LOGINMinha família é humana. Recebemos uma vida longa do clã Thorne, algo próximo da imortalidade. Por gerações, fomos seus guardiões mais leais. E eu me apaixonei por Cedric, o lorde vampiro que eu havia jurado proteger. Por cem anos, fui seu segredo, seu pecado, sua única parceira de cama. Eu era seu escudo contra a magia negra, a protetora jurada de seu vasto clã. Achei que ganharia a marca de um vínculo eterno. Eu estava pronta para ele me transformar. Afinal, a cada lua de sangue, ele reivindicava meu corpo. Então, no auge de um prazer agonizante, ele afundava as presas no meu pescoço e bebia meu sangue. Ele pressionava os lábios frios contra minha pele e sussurrava que eu era sua única, que nenhum outro sangue, nenhum outro corpo poderia fazê-lo perder o controle daquele jeito. Mas, desta vez, no momento em que terminou, ele anunciou um vínculo eterno com Elsie, a princesa de sangue puro do clã Valerius. Ele sorriu com desdém ao ver o choque em meu rosto. "Você é apenas uma humana, agraciada com uma vida longa por meus ancestrais, que aquece minha cama. Você não achou mesmo que poderia ser minha companheira, achou?" Naquele momento, entendi. Eu era apenas uma bolsa de sangue renovável. Uma ferramenta com um propósito. Por uma aliança, por ela, ele me sacrificou. Ele me lançou no abismo e deixou a escuridão me engolir por completo. Ele achou que o Pacto do Guardião me manteria presa a ele por toda a eternidade, mas esqueceu de uma coisa. Todo pacto tem uma brecha. Então, destruí tudo o que ele já tinha me dado. Depois, com a ajuda da minha família, desapareci. Mas, quando o Lorde da Noite Eterna não conseguiu encontrar seu brinquedo favorito… enlouqueceu.
View MoreKahyangan, negeri para dewa, memancarkan keagungan yang tak terbandingkan. Pilar-pilar emas menjulang tinggi, langit di atasnya berpendar biru keperakan, dan lantai kristal memantulkan sinar seperti berlian. Namun, di tengah keindahan itu, suasana penuh ketegangan menggantung di aula utama. Para dewa berdiri melingkar, menatap seseorang yang berlutut di tengah aula.
Rakasura, Dewa Perang yang gagah perkasa, kini tampak tak berdaya. Tubuhnya yang biasanya memancarkan cahaya ilahi kini tampak redup, dan matanya tertunduk menahan rasa malu. Ia tahu kesalahannya terlalu besar untuk diperbaiki. “Rakasura,” suara Maha Dewa menggema, setiap kata menggetarkan ruangan. “Kau tahu gelang apa yang dipercayakan padamu itu? Gelang Kahyangan, simbol kehormatanmu sebagai Dewa Perang, dan kini gelang itu berada di tangan siluman.” Rakasura menggigit bibirnya. Ia ingin membela diri, tetapi kenyataan terlalu pahit untuk dibantah. Beberapa hari yang lalu, gelang itu dirampas saat ia berada di tengah pertarungan melawan pasukan siluman yang menyerang gerbang Kahyangan. “Gelang itu bukan hanya milikmu, Ia adalah pusaka yang menjaga keseimbangan antara dunia fana dan Kahyangan. Kehilangannya membawa malapetaka.” Ucap Maha Dewa dengan nada menahan amarah. “Dewa Agung, Aku tidak akan membiarkan ini berlanjut. Aku bersumpah untuk menemukan Gelang Kahyangan dan membawanya kembali." Ucap Rakasura dengan nada bergetar Para dewa lain saling pandang. Janji itu terdengar mulia, tetapi keraguan tersirat di wajah mereka. Maha Dewa menghela napas panjang sebelum mengangkat tongkat emasnya. "Kau akan mendapat kesempatan, Rakasura. Tetapi hukumanmu tak dapat dielakkan. Sebagai akibat dari kelalaianmu, kau akan diturunkan ke dunia fana. Di sana, kau harus membuktikan bahwa kau layak memegang kembali Gelang Kahyangan.” Cahaya biru menyilaukan melingkupi tubuh Rakasura. Sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata lagi, ia merasa tubuhnya terlempar dari Kahyangan, jatuh menembus langit. Saat Rakasura terjatuh perlahan lahan seluruh baju zirah megah miliknya perlahan luruh menjadi abu. Semua perangkat dewanya yang ia dapatkan sebagai penghuni kahyangan hilang tak bersisa. Yang tersisa dari Rakasura hanyalah bajunya yang menjadi lusuh dan pedsngnya yang kehilangan auranya. Di tengah jatuhnya Rakasura dari khayangan, perlahan kesadarannya menghilang. Ketika kesadarannya kembali, Rakasura mendapati dirinya terbaring di tengah hutan. Aroma tanah basah dan dedaunan menyengat hidungnya. