lima puluh persen saja. Biar warga sekitar sini bisa mencicipi menu kami.""Wah, strategi yang bagus," puji Pak Camat."Bukan cuma itu, Pak," tambah Lena sambil melirik ke arah area kosong di samping restoran. "Nanti tiap hari Jumat, bumil dan balita bisa makan gratis di tempat. Saya juga sudah pesan wahana playground, perosotan dan kawan-kawannya, tapi belum datang. Saya ingin restoran ini ramah keluarga."Pak Camat geleng-geleng kepala, tampak terkesan. "Luar biasa. Bukan cuma cari untung, tapi juga cari berkah. Semoga rezekinya makin melimpah ya, Mbak."Satu per satu staf kecamatan berpamitan, menyalami Lena sambil memuji kelezatan ikan bakarnya. Hany

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    14. Drama Roti Buaya (2)

    "Biarin saja, Mas Toto. Mendingan nonton drama ini dulu. Lebih seru dibandingkan drama ikan terbang!" seloroh Anna yang ikut hadir di sana mendampingi Lena."Ada-ada aja kalian." Lena terkekeh pelan, menatap ketiga orang tamu tak diundangnya—Aris yang salah tingkah, Santi yang meledak-ledak, dan Bu Ratna yang mengomeli calon mantunya—dengan tatapan yang sulit diartikan.Pak Camat hanya bisa berdehem canggung, sesekali menutup mulut dengan punggung tangan untuk menyembunyikan senyum gelinya. Sementara itu, Bu Ratna makin menjadi-jadi. Ia tidak mempedulikan wajah Santi yang sudah menangis sesenggukan karena dipermalukan di depan orang banyak."Nak Lena, abaikan saja dia. Namanya juga anak kemarin sore, nggak tahu sopan santun sama mertua," ucap Bu Ratna sambil kembali mencoba merangkul bahu Lena. "Ayo, potong pitanya bareng Aris, Nak. Biar auranya makin dapet."Lena menghindar dengan sangat halus, bergeser dua langkah ke samping. Ia menatap Bu Ratna, lalu beralih ke roti buaya raksasa y

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    13. Drama Roti Buaya

    Tepat pukul delapan pagi, mobil dinas Pak Camat berhenti di depan restoran milik Lena. Puluhan sepeda motor sudah memenuhi separuh tempat itu, milik orang-orang yang berdiri teratur di depan bangunan. Mereka bukan sekadar kerumunan biasa, melainkan barisan rapi yang menunggu pembukaan restoran dan toko seafood segar.Aris turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Pak Camat. Salah satu staf restoran menyambut di depan, membawa keduanya masuk melewati baris antrean."Wah, luar biasa ya, Ris. Baru buka udah rame aja," puji Pak Camat dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikannya. Aris hanya mengangguk, mengiyakan, sibuk menyusun kata-kata untuk menyapa Pak Himawan. Ia mengekor di belakang Pak Camat sambil menoleh ke sana kemari. Namun, yang ia nantikan tak kelihatan. Ayah Lena tak ada di sana.Matanya justru terbelalak lebar saat melihat sosok yang berdiri di tengah ruangan. Di sana, di bawah lampu gantung kristal yang mewah, berdiri seorang wanita yang membuat jantungnya berdegup k

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    12. Berubah 180 Derajat

    POV Aris"Mas, kamu jemput Pak Camat, terus aku berangkat sama siapa?" Santi mengejar langkahku ke teras. "Nggak usah manja. Ojek banyak!" sahut Ibu sambil mendekat ke arahku dan merapikan kerah kemeja biar presisi. "Lagian siapa suruh kamu nggak bisa naik motor!" "Bukan nggak bisa, Bu! Tapi kalau naik motor nanti riasan Santi rusak kena debu jalanan!" bela Santi dengan nada tinggi, padahal aslinya dia memang tidak bisa menyalakan mesin motor apalagi mengendarainya. Ibu mendengus kasar, seolah omelan Santi hanya angin lalu yang mengganggu. Sikapnya benar-benar berubah 180 derajat. "Halah, alasan! Bilang saja memang nggak bisa. Sudah, Ris, berangkat sana. Nanti Pak Camat nungguin. Ibu mau ke rumah Bu RT dulu ambil kue pesanan." Aku tak berani menoleh lagi. Dengan langkah seribu, aku menyalakan motor PCX-ku—motor yang BPKB-nya kini sedang terancam karena dicabutnya jaminan dari Lena. "Mas! Mas Aris! Tunggu!" teriak Santi putus asa dari teras, kakinya menghentak-hentak lantai, tapi

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    11. Berubah 180 Derajat

    POV Aris"Aris, sudah siap belum? Ayo cepat ke rumah Pak Camat. Kamu yang bawa mobilnya, kan?" Suara Ibu melengking dari arah kamar, memecah keheningan pagi yang baru saja dimulai."Bentar, Bu! Ini tanggung, nyemir sepatu tinggal satu lagi," sahutku sambil menggosok pantofel hitamku sekuat tenaga agar mengkilap sempurna.Pintu kamar terbuka. Aku hampir tidak mengenali ibuku sendiri. Beliau tampil sangat heboh dengan kebaya kutubaru berwarna cerah. Riasan wajahnya sangat on point, bibirnya merah menyala, dan bulu mata palsu yang dipasangnya tampak sangat lentur setiap kali beliau berkedip. Ibu benar-benar berdandan seolah dia adalah tamu kehormatan.Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Santi melangkah masuk dengan wajah bingung yang seketika berubah jadi heran melihat penampilan calon mertuanya."Ibu mau ke mana? Kok rapi banget?" tanya Santi. Matanya memindai Ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki."Ibu mau ikut acara pembukaan restorannya Lena," jawab Ibu enteng sambil mematut diri

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status