LOGINJempolku bergerak lincah mengetik balasan yang bakal bikin suhu di seberang sana naik drastis.
[Aduh, Mbak Santi ya? Hari gini masih hobi bajak HP orang? Mas Aris ke mana? Lagi mandi atau lagi sibuk nyari proyek tambahan buat pesta nikahan kalian?] Kulihat statusnya langsung Online. Detik berikutnya, centang biru tanda pesan dibaca muncul. [Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Aku cuma mau ingetin, bohong itu ada batasnya. Besok-besok jangan-jangan kamu ngaku jadi pemilik kantor kecamatan juga? Hahaha! Oya, besok pagi aku sama Mas Aris mau ke ruko itu, mau lihat siapa "karyawan" yang sebenernya bakal kerja di sana. Paling cuma kuli-kuli pasar temanmu itu, kan?] Aku langsung duduk, semakin semangat menyiram bensin di atas api yang mulai menyala. [Silakan datang. Besok jam sembilan pagi ada jadwal interview koki sama staf dapur. Siapa tahu Mbak mau daftar jadi tukang cuci piring. Lumayan buat tambahan gaji di kecamatan yang nggak cukup buat bayar cicilan motor sama hp.] Aku menjeda sebentar, lalu lanjut mengetik dengan senyum kemenangan. [Bicara soal HP, tahu nggak kalau HP yang Mbak pegang itu hadiah dari saya? Saya beli cash buat hadiah pas Mas Aris lolos CPNS tahun kemarin. Kamu kan juga lolos CPNS, dikasih hadiah apa sama Mas Aris? Jangan-jangan cuma dikasih janji manis?] Aku menekan tombol kirim. Read. Centang biru seketika. Bisa kubayangkan wajah Santi yang memerah padam di sana. Belum puas, aku tambahkan satu kalimat pamungkas. [Oya, kalau nanti Mas Aris udah lunas cicilan motornya, terus mampu beli HP sendiri, tolong HP itu dikembalikan ke saya ya. Lumayan, bisa buat main ep ep.] Aku mengirim emoji tertawa sampai menangis dan emoji melambaikan tangan. Namun, saat aku mengirim satu gambar stiker lucu, tiba-tiba pesanku hanya bercentang satu. Foto profil Mas Aris yang tadinya ada, kini berubah jadi lingkaran abu-abu kosong. Aku diblokir! "Hahahaha!" Aku tertawa terpingkal-pingkal di atas kasur sampai perutku rasanya kaku. Aku bisa membayangkan Santi yang mencak-mencak histeris, mungkin hampir membanting HP itu saking jengkelnya, tapi nggak berani karena itu bukan miliknya. Status Mas Aris yang PNS dan sangat amat dibanggakan itu ternyata nggak mampu menutupi fakta kalau dia sedang menikmati fasilitas dari mantan tunangan yang dia remehkan. Puas tertawa sambil menyeka air di sudut mata, aku tiba-tiba terpikir rencana buat besok. Aku langsung mencari nama Anna di daftar kontak dan menghubunginya. "Halo, Mbak Lena? Ada apa malam-malam telepon?" suara Anna terdengar di ujung sana. "Ann, besok pagi instruksikan tiga mobil boks pengangkut ikan paling bagus dari gudang untuk parkir di depan ruko jam delapan tepat," perintahku tanpa basa-basi. "Bilang ke sopirnya, pakai seragam resmi PT Samudera Jaya yang masih kaku! Jangan lupa sekalian bawa freezer gede buat stok ikan." "Hah? Buat apa, Mbak?" "Buat pajangan," jawabku asal. "Satu lagi, Mas Toto suruh ke pasar lebih pagi, cari pedagang sayur yang kualitasnya paling premium. Nanti kasih nomornya ke aku." Hening sejenak, lalu Anna bertanya dengan nada ragu, "Mbak... Mbak Lena serius mau buka restoran seafood di ruko itu? Bapak sudah ngizinin? Beliau langsung pulang dari Vietnam begitu dengar Mbak beli ruko siang tadi, lho." Aku memutar bola mata jengkel. Akhirnya ketahuan juga siapa "mata-mata" yang bikin Baginda tiba-tiba pulang. "Pantes Bapak