Share

6. Pak Camat

Penulis: Hanazawa Easzy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 16:17:29

Dari arah pertigaan, sebuah mobil sedan hitam dengan plat nomor dinas terlihat melaju mendekat. Aris yang tadinya hampir berdebat dengan Mas Toto, mendadak pucat pasi.

"Mati aku. Pak Camat datang!" gumam Aris panik. Ia segera menyambar lengan Santi, menarik tunangannya itu masuk ke gerbang kantor dengan langkah seribu, mengabaikan teriakan Mas Toto yang masih menyuruh memindahkan motor PCX-nya.

Aku hanya bersedekap, menanti adegan selanjutnya. Mobil itu berhenti tepat di belakang barisan boks trukku yang menutupi jalan. Pak Camat turun dari pintu belakang. Wajahnya yang biasanya tegas saat memimpin apel, kini berubah drastis saat matanya menangkap sosokku yang berdiri di depan ruko.

Bukannya marah karena akses masuk kantornya terhambat, ia malah berjalan menghampiriku dengan senyum lebar dan sikap yang sangat hormat.

"Lho, Mbak Magdalena? Jadi benar rumornya kalau putri Pak Himawan mau buka usaha di wilayah saya? Wah, suatu kehormatan luar biasa ini!" sapa Pak Camat sambil sedikit membungkuk.

Aku segera melepas kacamata hitamku dan menyalami beliau dengan sopan. "Ah, Bapak bisa saja. Ini cuma usaha kecil-kecilan kok, Pak. Mohon izin ya, saya sedikit mengganggu ketenangan kantor Bapak hari ini."

"Kecil-kecilan bagaimana? Ini gedungnya saja strategis begini," Pak Camat tertawa kecil, matanya melirik truk-truk Samudera Jaya di belakangku.

"Saya ini berhutang banyak ke Pak Himawan. Beliau sudah berkali-kali membantu mensukseskan program pemerintah di sini, termasuk membuka lapangan pekerjaan yang sangat luas. Ternyata Mbak Lena mengikuti jejak Bapak, ya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya."

Aku tersenyum tipis, seketika teringat nasihat Bapak semalam tentang meluruskan niat dan tidak perlu pamer. Aku melihat ke arah jendela kantor kecamatan. Aku tahu, di balik gorden tipis itu, ada Aris dan Santi yang pasti sedang mengintip dengan jantung berdebar.

"Pak Camat," panggilku pelan, membuat beliau mendekat. "Sebenarnya, saya mau minta tolong sedikit."

"Apa itu, Mbak? Selama saya bisa bantu, pasti saya laksanakan."

"Tolong bantu sembunyikan identitas saya yang sebenarnya. Saya tidak mau dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk kepentingan pribadi hanya karena tahu siapa Bapak saya. Termasuk... Santi, staf Bapak."

Pak Camat mengernyit bingung. "Maksudnya?"

"Santi dan Aris... mereka tahunya saya cuma karyawan atau kuli di sini. Kalau boleh minta tolong, jika mereka tanya, iyakan saja. Jangan bilang saya putrinya Pak Himawan."

"Lho, kok gitu, Mbak? Kenapa tidak jujur saja supaya mereka tidak macam-macam?"

"Nggak apa-apa. Saya cuma nggak pengen cari 'musuh', Pak." Aku tersenyum misterius, jari telunjuk dan tengahku membentuk tanda kutip di udara saat mengucapkan kata musuh.

Pak Camat tampak menghela napas, lalu mengangguk paham.

"Oh, saya mengerti. Saya juga kaget sekali waktu dengar Aris lamaran sama Santi kemarin, padahal saya tahunya dia sudah bertahun-tahun pacaran sama Mbak Lena. Maaf ya, Mbak, kalau dua staf saya itu bikin masalah. Saya benar-benar tidak enak, tapi saya juga tidak bisa ikut campur terlalu dalam soal urusan pribadi bawahan."

"Aman, Pak Camat. Saya nggak apa-apa, kok. Lagipula, buat saya sekarang, jauh lebih pusing kalau nggak punya uang daripada nggak punya ayang."

Aku tertawa renyah, tawa yang benar-benar lepas karena beban di hatiku sudah menguap. Pak Camat ikut tertawa mendengar candaanku.

"Mbak Lena ini bisa saja. Ya sudah, saya masuk kantor dulu. Kalau ada apa-apa soal perizinan atau butuh bantuan keamanan untuk restorannya, langsung telepon saya saja ya!"

"Siap, Pak Camat. Terima kasih banyak!"

Aku menyalami Pak Camat sekali lagi dan menatap punggung beliau yang berjalan masuk ke kantor. Di depan sana, aku bisa melihat gorden jendela kecamatan sedikit bergoyang, mungkin staf yang mengintip langsung membubarkan diri dan kembali ke meja masing-masing.

