Masuk"Yakin Mbak Lena mau bagi-bagi makanan gratis sore ini? Belum juga ada uang masuk, sudah bakar uang duluan. Buat makan siang gratis tadi siang saja sudah habis lima juta modalnya, Mbak," tanya Mas Toto dengan nada cemas sambil menghitung catatan belanja di tangannya.
Aku tersenyum santai sambil merapikan tumpukan brosur eksklusif yang baru saja datang dari percetakan. Brosur itu menggunakan kertas art paper tebal dengan foto kepiting saus Padang yang warnanya sangat menggoda. "Ini bukan bakar uang, Mas. Anggap saja syukuran. Lagian kokinya sudah dibayar untuk sehari, mereka nggak keberatan masak lagi, kan?" "Tapi kan nggak cuma masak saja, Mbak. Bungkusin makanan sama distribusinya juga butuh tenaga," keluh Mas Toto lagi, meski tangannya tetap sigap membantu staf dapur mengemas makanan. "Aku sendiri yang bakal keliling ke ruko-ruko sekitar sini. Lagipula cuma lima puluh bungkus, paling satu atau dua jam juga selesai kok, Mas." Mas Toto menghentikan gerakannya sejenak, keningnya berkerut dalam. "Tadi Mbak minta boks makanannya seratus lembar. Terus yang lima puluh bungkus lagi buat siapa?" Aku mengangkat dagu, lalu menunjuk ke arah gedung cokelat angkuh di seberang jalan. "Ke sana. Kantor kecamatan." "Yang bener saja, Mbak! Ngapain juga kasih ke mereka? Di sana ada mantan Mbak yang sudah berkhianat sama selingkuhannya!" Mas Toto berseru tidak terima, wajahnya memerah karena emosi yang tertahan. "Sst! Jaga ucapannya, Mas. Justru karena ada mereka, aku harus unjuk gigi," balasku sambil mengerling. "Aku mau mereka tahu rasa masakan di sini. Biar setiap hari mereka tersiksa karena mencium aromanya tapi isi dompetnya nggak sanggup beli setiap hari. Bakalan lebih mengenaskan lagi kalau mereka berdua menelan ludah karena gengsi. Oh iya, khusus buat Pak Camat, nanti kasih boks yang besar ya, tambahkan lobster juga boleh." "Mbak..." "Sudah sana. Mas Toto siapkan saja apa yang aku minta. Jangan lupa selipkan brosur harga di setiap boksnya." Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, aku melangkah keluar ruko. Tidak ada lagi keranjang ikan yang becek. Aku membawa keranjang rotan cantik berisi boks-boks makanan premium. Setelah membagikan lima puluh boks ke ruko-ruko tetangga dan mendapat sambutan luar biasa, aku melangkah menuju kantor kecamatan. Satpam di depan pintu gerbang sempat bingung, tapi langsung membukakan jalan saat melihat logo PT Samudera Jaya di kantong plastik yang kubawa. Aku masuk ke ruang staf. Aroma bumbu asam manis pedas yang tajam dan menggoda seketika memenuhi ruangan AC yang membosankan itu. "Selamat sore semuanya," sapaku ramah, membuat puluhan kepala berseragam cokelat menoleh. "Perkenalkan, saya Lena dari ruko sebelah. Besok kami buka, jadi hari ini saya bawakan makan sore gratis untuk perkenalan." Seketika suasana riuh. Para staf yang baru saja kelelahan bekerja langsung berebutan mengambil boks makanan itu. Di tengah kerumunan itu, aku melihat Aris dan Santi duduk di meja mereka. Wajah Santi terlihat sangat masam, sementara Aris tampak menelan ludah melihat boks mewah di tangan rekan-rekannya. "Wah, Mbak Lena! Ini isinya udang windu gede banget! Makasih ya!" seru salah satu staf senior. Aku berjalan perlahan menuju meja Aris dan Santi. Aku meletakkan dua boks di hadapan mereka. "Dimakan ya, Mas Aris, Mbak Santi," ucapku dengan senyum paling manis yang pernah kubuat. "Saya tahu kalian pasti lapar setelah seharian sibuk..." Santi mendelik, ia mendorong boks itu menjauh. "Nggak perlu! Kita bisa beli sendiri yang lebih mahal!" Tepat saat itu, Pak Camat keluar dari ruangannya. "Ada apa ini? Wah, aromanya sampai masuk ke ruangan saya." "Ini Pak, Mbak Lena bagi-bagi makanan gratis buat kita," lapor salah satu staf. Aku menyerahkan boks paling besar kepada Pak Camat. "Ini