tahu! Ternyata kamu yang ngadu ke Bapak ya, Ann?" sengitku tajam. "Hehe... maaf, Mbak. Tadi cuma keceplosan dikit pas Bapak tanya Mbak di mana," jawabnya dengan suara tak berdosa. "Enak aja langsung dimaafin! Sebagai hukumannya, kamu yang gantiin tugas Mas Toto ke pasar besok pagi. Jam dua udah harus di sana. Titik!" "Hah? Jam dua?! Mbak, tapi aku—" Klik. Aku memutus sambungan telepon sebelum Anna sempat merengek lebih panjang. Aku pura-pura jengkel, padahal dalam hati sedang bersorak. Malam ini aku akan tidur lebih awal supaya besok punya tenaga ekstra buat main drama. Pokoknya harus lebih seru dari drama China! Paginya, aku berdiri di depan ruko dengan setelan yang jauh dari kata kusam. Kemeja linen putih dan celana bahan hitam membalut tubuhku, dipadukan dengan jilbab baby blue. Biar makin keren, tak kelupaan ada kacamata hitam yang bertengger di atas hidungku. Tepat jam delapan pagi, tiga mobil boks putih bersih dengan logo besar PT SAMUDERA JAYA berhenti dengan gagah. Posisinya yang berjejer praktis menutupi sebagian besar akses gerbang kantor kecamatan dari arah jalan raya. Beberapa pegawai kecamatan yang sudah datang tampak sengaja melongok dari balik pagar, berbisik-bisik melihat armada besar milik eksportir terkenal itu melakukan bongkar muat peralatan dapur mewah ke dalam rukoku. Dari arah lain, aku melihat dua sosok berseragam cokelat itu berboncengan motor kreditan dengan wajah penuh tanya. Mereka pasti tahu logo itu. Siapa yang tidak tahu perusahaan milik Pak Himawan? Eksportir raksasa di seantero pelabuhan. Santi turun dari boncengan Aris—yang motornya tertahan karena boks truk kami menutup celah masuk—dan langsung bersedekap. Matanya menatapku dengan tatapan jengkel yang sangat kentara. "Mbak Lena, mobil-mobil ini nutup jalan ke gerbang kantor! Sengaja ya diparkir di sini biar orang nggak bisa lewat?" semprotnya ketus. Aku menurunkan sedikit kacamata hitamku, lalu sengaja melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul delapan lewat lima belas menit. "Bukannya jam kerja kantor kecamatan itu jam delapan tepat ya?" sindirku sambil tersenyum simpul. "Kamu yang telat, kok malah ngomelnya ke orang lain? Kalau tadi kalian nggak telat, motor kalian nggak akan kehalang, kok." Santi menghentakkan kakinya ke tanah dengan kasar, wajahnya memerah padam. Ia menoleh ke arah Aris yang masih tengak-tengok di atas jok motor, mencoba mencari celah sempit agar motor PCX-nya bisa lewat. "Mbak! Suruh mobil-mobil boks ini minggir dulu! Kami mau masuk!" teriak Santi sengit, mengabaikan fakta bahwa beberapa rekan kerjanya mulai menonton drama ini. "Maaf ya, Mbak-Mbak CPNS yang telat datang," jawabku sok manis tapi menjengkelkan. "Nggak bisa. Kami lagi sibuk siap-siap mau buka ruko. Waktu saya terlalu mahal kalau cuma buat memindahkan truk demi kalian yang nggak disiplin." Santi semakin jengkel. Mulutnya baru saja mau mengeluarkan rentetan omelan lagi saat ia mendengar suara mesin motor Aris dimatikan dan standar diturunkan. Aris nekat memarkir motornya tepat di area depan rukoku. "Eh, Mas, Mas! Jangan di situ! Ini lagi buat mindahin barang!" sewot Mas Toto yang bersiap mengangkat kardus besar. Ia melotot tajam ke arah Aris. "Sebentar doang, Mas. Nanti saya pindahin. Ini sudah buru-buru mau absen, telat dikit potong tunjangan!" sahut Aris dengan wajah memelas sekaligus panik. Mas Toto meletakkan kardusnya dengan bunyi 