Satu yang pasti, aku yakin Santi dan Aris sedang dilanda kebingungan. Kenapa atasan mereka ramah banget sama si tukang ikan?

Aku segera menepis segala pikiran tentang sepasang pengkhianat itu. Ada urusan yang jauh lebih penting daripada sekadar menikmati kebingungan mereka.

Badanku berbalik, melangkah masuk ke dalam ruko dan mengambil buku agenda, memberi ceklis untuk pekerjaan yang sudah beres dan membuat catatan tambahan apa-apa saja yang masih perlu dikerjakan.

Pukul delapan lewat empat puluh menit, barisan mobil boks putih itu akhirnya beranjak pergi setelah semua peralatan raksasa berhasil dipindahkan. Area depan ruko kini tampak luas, memberikan pemandangan yang jelas bagi para pelamar kerja yang mulai berdatangan.

Satu per satu motor terparkir rapi. Mas Toto, dengan ketegasannya yang biasa, sigap membantu menerima CV dan mempersilakan para pelamar duduk di kursi-kursi yang baru saja dibuka plastik pembungkusnya.

"Mbak Lena, ini ikannya sudah siap dimasukkan ke akuarium," lapor salah satu staf profesional yang baru datang.

Aku mengangguk, mengawasi mereka mengisi akuarium berukuran 2 m² yang menjadi centerpiece di tengah ruko. Air jernih mulai memenuhi kaca, diikuti dengan berbagai jenis ikan laut warna-warni. Di sisi lain, udang-udang segar—kualitas ekspor yang tidak akan ditemukan di pasar manapun—juga mulai ditata di tempatnya.

Di saat yang sama, tukang dekorasi sibuk memasang lampu gantung dengan cahaya kuning hangat yang seketika mengubah suasana ruangan menjadi sangat berkelas.

Aku duduk di sebuah meja bundar di sudut ruangan, menghadap tumpukan map berisi masa depan orang-orang ini. Aku memutuskan untuk turun tangan sendiri. Bagiku, restoran ini bukan sekadar bisnis, tapi amanah Bapak untuk membuka lapangan pekerjaan.

Satu per satu pelamar kupanggil. Aku menerima beberapa fresh graduate yang tampak antusias meski wajah mereka terlihat gugup. Mereka akan kutempatkan sebagai waitress. Keramahan dan kejujuran mereka lebih berharga bagiku daripada pengalaman ribuan tahun tapi bermuka dua.

"Bapak koki spesialis apa?" tanyaku pada seorang pria paruh baya yang terlihat sangat rapi. Wajahnya bersih, tanpa kumis. Meski tidak wangi, tapi siapa pun tahu, dia menjaga penampilannya agar tetap enak dipandang.

"Saya biasa menangani western food, Mbak, tapi saya juga paham masakan Nusantara," jawabnya mantap.

Setelah melalui wawancara singkat namun padat, aku akhirnya mengantongi sepuluh nama. Dua orang koki hebat untuk mengurus dapur, empat orang waitress, dua orang staf penjaga dagangan ikan segar, dan dua orang petugas kebersihan.

"Selamat bergabung dengan Magdalena Seafood & Resto," ucapku sambil menyalami mereka satu per satu. "Tempat ini mulai dibuka besok jam sepuluh, tapi beberapa dari kalian harus datang dua jam sebelumnya untuk siap-siap. Teknis dan job desk masing-masing bagian, nanti akan dijelaskan lebih lengkap oleh Mas Toto."

Pria dengan seragam biru di belakangku mengangguk mantap.

"Ingat, di sini kita semua bekerja sebagai satu tim. Setara. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Tujuan utama kita adalah melayani pelanggan sebaik mungkin. Evaluasi akan kita lakukan bertahap. Mengerti?"

"Mengerti, Bu!" jawab mereka serempak dengan nada penuh semangat. Wajah-wajah yang tadinya tegang kini berubah menjadi binar harapan.

Aku mengalihkan pandanganku kepada belasan pelamar lain yang belum beruntung hari ini. Aku tidak ingin mereka pulang dengan tangan hampa atau perasaan kecewa.

"Dan untuk teman-teman yang belum saya panggil namanya untuk bergabung di tim inti, jangan berkecil hati," ucapku sambil berdiri, membuat suasana menjadi tenang. "Kalian tetap bisa bekerja sama dengan Magdalena Seafood. Caranya mudah, cukup bantu promosikan tempat ini di sosial media kalian. Saya akan berikan kode khusus—misalnya 'Magdalena-01' atau sesuai nama kalian. Setiap pelanggan yang datang membawa kode itu, kalian akan mendapat komisi dari total belanja mereka."

Mata mereka seketika berbinar. Ini bukan sekadar penolakan, tapi tawaran kemitraan yang adil.