khusus buat Bapak. Ada lobster dan kepiting soka di dalamnya. Selamat menikmati, Pak." "Wah, terima kasih banyak, Mbak Lena! Beruntung sekali kantor ini bertetangga dengan Mbak," puji Pak Camat tulus. Beliau menoleh ke arah Aris dan Santi. "Aris, Santi, ayo dimakan. Jarang-jarang kalian bisa makan makanan sekelas hotel bintang lima begini, kan? Biasanya cuma makan di warteg depan, kan?" Wajah Aris dan Santi mendadak pucat. Mereka hanya bisa terdiam kaku di kursi masing-masing, sementara seluruh kantor riuh rendah berterima kasih padaku. Brak! Santi yang sudah kepanasan sejak tadi, akhirnya meledak. Dengan wajah merah padam, ia menyambar tas bermerek—yang aku tahu KW itu—dari atas meja. Suara kakinya yang memakai hak tinggi menghentak lantai dengan kasar saat ia melangkah pergi tanpa pamit, meninggalkan boks makanan mewah itu tergeletak begitu saja. Aris tampak bimbang. Matanya melirik punggung Santi yang menjauh, lalu beralih menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lena..." suaranya lirih, seolah ingin memulai pembicaraan yang tertunda. Aku sama sekali tidak menoleh. Bagiku, dia sekarang hanyalah bagian dari dekorasi kantor yang sudah usang. Aku lebih memilih fokus pada Pak Camat yang masih tersenyum ramah di hadapanku. "Pak Camat," panggilku, membuat perhatian beliau terpusat sepenuhnya padaku. "Besok pagi pembukaan restoran kecil saya. Saya secara khusus ingin mengundang Bapak untuk memberikan sepatah dua patah kata sekaligus meresmikannya. Mohon maaf jika mendadak begini, karena sejak pagi keadaan ruko cukup sibuk, jadi saya baru sempat menyampaikannya sekarang." Pak Camat tertawa renyah, wajahnya terlihat sangat antusias. "Tentu, Mbak Lena! Tidak perlu minta maaf. Justru saya yang merasa terhormat diajak berpartisipasi. Besok jam delapan, kan?" tanyanya sambil melihat brosur promosi sekali lagi. "Saya pasti datang bersama staf lainnya." "Terima kasih banyak, Pak. Saya tunggu kedatangannya." Aku berbalik, melangkah dengan anggun menuju pintu keluar. Saat melewati meja kerja Aris, aku melirik sekilas ke arah boks makanan di meja sebelahnya—milik Santi. "Mas Aris, kalau tunangannya nggak mau makan, kasih ke Ibu atau adik Mas saja. Mereka pasti suka. Kasihan makanannya, jangan sampai mubazir," ucapku pelan hanya dia yang mendengarnya karena semua staf sibuk siap-siap pulang sambil berbincang. Aris hanya bisa mematung. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah layu. Ia menatapku keluar dari ruangan itu dengan sorot mata penyesalan yang mulai tumbuh—sebuah benih penyesalan yang akan aku siram setiap hari sampai dia benar-benar merangkak di kakiku. Aku keluar dari gedung kecamatan dengan perasaan senang luar biasa. Langit sore yang mulai jingga seolah ikut merayakan keberhasilanku. "Lena, tunggu...!" Aku berhenti dan berbalik perlahan. Ternyata Aris. Dia mengejarku sambil menenteng tas kerjanya dan dua boks makanan—miliknya dan boks milik Santi yang tadi ditinggalkan. Napasnya sedikit memburu, matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Len, tolong... aku minta waktu sebentar buat ngomong. Ada hal yang perlu aku luruskan," ucapnya dengan nada memelas. Belum juga bibirku terbuka untuk menjawab, sebuah teriakan melengking membelah suasana sore itu. Suara yang berasal dari depan rukoku. "Mas Aris! Ngapain masih di situ sama dia?!" Itu Santi. Dia berdiri mencak-mencak di samping motor PCX Aris yang masih terparkir di depan restoranku. Wajahnya yang tadi sudah masam, kini semakin tertekuk hebat. Dia berkacak pinggang, menatap kami dengan api cemburu yang membara. Aku terkekeh pelan, melirik Aris dengan tatapan meremehkan. "Tuh, Mas. Permaisurinya lagi ngambek. Nggak mau dibujuk? Nanti cicilan motornya nggak ada yang bantu bayarin, lho." "Len, aku..." Aris