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan, merasakan setiap sendi yang terasa lemah. “Ini... dunia fana,” gumamnya, suaranya terdengar parau dan lirih. Keadaan Rakasura sangat memprihatikan, badannya penuh luka lebam, bibirnya pucat dan kering. Ia duduk dan memandang sekeliling. Pohon-pohon raksasa menjulang di sekitarnya, cabang-cabangnya membentuk kanopi yang hampir menutupi langit. Suara aliran sungai terdengar samar di kejauhan, bercampur dengan kicauan burung dan gemerisik dedaunan. Saat ia mencoba berdiri, rasa sakit menusuk kakinya. Tanpa Gelang Kahyangan, tubuhnya jauh lebih lemah dari biasanya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan gelang itu jatuh ke tangan musuh. Langkah-langkah ringan di kejauhan menarik perhatiannya. Rakasura menoleh dan melihat seorang gadis tengah memungut ranting-ranting kering kemungkinan untuk dijadikan kayu bakar. Gadis itu tampak muda, sekitar belasan tahun, dengan rambut hitam lebat yang diikat ke belakang. Ketika mata mereka bertemu, gadis itu terkejut dan mundur selangkah. “Siapa kau?” tanyanya, suaranya setengah berbisik, setengah takut. Rakasura tidak langsung menjawab. Ia menatap gadis itu, sembari mencoba mencari alasan yang masuk akal karena tak mungkin jika ia mengaku sebagai dewa yang diusir dari istana Kahyangan. “Aku... hanya seorang pengembara,” jawab Rakasura akhirnya, menyembunyikan identitasnya. Gadis itu tampak ragu, tetapi setelah melihat luka di tubuh Rakasura, ia mendekat. “Kau terluka,” katanya, menunjuk luka di lengan Rakasura. “Ini bukan apa-apa,” Rakasura berbohong. Namun, gadis itu tidak percaya. Ia menarik lengan Rakasura dengan lembut. “Ikut aku ke desa. Ayahku bisa mengobatimu.” Gadis itu, memutuskan untuk membantunya setelah melihat banyak luka lebam di tubuhnya. Ia membawa Rakasura ke desanya yang kecil dan sederhana. Dalam perjalanan mereka berbincang untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka. “Siapa namamu wahai nona? Terimakasih telah membantuku” “Namaku Ayunda” “Nama yang indah, perkenalkan aku Rakasura” Pipi Ayu memerah mendengar pujian dari Rakasura, ia berusaha fokus membantu Rakasura berjalan menuju desanya. Rakasura dibantu Ayu menuju desa yang berada di tepi hutan. Penduduk desa, yang kebanyakan petani, menatap Rakasura dengan rasa ingin tahu dan sedikit kewaspadaan. Namun, mereka memperlakukannya dengan ramah, menyediakan makanan dan tempat istirahat. Malam itu warga memutuskan untuk membiarkan Rakasura untuk tinggal sementara di balai desa. Namun, malam itu, kedamaian desa terganggu. Sekawanan siluman kecil menyerbu saat Rakasura mencoba tidur. Desa tiba-tiba digemparkan oleh suara jeritan. Ia keluar dari balai desa dan melihat api melalap salah satu rumah. Sekelompok makhluk hitam setinggi paha laki-laki dewasa dengan mata merah bersinar menyerang desa, menculik anak-anak dan menakuti penduduk. Rakasura langsung mengambil pedangnya. Meski kekuatannya jauh dari penuh, ia melawan para siluman dengan pengalaman bertarungnya yang luar biasa. Setiap tebasan pedang menghancurkan makhluk-makhluk itu, dan akhirnya, ia berhasil menyelamatkan anak-anak yang diculik. Saat memantau situasi Rakasura melihat tiga siluman yang sedang berusaha memasuki salah satu rumah warga. Rakasura tanpa pikir panjang menendang salah satu dari makhluk itu, mengalihkan perhatian mereka. Kini perhatian tiga makhluk itu tertuju padanya. Terlihat 3 makhluk setinggi paha orang dewasa berkepala kadal berbadan kera. Salah satu makhluk itu melompat mencoba menyerang bagian kepala Rakasura. Serangan itu berhasil dihindari Rakasura dan sejurus dengan itu ia menebaskan pedangnya pada makhluk kedua yang berlari menuju ke arahnya. Satu makhluk telah diatasi dengan mudah. Kini posisi Rakasura terjepit oleh dua siluman yang tersisa membuatnya berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Dua siluman itu melompat menyerang secara bersamaan membuat Rakasura tak sempat menghindar. “Hiyaaa!!!” Rakasura mengerahkan sisa tenaganya yang belum pulih dan melakukan tebasan memutar. Membelah dua siluman itu sekaligus. Rakasura lanjut berkeliling desa dengan para warga untuk memastikan bahwa tak ada lagi makhluk yang tersisa. Terlihat beberapa siluman yang tersisa kabur setelah melihat aksi Rakasura menebas dua