'Gubrak!' yang cukup keras, lalu berkacak pinggang. "Eh, nggak bisa! Enak aja. Ini lahan pribadi, bukan parkiran umum. Pindahin sekarang, atau saya gembesin bannya?!" Aris tersentak, sementara Santi langsung maju membela tunangannya. "Sombong banget sih kuli ini! Cuma tukang angkut ikan aja gayanya selangit!" "Tukang angkut ikan?" Mas Toto tertawa mengejek, lalu menoleh padaku. "Bu Direktur, ini orang-orang kecamatan ganggu kerjaan kita. Mau saya panggilkan tim keamanan dari gudang pusat buat 'menertibkan' motor mereka?" Mendengar sebutan 'Bu Direktur', rahang Santi seolah mau copot. Ia menatapku dan Mas Toto—yang menggunakan seragam Samudera Jaya—bergantian dengan tatapan tak percaya. Hahaha. Kena mental juga dia!"Ris, ajudan saya masih belum bisa masuk sore ini. Kamu dampingi saya lagi, ya? Ada undangan rapat koordinasi di DPRD satu jam lagi. Kamu segera bersiap, kita berangkat sekarang."Aris mendadak merasa pundaknya sedikit ringan. Ketakutannya tak pernah jadi nyata. Justru perintah itu bagaikan pelampung di tengah badai, menyelamatkannya dari rentetan omelan dan wajah menyebalkan Santi yang sedang terbakar cemburu di meja sebelah."Baik, Pak. Saya siapkan mobilnya segera," jawab Aris cekatan.Saat berjalan keluar untuk mengambil kunci mobil, ia melewati meja Santi. Wanita itu menatapnya dengan pandangan tajam, namun Aris memilih untuk menatap lurus ke depan. Untuk sesaat, ia merasa bekerja lebih baik daripada harus berurusan dengan emosi Santi yang makin tidak terkendali.Beberapa menit kemudian, saat mobil dinas Pak Camat perlahan keluar dari pelataran kantor kecamatan, mata Aris tak sengaja melirik ke arah restoran. Di depan pintu masuk, ia melihat salah satu staf Lena dengan sangat sop
Suasana restoran mulai melandai satu jam usai pembukaan. Pak Camat berdiri, merapikan kemeja batiknya, lalu menyalami Lena dengan senyum terkembang."Sukses besar, Mbak Lena. Saya benar-benar kagum," ujar Pak Camat tulus.Lena mengangguk, menyambut jabat tangan itu dengan sopan. "Terima kasih, Pak. Tiga hari ini memang ada promo bayar lima puluh persen saja. Biar warga sekitar sini bisa mencicipi menu kami.""Wah, strategi yang bagus," puji Pak Camat."Bukan cuma itu, Pak," tambah Lena sambil melirik ke arah area kosong di samping restoran. "Nanti tiap hari Jumat, bumil dan balita bisa makan gratis di tempat. Saya juga sudah pesan wahana playground, perosotan dan kawan-kawannya, tapi belum datang. Saya ingin restoran ini ramah keluarga."Pak Camat geleng-geleng kepala, tampak terkesan. "Luar biasa. Bukan cuma cari untung, tapi juga cari berkah. Semoga rezekinya makin melimpah ya, Mbak."Satu per satu staf kecamatan berpamitan, menyalami Lena sambil memuji kelezatan ikan bakarnya. Hany
"Biarin saja, Mas Toto. Mendingan nonton drama ini dulu. Lebih seru dibandingkan drama ikan terbang!" seloroh Anna yang ikut hadir di sana mendampingi Lena."Ada-ada aja kalian." Lena terkekeh pelan, menatap ketiga orang tamu tak diundangnya—Aris yang salah tingkah, Santi yang meledak-ledak, dan Bu Ratna yang mengomeli calon mantunya—dengan tatapan yang sulit diartikan.Pak Camat hanya bisa berdehem canggung, sesekali menutup mulut dengan punggung tangan untuk menyembunyikan senyum gelinya. Sementara itu, Bu Ratna makin menjadi-jadi. Ia tidak mempedulikan wajah Santi yang sudah menangis sesenggukan karena dipermalukan di depan orang banyak."Nak Lena, abaikan saja dia. Namanya juga anak kemarin sore, nggak tahu sopan santun sama mertua," ucap Bu Ratna sambil kembali mencoba merangkul bahu Lena. "Ayo, potong pitanya bareng Aris, Nak. Biar auranya makin dapet."Lena menghindar dengan sangat halus, bergeser dua langkah ke samping. Ia menatap Bu Ratna, lalu beralih ke roti buaya raksasa y