"Jadi, tidak ada yang pulang dengan sia-sia hari ini, kan?" tanyaku sambil tersenyum.

"Tidak, Bu! Terima kasih banyak!" sahut mereka riuh.

Aku menoleh ke arah dapur yang sudah mulai mengepulkan uap harum, hasil uji coba koki baru yang baru saja kubayar untuk langsung bekerja. Aku kembali menatap semua orang di ruangan itu—baik karyawan baru maupun para pelamar.

"Sekarang, saya minta kalian semua duduk. Jangan ada yang pulang dulu," perintahku sambil memberi kode pada Mas Toto.

"Sebagai ucapan selamat datang di keluarga Magdalena Group, saya akan mentraktir semua yang ada di ruko ini. Kita makan siang bersama dengan menu andalan restoran ini!"

Seketika, sorak sorai pecah di dalam gedung. Mas Toto dan para staf dapur dengan sigap mengeluarkan piring-piring besar berisi kepiting soka telur asin, udang bakar madu, dan ikan gurami asam manis yang ukurannya fantastis.

Aroma sedap itu menguar keluar melalui pintu ruko yang sengaja kubuka lebar. Aku melirik ke seberang jalan. Beberapa staf kecamatan yang sedang berjalan menuju warung tegal di pinggir jalan tampak berhenti, hidung mereka kembang kempis menghirup aroma mewah dari restoranku.

Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat Aris dan Santi berdiri di selasar kantor, menatap keramaian di dalam restoranku dengan wajah lapar dan penuh rasa penasaran yang menyiksa.

"Ayo, silakan makan! Jangan sungkan!" seruku sengaja dengan suara lantang.

Aku duduk di salah satu kursi, menikmati pemandangan orang-orang yang makan dengan lahap. Nasihat Bapak benar. Niat yang diluruskan membawa kedamaian yang berbeda. Melihat orang lain bahagia, rasanya jauh lebih memuaskan daripada sekadar sebuah pengakuan.

Gebrakan baru apalagi yang harus kubuat kedepannya, ya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    16. Langit Bumi (2)

    "Ris, ajudan saya masih belum bisa masuk sore ini. Kamu dampingi saya lagi, ya? Ada undangan rapat koordinasi di DPRD satu jam lagi. Kamu segera bersiap, kita berangkat sekarang."Aris mendadak merasa pundaknya sedikit ringan. Ketakutannya tak pernah jadi nyata. Justru perintah itu bagaikan pelampung di tengah badai, menyelamatkannya dari rentetan omelan dan wajah menyebalkan Santi yang sedang terbakar cemburu di meja sebelah."Baik, Pak. Saya siapkan mobilnya segera," jawab Aris cekatan.Saat berjalan keluar untuk mengambil kunci mobil, ia melewati meja Santi. Wanita itu menatapnya dengan pandangan tajam, namun Aris memilih untuk menatap lurus ke depan. Untuk sesaat, ia merasa bekerja lebih baik daripada harus berurusan dengan emosi Santi yang makin tidak terkendali.Beberapa menit kemudian, saat mobil dinas Pak Camat perlahan keluar dari pelataran kantor kecamatan, mata Aris tak sengaja melirik ke arah restoran. Di depan pintu masuk, ia melihat salah satu staf Lena dengan sangat sop

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    15. Langit Bumi

    Suasana restoran mulai melandai satu jam usai pembukaan. Pak Camat berdiri, merapikan kemeja batiknya, lalu menyalami Lena dengan senyum terkembang."Sukses besar, Mbak Lena. Saya benar-benar kagum," ujar Pak Camat tulus.Lena mengangguk, menyambut jabat tangan itu dengan sopan. "Terima kasih, Pak. Tiga hari ini memang ada promo bayar lima puluh persen saja. Biar warga sekitar sini bisa mencicipi menu kami.""Wah, strategi yang bagus," puji Pak Camat."Bukan cuma itu, Pak," tambah Lena sambil melirik ke arah area kosong di samping restoran. "Nanti tiap hari Jumat, bumil dan balita bisa makan gratis di tempat. Saya juga sudah pesan wahana playground, perosotan dan kawan-kawannya, tapi belum datang. Saya ingin restoran ini ramah keluarga."Pak Camat geleng-geleng kepala, tampak terkesan. "Luar biasa. Bukan cuma cari untung, tapi juga cari berkah. Semoga rezekinya makin melimpah ya, Mbak."Satu per satu staf kecamatan berpamitan, menyalami Lena sambil memuji kelezatan ikan bakarnya. Hany

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    14. Drama Roti Buaya (2)