siluman dengan satu tebasan. Penduduk desa bersorak, menganggap Rakasura sebagai pahlawan. Namun, di balik kegembiraan itu, hati Rakasura dipenuhi kegelisahan. Ia tahu ini hanyalah awal dari perjalanan panjangnya untuk merebut kembali Gelang Kahyangan.Ponto de vista de AlainaA primavera chegou.O sol de Florença expulsou o último frio do inverno.O clã de Elsie, enfraquecido pelo escândalo e pelo confinamento da filha de seu lorde, perdeu o brilho de antes e desapareceu do cenário público.A minha vida, por outro lado, era como a glicínia florescendo do lado de fora da minha janela — cheia de vida e esperança.A galeria de arte mágica minha e de Chiara, com total apoio da minha família, estava finalmente prestes a inaugurar.Escolhemos um local em um prédio antigo às margens do rio Arno, que um dia pertenceu a um famoso mago renascentista.Na véspera da inauguração, eu mesma organizava o salão de exposição final.Os últimos raios do pôr do sol atravessavam as enormes janelas do chão ao teto, lançando um brilho dourado e acolhedor sobre o mural gigante no centro do salão — uma representação do "Advento da Luz Sagrada", que eu acabara de restaurar.Foi então que senti, atrás de mim, uma familiar e fria onda de magia.Não me
Ponto de vista de CedricRetornei ao castelo vazio, uma casca sem ela.A primeira coisa que fiz foi ir até a antiga residência ancestral da família dela, há muito abandonada.Agora, havia sido tomada por uma nova e ambiciosa família de vampiros, que havia enriquecido por meio de especulação.Eles arrancaram o cactos de floração noturna que ela tanto amava e plantaram rosas de sangue chamativas e vulgares no lugar.Substituíram o vitral que Alaina adorava — aquele que dava para a lua — por um painel de obsidiana pesada e opaca.Todos os vestígios da energia espiritual dela estavam sendo apagados de forma grosseira, desaparecendo pouco a pouco.Eu não podia impedir nada disso. Aquela terra já não me pertencia.Eu só podia agir como um miserável catador, recolhendo secretamente os "lixos" de Alaina depois que os novos donos os jogavam fora.Um fragmento quebrado de uma tábua mágica esculpida com runas de guardião, algumas pétalas murchas e esmagadas do cactos de floração noturna,
Ponto de vista de AlainaNo fim, Cedric não conseguiu me entregar o unguento de cura pessoalmente.Mas, no dia seguinte, o gerente do hotel abordou meu pai de forma misteriosa, dizendo que um "Sr. Rothschild" anônimo queria vender um frasco de um remédio ancestral extremamente potente por um preço alto e perguntou se estávamos interessados.Meu pai percebeu o disfarce desajeitado imediatamente, mas "comprou" sem dizer uma palavra.Naquela noite, enquanto minha mãe aplicava o unguento — que claramente cheirava a Cedric — no meu joelho, ela suspirou.— Por que ele insiste nisso?Eu não respondi.Porque eu sabia… há dívidas que, mesmo que ele queira pagar, eu nunca aceitarei.Depois dos Alpes, minha família e eu viajamos para Tromsø, na Noruega, para perseguir a lendária Aurora Boreal.Ficamos em um iglu de vidro, onde podíamos deitar na cama e observar as estrelas.Quando as fitas verdes e brilhantes da aurora dançaram pelo céu noturno, todos suspiraram maravilhados.Juntei as
Ponto de vista de AlainaNa manhã seguinte, quando eu estava prestes a sair com minha família e amigos para uma viagem de esqui nos Alpes, o mordomo me informou que a caixa que Cedric havia deixado — aquela que continha o "Sangue do Primeiro Abraço" — ainda estava na porta.— Livre-se disso — eu disse sem me virar — ou mande de volta para o clã Thorne. Não me importa.Eu não queria mais nenhum vínculo com aquele nome.Os Alpes cobertos de neve eram de uma beleza de tirar o fôlego.Aprendi a esquiar rapidamente, descendo as pistas como um pássaro livre.Essa sensação de liberdade quase me fez esquecer todas as sombras do passado.Mas, durante uma descida mais desafiadora, eu caí, e meu joelho bateu com força em uma rocha escondida sob a neve.De volta ao resort, meu joelho estava inchado, a dor aguda e intensa.— A farmácia mais próxima fica na cidade, lá embaixo da montanha. Dá umas duas horas de ida e volta de carro — disse Chiara, preocupada, enquanto colocava uma bolsa de g






Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.