Tepat pukul delapan pagi, mobil dinas Pak Camat berhenti di depan restoran milik Lena. Puluhan sepeda motor sudah memenuhi separuh tempat itu, milik orang-orang yang berdiri teratur di depan bangunan. Mereka bukan sekadar kerumunan biasa, melainkan barisan rapi yang menunggu pembukaan restoran dan toko seafood segar.Aris turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Pak Camat. Salah satu staf restoran menyambut di depan, membawa keduanya masuk melewati baris antrean."Wah, luar biasa ya, Ris. Baru buka udah rame aja," puji Pak Camat dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikannya. Aris hanya mengangguk, mengiyakan, sibuk menyusun kata-kata untuk menyapa Pak Himawan. Ia mengekor di belakang Pak Camat sambil menoleh ke sana kemari. Namun, yang ia nantikan tak kelihatan. Ayah Lena tak ada di sana.Matanya justru terbelalak lebar saat melihat sosok yang berdiri di tengah ruangan. Di sana, di bawah lampu gantung kristal yang mewah, berdiri seorang wanita yang membuat jantungnya berdegup k
POV Aris"Mas, kamu jemput Pak Camat, terus aku berangkat sama siapa?" Santi mengejar langkahku ke teras. "Nggak usah manja. Ojek banyak!" sahut Ibu sambil mendekat ke arahku dan merapikan kerah kemeja biar presisi. "Lagian siapa suruh kamu nggak bisa naik motor!" "Bukan nggak bisa, Bu! Tapi kalau naik motor nanti riasan Santi rusak kena debu jalanan!" bela Santi dengan nada tinggi, padahal aslinya dia memang tidak bisa menyalakan mesin motor apalagi mengendarainya. Ibu mendengus kasar, seolah omelan Santi hanya angin lalu yang mengganggu. Sikapnya benar-benar berubah 180 derajat. "Halah, alasan! Bilang saja memang nggak bisa. Sudah, Ris, berangkat sana. Nanti Pak Camat nungguin. Ibu mau ke rumah Bu RT dulu ambil kue pesanan." Aku tak berani menoleh lagi. Dengan langkah seribu, aku menyalakan motor PCX-ku—motor yang BPKB-nya kini sedang terancam karena dicabutnya jaminan dari Lena. "Mas! Mas Aris! Tunggu!" teriak Santi putus asa dari teras, kakinya menghentak-hentak lantai, tapi
POV Aris"Aris, sudah siap belum? Ayo cepat ke rumah Pak Camat. Kamu yang bawa mobilnya, kan?" Suara Ibu melengking dari arah kamar, memecah keheningan pagi yang baru saja dimulai."Bentar, Bu! Ini tanggung, nyemir sepatu tinggal satu lagi," sahutku sambil menggosok pantofel hitamku sekuat tenaga agar mengkilap sempurna.Pintu kamar terbuka. Aku hampir tidak mengenali ibuku sendiri. Beliau tampil sangat heboh dengan kebaya kutubaru berwarna cerah. Riasan wajahnya sangat on point, bibirnya merah menyala, dan bulu mata palsu yang dipasangnya tampak sangat lentur setiap kali beliau berkedip. Ibu benar-benar berdandan seolah dia adalah tamu kehormatan.Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Santi melangkah masuk dengan wajah bingung yang seketika berubah jadi heran melihat penampilan calon mertuanya."Ibu mau ke mana? Kok rapi banget?" tanya Santi. Matanya memindai Ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki."Ibu mau ikut acara pembukaan restorannya Lena," jawab Ibu enteng sambil mematut diri







