Teilen

Bab 142 Foto USG

last update Veröffentlichungsdatum: 10.09.2026 14:28:45

Malik berdiri di samping ranjang periksa, matanya tidak lepas dari layar tersebut, dan meski dia sudah melihat ribuan gambar serupa selama kariernya di gedung yang sama, kali ini tangannya mencengkeram pinggiran meja periksa terlalu kencang, buku-buku jarinya memutih menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar profesionalitas medis.

Ratna memperhatikan gerakan tangan Malik dari sudut matanya, tapi memilih tidak berkomentar apa-apa, membiarkan pasangan itu menikmati momen tersebut sampai
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dok, Please Cukup!   Bab 169 Gara-gara Berkas

    Bahar duduk kembali, tangannya diletakkan lagi di meja, dan Nindy mengambil kursi di seberangnya, Hendra duduk di sampingnya, membuka map kecil dan meletakkan pulpen di atasnya.Laki-laki di depan mereka terlihat jauh lebih tua dari foto yang pernah Nindy lihat di berkas lama, rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, garis wajahnya lebih dalam, dan matanya menatap Nindy lama sebelum akhirnya bicara."Maaf, Nindy," ucap Bahar, suaranya rapi, terlalu rapi, seperti kalimat yang sudah dilatih berkali-kali di depan cermin sel. "Aku tahu kata maaf nggak cukup buat apa yang udah aku lakuin ke kamu sama keluarga kamu."Nindy tidak membalas, tidak juga mengangguk, hanya duduk diam dengan kedua tangan di pangkuan, menunggu kalimat berikutnya keluar sendiri dari mulut laki-laki itu.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 168 Udah Ditungguin

    Malik menatap Hendra lama, rahangnya mengeras, dan dia menoleh ke arah Nindy, mencoba mencari cara lain, tapi tidak ada satu pun celah yang bisa dia temukan untuk mempertahankan syarat yang sudah dia bangun sejak kemarin."Kalau gitu," ucap Malik akhirnya, suaranya berat, "aku titip satu kalimat aja ke kamu, Hendra.""Kalimat apa?" tanya Hendra."Kalau tangan Nindy sampai megang perutnya lebih dari sekali," ucap Malik, menatap Hendra lurus-lurus, "pertemuan itu dihentiin saat itu juga. Nggak perlu nunggu izin siapa-siapa, nggak perlu nunggu empat puluh lima menit habis."Hendra mengangguk, mencatat kalimat itu di kepalanya sendiri, memastikan dia mengerti betul beratnya instruksi tersebut. "Aku pegang itu, Malik."Perpisahan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 167 Semuanya Ditinggal

    Jalan tol pagi itu lengang, hanya beberapa mobil melintas di jalur kanan, dan Malik menyetir dengan kecepatan stabil, matanya sesekali melirik spion sebelum kembali fokus ke depan. Nindy duduk di kursi penumpang, map berisi izin tertulis Dokter Ratna terjepit di pangkuannya, jarinya sesekali meraba tepi kertas itu tanpa benar-benar membukanya."Jangan lepas map itu dari tangan kamu sampai kamu masuk ruangan," ucap Malik, mengulang kalimat yang sudah dia ucapkan sejak mereka keluar dari tol pertama."Iya, Malik," jawab Nindy, mendekap map itu lebih erat, hitungan di kepalanya sudah menyentuh angka lima."Jangan lupa, Hendra yang duduk di sebelah kamu, bukan di seberang," lanjut Malik, "biar dia bisa liat jelas kalau kamu nunjukin tanda apa pun.""Iya," jawab Nindy lagi, a

  • Dok, Please Cukup!   Bab 166 Nggak Pernah

    Nindy melengkungkan punggungnya sedikit membantu kausnya terlepas, mengeluarkan desahan pelan begitu bibir Malik menemukan area dada yang sensitif, hisapannya lembut, tidak tergesa.Tangan Nindy bergerak turun membuka kancing celana suaminya, gerakannya kali ini tenang, tidak gemetar seperti malam pertama mereka kembali setelah larangan Dokter Ratna dicabut.Malik membantu melepas sisa pakaian mereka berdua, memposisikan tubuhnya di antara kedua paha Nindy, dan kali ini gerakannya sudah tidak lagi tertahan seperti minggu-minggu sebelumnya, meski tetap dijaga dengan kelembutan yang sama."Pelan-pelan aja malem ini," ucap Nindy, tangannya meraih pinggang Malik, menariknya lebih dekat."Selalu," jawab Malik, masuk perlahan, menahan napasnya sejenak begitu tubuh mereka bertemu.Ritme yang terbentuk sesudahnya lambat, dalam, dan penuh jeda, setiap dorongan diiringi ciuman kecil di dahi atau di sudut bibir, seolah keduanya sedang berusaha menyimpan setiap detik itu selengkap mungkin. Kalung

  • Dok, Please Cukup!   Bab 165 Kenyamanan

    Cahaya dari layar ponsel menerangi permukaan meja rias dari sudut kamar ganti, cukup terang untuk terlihat dari ambang pintu tempat Malik berdiri sebentar sebelum melangkah masuk. Dia meraih benda itu, mendapati notifikasi yang sudah muncul sejak jam tujuh malam, nama Pipit tertera jelas di sana, tapi Malik tidak menyentuh apa pun selain layarnya sendiri untuk memastikan itu benar ponsel istrinya.Dia membawanya ke kamar tidur, meletakkannya di nakas dengan gerakan pelan, tidak membuka pesan itu, tidak juga mengintip isinya sedikit pun."Ponselmu ketinggalan di meja rias," ucap Malik, duduk di tepi ranjang, menatap Nindy yang sedang melipat selimut cadangan di sudut ranjang. "Nyala terus dari tadi.""Aku tahu," jawab Nindy, tidak menoleh dari lipatan selimutnya. "Aku sengaja nggak buka."Malik menatap istrinya, menunggu penjelasan lebih lanjut, karena dia tahu betul pesan itu pasti dari Pipit, dan mengingat kepanikan Nindy pagi tadi soal lemari kayu di rumah lama, tidak masuk akal kal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 164 Ngasih Nomor 

    Mendengar kemungkinan itu, Malik justru mengangkat bahu dan menjawab, "Mereka baru pindah lima hari, barangnya sendiri aja pasti belum selesai diangkut. Orang yang kardusnya masih numpuk nggak bakal repot bongkar lemari jati berat punya penghuni lama, apalagi lacinya dikunci dan kuncinya udah nggak ada."Jawaban itu membuat bahu Nindy turun sedikit. Dia mengambil lagi sisa jeruknya dari atas bangku, memakan satu siung, dan kali ini wajahnya biasa saja walaupun jeruknya sama asamnya.Di atas rumput, tangis Kayla tiba-tiba berhenti. Fikri masih memegangi kedua tangan anaknya dari belakang, sedangkan kedua telapak kaki Kayla sudah menempel di rumput, lututnya gemetar, dan bayi itu berdiri sambil memandangi kakinya sendiri dengan mulut terbuka. Ratih yang berdiri di sebelah mereka menahan tawa sambil memotret dengan ponselnya."Fik, jangan gerak dulu, jangan dilepas, aku lagi rekam," bisik Ratih keras-keras, ponselnya diarahkan ke kaki Kayla.Mendengar perintah itu, Fikri membeku di posis

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status