Beranda / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 145 Perdebatan

Share

Bab 145 Perdebatan

Penulis: NFLusica
last update Tanggal publikasi: 2026-09-12 08:15:07

Nindy tidak sempat menghitung berapa jumlah barang yang baru saja disebutkan Marni satu per satu, hanya sempat mengangguk-angguk sendiri di depan ponsel, tidak menemukan celah untuk menolak satu pun dari daftar itu.

"Bu Marni, nggak usah repot-repot, aku sama Malik bisa—"

"Nggak, Nindy, ini hak Ibu jadi nenek!" potong Marni lagi, tegas, tidak menerima bantahan apa pun.

Nindy menyerah, membiarkan Marni terus bicara, sementara di sela ceritanya Marni tiba-tiba berpindah topik tanpa jeda, seolah p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dok, Please Cukup!   Bab 166 Nggak Pernah

    Nindy melengkungkan punggungnya sedikit membantu kausnya terlepas, mengeluarkan desahan pelan begitu bibir Malik menemukan area dada yang sensitif, hisapannya lembut, tidak tergesa.Tangan Nindy bergerak turun membuka kancing celana suaminya, gerakannya kali ini tenang, tidak gemetar seperti malam pertama mereka kembali setelah larangan Dokter Ratna dicabut.Malik membantu melepas sisa pakaian mereka berdua, memposisikan tubuhnya di antara kedua paha Nindy, dan kali ini gerakannya sudah tidak lagi tertahan seperti minggu-minggu sebelumnya, meski tetap dijaga dengan kelembutan yang sama."Pelan-pelan aja malem ini," ucap Nindy, tangannya meraih pinggang Malik, menariknya lebih dekat."Selalu," jawab Malik, masuk perlahan, menahan napasnya sejenak begitu tubuh mereka bertemu.Ritme yang terbentuk sesudahnya lambat, dalam, dan penuh jeda, setiap dorongan diiringi ciuman kecil di dahi atau di sudut bibir, seolah keduanya sedang berusaha menyimpan setiap detik itu selengkap mungkin. Kalung

  • Dok, Please Cukup!   Bab 165 Kenyamanan

    Cahaya dari layar ponsel menerangi permukaan meja rias dari sudut kamar ganti, cukup terang untuk terlihat dari ambang pintu tempat Malik berdiri sebentar sebelum melangkah masuk. Dia meraih benda itu, mendapati notifikasi yang sudah muncul sejak jam tujuh malam, nama Pipit tertera jelas di sana, tapi Malik tidak menyentuh apa pun selain layarnya sendiri untuk memastikan itu benar ponsel istrinya.Dia membawanya ke kamar tidur, meletakkannya di nakas dengan gerakan pelan, tidak membuka pesan itu, tidak juga mengintip isinya sedikit pun."Ponselmu ketinggalan di meja rias," ucap Malik, duduk di tepi ranjang, menatap Nindy yang sedang melipat selimut cadangan di sudut ranjang. "Nyala terus dari tadi.""Aku tahu," jawab Nindy, tidak menoleh dari lipatan selimutnya. "Aku sengaja nggak buka."Malik menatap istrinya, menunggu penjelasan lebih lanjut, karena dia tahu betul pesan itu pasti dari Pipit, dan mengingat kepanikan Nindy pagi tadi soal lemari kayu di rumah lama, tidak masuk akal kal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 164 Ngasih Nomor 

    Mendengar kemungkinan itu, Malik justru mengangkat bahu dan menjawab, "Mereka baru pindah lima hari, barangnya sendiri aja pasti belum selesai diangkut. Orang yang kardusnya masih numpuk nggak bakal repot bongkar lemari jati berat punya penghuni lama, apalagi lacinya dikunci dan kuncinya udah nggak ada."Jawaban itu membuat bahu Nindy turun sedikit. Dia mengambil lagi sisa jeruknya dari atas bangku, memakan satu siung, dan kali ini wajahnya biasa saja walaupun jeruknya sama asamnya.Di atas rumput, tangis Kayla tiba-tiba berhenti. Fikri masih memegangi kedua tangan anaknya dari belakang, sedangkan kedua telapak kaki Kayla sudah menempel di rumput, lututnya gemetar, dan bayi itu berdiri sambil memandangi kakinya sendiri dengan mulut terbuka. Ratih yang berdiri di sebelah mereka menahan tawa sambil memotret dengan ponselnya."Fik, jangan gerak dulu, jangan dilepas, aku lagi rekam," bisik Ratih keras-keras, ponselnya diarahkan ke kaki Kayla.Mendengar perintah itu, Fikri membeku di posis