menggantung kalimatnya, tampak serba salah. "Hubungan kita sudah berakhir, Mas. Aku nggak mau jadi duri dalam hubungan kalian yang... katanya setara. Aku yang bau ikan begini, nggak level sama kalian," balasku telak. "Len—" Aku memutar tubuh, melanjutkan langkah menuju ruko tanpa memedulikan panggilannya lagi. Namun, Santi sepertinya belum puas. Begitu aku sampai di hadapannya, dia langsung menyembur dengan kalimat ketus. "Dasar gatal! Sudah putus masih saja godain tunangan orang. Nggak laku ya sampai harus narik-narik perhatian Mas Aris pakai makanan gratis?" sengitnya dengan napas memburu. Aku berhenti tepat di depan Santi dan tersenyum lebar, menatapnya lurus-lurus. Jarak kami sangat dekat hingga dia bisa melihat pantulan wajahnya yang sedang emosi di mataku. "Maaf ya, Mbak Santi yang terhormat. Perlu saya perjelas. Bukan saya yang mengejar Mas Aris. Tadi itu tunangan Mbak sendiri yang lari-lari ngejar saya cuma buat minta waktu bicara." Aku tersenyum tipis, merapikan sedikit kerah bajunya yang agak berantakan. "Saya sih sudah bisa move on. Jadi, daripada marah-marah nggak jelas dan bikin malu seragam cokelat Mbak di pinggir jalan begini, mending Mbak jagain tunangannya baik-baik. Pastikan dia nggak deketin saya lagi karena jujur saja... itu cukup mengganggu." Santi bungkam, wajahnya merah padam antara malu dan marah. Di belakangnya, Aris datang dengan wajah lesu, benar-benar terlihat seperti pria yang kehilangan harga diri. Mereka pasti bertengkar hebat setelah ini. Pasti!"Ris, ajudan saya masih belum bisa masuk sore ini. Kamu dampingi saya lagi, ya? Ada undangan rapat koordinasi di DPRD satu jam lagi. Kamu segera bersiap, kita berangkat sekarang."Aris mendadak merasa pundaknya sedikit ringan. Ketakutannya tak pernah jadi nyata. Justru perintah itu bagaikan pelampung di tengah badai, menyelamatkannya dari rentetan omelan dan wajah menyebalkan Santi yang sedang terbakar cemburu di meja sebelah."Baik, Pak. Saya siapkan mobilnya segera," jawab Aris cekatan.Saat berjalan keluar untuk mengambil kunci mobil, ia melewati meja Santi. Wanita itu menatapnya dengan pandangan tajam, namun Aris memilih untuk menatap lurus ke depan. Untuk sesaat, ia merasa bekerja lebih baik daripada harus berurusan dengan emosi Santi yang makin tidak terkendali.Beberapa menit kemudian, saat mobil dinas Pak Camat perlahan keluar dari pelataran kantor kecamatan, mata Aris tak sengaja melirik ke arah restoran. Di depan pintu masuk, ia melihat salah satu staf Lena dengan sangat sop
Suasana restoran mulai melandai satu jam usai pembukaan. Pak Camat berdiri, merapikan kemeja batiknya, lalu menyalami Lena dengan senyum terkembang."Sukses besar, Mbak Lena. Saya benar-benar kagum," ujar Pak Camat tulus.Lena mengangguk, menyambut jabat tangan itu dengan sopan. "Terima kasih, Pak. Tiga hari ini memang ada promo bayar lima puluh persen saja. Biar warga sekitar sini bisa mencicipi menu kami.""Wah, strategi yang bagus," puji Pak Camat."Bukan cuma itu, Pak," tambah Lena sambil melirik ke arah area kosong di samping restoran. "Nanti tiap hari Jumat, bumil dan balita bisa makan gratis di tempat. Saya juga sudah pesan wahana playground, perosotan dan kawan-kawannya, tapi belum datang. Saya ingin restoran ini ramah keluarga."Pak Camat geleng-geleng kepala, tampak terkesan. "Luar biasa. Bukan cuma cari untung, tapi juga cari berkah. Semoga rezekinya makin melimpah ya, Mbak."Satu per satu staf kecamatan berpamitan, menyalami Lena sambil memuji kelezatan ikan bakarnya. Hany
