FAZER LOGINWaktu Nindy pamit menjelang pukul enam, Marni mengantarnya sampai ke ruang tamu sambil membawa tas rotan berisi sisa rendang. "Bawa pulang. Malik pasti belum makan benar," ucap Marni.Pak Harso berdiri di ruang tamu dengan kedua tangan di belakang punggung. Dia menahan Nindy di pintu dan meminta waktu sebentar, cuma berdua, dan dia sudah menyiapkan kalimatnya sejak Fajar bilang Nindy akan duduk di barisan keluarga.Kalimat Pak Harso di ruang tamu Kamis lalu cuma permintaan maaf yang kaku, disertai pengakuan bahwa dulu dia malu punya anak yang sakit dan karena itu menyalahkan menantunya. Sabtu siang ini Nindy duduk di barisan keluarga dengan kebaya hijau pastel yang dibelikan Eleanor, dan perutnya yang hampir lima bulan kelihatan jelas di balik kain.Gedung resepsi itu penuh sejak pukul sebelas. Lampu kristal di langit-langit berkilat, dan meja prasmanan memanjang sampai ke dinding samping."Malik, kamu di mana? Kursinya udah aku siapin dari tadi," ucap Nindy dari tengah ruangan, sambi
Nindy tidak langsung menjawab. Dia menurunkan api lagi, lalu duduk di kursi sebelah Marni dengan kedua tangan terlipat di perutnya."Ibu sudah bilang itu dulu waktu aku keluar dari rumah. Ibu juga nggak bilang sekarang," jawab Nindy."Aku juga minta maaf soal tenggat satu bulan itu. Aku kasih kamu tenggat buat keluar, padahal kamu belum sembuh," ucap Marni, menatap panci."Makasih, Bu. Itu yang aku tunggu," jawab Nindy, dan dia mengulurkan tangan untuk menepuk punggung tangan mertuanya yang kasar oleh minyak dapur."Ibu mau tahu satu hal dari aku?" tanya Nindy."Apa?" tanya Marni, masih menatap panci."Kebaya buat besok itu Eleanor yang beliin. Ibu nggak perlu iri sama dia, cukup nyiapin rendang yang paling hitam," jawab Nindy, dan Marni mendengus pelan sambil menahan senyum.Marni menatap tangan itu sebentar, lalu membalikkan telapaknya dan menggenggam jari Nindy sekejap sebelum melepasnya lagi. Dia berdeham dan menyebut satu hal yang dia simpan lebih lama lagi."Perempuan bergamis y
Danu memasukkan kawat ke lubang gembok dan menekan pelan, berulang kali. Tangannya gemetar, dan butuh hampir sepuluh menit sampai bunyi klik kecil terdengar di tengah ruangan yang sunyi.Semua orang menahan napas. Andra memegang pinggiran lemari dengan dua tangan, sedangkan Pipit menggandeng lengan suaminya tanpa melepas pandangan dari laci itu."Dulu Suryani yang mengunci laci ini. Sekarang kamu yang harus membukanya," ucap Danu sambil mundur selangkah.Nindy membuka laci itu perlahan dengan dua jarinya. Di dalamnya ada sepasang gelang bayi perak yang masih terbungkus kertas toko, dan kertasnya sudah menguning di pinggir-pinggirnya."Gelangnya buat siapa, Kak?" tanya Pipit dari belakang Andra."Buat anak aku, Pit. Ternyata Ibu udah nyiapin dari sebelum aku lahir," jawab Nindy.Nindy mengeluarkan gelang itu dan memegangnya di telapak tangan. Ukurannya kecil sekali, dan dia teringat catatan Suryani tentang gelang yang dibeli di pasar sebelum dirinya lahir."Ibu beli ini sebelum aku lah
Rania menunduk memandangi cangkirnya. Dia tidak berkata apa-apa, tetapi jempolnya mengusap pinggiran cangkir sampai tehnya tumpah sedikit ke alas meja.Di luar, sebuah motor lewat pelan dan bunyi mesinnya memenuhi bengkel sejenak. Jam-jam di rak ikut berdetak bersamaan, lalu kembali sunyi."Kamu udah punya nama buat dia?" tanya Rania, menatap perut Nindy dari seberang meja."Belum. Malik masih ngotot pakai nama yang aneh-aneh," jawab Nindy."Namanya nggak aneh," protes Malik dari kursinya.Danu bangkit dan berjalan ke kolong meja kerjanya. Dia menarik satu kotak kardus kecil yang berdebu, lalu menaruhnya di pangkuan Nindy tanpa berkata apa pun.Nindy membuka tutup kardusnya dan menemukan kartu-kartu ulang tahun bertumpuk rapi, masing-masing diberi tanggal dengan tulisan tangan Danu. Jumlahnya dua puluh enam, dari ulang tahun kedua sampai ulang tahun kedua puluh tujuh."Setiap tahun aku tulis satu. Nggak pernah aku kirim, soalnya aku nggak pernah tahu alamat kamu yang mana," ucap Danu.
Malik menoleh ke istrinya, lalu menyalakan lampu dasbor karena langit di depan mereka sudah berubah abu-abu. Dia memegang setir dengan dua tangan dan menunggu jawaban dari pengeras suara."Catatan apa?" tanya Malik."Dokter sudah memberi Danu waktu kira-kira setahun, kalau dia terus menolak cuci darah teratur. Dia menulisnya sebagai permintaan terakhir, dan tulisannya masih basah di kertas itu," jawab Hendra.Rania ikut setelah semalaman menelepon Nindy dua kali untuk membatalkan dan dua kali untuk memastikan dia tetap ikut. Bapak penyapu masih menyapu trotoar yang sama, dan dia berhenti begitu melihat tiga orang turun dari mobil pagi ini.Danu sudah berdiri di ambang pintu lipat besi sebelum mereka sampai. Matanya langsung tertuju ke Rania, dan sapu tangan di tangannya jatuh ke trotoar tanpa dia sadari.Nindy berhenti di bawah papan nama Bengkel Jam Sentosa yang catnya sudah pudar. Dia menunggu, karena belum tahu apakah harus melangkah lebih dulu atau memberi ruang untuk dua orang di
Nindy tidak keluar kamar sepanjang Jumat, dan Sabtu dia hanya menghabiskan setengah porsi nasi di meja makan. Minggu subuh, sebelum Malik sempat bertanya apa pun, Nindy sudah mengguncang bahu suaminya sampai terbangun."Antar aku ke makam Bapak sama Ibu sekarang," ucap Nindy.Malik menyalakan lampu tidur dan melirik jam di ponselnya. Pukul enam kurang sepuluh, dan jalan di depan gedung masih lengang oleh motor pengantar koran."Kamu belum sarapan. Nanti pusing di sana," jawab Malik sambil mencari kaus kaki di bawah ranjang."Di mobil aku makan roti. Cepetan, aku nggak mau duduk diem di kamar lagi," balas Nindy, sudah berdiri dengan selendang abu-abu di pundak.Malik mengikat tali sepatunya di ambang pintu kamar, sedangkan Nindy sudah menunggu di lorong dengan kunci mobil di tangan. Mereka turun lewat lift tanpa bicara, dan pintu lobi terbuka di depan Om Har yang sedang menyeruput kopi di kursinya."Pagi-pagi mau ke mana?" tanya Om Har."Ke makam orang tua saya, Om. Nanti sore kami pul