    "Biarin saja, Mas Toto. Mendingan nonton drama ini dulu. Lebih seru dibandingkan drama ikan terbang!" seloroh Anna yang ikut hadir di sana mendampingi Lena."Ada-ada aja kalian." Lena terkekeh pelan, menatap ketiga orang tamu tak diundangnya—Aris yang salah tingkah, Santi yang meledak-ledak, dan Bu Ratna yang mengomeli calon mantunya—dengan tatapan yang sulit diartikan.Pak Camat hanya bisa berdehem canggung, sesekali menutup mulut dengan punggung tangan untuk menyembunyikan senyum gelinya. Sementara itu, Bu Ratna makin menjadi-jadi. Ia tidak mempedulikan wajah Santi yang sudah menangis sesenggukan karena dipermalukan di depan orang banyak."Nak Lena, abaikan saja dia. Namanya juga anak kemarin sore, nggak tahu sopan santun sama mertua," ucap Bu Ratna sambil kembali mencoba merangkul bahu Lena. "Ayo, potong pitanya bareng Aris, Nak. Biar auranya makin dapet."Lena menghindar dengan sangat halus, bergeser dua langkah ke samping. Ia menatap Bu Ratna, lalu beralih ke roti buaya raksasa y

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    13. Drama Roti Buaya

    Tepat pukul delapan pagi, mobil dinas Pak Camat berhenti di depan restoran milik Lena. Puluhan sepeda motor sudah memenuhi separuh tempat itu, milik orang-orang yang berdiri teratur di depan bangunan. Mereka bukan sekadar kerumunan biasa, melainkan barisan rapi yang menunggu pembukaan restoran dan toko seafood segar.Aris turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Pak Camat. Salah satu staf restoran menyambut di depan, membawa keduanya masuk melewati baris antrean."Wah, luar biasa ya, Ris. Baru buka udah rame aja," puji Pak Camat dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikannya. Aris hanya mengangguk, mengiyakan, sibuk menyusun kata-kata untuk menyapa Pak Himawan. Ia mengekor di belakang Pak Camat sambil menoleh ke sana kemari. Namun, yang ia nantikan tak kelihatan. Ayah Lena tak ada di sana.Matanya justru terbelalak lebar saat melihat sosok yang berdiri di tengah ruangan. Di sana, di bawah lampu gantung kristal yang mewah, berdiri seorang wanita yang membuat jantungnya berdegup k

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    12. Berubah 180 Derajat

    POV Aris"Mas, kamu jemput Pak Camat, terus aku berangkat sama siapa?" Santi mengejar langkahku ke teras. "Nggak usah manja. Ojek banyak!" sahut Ibu sambil mendekat ke arahku dan merapikan kerah kemeja biar presisi. "Lagian siapa suruh kamu nggak bisa naik motor!" "Bukan nggak bisa, Bu! Tapi kalau naik motor nanti riasan Santi rusak kena debu jalanan!" bela Santi dengan nada tinggi, padahal aslinya dia memang tidak bisa menyalakan mesin motor apalagi mengendarainya. Ibu mendengus kasar, seolah omelan Santi hanya angin lalu yang mengganggu. Sikapnya benar-benar berubah 180 derajat. "Halah, alasan! Bilang saja memang nggak bisa. Sudah, Ris, berangkat sana. Nanti Pak Camat nungguin. Ibu mau ke rumah Bu RT dulu ambil kue pesanan." Aku tak berani menoleh lagi. Dengan langkah seribu, aku menyalakan motor PCX-ku—motor yang BPKB-nya kini sedang terancam karena dicabutnya jaminan dari Lena. "Mas! Mas Aris! Tunggu!" teriak Santi putus asa dari teras, kakinya menghentak-hentak lantai, tapi

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    11. Berubah 180 Derajat

    POV Aris"Aris, sudah siap belum? Ayo cepat ke rumah Pak Camat. Kamu yang bawa mobilnya, kan?" Suara Ibu melengking dari arah kamar, memecah keheningan pagi yang baru saja dimulai."Bentar, Bu! Ini tanggung, nyemir sepatu tinggal satu lagi," sahutku sambil menggosok pantofel hitamku sekuat tenaga agar mengkilap sempurna.Pintu kamar terbuka. Aku hampir tidak mengenali ibuku sendiri. Beliau tampil sangat heboh dengan kebaya kutubaru berwarna cerah. Riasan wajahnya sangat on point, bibirnya merah menyala, dan bulu mata palsu yang dipasangnya tampak sangat lentur setiap kali beliau berkedip. Ibu benar-benar berdandan seolah dia adalah tamu kehormatan.Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Santi melangkah masuk dengan wajah bingung yang seketika berubah jadi heran melihat penampilan calon mertuanya."Ibu mau ke mana? Kok rapi banget?" tanya Santi. Matanya memindai Ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki."Ibu mau ikut acara pembukaan restorannya Lena," jawab Ibu enteng sambil mematut diri

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status