  • Dok, Please Cukup!   Bab 163 Hibernasi

    Tanpa menunggu jawaban, Nindy berdiri, menarik lengan Malik sampai suaminya ikut bangkit dari sofa, lalu menyeretnya ke pintu depan. Malik sempat meraih kunci unit dari mangkuk kecil di rak sepatu, sedangkan ponsel di tangan kanannya belum juga dia masukkan ke saku sampai pintu lift terbuka di lantai dasar.Taman bermain di area belakang kompleks apartemen itu kecil. Isinya cuma satu ayunan besi, satu perosotan pendek yang ujungnya hampir menyentuh rumput, dan bangku beton panjang yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Dari bangku itu, Ratih melambaikan tangan begitu melihat mereka keluar dari pintu samping gedung."Akhirnya keluar juga, aku kira kamu hibernasi," seru Ratih, menepuk sisi bangku di sebelahnya.Di atas rumput di depan bangku, Fikri sedang berjongkok sambil memegangi kedua tangan Kayla. Setiap kali Fikri mencoba menurunkan kaki Kayla sampai telapaknya menyentuh rumput, bayi itu langsung menarik kakinya ke atas dan menangis keras, lalu tangisnya berhenti begitu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 162 Nggak Dicari, Dateng Sendiri

    Punggung Nindy lepas dari sandaran sofa. Duduknya jadi tegak, kedua kaki rata di lantai, dan tangan kanannya pindah ke pergelangan tangan kirinya sendiri, menggenggam bagian itu. Gerakan tersebut ditangkap Malik dari ujung sofa, dan tangan Malik yang tadi bertaut di atas perutnya ikut terlepas."Wisnu nolak sampai tiga kali, kotaknya tiga kali dia dorong balik ke arah orang itu. Akhirnya Wisnu terima, tapi syaratnya gelang itu disimpen aja dan jangan pernah dipakein ke Nindy. Aku setuju. Gelangnya aku taruh di laci paling bawah lemari kayu di kamar depan, terus lacinya aku kunci."Rania menurunkan kertas itu lagi, kali ini sampai ke atas meja."Itu kalimat terakhir di halamannya," ucap Rania, mendorong lembar kuning itu kembali ke arah Nindy dengan ujung jari.Lembar itu diraih Nindy dengan dua tangan. Kalimat terakhir tadi ternyata ditulis lebih kecil dari baris-baris di atasnya, berdesakan di pinggir bawah halaman sampai huruf terakhirnya hampir menyentuh tepi kertas. Nindy membacan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 161 Gelang Bayi

    Nindy tetap di ujung sofa dengan kedua tangan di atas lutut, sedangkan Malik memindahkan pandangannya dari wajah istrinya ke lembar kuning di tangan Rania. Sekali Rania menelan ludah, meluruskan punggung di kursi tunggal, lalu suaranya keluar lagi, lebih rendah dari waktu dia menyebut tanggal tadi."Hari ini Nindy genap dua tahun. Dari subuh aku udah ngukus bolu satu loyang, soalnya Wisnu bilang nggak usah beli kue, cukup kita bertiga di rumah. Lilinnya cuma satu, sisa lilin mati lampu minggu lalu, tapi Nindy tetep tepuk tangan waktu Wisnu niupin buat dia. Pinggiran bolunya malah udah dia cubitin duluan sebelum sempet dipotong."Sudut bibir Malik terangkat sedikit mendengar bagian terakhir itu. Di sebelahnya, ibu jari Nindy bergerak mengusap kain daster di atas lututnya, maju mundur dalam jarak yang pendek, sementara matanya tetap tertuju ke kertas di tangan Rania.Dengan jari telunjuk, Rania menandai baris yang sedang dia baca, terus melanjutkan ke bagian yang tulisannya lebih rapat.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status