"Biarin saja, Mas Toto. Mendingan nonton drama ini dulu. Lebih seru dibandingkan drama ikan terbang!" seloroh Anna yang ikut hadir di sana mendampingi Lena."Ada-ada aja kalian." Lena terkekeh pelan, menatap ketiga orang tamu tak diundangnya—Aris yang salah tingkah, Santi yang meledak-ledak, dan Bu Ratna yang mengomeli calon mantunya—dengan tatapan yang sulit diartikan.Pak Camat hanya bisa berdehem canggung, sesekali menutup mulut dengan punggung tangan untuk menyembunyikan senyum gelinya. Sementara itu, Bu Ratna makin menjadi-jadi. Ia tidak mempedulikan wajah Santi yang sudah menangis sesenggukan karena dipermalukan di depan orang banyak."Nak Lena, abaikan saja dia. Namanya juga anak kemarin sore, nggak tahu sopan santun sama mertua," ucap Bu Ratna sambil kembali mencoba merangkul bahu Lena. "Ayo, potong pitanya bareng Aris, Nak. Biar auranya makin dapet."Lena menghindar dengan sangat halus, bergeser dua langkah ke samping. Ia menatap Bu Ratna, lalu beralih ke roti buaya raksasa y
Tepat pukul delapan pagi, mobil dinas Pak Camat berhenti di depan restoran milik Lena. Puluhan sepeda motor sudah memenuhi separuh tempat itu, milik orang-orang yang berdiri teratur di depan bangunan. Mereka bukan sekadar kerumunan biasa, melainkan barisan rapi yang menunggu pembukaan restoran dan toko seafood segar.Aris turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Pak Camat. Salah satu staf restoran menyambut di depan, membawa keduanya masuk melewati baris antrean."Wah, luar biasa ya, Ris. Baru buka udah rame aja," puji Pak Camat dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikannya. Aris hanya mengangguk, mengiyakan, sibuk menyusun kata-kata untuk menyapa Pak Himawan. Ia mengekor di belakang Pak Camat sambil menoleh ke sana kemari. Namun, yang ia nantikan tak kelihatan. Ayah Lena tak ada di sana.Matanya justru terbelalak lebar saat melihat sosok yang berdiri di tengah ruangan. Di sana, di bawah lampu gantung kristal yang mewah, berdiri seorang wanita yang membuat jantungnya berdegup k
POV Aris"Mas, kamu jemput Pak Camat, terus aku berangkat sama siapa?" Santi mengejar langkahku ke teras. "Nggak usah manja. Ojek banyak!" sahut Ibu sambil mendekat ke arahku dan merapikan kerah kemeja biar presisi. "Lagian siapa suruh kamu nggak bisa naik motor!" "Bukan nggak bisa, Bu! Tapi kalau naik motor nanti riasan Santi rusak kena debu jalanan!" bela Santi dengan nada tinggi, padahal aslinya dia memang tidak bisa menyalakan mesin motor apalagi mengendarainya. Ibu mendengus kasar, seolah omelan Santi hanya angin lalu yang mengganggu. Sikapnya benar-benar berubah 180 derajat. "Halah, alasan! Bilang saja memang nggak bisa. Sudah, Ris, berangkat sana. Nanti Pak Camat nungguin. Ibu mau ke rumah Bu RT dulu ambil kue pesanan." Aku tak berani menoleh lagi. Dengan langkah seribu, aku menyalakan motor PCX-ku—motor yang BPKB-nya kini sedang terancam karena dicabutnya jaminan dari Lena. "Mas! Mas Aris! Tunggu!" teriak Santi putus asa dari teras, kakinya menghentak-hentak lantai, tapi
POV Aris"Aris, sudah siap belum? Ayo cepat ke rumah Pak Camat. Kamu yang bawa mobilnya, kan?" Suara Ibu melengking dari arah kamar, memecah keheningan pagi yang baru saja dimulai."Bentar, Bu! Ini tanggung, nyemir sepatu tinggal satu lagi," sahutku sambil menggosok pantofel hitamku sekuat tenaga agar mengkilap sempurna.Pintu kamar terbuka. Aku hampir tidak mengenali ibuku sendiri. Beliau tampil sangat heboh dengan kebaya kutubaru berwarna cerah. Riasan wajahnya sangat on point, bibirnya merah menyala, dan bulu mata palsu yang dipasangnya tampak sangat lentur setiap kali beliau berkedip. Ibu benar-benar berdandan seolah dia adalah tamu kehormatan.Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Santi melangkah masuk dengan wajah bingung yang seketika berubah jadi heran melihat penampilan calon mertuanya."Ibu mau ke mana? Kok rapi banget?" tanya Santi. Matanya memindai Ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki."Ibu mau ikut acara pembukaan restorannya Lena," jawab Ibu enteng sambil mematut diri







