MasukMelihat tidak ada reaksi positif dari tubuh pasiennya, Malik akhirnya menarik tangannya mundur dan membiarkan Nindy mengatur napasnya terlebih dahulu.
Laki-laki itu menatap wajah Nindy dengan raut yang sangat serius, lalu ia mulai menjelaskan fakta medis secara langsung mengenai penyebab kegagalan tersebut.
"Saraf di panggulmu udah ngebangun tingkat toleransi yang sangat
Suasana di teras rumah besar itu mendadak menegang.Ibu Fajar menatap dokter pria di hadapannya dengan mata melotot, napasnya memburu cepat menahan amarah yang meledak."Kamu bener-bener laki-laki sinting!" teriak ibu Fajar sambil menunjuk wajah Malik."Mana ada ceritanya orang bikin anak malam ini, terus besok paginya langsung ketahuan hamil?! Kamu pikir saya perempuan bodoh yang nggak ngerti medis? Mau kamu nidurin Nindy sampai pagi pun, hasil tes besok nggak bakal mungkin langsung garis dua!"Mendengar rentetan amarah itu, Malik sama sekali tidak gentar. Postur tubuhnya tetap tegak dan tenang."Ibu memang benar, pembuahan fisik nggak akan langsung nunjukin hasil dalam waktu satu malam," balas Malik dengan nada suara bariton yang stabil. Ia memindahkan tangan kanannya ke saku kemeja, lalu menarik selembar kertas putih yang sudah dilipat rapi.Malik membuka lipatan kertas itu perlahan dan menyodorkannya tepat ke hadapan wajah orang tua Fajar. "Dan justru karena fakta medis itu, saya
Nindy akhirnya menuruti instruksi Malik agar ia istirahat, karena seluruh ototnya sudah benar-benar kelelahan, lalu ia berbaring dan menarik selimut hingga sebatas leher.Setelah memastikan Nindy aman di atas kasur, Malik membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju meja kerja di sudut kamar.Malik mengambil selembar kertas HVS putih dan sebuah pulpen, lalu ia menyusun sebuah draf surat perjanjian hitam di atas putih secara resmi.Surat itu berisi kesepakatan medis dan perlindungan hukum mutlak agar tindakan persetubuhan yang akan mereka lakukan kelak tidak bisa dituntut sebagai perselingkuhan oleh pihak keluarga Fajar.Setelah selesai menulis dan memberikan tanda tangannya, Malik melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemeja.
Melihat tidak ada reaksi positif dari tubuh pasiennya, Malik akhirnya menarik tangannya mundur dan membiarkan Nindy mengatur napasnya terlebih dahulu.Laki-laki itu menatap wajah Nindy dengan raut yang sangat serius, lalu ia mulai menjelaskan fakta medis secara langsung mengenai penyebab kegagalan tersebut."Saraf di panggulmu udah ngebangun tingkat toleransi yang sangat tinggi terhadap sentuhan jari, Nindy," jelas Malik secara lugas.Nindy mengerutkan keningnya menahan kram otot sambil berusaha mencerna penjelasan klinis dari mulut dokter kandungan di hadapannya itu."Toleransi gimana maksudmu?! Kemarin siang aja jarimu bisa bikin penyakitku tuntas!" bantah Nindy secara langsung."Intensitas kumatmu itu terlalu sering akhir-
Seluruh otot kaki Nindy mendadak kehilangan tenaga penopangnya, sehingga tubuh wanita itu langsung terperosok jatuh dan duduk melemas di atas lantai keramik teras.Keringat dingin membasahi area dahi dan leher Nindy dengan sangat cepat akibat menahan kram otot tersebut.Wanita itu terus menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menahan suara erangannya agar tidak terdengar oleh orang-orang yang melintas di jalanan depan komplek.Tepat saat Nindy sedang merintih kesakitan menahan gejolak fisik yang menyiksa tubuhnya, dua sorot lampu utama mobil tiba-tiba menyala sangat terang dari arah luar pagar besi.Cahaya lampu kendaraan itu menyorot lurus menembus celah pagar, menerangi area halaman depan hingga tepat mengenai posisi tubuh Nindy yang sedang duduk meringkuk di atas l
Nindy menahan napasnya di tenggorokan karena ia mulai menyadari arah pembicaraan suaminya yang terdengar sangat putus asa dan penuh rasa bersalah tersebut."Kamu mau nurutin perintah ibumu buat buang aku ke jalanan malam ini, Mas?!" tanya Nindy dengan nada suara yang sangat kecewa dan tidak percaya.Fajar memukul lantai keramik menggunakan kepalan tangannya secara berulang kali untuk merutuki kelemahan fisiknya sendiri di hadapan istrinya."Karirku bakal hancur total dan aku bakal jadi gembel kalau ibuku sampai datang bikin keributan di kantor besok pagi, Sayang!" jawab Fajar sambil terus menangis meratapi nasibnya."Terus janji manismu buat terus ngelindungin aku dari keluargamu itu mana buktinya, Mas?!""Aku ini cuma laki-laki cacat yang nggak berguna, Sayang! Aku udah nggak punya tenaga dan kekuatan uang buat ngelawan kekuasaan ibuku sendiri!" ratap Fajar dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.Mendengar pengakuan jujur mengenai kelemahan suaminya tersebut, dada Nindy terasa
Nindy menggelengkan kepalanya dengan cepat karena ia sama sekali tidak sanggup menerima tuduhan fitnah yang sangat tidak masuk akal tersebut."Aku nggak pernah punya niat sejahat itu buat ngancurin suamiku sendiri di depan warga, Bu!" bantah Nindy dengan suara bergetar hebat menahan isak tangis."Halah, nggak usah banyak alasan kamu! Kamu sengaja bikin anakku kelihatan cacat di mata tetangga biar orang-orang nggak fokus nanya kenapa rahimmu itu selalu kosong selama tiga tahun ini!"Tuduhan tanpa dasar itu langsung memotong setiap jalur logika di kepala Nindy, membuat wanita itu hanya bisa terdiam kaku sambil menelan ludahnya dengan susah payah.Ibu Fajar memalingkan wajahnya dari arah pintu masuk, lalu ia memusatkan pandangannya kepada anak laki-lakinya yang masih berdiri mematung di sudut ruangan."Dengerin perintah Ibu baik-baik sekarang, Fajar!" ucap wanita paruh baya itu dengan nada suara yang sangat mendominasi dan mengancam.Fajar mengangkat wajahnya yang terlihat sangat pucat p







